Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 177


__ADS_3

Seusai sholat Subuh berjamaah, Amri, Maria, Karina, serta Arion telah bersiap. Dengan jaket hangat membungkus tubuh mereka, keempatnya menuju mobil yang sudah menunggu di depan.


Pak Anton dan Pak Jo segera membukakan pintu untuk majikan mereka. Setelah Tuan dan Nyonya mereka masuk, kedua mobil itu segera meluncur bebas membelah jalanan. Walaupun masih Subuh, jalanan kota ramai dengan aktivitasnya.


Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di bandara, Enji dan Bayu serta Ferry telah menunggu di samping pesawat lengkap dengan jaket serta topi couple mereka, kecuali Ferry.


Satu koper berada di kiri Enji dan Bayu berada di kanan Enji. Ferry menunggu sembari video call dengan Siska, baru selesai saat Tuannya tiba.


"Lama sekali," keluh Enji.


"Kenapa? Mau marah? Apartemenmu kan jaraknya dekat dari sini sedangkan rumahku kan cukup jauh, wajarlah," sahut Karina datar.


"Ayo naik jangan ribut dulu," ajak Maria. Mereka mengangguk. Satu persatu mereka menaiki tangga pesawat berlambangkan Pedang Biru. 


Giliran terakhir adalah Enji dan Bayu. Bayu tampak ragu untuk pergi, biasanya ia akan senang jika mau liburan tetapi untuk kali ini ia merasa berat dan enggan.


"Ada apa Nak?" tanya Enji pada Bayu, sebab Bayu tak melangkahkan kakinya sama sekali.


"Bayu merasa gak nyaman dengan kepergian kita kali ini Yah, lebih baik kita tunda saja dulu kepergian kita," ujar Bayu.


"Mengapa kalian belum naik? Ada apa Bayu? Kamu merasa ada hal buruk yang akan terjadi pada kita begitu?" tanya Karina dari pintu pesawat.


"Iya Kak," jawab Bayu.


"Tak perlu khawatir, jika benar pasti ada cara mengatasinya. Ayo naik, kita harus segera lepas landas," ujar Karina. Bayu menghela nafas dan mengangguk.


Ya Allah, lindungilah kami semua dalam lindunganmu, doa Bayu dalam hati.


***


Suasana dalam pesawat tenang dan santai. Semua dalam aktivitas masing-masing. Tiba-tiba pesawat terasa terguncang. Membuat suasana menjadi serius. Karina dengan cepat menuju ruang kemudi pesawat.


"Ya Allah aku belum mau tiada, selamatkanlah kami," gumam Ferry.


"Tenanglah, kita pasti selamat," ucap Arion.


"Ada apa?" tanya Karina.


"Ada badai Nona, sayap pesawat sebelah kiri kena sambar olehnya, kita harus segera mendarat atau keluar dari pesawat ini," jawab pilot, berusaha tetap tenang dan mengendalikan pesawat.


"Kirim radar atau apapun, temukan bandara terdekat atau lahan lebar yang luas!" titah Karina.


"Tapi Nona, kita sekarang berada di atas laut dan bandara sangatlah jauh," jawab co-pilot.


"Ck, apa gunanya kalian belajar menjadi awak penerbang Pedang Biru, cepat kirim sinyal ke sekitar laut ini! Jika tak ada kalian siapkan parasut yang dibutuhkan, lalukan protokol keselamatan, ini bukan pesawat komersial tapi pribadi, ingat itu!" tegas Karina.


"Berapa lama lagi pesawat bisa bertahan?" tanya Karina.


"Lima menit!" jawab pilot.


"Ganti ke mode sistem, bagaimana ada kah yang terjaring?" tanya Karina pada co-pilot.


"Ada kapar pesiar yang berlayar di bawah Queen," jawab co-pilot.


"Kalau begitu ayo cepat gunakan parasut dan terjun."


Karina bergegas kembali pada keluarganya. Semua menunjukkan wajah cemas, pramugari yang ikut telah membuka lebar pintu, menarik keluar apa yang bisa ditarik oleh angin.


"Kita terjun," ucap Karina. 


"Ayah aku takut," ucap Bayu.


"Jangan takut, kita akan mendarat di kapal pesiar, kita akan selamat," ujar Karina.


"Lompat!" seru Karina. Ferry, Amri dan Maria melompat duluan, diikuti Bayu dan Enji, para Pramugari, Pilot dan co-pilot. 

__ADS_1


"30 detik lagi, ayo Ar," ajak Karina. Keduanya melompat bersamaan. Tepat tiga puluh detik kemudian pesawat meledak dan hancur berkeping-keping.


