Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 72


__ADS_3

"Cie yang abis malam pertama. Gak bisa lepas dari istri tercinta. Lain kali mainnya lebih halus, kasihan jalan menantu papa kayak kena gempa. Seok sana, seok sini," sindir Amri melanjutkan membaca majalah.


Arion berkacak pinggang menatap Amri kesal. Satu sisi ia juga kesal dengan istrinya yang blak-blakan.


"Kayak Papa gak pernah saja," sungut Arion.


"Pernah. Tapi gak sampai kayak gitu juga kali," sahut Amri melirik Maria yang menatapnya kesal. 


"Papa lebih parah. Dua hari Mama gak turun ranjang," ketus Maria. Amri tertawa canggung. 


"Hahaha … Papa lebih parah ternyata," ledek Arion langsung kabur ke dapur. Amri menatap kesal putra semata wayangnya itu yang sudah kabur duluan. 


"Auh …," ingis Amri tiba-tiba merasakan perutnya dipelintir.


"Papa jangan blak-blakan dong," ketus Maria melepaskan cubitannya.


"Ya maaf," sesal Amri. Maria masih mendengus kesal.


Di dapur, Arion melihat Karina tengah memasak sesuatu. Dengan cepat Arion mendekati Karina dan memeluknya dari belakang. Menyelipkan tangannya di perut Karina dan meletakkan dagunya di pundak Karina.


"Kamu masak apa?" tanya Arion mencium rambut harum Karina sebab habis keramas.


"Sup brokoli," jawab Karina agak risih dengan kelakuan Arion. Arion hanya ber-oh-ria saja.  


"Ada yang bisa aku bantu??" tanya Arion pelan. 


"Ada. Bisa singkirkan tanganmu dari perutku? Aku risih."


Arion merengut kesal. Niatnya ingin romantis malah ambyar. Dengan enggan, Arion melepas pelukannya dan beralih ke samping Karina.


"Jangan cemberut. Nanti tampannya hilang," ucap Karina tanpa menoleh ke arah Arion.


"Kamu juga jangan cuekin aku," kesal Arion. Karina mematikan kompor sebab sup buatannya sudah matang. Ia mengalihkan pandangan ke samping menatap Arion dengan senyum manisnya.


"Siapa yang cuekin kamu?" tanya Karina menaikan satu alisnya. Arion masih menunjukkan wajah kesalnya.


"Ya kamulah," jawab Arion. Karina mendengus kesal. 


"Suamiku Sayang aku tak mengabaikanmu. Aku hanya risih," jelas Karina.


Ia menyajikan sup buatannya dan beranjak ke meja makan disusul oleh Arion. Karina mulai menyantap suap demi suap makanannya, sesekali ia melirik Arion yang masih merajuk tak jelas.


"Kamu gak lapar?" tanya Karina menghentikan makannya dan menoleh ke arah Arion. Arion menggeleng.


"Yakin?" tanya Karina seraya menyantap kembali makanannya dengan melirik Arion, kali ini ia makan perlahan. Arion meneguk ludah lapar. 


"Suapi," ucap Arion.


Karina mendengus kesal. Suaminya kini telah berubah menjadi manja atau apalah itu. Tapi dengan rasa cintanya, dengan senang hati ia menyuapi Arion. Maka jadilah mereka saling suap. Ternyata, Maria dan Amri mengintip dari balik dinding. Senyum menghiasi wajah mereka. 


***


Hari minggu siang, pukul 14.00, Karina dan Arion dalam perjalanan menuju dermaga. Tak lupa canda tawa menemani perjalanan mereka. Sesampainya di dermaga utara, Arion langsung turun membukakan pintu untuk Karina.


"Makasih suamiku, Sayang." Karina mencium sekilas pipi Arion. 


"Sama-sama cintaku," sahut Arion. Mereka berencana menikmati keindahan laut menaiki kapal pesiar pribadi kepunyaan Arion. Arion mengulurkan tangannya saat sudah berada di atas kapal untuk membantu Karina naik.


Karina membalas ulurannya dan melangkahkan kakinya naik ke kapal. Sayang, pijakan Karina tak seimbang dan akhirnya jatuh menimpa Arion. Otomatis Arion juga ikut terjatuh.


Brukk ….


"Auh ...," ringis Karina. Wajahnya tepat berada di depan wajah Arion yang memejamkan matanya. 


Para crew kapal segera menghampiri mereka untuk membantu berdiri. Namun lirikan tajam Karina membuat mereka tetap pada posisi dan mengamati apa yang akan terjadi.


