Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 245


__ADS_3

Jesica menghela nafas kasar saat tiba di depan ruangan Enji. Waktu menunjukkan pukul 08.30 lewat. Jesica terlambat di hari pertamanya bekerja. Sialnya lagi, ia harus berhadapan dengan Enji. 


Sekretaris Enji yang melihat itu, segera menghampiri Enji. 


"Apa Anda Nona Jesica?" tanyanya ramah.


"Benar. Kemarin lusa saya dihubungi oleh HRD bahwasannya saya diterima bekerja di sini. Akan tetapi, sebelum resmi bekerja, saya harus menemui CEOnya dulu. Apa beliau sudah tiba?" jelas Jesica tak kalah sopan.


"Begitu ya, hm ada baiknya kamu benahi dulu penampilanmu. Saya takut Tuan Enji akan kesal dengan penampilan Anda yang berantakan. Tuan Enji termasuk orang yang peduli penampilan," saran sekretaris Enji setelah mengamati penampilan Jesica. 


Walaupun terkadang dia sendiri tidak peduli dengan penampilannya, lanjut sekretaris dalam hati.


Jesica meneliti penampilannya. 


Celana panjang berwarna hitam dengan kemeja putih yang dibalut jas hitam khusus wanita. Jesica sudah seperti wanita kantoran. Jesica menyentuh rambutnya, rambutnya terlihat seperti bangun tidur. 


Wajahnya juga berminyak dan Jesica yakin make upnya luntur. Jesica tersenyum canggung dan segera menanyakan di mana letak toilet. Sekretaris Enji menunjukkan di mana letaknya.


Jesica segera ke toilet dan membasuh wajahnya. Ia menatap wajahnya sendiri di cermin besar toilet sembari mengeringkan wajahnya dengan tisu.


Aku masih sangat penasaran mengapa dia memanggilku kembali? Padahal jelas-jelas dia sudah menolakku. Jika bukan karena biaya pengobatan Ibu, pasti aku akan menolaknya. Huh, batin Jesica dengan mata yang menunjukkan mencari jawaban. 


***


Jesica terbangun saat mendengar suara berisik dari handphone-nya. Suasana kamar gelap sebab Jesica tidur setelah menangis akibat bertengkar dengan sang ayah.  Jesica bangun dengan mata sembabnya, ia segera mencari saklar lampu dan menyalakan lampu. Kamarnya seketika terang, Jesica segera mencari di mana handphonenya. Suara ada, namun wujudnya belum terlihat.


"Akg! Di mana handphone-ku?!" pekik Jesica kesal segera mencari ke sana kemari tidak kunjung bertemu.


Selimut sudah jatuh ke lantai, lemari dan meja sudah diobrak-abrik. Deringnya putus nyambung, putus nyambung. Jesica diam sejenak dan menajamkan pendengarannya. Jesica lantas berjongkok dan melihat ke kolong ranjangnya. Wajah Jesica langsung sumringah. Cahaya layar handphone menerangi kolong yang gelap. Jesica segera meraih handphone-nya.


"Nomor siapa ini?" heran Jesica dengan nomor tidak bernama yang menghubunginya. Dengan ragu, Jesica menggeser icon telepon ke icon hijau.


"Dari mana saja kamu? Lama sekali menjawab panggilan! Mati kamu ya?"


Jesica menjauhkan handphone dari telingannya, dengan wajah bingungnya ia mengeryit, suara pria, suara itu kesal dan ngegas terhadapnya. 


"Hei, kau tuli ya?" Boom! Seketika Jesica kesal


"Aku tidak tuli! Anda siapa? Mengganggu waktu tidur saya saja!" balas ketus Jesica dengan nada cemprengnya.


"Oh, sedang tidur. Saya kira sedang ngapel, ups saya lupa Anda kan jomblo."


Jesica menggertakkan giginya kesal. Ia memang jomblo, tapi jangan diumbar juga lah.


