
Selepas magrib Karina dan Arion sudah berangkat menuju kediaman Wijaya. Di perjalanan, Karina mengerutkan dahi saat melihat sesuatu yang tidak mengenakkan.
Arion yang fokus pada handphone tidak menyadari wajah geram Karina. Karina menghela nafas panjang saat mobil memasuki kompleks perumahan Wijaya. Arion menoleh menunjukkan wajah bertanya.
"Ada lalat pengganggu tadi," ujar Karina.
Arion hanya ber-oh-ria. Kini mereka tiba di kediaman Wijaya. Ternyata Enji dan Bayu sudah tiba duluan.
Pelayan membukakan pintu untuk Karina dan Arion. Keduanya disambut oleh Maria. Dengan segera keduanya menyalami Maria.
Maria mencium pipi kanan dan kiri Karina. Tidak lupa batik untuk Maria dan Amri Karina berikan dan segera dilihat oleh Maria.
Maria tersenyum cerah mendapati batik yang sesuai dengan seleranya. Menantu dan mertua yang sehati.
"Sayang, batiknya berbeda dari butik biasa kamu? Kainnya lebih lembut dan spesial," tutur Maria setelah meneliti batik tersebut.
"Ya, kemarin kami coba lihat-lihat butik baru, ternyata cocok. Malah Karina buat jadi mitranya. Menantu Mama ini kalau lihat peluang, gas sampai dapat. Nggak heran kalau dia ini sultan!" sahut Arion mendahului Karina.
Karina berdecak sebal tapi cukup puas dengan ucapan Arion.
"Benarkah? Wah lain kali kita harus belanja bareng ya. Mama penasaran," sambut Maria dengan mata berharap.
Karina mengangguk sebagai jawaban.
Maria berseru senang dan memeluk Karina tidak lupa menanyakan kabar kedua cucu yang sudah dinanti kelahirannya.
"Ya lain mana, Ma?" tanya Arion.
"Ada di meja makan. Enji bawa pasangan loh," ujar Maria dengan mata yang meyakinkan.
"Siapa?" tanya Karina.
Satu-satunya yang terlintas di pikiran Arion dan Karina adalah Jessica.
"Lihat saja sendiri, ayo," ajak Maria.
Mereka bertiga segera menuju meja makan. Di sana Bayu terlihat bermain dengan Alia. Enji yang mengobrol dengan Amri dan Jesica yang tampak gugup. Ia duduk dengan wajah menunduk.
Karina dan Arion sama-sama tersenyum tipis lalu mengucapkan salam yang segera dijawab oleh keempat orang itu.
"Lama sekali kalian berdua," ledek Enji yang dibalas tatapan tajam Karina.
"Perannya triple ya?" tanya Arion sembari duduk di kursi samping Karina.
"Bayaran triple juga kan?" timpal Karina ikut mengorek Enji.
Enji tampak tersentak dan Jessica yang semakin menunduk. Wanita berusia 23 tahun ini malam ini tampil menawan dengan dress toska dan rambut yang digarap sedemikian rupa.
Menyatu dengan gaya pakaian dan perhiasannya. Amri dan Maria menatap Bayu meminta penjelasan.
Bayu mengangkat kedua bahunya acuh. Bagi Maria dan Amri, iya tidaknya bukanlah masalah besar bagi mereka. Asalkan Enji dan Bayu bahagia, sudah cukup bagi mereka.
"Apaan sih,Kak? Dia memang pacar aku kok. Walaupun baru yang penting sudah jelas. Jessica is my girlfriend," jelas Enji dengan tampang serius.
Arion hanya tersenyum, antara percaya dan tidak. Tapi ya sudahlah.
"Awas kelepasan lagi. Tanyakan pada Bayu sudah siap jadi kakak atau tidak?" celetuk Karina menatap Enji dengan nada meledek.
Amri dan Maria saling tatap dengan seulas senyum. Keduanya awalnya cukup kaget dengan Enji yang datang dengan mengendarai mobil dan masuk dengan menggandeng Jesica serta memperkenalkan Jessica sebagai kekasihnya.
Bayu saat itu yang hanya cuek-cuek bebek. Tidak ada reaski penolakan membuat Amri dan Maria percaya.
Ternyata beberapa hari di luar negeri, banyak hal yang mereka lewatkan di rumah sendiri.
Blush.
Pipi Jessica memerah. Bayu yang mendengar itu langsung menyambar.
"Tidak. Aku maunya punya adik saat usiaku genap sepuluh tahun!" seru Bayu menatap tajam Enji dan Jesica.
"Siap Bosku!" sahut Enji merangkul Jessica . Jessica terperanjat.
Tubuhnya seakan disengat aliran listrik. Ia menatap Enji yang tersenyum manis. Mata Enji menyiratkan agar Jesica tersenyum. Jessica dengan perlahan menarik bibirnya tersenyum.