"Kamu tampan,"lirik Karina berusaha bangkit namun ditahan oleh Arion.


Tangan Arion yang semula telentang di lantai kapal kini memeluk Karina erat. Tentu saja Karina meronta, malu dengan para crew kapal yang berjumlah tiga orang itu.


Arion membuka matanya dan menatap wajah Karina yang memerah.


"Kamu cantik bagai bidadari," ujar Karina memajukkan wajahnya hendak mencium Karina. Posisi mereka masih pada lantai kapal.

__ADS_1


Sebelum Arion berhasil menciumnya, Karina menaikkan tangannya menutup mulut Arion dan meronta berusaha melepas pelukan Arion.


Arion yang merasa agak sesak mengendurkan pelukannya. Dengan cepat Karina melepaskan mulut Arion lalu berdiri dan lari ke lantai atas kapal.


Arion duduk dari telentangnya dan menggelengkan kepalanya pelan. Senyum menghiasi wajahnya. Ia segera berdiri dan mengejar Karina ke lantai atas kapal.


Di atas ia melihat Karina yang tengah merentangkan tangannya menikmati semilir angin, padahal mereka belum berlayar sedikitpun. Dengan segera Arion mengintruksikan kepada nahkoda kapal untuk segera berlayar.


Perlahan, kapal mulai berlayar mengarungi lautan. Arion melangkahkan kakinya mendekati Karina dan kembali memeluknya dari belakang. Karena tinggi badan Karina yang sebatas dagu Arion maka dengan mudah Arion meletakkan dagunya di atas kepala Karina.


"I love you," bisik Arion pelan.


"Hmm … I know. Love you too, Ar," sahut Karina merapatkan tangannya memegang dua tangan Arion di perutnya.


"Ar?" panggil Karina lirik.


"Hmm …," sahut Arion.


"Kamu akan setiakan? Gak akan berpaling?" tanya Karina mengutarakan kegusaran hatinya. Terselip rasa khawatir akan Arion akan meninggalkan dan menghianatinya apabila jika suatu saat Joya kembali. Ini sudah enam bulan lebih Joya menghilang dengan alasan pamit berobat. 


Arion tersenyum dan melepaskan pelukannya lalu membalikkan Karina menatap wajahnya. Menangkupkan kedua tangannya di wajah Karina dan menatapnya penuh kasih dan cinta.


"Hanyalah dirimu, kasih satu yang ku cintai dan ku sayang," jawab Arion berusaha menghilangkan kegusaran Karina.


Karina memejamkan matanya.


"Benarkah? Bagaimana jika dia kembali?" tanya Karina lagi.


"Dia? Siapa?" tanya Arion tak mengerti.


"Joya. Kekasih masa lalumu," jawab Karina menekankan nama Joya. Arion terdiam. Nama yang lama tak ia dengar, bahkan kini ia sudah lupa dengan nama itu. Karina telah bertahta di hatinya, mengubur jauh nama Joya. Kini nama itu, meluncur dari bibir istrinya.


"Jika ia kembali, aku akan mengatakan yang sejujurnya. Aku hanya mencintaimu, sekarang, kini dan selamanya. Aku akan memintanya melupakanku dan mencari pria yang lebih baik dariku," jawab Arion seraya mengecup singkat kening Karina.


"Apakah semudah itu?? Apalagi dia mengaku punya penyakit jantung. Aku tak mau dia mati gara-gara shock kejujuran kamu," ucap Karina mengeluarkan segala kegusarannya.


Aku khawatir jika dia mati bukan gara-gara serangan jantung tapi peluru yang aku lepaskan ke jantungnya, tawa Karina dalam hati.


"Tidak akan Sayang. Aku akan menjelaskannya perlahan jika suatu saat ia kembali. Satu hal yang pasti, apapun yang terjadi mau sebesar apapun badai itu, aku akan setia sehidup semati denganmu," ujar Arion mantap menurunkan kedua tangannya ke pundak Karina.


Arion membalas pelukannya. Lima menit kemudian, Karina melepas pelukannya dan mengalihkan perhatiannya ke arah birunya air laut yang terbentang luas di sekeliling mereka. jernihnya air laut bahkan dapat melihat terumbu karang yang hidup bebas di dalamnya. Ekosistem yang sangat terawat di bawah pengawasan ketat. Desiran ombak menambah keindahannya. 