"Oh ya, saya hanya mau mengatakan … bahwa, Senin pagi, pukul 08.00, temui saya di ruangan saya untuk membahas di posisi mana kamu cocok ditempatkan. Itu saja, ada yang mau ditanyakan, kalau tidak ada, berarti kamu sudah paham," ujar pria itu dengan nada memerintah. Jesica kembali mengeryit.


"Anda, CEO tadi siang kan? Bukankah Anda sudah menolak saya?" tanya Jesica.


"Itu urusan saya, keputusannya terserah kamu," sahut Enji.


Jesica terdiam sejenak. Terdengar suara ketukan di sana. Suaranya teratur sekali, berjalan sesuai pergerakan jarum panjang jam. 


"Saya … aku menolaknya!" jawab Jesica tegas. 


"Sayang sekali, keputusan yang tergesa. Pendidikan kamu bagus, akan tetapi sikap kamu kurang. Sepertinya saya memang tidak seharusnya menghubungimu. Baiklah, itu keputusanmu, bye!" Panggilan langsung terputus. Jesica mendengus.


Ia tak heran dari mana Enji tahu nomor ponselnya, resume lamaran kerja beserta data dirinya kan masih tertinggal di sana. Jesica kemudian menghela nafas pelan. Waktu menunjukkan pukul 23.00. Mata Jesica sulit untuk diajak tidur kembali. 

__ADS_1


Tak lama kemudian, Jesica menerima panggilan baru. Ia membulatkan mata menjawab panggilan itu. 


"Apa? Kondisi Ibu menurun?"


Dengan segera Jesica meraih jaket dan tasnya lalu keluar kamar, di ruang tengah ia mendapati sang ayah yang tertidur dengan botol-botol alkohol berserakan. Jesica menghela nafas sedih. 


Jesica lalu meletakkan selembar uang di bawah botol dan segera keluar rumah. Taksi online kebetulan masih beroperasi, Jesica segera menuju ke rumah sakit.


Tiba di rumah sakit, Jesica berlari menuju ruang rawat sang ibu. Di ruangan itu hanya ada ibunya seorang, rumah sakit pun merawat ibunya karena hanya ada uang. Kemungkinan besar, jika ia tidak memiliki uang, ibunya akan di-takedown dari rumah sakit ini. Ini adalah rumah sakit yang sama di mana Riski dirawat.


Kamar melati 5 adalah ruang rawat ibunya Jesica. Jesica menunggu cemas, tak lama keluarlah beberapa dokter.


"Kondisi ibu Anda semakin menurun. Virus itu sudah menyerang alat-alat vital ibu Anda. Kemungkinan besar, Ibu Anda tidak dapat bertahan. Berat badannya juga turun drastis, ia tak ubahnya sebuah ranting yang terbaring," jelas dokter tersebut yang membuat Jesica duduk lemas di bangku tunggu. 


"Dan satu lagi, harap segera membayar tagihan rumah sakit, jika tidak, kami terpaksa mencabut pendukung kehidupan Ibu Anda dan mengeluarkannya dari rumah sakit ini," tegas dokter itu lagi lalu segera meninggalkan Jesica sendiri. 


Jesica menatap lorong rumah sakit yang sepi, ia lantas berdiri dan masuk ke dalam ruangan sang ibu. Terlihat seorang wanita terbaring di ranjang dengan alat kehidupan yang menempel di dada dan lengannya. Tubuhnya kurus bak tinggal tulang, wajahnya pucat bak tubuh tanpa nyawa. Jika tidak ada suara nafas pelan, mungkin ia sudah dikira tewas.


"Aku akan lakukan apapun agar ibu sehat kembali. Ibu tenang saja, Jesica akan tetap berbakti kepada Ibu walaupun mereka bilang Ibu adalah wanita malam, Ibu, tetaplah kuat!"


Jesica lalu mengecek saldo tabungannya. Ia mengesah kecewa dengan angka yang ditunjukkan. 