__ADS_1
"Maka keluarlah di luar," cetus Amri yang membuat semuanya menatap Amri.
Amri menaikkan alisnya.
"Benarkan? Tips cara berhubungan tanpa menyebarkan benih. Aih Papa rasa kalian lebih paham dari Papa," tambah Amri.
Maria menepuk dahinya pelan. Gemas dengan tingkah Amri malam ini. Arion dan Karina saling lirik dengan semburat samar di pipi.
Bayu yang juga mengerti terkikik geli dengan reaksi salah tingkah Enji dan Jessica . Kedua insan itu kini tampak canggung dengan wajah memanas dan tatapan menunduk.
"Aduh-aduh mengapa jadi diam begini? Ayo kita makan malam atau kalian berdua mau salat dulu? Kalau iya lekaslah salat," ucap Amri memecah suasana.
Yang langsung ditimpali oleh Maria. Karina dan Arion memutuskan salat dulu baru makan malam.
"Eh gimana awal kalian bertemu, ceritain dong. Penasaran Mama," ucap Maria menatap Jessica .
Jessica sedikit terkesiap dengan nada ramah Maria. Jujur ia mengira Maria itu galak atau sinis terhadapnya.
"Kalau keluarga? Ayo ceritakan. Tidak perlu sungkan. Kami sebagai orang tua Enji ingin mengenal lebih dekat kekasih anak kami," tutur Amri.
Jessica menatap Enji ragu. Enji tersenyum dan mengangguk. Jessica menarik nafas panjang.
"Om, Tante, pertemuan kami sangat tidak enak dikenang. Saya malu untuk menceritakannya dan mengenai keluarga saya. Juga tidak ada yang menarik," ucap Jessica dengan gugup.
"Kami mengerti. Ceritakan saja. Kami tidak akan mencela. Bagi kami lebih baik membantu daripada menambah beban," ucap tegas Maria menatap Jessica meyakinkan.
"Ceritakan saja. Mereka orang yang bijak," ucap Enji berbisik.
Jessica menelan ludah dan mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Enji. Sesekali Enji menimpali saat Jessica kehabisan kata.
Maria dan Amri mangut-mangut. Bayu yang sudah tahu hanya menyimak. Ia tersenyum tipis saat Jessica mulai menceritakan tentang keluarganya.
Maria dan Amri terbelalak dengan kisah Jessica. Keduanya berdecak sedih untuk Jessica. Jessica yang tanpa sadar menangis pun segera didekap oleh Enji.
"Kalau Tante dan Om tidak setuju saya menjadi kekasih Enji, Om dan Tante boleh usir saya sekarang. Saya malu. Saya bagai punuk merindukan bulan. Latar belakang keluarga saya sangatlah hancur. Saya malah berharap dan bermimpi menikah dengan pria kaya yang dapat mengubah kondisi keluarga saya. Hiks … hiks … hiks."
Enji mengusap bahu Jessica yang bergetar.
Maria tampak prihatin sedangkan Amri simpatik. Keduanya bersamaan menghela nafas kasar. Bagi keluarga lain mungkin akan sangat sulit menerima latar belakang keluarga Jessica. Itu lebih dianggap mencemarkan nama baik sendiri.
Mereka lebih cenderung dikucilkan dan diabaikan oleh sekitarnya. Melihat merekapun, bak melihat hal yang menjijikan.
Jessica mencoba tabah dan menjadi sandaran, siapa sangka saat pulang kerja tadi ia malah diboyong Enji ke butik dan dengan lantang Enji menyatakan rasa dan memintanya untuk jadi kekasih.
Mau tidak mau Jesica menerima terlebih dengan mata penekanan dari Enji. Garis bawahin setelah keluar butik Jesica menandatangi perjanjian kontrak pacaran.
Dan benar apa kata Karina tadi Jesica mendapat bayaran tiga kali lipat. Hanya saja selain hubungan yang masih berdasar kontrak. Enji menekankan bahwa semua yang Jessica katakan harus kejujuran. Akan menjadi masalah besar nantinya jika mereka berbohong.
"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Maria lembut.
Jessica yang masih menangis mengusap air matanya dan menatap balik Maria.
"Kondisinya terus menurun. Ayah juga semakin kecanduan," jawab Jesica jujur.
"Keluarga yang malang," simpul Amri.
"Haih ... keputusan ada di tangan Enji. Kami hanya bisa menasehati. Kau tahu posisi kami bukan? Kami harus menjaga nama baik serta kebahagian keluarga. Kami harap ayahmu lekas berubah," tukas Amri lagi.
Jessica tersenyum simpul dan Enji menghela nafas lega. Bayu melirik Jesica.
Keputusanku menyatukan mereka sudah tepat. Ayah, kamu jangan mengecewakan diriku! batin Bayu.
Ingatan Bayu kembali beberapa hari lalu. Alasan di balik diterima Jessica bekerja adalah Bayu.
