
Setelah mendapat izin untuk kembali ke rumah, Joya dan Darwis meninggalkan rumah sakit siang itu. Darwis, dengan penuh perhatian dan kehati-hatian menggandeng Joya bersamanya.
Tangan Darwis tidak terlepas dari jemari lentik Joya. Joya, hatinya menghangat dengan perlakuan Darwis. Tidak sedikitpun ia merasa risih atau kesal dengan tingkah suaminya, karena pada dasarnya, Darwis melakukannya untuk kebaikannya sendiri.
Joya bersandar di bahu Darwis sembari melempar pandang menatap megahnya bangunan di sisi kanan dan kiri yang dilengkapi dengan pepohonan di pinggir saja sebagai penghijauan dan paru-paru kota.
Darwis, mengecup pucuk rambut Joya dengan sepenuh hati, ikut melempar pandang dengan satu tangan berada di perut Joya. Mengusapnya dengan gerakan memutar secara teratur.
"Anak Papa Sayang, kamu baik-baik di sana ya Sayang. Papa tidak sabar menunggu kamu lahir ke dunia ini. Mama dan Papa tidak sabar untuk memegang jemari mungilmu dan mendengar suaramu," ujar Darwis, menundukkan kepalanya dan mengecup perut Joya. Joya tersenyum lebar. Dengan lembut ia mengusap rambut sang suami.
"Wis, I love you," tutur Joya dengan suara penuh bahagia.
Darwis mengangkat pandangannya dan menatap dalam Joya.
"Love you too Joya Argantara, more, more and more," balas Darwis, mendaratkan bibirnya di kening Joya. Keduanya lantas berpelukan, saling berbagi kehangatan dan perasaan.
Tiba di kediaman, Joya dan Darwis disambut gembira oleh Rian dan Satya serta segenap pekerja di kediaman ini. Mereka menembakkan kembang api kertas saat Joya dan Darwis melangkah masuk ke rumah. Joya tampak terkejut, namun senyum bahagai terus bertambah di wajahnya. Ia terharu dan merasa memiliki banyak keluarga. Di sini, kehangatan keluarga sangat ia rasakan.
"Welcoma back Kakak ipar," ujar Rian dan Satya bersamaan.
"Selamat datang kembali, Nyonya Muda," ujar Para pelayan serentak.
"Semua, terima kasih banyak. Aku … aku sangat terharu dengan penyembutan kalian," ucap Joya dengan nada yang hendak menangis. Darwis langsung merangkul Joya dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Sama-sama Nyonya, kami senang Anda sudah pulih dan kembali lagi ke kediaman ini," sahut salah seorang pelayan sebagai perwakilan yang diangguki rekan-rekannya.
"Kakak ipar, ayo duduk. Kamu baru keluar dari rumah sakit, jangan baru lima menit di rumah kamu sudah go back hospital," ujar Rian dengan nada mengajaknya yang lebih ke arah lakaran.
"Ayo, Sweetheart," imbuh Darwis. Satya membubarkan para pelayan. Ketiga pria itu dan Joya lalu mendaratkan tubuh mereka di empuknya sofa.
Satya menepuk kedua tangannya. Joya menatapnya penasaran. Tak lama, dua pelayan datang dengan membawa tiga buah vas berisikan bunga dan meletakkannya perlahan di meja. Satya lalu mengibaskan tangannya menyuruh kedua pelayan itu kembali.
"Bunga apa ini?" tanya Joya penasaran. Satunya warna hijau, ada warna merah dan juga kuning. Untuk yang warna kuning, Joya tahu itu bunga matahari, akan tetapi itu dua lagi, Joya tidak tahu. Kedua bunga itu hanya berbeda warna bukan bentuk.
Dan anehnya lagi, rasa penasaran Joya menjadi rasa canggung. Walaupun dalam vas, Joya hanya tahu bahwa makna bunga adalah untuk menyatakan perasaan. Joy tidak punya waktu untuk mencari atau mengetahui dengan makna bunga. Joya mengira, Satya sedang menyatakan perasaan padanya. Astaga Joya, kau ini kenapa sih? Masa' iya kamu ditembak di depan suamimu sendiri?
Joya menatap Darwis, tak ada raut cemburu di sana, malah senyum lebar secerah matahari. Darwis malah menaikkan satu alisnya melihat wajah rumit Joya. Joya lalu melihat Rian, sama wajah cerah tanpa beban.
"Ada apa Sweetheart? Kau tidak suka dengan hadiahnya? Why?" tanya Darwis menatap dalam Joya.
"Kau tidak cemburu?" Rasa penasaran di hati Joya keluarkannya.
"Cemburu? Mengapa?" Darwis memegang kedua tangan Joya.
