Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 272


__ADS_3

Tuan Adiguna dan David Tirta Sanjaya adalah sahabat semenjak mereka bertemu dalam misi perdamaian dunia. Prajurit terbaik dikirim oleh masing-masing negara untuk menjalankan misi ini.


Tugas mereka adalah mengatasi pemberontakan, terorisme, dan lainnya yang berpotensi membuat dunia gaduh serta tidak tenang dan aman. 


Saat menjalankan tugas, banyak dari prajurit utusan gugur. David dan Adiguna yang kala itu sudah menikah dan istri mereka tengah berbadan dua, mati-matian kabur dari serangan musuh yang sangat kuat.


Pasukan mereka tiga seperlima dari jumlah awal. Pasukan hanya berjumlah sekitar 100 orang saja. 


Persedian senjata yang sudah berkurang. Obat-obatan juga makanan dan minuman membuat mereka harus bertahan hidup di hutan. Kejar-kejaran dengan musuh. Menggunakan teknik gerilya.


Komunikasi yang terputus, membuat mereka sudah anggap gugur oleh negara utusan mereka.


Berminggu-minggu mereka terus berusaha bertahan. Dengan persediaan yang habis dan makan apa adanya yang mereka dapat di alam.


Selama bersembunyi, mereka membuat rencana untuk bisa menundukkan musuh. Mustahil nampaknya melawan ratusan bahkan ribuan orang hanya dengan sepuluh orang.


Tapi kepercayaan diri, tekad yang kuat, semangat juang yang berkobar, serta rasa rindu pada keluarga membuat mereka seperti pasukan puluhan ribu orang. 


Dengan peralatan yang mereka ciptakan sendiri selama bertahan hidup. Terlebih mereka memiliki senjata yang paling mematikan yakni otak.


Seorang prajurit tidak hanya mempunyai fisik yang mumpuni tetapi juga otak yang cerdas mampu berkerja di bawah tekanan.


Akhirnya mereka melaksanakan rencana mereka setelah persiapan yang matang.


Menyusup ke markas musuh, membunuh yang perlu dibunuh tanpa jejak. Menyebar, mencari dan menundukkan pimpinan dari setiap pasukan. Tugas Adiguna serta David adalah membunuh pimpinan besar musuh. 


Kerja sama yang baik serta pelatihan alam membuahkan hasil yang gemilang. Tidak perlu melawan semua, hanya perlu menghabisi pimpinan. Pasukan sudah kalah dan tunduk. Mereka bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya.


Sayangnya, Adiguna dan David cepat sekali merasa lega. Mereka tidak sadar bahwa pimpinan besar itu belum tewas. Dengan belati di tangan, pimpinan besar ia berusaha menusuk Adiguna.


David yang memiliki mata tajam, menangkap hal itu dan segera melindungi Adiguna.


Adiguna kaget saat David tumbang menabrak punggungnya dengan luka di perut. Tanpa buang waktu, Adiguna menembak pimpinan itu tepat di kepala. 


Adiguna menangis melihat David yang menahan sakit di perut. Tak lama, delapan rekan mereka datang dan berusaha menyelamatkan David.


Mereka membawa David ke tenda kesehatan. Dengan peralatan seadanya, mereka berusaha membuat David bertahan sampai pagi datang dan pasukan penyelamat untuk mereka tiba. 


Keesokan pasukan penyelamat tiba. Mereka segera pulang ke markas besar.David menjalani serangkaian pengobatan sebab masih ada sisa racun akibat tusukan belati.


Kondisi kritis pun sempat dialami David, membuat Adiguna merasa sangat bersalah. Terlebih saat melihat tangis dari isteri David.


Intan yang kala itu juga datang ke markas besar, berusaha menjadi penghibur duka Rita. 


Setelah menunggu sebulan akhirnya David membuka mata. Kebahagiaan terpancar dari keluarga dan kedelapan prajurit yang selama.


Rita apalagi, rasanya sangat bahagia. Terlebih saat suaminya bangun, ia sudah melahirkan anak kembar mereka. 


Persahabatan mereka sudah seperti keluarga. Adiguna menganggap nafasnya sampai sekarang adalah berkat pengorbanan David.


Rasa hormat semakin besar pada David dari rekan sejawatnya. 


Kembali negera masing-masing Adiguna ditunjuk sebagai jenderal. Ia adalah jenderal termuda sepanjang sejarah militer negara K.