"Tak ada pilihan lain, aku harus menebalkan mukaku," tekad Jesica mencari nomor Enji dan menghubunginya kembali. Jesica meragu sebab ia sudah tengah malam.


Ia menghela nafas saat panggilannya dijawab.


"Kau berubah pikiran?" tanya Enji dengan nada mengejek.


"Aku akan ke perusahaan Anda hari Senin pukul 08.00," ucap tegas Jesica tidak menghiraukan ejekan Enji.


"Sayangnya aku berubah pikiran. Masih banyak yang mau melamar bekerja di perusahaanku. Awalnya aku simpatik denganmu sebab latar belakang keluargamu. Tapi agaknya aku harus cuek saja, ada banyak orang yang lebih baik dan latar belakangnya juga baik daripada keluargamu, maaf sekali lagi kamu ditolak!" tegas Enji, membuat Jesica terkesiap dan tidak terima.


"Aku terkesan, baiklah, mari kita lihat kesungguhanmu!"


Enji langsung mematikan panggilan. Jesica menghela nafas lega kemudian tertidur, ketika bangun ia malah memikirkan mengapa Enji menerimanya bekerja.


***


Sudah dua puluh empat jam lebih ia memikirkannya, akan tetapi bukannya jawaban yang didapat, malah kepalanya pusing sendiri.


Karena itu juga ia telat bangun, ia baru tidur jam 03.00 pagi, alarm yang membangunkannya pukul 06.00, ia bungkam selamanya. Baru terbangun di pukul 07.30 lewat. Mandi kilat dan terburu-buru, Jesica panik sendiri, sebab Enji mengatakan ia harus menemuinya pada pukul 08.00.


Belum lagi kendaraan umum yang mulai menyepi sebab anak sekolah ataupun orang bekerja sudah habis, para sopir memilih mangkal dan menunggu jam pulang sekolah. 


Ojek Online tidak muncul-muncul, padahal sudah ia pesan sedari tadi. Kekesalannya bertambah, saat ojeknya datang, saat sebentar lagi tiba di perusahaan, malah bocor ban. Terpaksa deh Jesica berlari, begitu tiba di lobby, Jesica tanpa merapikan penampilannya masuk lift dan berhati cemas menuju ruangan Enji.


Kembali lagi ke toilet, rasa gugup dan cemas berakhir dengan panggilan alam. Jesica merasa tidak nyaman dan segera menyalurkannya. 


Setelah lega, Jesica mengeluarkan alat make upnya dan memoles natural wajahnya. Menyisir rambutnya lalu memantapkan hati keluar toilet.


"Silahkan tunggu dulu, CEO belum tiba. Saya akan memanggil Anda jika Tuan Enji sudah datang," ujar sekretaris Enji. Jesica menbulatkan matanya dan menggerutu kesal dalam hati.


Bagaimana bisa ia menyuruhku menemuinya saat ia tidak ada di ruangannya? Dasar pria sialan! gerutu Jesica mendaratkan berat badannya di bangku tunggu.


Sekretaris Enji tersenyum tipis dan segera kembali ke mejanya. Tanpa Jesica sadari, ia malah tertidur.


Saat terbangun, Jesica mendapati dirinya terbangun di ruangan yang berbeda di mana ia tidur tadi. Jesica mengerjapka matanya dan mendapati orang lain bersama dengannya. 

__ADS_1


Pria itu terlihat sedang mengerjakan pekerjaannya di atas meja. Enji, pria itu adalah Enji. Enji fokus pada dokumen di hadapannya, belum mengetahui bahwa Jesica sudah terbangun.


Tiba-tiba saja wajah Jesica menunduk dan bersemu merah. Hatinya bertanya-tanya apa Enji yang mengendongnya masuk? Jika iya, sungguh malu sekali dirinya.


Jesica batuk kecil untuk mengingatkan Enji bahwa dia sudah bangun. Enji tampak hanya melirik sekilas tanpa sepatah katapun.