__ADS_1
"Emh, dia kan menyatakan perasaan terhadapku," ucap Joya tersendat-sendat, dibalas dengan mata bulat Darwis dan suara tawa keras dari Rian dan Satya. Joya malah mengeryit bingung sekaligus kesal.
"Kakak ipar, kamu ini kurang update ya?" kekeh Rian memegang perutnya.
"Maksudmu?" Joya mengalihkan wajahnya menatap Rian.
"Kamu salah paham Sweetheart, bukan itu maknanya," tutur Darwis.
Joya kembali menatap Darwis. Dengan lembut, Darwis mencubit hidung Joya dan melirik Satya akan menjelaskan. Joya mendengus sesaat dan kini memperhatikan penjelasan Satya.
"Bunga matahari ini dari para pelayan. Seperti namanya, bunga ini melambangkan kegembiraan yang selalu hadir di situasi apapun, layaknya matahari yang terus bersinar di atas sana, serta melambangkan umur panjang dan kesetiaan. Para pekerja kita berharap, kamu selalu bahagia, panjang umur dan setia agar bisa selalu bersama dan mendampingi Darwis sampai maut memanggil," terang Satya, sembari menyentuh kelopak bunga matahari tersebut.
Joya tertegun, ia baru tahu maknannya. Joya berpikir, makna kesetiannya itu diambil dari karakter bunga matahari yang selalu menghadap ke arah matahari.
"Begitu dalam maknanya. Aku sangat tersentuh," tutur Joya, bersandar di dada Darwis.
"Nah, kalau yang merah ini namanya anggrek merah. Bunga ini melambangkan api, romansa, hasrat dan gairah. Ini ungkapan rasaku untuk rumah tangga kalian berdua. Intinya bukan itu sih aku memberinya, intinya, bunga ini juga melambangkan keberanian, kekuatan, dan ketahanan. Aku berharap dan berdoa, kamu akan tegar dan mampu bertahan melawan penyakit ganas itu. Jika saja ia berwujud manusia atau benda padat lainnya, niscaya aku akan melempar granat padanya! Huh, kecil tapi pembunuh." Rian malah kesal dengan benang kanker Joya. Joya tampak terkekeh melihat wajah kesal Rian.
"Dan anggrek hijau, melambangkan kesegaran, kesehatan dan keberuntungan serta umur yang panjang juga. Sama seperti Rian dan para pelayan, serta para keluargamu. Kami mengharapkan kesembuhan bagimu. Dan kami sangat menantikan kehadiran Darwis atau Joya kecil," imbuh Satya lagi.
"Joya, fighting!" seru serentak Rian dan Satya. Kini, lidah Joya rasanya kelu. Ia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun sebagai balasan. Hanya mata yang berkaca-kaca dan wajah yang terharu serta bibir yang ia lengkungan lebar menunjukkan perasaannya. Bahagia sekali.
"Kalau begitu, aku akan masak makan malam hari ini, bagaimana?" putus Darwis. Rian dan Satya mengangguk setuju. Tentu saja, masakan Darwis sudah seperti koki restoran berbintang.
"Sweetheart, aku antar kamu ke kamar yuk," ajak Darwis. Joya mengangguk. Darwis membawa tiga vas itu bersamaannya. Joya menggandeng tangannya dan melangkah bersama menuju kamar mereka.
"Bunga apa ini?" tanya heran Joya, melihat rangkaian bunga yang dibentuk love pada dinding yang satu tempat dengan jendela.
"Baby breath, itu namanya. Biarpun ukurannya kecil, konon arti bunga baby breath adalah cinta sejati yang tak akan pernah berakhir. Aku berharap, cinta kita abadi Joya. Baik di kehidupan ini dan di akhirat kelak nanti. Aku ingin kamu tetap menjadi bidadari dan tulang rusuk selamanya. Kau mau kan?"
Darwis berlutut dan menatap Joya dengan mata memancarkan cahaya harapan dan cinta yang mendalam. Kedua tangannya memegang jemari tangan Joya dan mengecupnya secara bergantian.
Joya kembali menumpahkan air matanya, dengan segera ia mensejajarkan tubuhnya dengan Darwis dan memeluknya erat. Terisak di pelukan Darwis. Darwis membalasnya dengan kehangatannya.
"Aku mau Wis. Aku mau. Aku janji, kita tidak akan pernah berpisah. Aku akan optimis. Aku enggak mau meninggalkan anakku sendiri. Aku akan kuat, karena kalian semua mendukung dan mendoakanku," ujar Joya dengan nada seraknya.
"Thanks, Sweetheart," balas Darwis.
*
*
*
__ADS_1
Joya kembali ke rumah dengan rasa bahagia yang membuncah. Riri dan Faisal keluar rumah sakit dengan hati yang tidak karuan. Faisal berusaha kuat, agar ia bisa menguatkan Riri. Sejak mengetahui dirinya keguguran, Riri lebih banyak diam dan melamun.