Sedangkan David memilih sebagai kepala polisi cabang kota S dan pada akhirnya menjadi kepala kepolisian negara Y.


 Hubungan David dan Adiguna terus terjaga. Bahkan mereka tidak segan saling berkunjung ke rumah masing-masing dengan membawa keluarga besar. Sungguh dari misi berubah menjadi keluarga.

__ADS_1


*


*


*


Paginyacsetelah sarapan, keluarga Adiguna Pratama bergerak menuju pemakaman militer yang terletak di ibu kota negara K.


Seluruh anggota keluarga menggunakan pakaian serba hitam lengkap kacamata hitam yang mereka kenakan. Satu jam perjalanan, mereka tiba di pemakaman Taman Pahlawan.


Mereka sedikit terkejut dengan kehadiran Gerry, Karina, dan Arion. Lengkap dengan setangkai mawar putih di tangan.


Sedangkan keluarga Adiguna sendiri membaca dua jenis bunga, yakni lily putih dan anyelir berwarna putih.


Tegur sapa pun terjadi. Mira dan Gerry langsung berdiri berdampingan. Riska yang melihat dirinya sendiri yang tidak memiliki pasangan, memilih berdiri diantara Intan dan Tuan Adiguna yang membuat kedua kakak serta orangtuanya tertawa. 


"Ah, Presdir, beliau ini?"


Tuan Adiguna bertanya sembari menatap Arion. Arion segera mengulurkan tangannya.


"Arion Wijaya, suami dari Karina," ucap Arion memperkenalkan dirinya.


Tuan Adiguna tercengang sesaat. Ia ingat semalam Arion tidak ada di hotel.


Apa Karina meninggalkan Arion sendirian?


Mengerti arti tatapan aneh Tuan Adiguna, Arion segera berucap kembali.


"Saya baru tiba tadi malam, setelah masalah di sana selesai. Saya harap Anda tidak salah paham," ucap Arion.


Tuan Adiguna mengangguk mengerti.


Sehabis pernikahan, ia dan suami harus pulang ke kota mereka. Ada agenda yang harus dilakukan.


Pemakaman ini terdiri atas dua area. Ada makam yang berisi dan makan kosong. Makan berisi sudah pasti terdapat jenazah yang dimakamkan di dalamnya.


Sedangkan makan kosong adalah bentuk simbolis penghormatan negara terhadap para prajurit yang gugur dan pulang hanya nama tanpa raga. 


Mereka mengelilingi makam atas nama Eko Pratama itu. Mereka memanjatkan doa kemudian meletakkan bunga yang mereka bawa di atas makan.


Karina dan Arion undur diri duluan ke mobil sebab Karina merasa pegal terlalu lama berdiri. Arion sangking tidak teganya menggendong Karina menuju mobil. 


Mira bersandar pada dada Gerry. Pelupuk matanya terlihat berair. Anggota keluarga lain juga. Mata mereka berkaca-kaca. Mereka menatap makam dengan perasaan sedih, berusaha kembali tegar.


Tetap saja. Walaupun sudah ikhlas perasaan tidak bisa berbohong. Tetap saja akan bersedih jika dihadapkan pada kenangan yang sangat berarti.


Anakku ... damailah kamu di sana. Papa berharap di kehidupan selanjutnya kamu akan kembali menjadi anak Papa. Terima kasih telah menjadi anak yang membanggakan untuk Papa. Terima kasih telah bekerja keras menjadi seperti apa yang Papa inginkan. Anakku … Papa rindu bermain catur denganmu. Papa rindu tawamu saat berhasil mengalahkan Papa. Papa rindu wajah kesalmu saat kamu kalah dan menuduh Papa curang. Papa rindu kebersamaan kita Ko. Tapi semua sudah menjadi kenangan, kenangan terindah. 


Eko ... Mama harap kamu sudah bisa tenang sekarang. Maafkan Mamamu yang penakut ini. Maafkan Mama yang membuatmu tidak tenang di sana. Nak, sekalipun kamu sudah tiada, kamu akan selalu hidup di sanubari Mama. Anak tampanku, Mama mencintaimu. 