Arion mencoba menggapai tangan Karina, begitupun Karina. Melindungi Karina dari kepingan pesawat yang ikut terjun.


Amri dan Maria, kedua tangan mereka saling bertautan. Bayu memeluk erat sang ayah. Ferry sudah mengembangkan parasutnya. Diikuti oleh lainnya.


"Huft, akhirnya selamat juga," ucap lega Karina. Kini hamparan laut biru dapat mereka lihat jelas.


Mereka kini melayang di atasnya. Tak jauh dari mereka, sebuah kapar persiar melaju pelan. Karina dan lainnya segera mengarahkan parasut mereka agar mendarat di kapar pesiar tersebut. Para penumpang kapal pesiar melihat itu dengan tatapan beragam. Kapten kapal dengan terompongnya melihat ke arah Karina and the Family.


"Pedang Biru? Hei cepat beri tempat. Itu Queen!" pekik kapten kapal memberi perintah pada anggotanya. Ia tahu sebab lambang yang ada pada parasut jelas sekali lambang pedang dan mawar biru.


"Siap!" jawab mereka. Segera memberikan tempat yang cukup untuk mendarat.


Sepuluh menit kemudian akhirnya Karina diikuti Arion, Amri, Maria, Enji dan Bayu mendarat dengan selamat.


"Queen," sambut kapten kapal dan segenap anggotanya. Karina menaikan satu alisnya.


"Apa ini salah satu kapal pesiar milikku?" tanya Karina memastikan.


"Benar," jawab kapten kapal.


"Huft syukurlah," ujar lega Karina.


"Eh kak Ar, dimana sekretarismu?" Enji mengedarkan pandangannya mencari Ferry.


"Benar, di mana Ferry?" tanya Maria.


"Lihat ke laut," titah kapten kapal.


Benar saja, Ferry mendarat di atas laut. Untung saja ia pandai melepaskan diri dari parasutnya, jika tidak bisa tenggelam ia.


"Hei tolong aku!" Ferry melambai dari tempatnya, kakinya ia gerakan beraturan agar tetap bisa mengapung. Salah satu awak kapal melemparkan pelampung untuk Ferry.


"Eh ada lumba-lumba," pekik Bayu girang menunjuk lumba-lumba yang mendekati Ferry. 


"Kakak cepat bantu aku naik, aku fobia dengan lumba-lumba!" pekik Ferry bergerak menjauhi lumba-lumba yang mendekatinya. Karina menyuruh anggotanya agar segera membawa Ferry naik dari laut ke kapal.


***


"Sudah pagi pun cuaca buruk menghadang, untung saja tasku aman-aman saja," kesal Karina, saat ini mereka telah berganti pakaian dan berada di kamar yang disiapkan untuk Karina. 


"Tasmu aman, berkasku hancur bersama pesawat," sahut Arion.


"Daripada nyawa yang hilang. Kau hanya kehilangan berkas yang belum pasti sedangkan aku kehilangan asetku. Untung saja bukan pesawat yang paling mahal," sambung Karina.


"Benar, tapi Yang kau tak apa kan? Kandunganmu tak sakit kan?" tanya Arion berubah jadi cemas.


Karina menggeleng.


"Aman saja, selagi aku tak kelebihan emosi dan tetap santai dan tenang maka kandunganku juga aman," jawab Karina mengelus perutnya.


"Lalu apakah kita lanjutkan perjalanan kita atau kita kembali ke negara kita saja?" tanya Arion, waktu menunjukkan pukul 10.00.


"Handphonemu aman kan?" tanya Karina.


Arion merogoh kantong celananya. 


"Aman, oh iya astaga aku lupa, aku hubungi dulu rekan bisnisku biar tak salah paham," jawab Arion.


"Ya sudah aku juga mau keluar," sahut Karina, melangkahkan kakinya keluar kamar dan menuju lantai paling atas kapal pesiar ini.


"Pesawatku kena badai di atas tadi. Sayapnya rusak dua-dua," ucap Karina melihat tatapan bertanya kapten kapal.


"Oh syukurlah Anda dan keluarga selamat, saya kira tadi Anda dan keluarga sedang olahraga terjun bebas atau latihan militer." Kapten kapal terkekeh. Karina hanya bergumam. 

__ADS_1


"Li kirimkan pesawat hitamku ke lokasi yang aku kirimkan," perintah Karina melalui jam tangannya.


"Hah? Untuk apa mengirim pesawat itu ke tengah laut Karina? Kau kan seharusnya telah tiba di sana," tanya heran Li.