Pernyataan dokter yang sedang berbicara dengan Faisal, yang tanpa sadar ia dengar, menyatakan, ia akan sulit hamil untuk waktu yang lama, terlebih ada luka di dinding rahimnya. Beruntung, rahimnya tidak diangkat. Jika iya, sudah hilanglah harapan Riri untuk menjadi ibu dan wanita yang sempurna.
Faisal juga telah mengajukan cuti untuk Riri selama sebulan dan tiga hari untuknya.
Tiba di apartemen mereka, Faisal menuntut Riri melangkah sebab tatapan mata Riri tampak kosong. Tiba di kamar, Riri langsung menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut dan menutup mata. Agaknya, dengan menutup mata ia bisa bertemu calon bayinya. Aih, Faisal menghela nafas kasar dan mengusap lembut pipi Riri.
Saat ini dan sampai waktu yang ditentukan, Faisal tidak dapat menyentuh istrinya. Itu bukan masalah sih bagi Faisal, yang penting Riri dapat keluar dari kesedihan itu sudah cukup baginya. Masalah keturunan, berprasangka baik adalah keharusan. Mungkin saja Tuhan belum mempercayai mereka sepenuhnya untuk menjadi orang tua.
"Tidurlah. Aku mohon ikhlaskan dia, aku di sampingmu Riri," ujar Faisal mengecup kening Riri. Jujur, ini juga berat baginya.
*
*
*
"Ah, akhirnya tiba juga di Seoul," ujar lega Amri saat mereka baru saja turun dari pesawat.
"Iya Pa, malah di sini sudah gelap lagi, buruan yuk ke markas. Kasihan Alia," sahut Maria melangkah duluan menuju mobil yang sudah menunggu.
Amri dengan cepat mengikut dengan membawa tas perlengkapan Alia. Sedangkan barang-barangnya dan sang istri dibawa oleh sang asisten, Rian.
Setelah tiga hari pencarian, akhirnya makam yang dimaksud dan memang benar ada ukiran nama Azri di sana ditemukan. Dengan segera acara pemindahan makam pun dilakukan setelah serangkaian aturan yang harus dipenuhi. Tanah makam Azri dibawa dan dikuburkan di liang lahat yang sudah digali di area makan keluarga Wijaya, di mana Ibunya Amri dimakamkan di sini, berikut kakek, neneknya.
Untuk makam Ibu kedua Amri sendiri, sudah dipindahkan di hari kedua. Tidak terlalu sulit menemukanya.
Setelah semua urusan Amri selesai di negara B, perasaan lega ia dapatkan. Amanah terakhir Kakek Bram sudah dijalankan. Dan pada siangnya, mereka bertolak menuju Seoul untuk menziarahi makam kakek Bram serta melanjutkan pencarian terhadap sahabat lama mereka.
Begitu tiba di gerbang markas Pedang Biru, Amri menunjukkan kartu akses yang Karina berikan padanya. Dengan segera gerbang berwarna biru untuk kini terbuka lebar. Mobil segera masuk dan berhenti di depan lobby bangunan atau mansion mewah itu. Pintu dibukakan oleh penjaga. Amri dan Maria yang menggendong Alia turun dengan wajah wibawa mereka.
Rian, turun dengan wajah kagum. Arsitekturnya sangat menawan. Perpaduan alam, mode klasik dan modern benar-benar diterapkan.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya," ujar Lee menyambut dengan mempersilahkan Maria, Amri dan Rian untuk masuk.
"Terima kasih," jawab Amri dengan senyum hangatnya. Barang-barang yang semula dibawa oleh Rian, kini dibawakan oleh para penjaga.
Rian, tidak berhenti berdecak kagum. Mansion ini mirip sebuah istana, baru markas cabang, bagaimana dengan markas utama?batin Rian bertanya dalam hati.
"Tuan, kamar Anda sudah selesai. Mari saja antar," ujar pelayan membuyarkan lamunan Rian. Rian terkesiap dan segera mengangguk. Dengan langkah cepat sekalian melihat sekeliling persis seperti baru pertama kali ke tempat mewah. Tiba di kamar, Rian memilih berbaring dan memejamkan matanya.
Sedangkan di kamar mereka, Amri tengah mandi, sedangkan Maria mempersiapkan alat mandi Alia. Tak lupa juga pakaian ganti untuk Amri dan dirinya sendiri.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Amri selesai mandi dan keluar dengan menggunakan handuk sebatas pinggang dan di atas lutut. Maria tampak tertegun sesaat, matanya mencuri pandang pada suaminya itu.
Sayangnya Amri tidak peka dan cuek. Dengan hati yang cukup kesal, Maria menggendong Alia dan membawanya ke kamar mandi. Amri menoleh sekilas ke arah kamar mandi dan mengulas senyum lebar.