"Kamu suka dengan ini kan?" tanya Arion. Karina mengangguk secepat kilat. Keindahannya bahkan melebihi birunya air laut di sekitar pulau pribadinya. Lebih indah sebab ia berdiri di sini bersama dengan orang yang ia cintai dan sayang.


"Jika begitu, kita akan sering berlayar kemari," ucap Arion.


Lagi-lagi Karina hanya mengangguk. Dengan segera ia turun ke lantai bawah. Tangannya terlulur menyentuh air laut. Karina mengikutinya dari belakang. Jarang sekali ia bisa melihat Karina bertingkah seperti ini. 


"Ar lihat lumba-lumba," pekik Karina girang menunjuk kawanan lumba-lumba yang naik turun di permukaan air laut tak jauh dari kapal mereka.


Siapa sangka, salah seekor kawanan lumba-lumba berganti arah dan berlabuh menyentuh satu tangan Karina yang masih berada di dalam air dengan moncong panjangnya.


Karina takjub seketika. Arion ikut memasukkan tangannya menyentuh lumba-lumba yang menurutkan adalah yang paling muda dari kawanannya.


Ternyata kawanannya tadi ikut mendekat. Suaranya yang unik menyapa indera pendengaran Karina dan Arion. 


"Ar anak lumba-lumba ini seperti menyukaiku. Aku juga menyukainya," ujar Karina. Arion menarik tangannya seketika dan menatap kesal lumba-lumba yang menggerakkan tubuhnya memutari tangan Karina.


"Dia gak boleh suka sama kamu. Kamu gak boleh suka dia. Hanya boleh suka sama aku. Hanya aku yang bisa," sahut Arion melipat tangannya merajuk. Karina menjatuhkan rahangnya heran. 


"Kau cemburu dengan lumba-lumba imut ini?" tanya Karina heran.


Arion mengangguk. Tak lama terdengar suara kawanannya seperti memanggil lumba-lumba kecil itu untuk kembali dan meneruskan perjalanan. Karina mengalihkan perhatian kembali padanya.


"Pergilah. Kawananmu memanggilmu. Suatu saat kita pasti bertemu lagi. Jadilah lumba-lumba yang hebat dan kuat. Kalian dikenal sebagai hewan yang cerdas," ujar Karina menyentuh kepala lumba-lumba keci itu.


Seolah mengerti, lumba-lumba itu mengangguk-angguk kepalanya. Ia segera berbalik menuju kawanannya, sebelum pergi terlalu jauh, ia berhenti dan mengangkat ekornya tinggi memukul air laut. Akibat pukulannya itu, air laut menyiram baju Arion.


Arion terperangah. Bajunya basah. Ia menatap kesal lumba-lumba kecil itu yang sudah bergabung dengan kawanannya.


"Lumba-lumba kurang ajar. Awas saja jika aku bertemu lagi denganmu. Ku jadikan lumba guling kamu," teriak marah Arion seraya berkacak pinggang.


Teriakannya dibalas oleh kawanan lumba-lumba seolah menertawakannya. Karina yang semula hanya menahan tawa ini tak dapat lagi menahan nya. Tawanya pecah seketika.

__ADS_1


"Hahaha kamu ini lucu sekali dengan lumba-lumba saja kamu cemburu," ujar Karina.


"Hmm …," sahut Arion.


"Baju aku basah," keluhnya.


"Kamu gak bawa baju lain?" tanya Karina menghentikan tawanya.


"Enggak. Kan rencananya kita hanya berlayar bukan menyelam," jawab Arion memeras ujung bajunya.


"Ya sudah kita kembali saja. Hari juga sudah sore. Nanti kamu masuk angin gara-gara kedinginan," saran Karina khawatir. Bisa ambyar jadwalnya besok jika Arion sakit.


"Hmm … kalau aku kedinginan kan ada kamu yang menghangatkan," ucap Arion mengelingkan matanya ke arah Karina.


Wajah Karina memerah seketika. Ia paham akan maksud Arion.


"Berhentilah bersikap mesum. Aku tak mau menghangatkanmu," ketus Karina segera kabur dari hadapan Arion sebelum Arion menerkamnya di sini.


Arion refleks langsung mengejar setelah memerintahkan nahkoda untuk kembali ke dermaga. Terjadilah aksi kejar-kejaran di atas kapal. Karina menjulurkan lidahnya mengejek Arion yang tak dapat menangkapnya.


"Kamu lambat sekali," ejek Karina.