"Tuan, Anda yang membawa saya masuk? "tanya Jesica canggung. 


"Memangnya siapa lagi? Kau pikir Eta si kurus itu?" sahut ketus Enji tanpa berpaling dari kertas-kertas calon uangnya. 


Jesica mendengus.


Aku kan cuma tanya, mengapa dia ketus?keluh Jesica dalam hati. Ia memendam amarahnya sebab ini juga salahnya yang tidur tidak pada waktunya. Jesica lalu melihat jam.


Matanya membulat sempurna mendapati waktu sudah tengah hari. Ia menatap Enji dengan wajah bersalah.


"Maaf dan terima kasih," cicit Jesica. Enji menoleh dan mengangkat alisnya.


"Bukan apa, lagipula kau kurus. Aku hanya tidak tega melihatmu tidur meringkuk di depan ruanganku. Memalukan sekali," jawab Enji dengan nada datar mengandung sindiran.


Jesica tersenyum terpaksa dan kini ia sudah berdiri di hadapan Enji. Enji melepas kacamatanya dan melipat kedua tangan di atas meja.


"Mengapa Anda menerima saya?" tanya Jesica.


"Jangan sering begadang. Melihat wajah lelah dan mata pandamu, menambah simpatikku. Sangat gampang kan mendapat perhatianku?" ujar Enji nyeleneh.


"Hah?" Jesica meraih handphone dan membuka kamera lalu melihat lingkaran matanya.


"Sudah tidak usah dipoles lagi. Natural cantik kok, walaupun mata panda," ucap Enji menghentikan gerakan tangan Jesica yang mau mengambil make up. Jesica menatap bodoh Enji. Enji tersenyum. Jantung Jesica malah konser. 


"Benarkah?" tanyanya canggung.


"Hem." Enji mengangguk.


"Kalau begitu, langsung saja ke intinya. Ini surat kontrak kerjamu, silahkan baca dulu baru tandatangani. Tanyakan apa yang tidak dimengerti," ucap tegas Enji menyodorkan kontrak ke hadapan Jesica. Jesica segera menerima dan membacanya dengan serius. 


Jesica mengeryit mendapati poin yang ia tidak paham.


"Tuan, saya melamar posisi programmer, mengapa di sini tertulis juga saya sebagai seorang asisten Anda?" tanya Jesica.


"Oh, hanya poin tambahan. Kamu bekerja double. Sebagai programmer dan asisten. Tugas kamu di kantor sebagai asisten hanya membuat kopi, makan siang, makan malam jika lembur, menemani saya belanja, atau cukup tunggu panggilan dari saya, di situlah kamu menjadi asisten. Ah, hampir kelupaan, kamu setiap pagi pukul 06.00 harus ke apartemen saya. Memasak sarapan serta menjemput saya sekalian mengantar anak saya ke sekolah, gampangkan?" terang Enji dengan gampangnya tidak memperhatikan tatapan kesal Jesica.


"Gaji double, bahkan saya lebihkan. Kamu perlu uangkan untuk biaya rumah sakit ibumu? Ayolah, ini hal yang mudah!" tambah Enji, mata Jesica berbinar sesaat namun ia tenggelam dalam pemikiran. Dua menit kemudian, Jesica menandatangi kontrak lalu mengembalikan kontrak kepada Enji.


"Selamat bergabung Nona," ujar Enji. 


"Kau bisa menyetir?" tanya Enji. Jesica mengangguk.


Enji menarik laci dan memberikan kunci mobil pada Jesica.


"Ini mobil kerjamu. Ingat, jam 06.00 adalah jam kerjamu, sedangkan selesainya tergantung keadaan!"


"Baik, saya akan bekerja dengan baik," ucap mantap Jesica menerima kunci itu lalu menunduk hormat pada Enji. Enji hanya tersenyum.


Jantung, tahukah kamu dia sudah menikah? Tapi, ke mana ya istrinya? Apa dia duda? pikir Jesica.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2