Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 65


__ADS_3

Aleza segera membuka lakban yang menutup mulut Nita. Nita meringis tertahan.


"Apa alasannya? Mengapa kau mengabaikan perintahku?" tanya Karina dingin.


"Nona??" ujar Nita tersentak. Banyak sekali kejutan yang ia dapat hari ini. Diculik oleh teman satu organisasi sehari setelah menikah dengan kakek Bram.


Ya mereka sudah menikah secara kilat setelah tiba di negara B. Kini Nita sudah resmi menjadi istri kakek Bram. Dan sekarang Nonanya sendiri yang mencarinya. Itu berarti tindakannya membuat Karina marah besar.


"Lepaskan penutup matanya!" perintah Karina lagi. Setelah penutup kepalanya dilepas, Nita menunduk tak berani menatap Karina. Ia masih bungkam tak mau menjawab.


"Jawab pertanyaanku, Rosalina!!" geram Karina.


Nita semakin tertunduk. Karina sudah tak memanggilnya Nita melainkan nama lamanya berarti tindakannya kali ini benar-benar membuat Karina murka.


"Maaf … maaf Nona … saya takut Nona tak merestui saya dan mas Bram," ucap Nita terbata-bata.


"Restu? Bukahkah sudah ku katakan aku akan merestui dan melepas sumpah janjimu padaku? Mengapa kau membangkang? Oh ya kau memanggil Kakek tua itu Mas. Kau sudah menikah dengannya?" tanya selidik Karina. Nita mengangguk kecil.


"God damn Nita. Jatuh hati membuatmu tidak patuh. Kau bahkan menghapus semua jejakmu agar orang yang mencari kalian kesulitan menemukan kalian," kesal Karina.


"Heh tapi kau lupa dengan chips yang ku. tanam di lengan kananmu. Asal kau tahu chips itu tak bisa dibuka ataupun dihilangkan sebab hanya aku yang bisa melakukannya," tambah Karina.


"Maaf … maaf kan saya Nona. Saya-saya lancang. Mohon hukum saya Nona," pinta Nita. Karina jengah dengan kata maaf dari Nita. 


"Selamanya kau tak akan ku lepaskan dari sumpah janjimu. Kau akan menjalankan misi dariku. Sampai akhir hayat kau dan keturunanmu akan menjadi anggota kelas F Pedang Biru," tegas Karina berdiri dari kursinya.


Nita tertegun. Kelas F adalah kelas atau tingkatan paling rendah dalam struktur organisasi di mana mereka ditugaskan menjadi tukang kebun, koki, penjaga kuda atau hewan peliharaan Karina, dan segara pekerjaan kasar.


Nita, walaupun dia adalah pelayan di rumah Karina, kelas Nita adalah kelas C. Di mana anggotanya memiliki kesempatan untuk menjalankan misi penting dan juga bisa menjadi kepala divisi usaha legal maupun ilegal Pedang Biru. 


"Oh ya satu lagi kembalilah ke negara Y. Sekalian kau bawa Kakek tua itu juga. Gara-gara dirimu aku mengamuk pada mertuaku," perintah Karina  meninggalkan ruang kamar tahanan.


Nita tertunduk perlahan, tak lama pada pengawal yang membawa dirinya tadi masuk dan membawanya keluar dari sana. Nita lemas seolah tak ada tenaga. Keputusan Nonanya sudah mutlak. Matanya berkaca-kaca tak lama ia terisak.


Sesampainya di kediaman kakek Bram, Nita di tinggalkan begitu saja di depan gerbang. Waktu menunjukkan pukul 04.30.


Para penjaga yang melihat Nyonya muda mereka kembali segera membuka gerbang. Nita masih menatap ke arah jalanan. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.


"Syukurlah kau sudah kembali. Aku sangat takut dan khawatir kehilanganmu," ucap pelan kakek Bram.


Kakek Bram melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Nita. Memeriksa apa ada yang terluka atau hilang. Ia menghela nafas sebab tak ada yang terluka. Hanya lecet di bagian tangan akibat ikatan.


"Mas, kita kembali ke negara Y ya. Kita minta restu sama Nona dan anak Mas," pinta Nita. Kakek Bram diam tak merespon. Ia malah mengajak Nita masuk. 


Tiba di ruang tengah, kakek Bram mendudukkan Nita di sofa. Kakek Bram meminta pelayan mengambil kotak P3K untuk mengobati lecet pada tangan Nita.


"Siapa yang menculikmu? Aku bahkan tak bisa menemukan dan melacak walaupun sudah kukerahkan orang-orang terbaikku," tanya kakek Bram sembari mengobati luka lecet Nita.


"Bukan siapa-siapa. Mas kita pulang ya. Aku tak tenang sebelum mendapat restu dan persetujuan dari anak dan cucumu," pinta Nita lagi.


"Percuma. Anak itu keras kepala. Dan untuk cucu menantu, aku rasa dia tak akan keberatan mengenai hal ini," tolak kakek Bram.


"Anda salah Mas. Nonaku adalah segalanya. Dia keluargaku. Aku butuh restunya," tegas Nita.


"Baik. Tapi jika mereka tak setuju aku tak akan menerima permintaan apapun yang berkenaan dengan masalah restu," ucap tegas kakek Bram. Nita mengangguk paham.