"Awas kamu ya. Kalau dapat aku terkam kamu nanti," teriak Arion. Karina terus berlari menggelilingi kapal. Ia melihat ke belakang namun tak menemukan Arion.


Saat ia melihat ke depan, matanya membulat menemukan suaminya siaga dengan tangan yang di rentangkan. Alhasil ia menabrak dan jatuh kembali menimpa Arion. Tak mau kehilangan lagi, Arion segera memeluk erat Karina. Bajunya yang basah ia tempelkan ke pelukan Karina.


"Ah … baju aku basahkan …," kesal Karina mengerucutkan bibirnya.


"Ehmm??"


Matanya membulat sebab Arion menciumnya tiba-tiba. Karina diam saja tak membalas. Ia kesal dengan Arion. Tak lama Arion melepas ciumannya dan menatap heran Karina.


"Kok gak dibalas?" tanya Arion.


"Malas. Kamu pikir aku tak tahu akal bulus kamu. Kalau aku balas, kamu pasti minta lebih," ketus Karina berusaha melepaskan pelukan Arion.


Arion terkekeh pelan dan melepas pelukannya. Karina beralih ke samping suaminya. Kini mereka berbaring di lantai atas kapal menikmati desiran ombak dan angin yang datang.


Pukul 18.00 , mereka tiba di dermaga, Karina dan Arion segera menuju mobil dan pulang ke kediaman Wijaya.


***


Keesokan paginya, sebelum berangkat ke kantor, Arion mengantarkan Karina ke bandara untuk terbang ke negara B. Maria dan Amri tak ikut mengantar sebab ada acara penting. Sesampainya di bandara, Karina langsung berpamitan.


"Jangan terlalu lama di sana. Aku tak sanggung berpisah denganmu," ujar Arion mencium kening Karina.


"Cuma tiga hari saja. Jika masalahnya tak terlalu besar mungkin akan lebih cepat," sahut Karina. 


"Tiga hari terasa begitu menyiksa," aduh Arion. Hari-harinya akan terasa berbeda tanpa Karina. Apalagi mereka serasa pengantin baru walaupun sudah lama menikah.


"Kan bisa video call," ujar Karina segera mencium tangan suaminya. Arion mengangguk.


"Aku pergi. Rindukan aku selalu," tambah Karina segera beranjak menaiki tangga pesawat.


Di tangga Karina berhenti sejenak dan berbalik melambaikan tangannya seraya tersenyum manis ke arah Arion. Arion membalas lambainya.


"Aku merindukanmu setiap saat," seru Arion. Karina segera masuk ke dalam pesawat. Pintu menutup. Arion segera beranjak pergi ke kantor. Tak lama pesawat pribadi Wijaya take off menuju negara B. Perjalanan hanya membutuhkan waktu satu jam setengah.


Untuk masalah kali ini, Karina menyelesaikannya sendiri, Lila dan Raina yang awalnya bersiap untuk ikut di minta untuk tetap di perusahaan.


Di dalam pesawat, Karina membuka laptopnya dan mencari semua data yang berhubungan dengan rumah sakitnya di negara B yang terkena masalah. Ditemani segelas jus dan beberapa cemilan yang di siapakan oleh pramugari.


Sangking seriusnya tak terasa pesawat sudah landing di bandara negara B. Pramugari segera mengingatkan Nyonya muda itu.


"Nyonya, kita sudah mendara," ujar pelan pramugari itu. Karina menoleh ke arahnya. Dengan wajah dingin sebab urusannya terganggu.


"Hmm …," sahut Karina dingin segera membereskan laptopnya dan berdiri, turun dari pesawat dengan menarik kopernya. Karina segera keluar bandara dan mencari taksi. Satu taksi menghampirinya, sang supir membuka kaca samping.


"Taksi?" tanyanya. Karina mengangguk. Pak sopir segera turun dan menaruh koper Karina di bagasi. Karina masuk ke dalam mobil. Tak lama pak sopir juga masuk.


"High City Residence," ujar Karina memberitahu tujuannya. Mata sopir itu membulat. Ia tak menyangka penumpang pertamanya adalah salah satu konglomerat yang memiliki kediaman termewah di negara ini. Perlahan taksi meninggalkan bandara menuju High City Residence.


Ternyata bersamaan dengan Karina yang tiba di negara B. Joya juga mendarat di negara kota C, negara Y. Joya melepaskan kacamatanya.

__ADS_1


"KS Tirta Grub aku datang," gumam Joya.


__ADS_2