Kakak ... semua sudah rela kamu pergi. Adik harap kakak tenang dan bahagia di sana. Tapi biarpun begitu, Adik kesal Kakak pergi selamanya tanpa pamitan. Adik rindu Kak. Rasanya sangat tidak enak mengingat kenangan lama. Tapi Adik sadar, kenangan itu adalah kenangan terindah bersama Kakak. Adik harap dan berdoa. Semoga di kehidupan kita kembali menjadi saudara dan berkumpul lagi. 


Eko ... terima kasih telah menjadi adik yang membanggakan untuk Kakak dan keluarga. Damailah di sana.


Mas .... selamat tinggal. Sebentar lagi aku akan menjadi istri dari Gerry. Pria yang telah berhasil menaklukan hatiku setelah dirimu. 


Aku pernah mendengar nama hebatmu. Kamu prajurit yang berbakat dan membanggakan. Selain prajurit yang berbakat, ternyata kamu juga seorang anak, adik, kakak, dan suami yang sangat baik dan berbakti. Keluargamu sangat mencintaimu. Sangat beruntung menjadi dirimu. Sayang sekali kematianmu sangat tragis. Tapi tenangkan, aku akan menjaga keluargamu, juga Mira. Aku akan menjaga dan mencintainya, lebih dari rasa cintamu padanya. Selamat tinggal dan berbahagialah di sana, batin Gerry, menatap satu persatu wajah keluarga Adiguna yang menunduk dengan tangis tertahan.

__ADS_1


"Nak Gerry, apa kamu bisa bermain catur?" tanya Tuan Adiguna tiba-tiba.


Gerry mengangguk. 


"Maka setelah menikah dan sebelum kembali ke negaramu, kamu harus menemaniku bermain catur!" titah Tuan Adiguna.


Gerry tersenyum.


"Tentu saja. Aku juga ingin bermain bersama Anda," jawab Gerry mantap.


"Mari kita kembali. Kita harus bersiap untuk pernikahan," ujar Intan.


Mereka mengangguk. Intan, Tuan Adiguna, dan Riska berjalan duluan, disusul Rena dan suami. Gerry dan Mira berjalan paling belakang.


Mira menatap Gerry kesal. Wanita itu memanyunkan bibirnya. Gerry menoleh dan mengeryit.


"Ada apa?" tanya Gerry heran.


"Papa jagonya bermain catur. Mas Eko saja cuma menang hitungan jari. Papa dikenal sebagai raja catur. Dia sangat hebat. Apa kamu yakin bisa mengalahkannya?" omel Mira.


Gerry tersenyum dan menyentuh rambut Mira yang tergerai sampai pinggang.


"Kalau begitu pangeran catur Pedang Biru ini akan berusaha keras melawan raja catur militer negara K. Aku penasaran siapa yang akan menang. Hm apakah aku harus membuat taruhan untuk membakar semangat? Bagaimana? Hm?"


Gerry sangat santai, ia hanya kalah dari Karina. 


"Ck! Terserahlah!" kesal Mira.


Gerry menaikkan bahunya.


"Sayang, jangan marah dong. Hanya permainan. Tudak akan membuat diriku celaka," ujar Gerry mengejar Mira yang mempercepat langkahnya.


"Kalau kalah enggak usah malam pertama!" seru Mira langsung masuk mobil.


Yang lain saling pandang melihat dan mendengar keributan yang diciptakan Mira dan Gerry. Mereka mendengus senyum mendengar ancaman Mira. Gerry sendiri terpaku lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa yang akan terjadi jika saya kalah dari Anda?" tanya Gerry pada Tuan Adiguna.


"Maka kalian harus bercerai!" jawab Tuan Adiguna.


Kecuali Karina dan Intan, yang lain tercengang dan tidak percaya.


Bagaimana bisa Tuan Adiguna sekejam itu?


Astaga! Pantas saja Mira marah. Tapi sudah terlambat mau menolak. Cara satu-satunya adalah harus menang. 


"Takut?" tanya Tuan Adiguna.


Gerry menggeleng.


"Mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dan berarti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku tetap setuju dan aku yakin aku akan menang!" jawab Gerry.


"Maka kamu harus bermain denganku dulu, Gerry."


Karina angkat bicara melirik Gerry dengan senyum tipisnya. 


Setelah itu mereka langsung berpisah, menuju tujuan masing-masing. Di dalam mobil, Arion menyetir sedangkan Karina dan Gerry bermain catur.

__ADS_1


Arion sesekali menoleh dan memberikan komentarnya. Tak dapat dipungkiri Arion juga pemain catur yang handal. 


__ADS_2