Bayu yang prihatin dan merasa cocok dengan Jessica. Meminta pada Enji. Enji mau tidak mau harus mengikut. Dan kemarin itu juga perbuatan Bayu. Percayalah, Bayu itu dapat mengendalikan Enji dengan baik.
Perbincangan mereka terhenti saat Karina dan Arion kembali bergabung. Keadaan hening membuat Karina dan Arion menatap mereka heran.
"Apakah kami melewatkan hal yang penting?" tanya Arion.
"Hm, aku rasa tidak. Hanya membawa bisnis," jawab Enji.
"Sudah. Ayo kita makan," tukas Maria.
__ADS_1
Makan malam berlangsung lancar. Dentingan alat makan yang saling bertemu menjadi irama alami menemani makan malam. Sajian yang dihidangkan pun tidak jauh dari makanan kesukaan setiap anggota keluarga.
*
*
*
Malam semakin malam, Karina dan Arion pamit pulang saat waktu menunjukkan pukul 23.00, pembicaraan yang mengasyikan membuat mereka lupa waktu.
Sedangkan Enji, Bayu dan Jessica pamit pulang dua jam sebelumnya.
Tiba di rumah Arion menggendong Karina yang sudah tertidur duluan menuju kamar. Melepaskan alas kaki Karina lalu membaringkan tubuhnya sendiri. Tidak lupa menarik selimut agar terlindung dari hawa dingin.
"Night, Sayang," ucap Arion menutup matanya tidur.
*
*
*
Di tempat lain Jessica masih belum bisa menutup mata walaupun matanya sudah mengantuk. Ia hanya diam menatap langit kamar. Di luar ayahnya terlelap bersama dengan botol-botol alkohol. Ingatan Jessica kembali saat ia mengantar Enji pulang.
...****************...
...****************...
...****************...
Flashback on
"Tuan, saya punya satu pertanyaan. Harap jawab dengan jujur," ucap Jessica menatap lurus ke depan setelah memastikan Bayu sudah tidur di jok belakang.
"Katakan," titah Enji tanpa menatap Jessica juga.
Pandangannya tetap ke depan fokus pada jalanan.
"Mengapa Anda memilih saya sebagai kekasih kontrak Anda? Bukankah lebih banyak wanita yang lebih dari saya dari semua segi?" tanya Jessica .
"Hm, benar."
Jessica menatap Enji dalam.
"Tapi para wanita itu tidak memiliki restu dari Bayu. Aku hanya akan menjalin hubungan dengan wanita yang Bayu sukai dan srek dengan hatinya. Aku ini jumpa besar dengannya. Aku tidak mau menjadi ayah yang egois. Kebahagian Bayu adalah prioritas untukku. Serta aku yakin Bayu punya naluri yang tepat dan aku percaya. Apa yang Bayu lakukan, semua ada alasan dan tujuannya. Percayalah dia anak yang dewasa dari segi pemikiran," papar Enji santai dan gamblang.
Jessica terdiam sejenak. Ia mencerna ucapan Enji.
"Dalam arti kata lain, Tuan Muda Bayu memandang saya mempunyai jiwa ibu kandungnya?"
Jessica menarik kesimpulan. Enji mengangguk. Tak lama wajahnya berubah menjadi muram yang membuat Jessica heran.
"Aku bahkan mulai melupakan wajah ibunya," gumam Enji. Entah mengapa hati Jessica merasa tidak nyaman.
"Jangan baper dulu kamu," cetus Enji dengan nada ketusnya.
"Hm, tapi Tuan, Anda pasti tahukan hubungan kontrak dapat menyakiti bagaimana Anda mengatasi hal itu? Saya orang yang sabar. Tapi saya juga manusia yang punya batas kesabaran dan hati. Jujur saya akan cemburu jika melihat pasangan saya bersama wanita lain kecuali keluarga," ucap Jesica meminta kejelasan.
"Kontrak hanya awal. Selama itu berlangsung aku akan membangun rasa denganmu. Aku pria yang setia. Kamu tidak perlu takut. Intinya kamu cukup mengikuti jalan mainnya. Ku pastikan kamu tidak akan tersakiti. Malah aku berharap jika saatnya tiba aku akan menikah denganmu. Dengan atas nama cinta, bukan kontrak. Jadi mari saling bekerja sama," jelas Enji.
Jessica terpaku beberapa saat. Hatinya berdebar tidak karuan mendengar kata-kata Enji. Tanpa sadar ia kembali menitikkan air mata dan tersenyum lembut.
"Ya, mari," jawab Jessica.
Enji tersenyum puas, di belakang sebenarnya Bayu tidak tidur, hanya menutup mata saja.
Nona Jessica, aku rasa ibuku menjelma sebagai dirimu. Berada di dekatmu membuatku merasakan kehangatan seorang Ibu, batin Bayu.
Flashback off.
*
*
__ADS_1
*