"Kau ada di mana?" tanya Karina, sedikit kesal.


"Di kota B, di markas Elina," jawab Li.


"Pantas saja, pesawatku meledak tadi sekarang aku berada di kapar pesiar milikku yang sedang berlayar, cepat kirimkan dalam dua jam harus sudah tiba!" tegas Karina.


"Baiklah, tapi kau baik-baik saja kan?" Suara Li terdengar cemas.


"Kalau aku tak baik bagaimana bisa aku menghubungimu?" kesal Karina.


"Ya, aku paham akan ku kirimkan segera," jawab Li.


"Oh ya jangan lupa rakit lagi pesawat sama persis seperti yang meledak kemarin. Tambahkan juga fitur-fitur yang telah aku selesai waktu itu," tambah Karina.


Setelah Li mengiyakan, Karina segera memutuskan panggilan. Kini tatapannya menatap hamparan laut biru. Menghirup segarnya udara dan memejamkan matanya. 


Tak lama Karina membuka matanya dan mengalihkan tatapannya melihat para penumpang kapal yang bersuka cita di lantai di bawahnya. Ada yang berjemur, ada yang mandi di kolam renang. Ada juga yang mencoba keberuntungan dengan memancing. Masing-masing dari mereka mengisi waktu perjalanan dengan cara mereka sendiri.


"Kakak aku lapar," rengek Bayu menghampiri Karina, di belakangnya Enji menyusul dengan langkah malas, dilihat dari wajahnya sepertinya Enji baru bangun tidur. Enji mencari tempat duduk dan melanjutkan tidurnya.


"Ya tinggal pesan saja Bayu. Tak akan ada yang melarangmu kok, inikah kapal kakak," sahut Karina menaikkan satu alisnya.


"Aku malas mengantri di sana, anak-anak itu mengejek dan menyuruh pergi, aku sudah katakan bahwa kapal ini milik kakak tetapi mereka malah menertawakanku, ya sudah aku mencari kakak saja," terang Bayu.


"Anak-anak dari keluarga itu memang sombong dan angkuh Kak," ujar Ferry datang dengan membawa satu nampan berisi makanan. Ferry memberikan itu pada Bayu, Bayu tersenyum dan mencari tempat untuk makan.


"Keluarga mana memangnya?" tanya Karina.


"Tuh, keluarga William dan Wilson," jawab Ferry menunjuk kumpulan yang berada di lantai dua kapal. Karina mengikuti arah tunjuk kapten.


"Oh keluarga merak itu?" Karina mencibir.


"Mereka toh, pengusaha pas-pasan namun gaya selangit," sahut kapten.


"Hm, mereka mencari masalah dengan keluargaku, buat mereka kehilangan segalanya, buat ini menjadi liburan terakhir mereka," titah Karina, mengulas senyum sinis menatap keluarga itu satu persatu.


"Seperti perintah Anda," jawab sang kapten.


Karina mengirim pesan pada pada tangan kanannya agar membuat kedua keluarga tadi kehilangan segala, dari segi manapun.


"Yang, flashdisk aku ada di tas kamu sepertinya," ujar Arion menghampiri Karina.


"Siapa yang naruh di tas aku?" tanya Karina heran.


"Aku," jawab Arion. 


Karina segera membuka tasnya dan mencari flashdisk Arion. Setelah mengeluarkab semua isi tasnya yang tak lain berisi handphone, kartu segala jenis bank, dan satu set pisau yang dirakit khusus olehnya untuk perlindungan diri.


"Huft, syukurlah, aman sudah kerja samanya," ucap lega Arion.


"Diganti kapan meeting-nya?" tanya Karina.


"Besok pagi," jawab Arion.


"Ya sudah, ayo makan siang dulu atau kita sholat dulu? Sudah waktunya soalnya," ajak Karina.


"Sholat dulu saja, habis itu baru makan siang," ujar Arion.


Akhirnya Arion memanggil seluruh anggota keluarga yang ikut untuk sholat berjamaah di tempat yang disediakan. Sesuai itu mereka makan siang, tak bergabung dengan para penumpang lain melainkan makan siang di ruangan khusus yang memang dibangun untuk pemilik kapal.


Bertepatan dengan selesainya makan siang, pesawat yang diminta Karina untuk menjemput dirinya beserta keluarga melayang di atas kapal pesiar. Hal itu kembali menimbulkan kehebohan.

__ADS_1


Pintu pesawat terbuka dan melemparkan tangga yang terbuat dari tali seperti tali tambang.


__ADS_2