Sampai kapanpun aku tak akan bisa lepas dari Nona. Bahkan kerena kecerobohan kecilku ini keturunanku juga terkena imbasnya, batin Nita.


Kakek Bram segera menghubungi orang kepercayaannya untuk menyiapkan pesawat menuju negara Y. 


"Kita berangkat besok pagi. Istrilahatlah kau pasti lelah," ujar kakek Bram.


Nita mengangguk dan segera menuju kamar . Kakek Bram tetap di ruang tamu, ia masih memikirkan siapa yang menculik istrinya , bagaimana bisa di tengah pengawasan dan pengamanan yang begitu ketat mereka masih kecolongan?


Dan anehnya orang menculik istri malah memulangkan Nita dengan selamat tanpa ancaman atau tebusan.


***


Senin, pukul 06.00 pagi, Karina mendarat di bandara negara Y. Sebelum turun Karina mengganti pakaiannya yang serba hitam menjadi pakaian jogging. Mobil yang kemarin menjemputnya sudah menunggu. Karina segera masuk.


Ketika sudah dekat dari kediaman Wijaya sekitar 500 meter lagi, Karina turun dari mobil dan menggunakan topi berwarna hitam. Tak lupa air mineral di tangannya. Karina melirik kanan kiri.


Masih sepi, padahal ini adalah awal hari kerja, sekolah dan aktivitas dinas lainnya. Karina memakai handset yang disambungkan dengan handponenya mendengarkan musik.


"Pulanglah," ujar Karina pelan dan segera berlari-lari kecil pulang menuju kediaman Wijaya.


 Sedangkan di kediaman Wijaya, Bayu mencari Karina. Dari mulai kamar Arion, dapur, taman, dan seluk beluk rumah ia susuri.


Bayu pun sedih dan mulai menangis. Tangisannya membuat Arion, Amri dan Maria terbangun. Mereka segera mencari Bayu dan menemukannya di tangga.


"Kamu kenapa Bayu? Mengapa pagi-pagi sudah menangis?" tanya Arion yang masih mengantuk. Bahkan matanya masih terbuka setengah.


"Kakak Karina …," ujar Bayu sesenggukan. 


"Memang kak Karina kenapa?" tanya Maria.


"Kakak gak ada di rumah," jawab Bayu. Mata Amri, Arion dan Maria terbuka sempurna setelah sebelumnya masih mengantuk. Arion langsung lari ke kamar. Ia tak melihat sampingnya tadi ketika bangun.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Amri was-was.


"Kakak pergi gak ajak Bayu. Bayu sudah keliling satu rumah tapi Kakak juga gak ada," jelas Bayu.


Deg ….


Apa dia tersinggung dengan tuduhanku kemari? batin Amri. 


"Mungkin saja Karina keluar tapi tidak pamit," ujar Maria berusaha menenangkan suaminya dan Bayu. Tak lama, Arion kembali.


"Bagaimana Ar?" tanya Amri.


"Karina memang gak ada Pa. Tapi baju-bajunya masih di lemari," jelas Arion.


"Huah … Kakak pergi gak ngajak-ngajak aku," tangis Bayu. Ia tak akan berhenti menangis sebelum Karina kembali.


Kini mereka berempat duduk di ruang keluarga. Menduga ke mana Karina pergi sepagi itu. Bayu mengatakan bahwa pukul 04.30 ketika ia masuk ke kamar Karina dan Arion, Karina sudah tidak ada.


Tak lama pintu rumah terbuka. Dari arah depan muncullah Karina dengan keringat yang membanjiri kulitnya.


Cuma lari 500 meter kok banjir keringat? Sebab Karina tak hanya lari, ia juga melakukan push up, back up, dan sit up masing-masing 100 kali. 


"Kakak/ Karina," seru mereka berempat bersama. Karina ikut duduk bersama mereka dengan wajah tanpa dosa. Dengan santainya ia mengelap keringat dengan baju yang dikenakan Arion, lalu melepas headset dan minum.


Arion terdiam seketika meresakan bajunya basah dengan keringat Karina. Bayu malah dengan santainya memeluk Karina erat. Tangisannya sudah berhenti.


"Kamu dari mana?" tanya Arion.


"Iya Sayang. Kamu pergi kemana pagi-pagi buta?" tanya Maria.


"Jogging," singkat Karina.


"Dari jam 04.30 pagi?" selidik Arion.


"Hmm …," jawab Karina.


"Bohong. Mana ada orang jogging jam segitu. Yang ada masih meringkuk di bawah selimut," bantah Arion tak percaya.


"Kamu ada yang masih tidur jam segitu. Bayu saja sudah bangun," jawab Karina datar.


"Jadi kamu jogging? Papa kirain kamu pergi dari rumah kerena Papa marah sama kamu kemarin," ucap Amri memastikan.


Arion menatap papanya kesal. Maria pun mencubit perutnya. Amri meringis tertahan. Sedangkan Karina menatap datar Amri.


"Jika mental saya seperti itu saya tak akan bisa seperti ini! Anda beruntung saya tak mengamuk," ujar datar Karina. Hening. Semua saling tatap kecuali Karina dan Bayu.


Semua segera bergerak kecuali Bayu. Pukul 07.00 pagi, mereka sudah standby di meja makan. Sarapan bersama dalam keheningan. Selepas sarapan, Arion langsung pamit ke kantor. Karina bersiap mendaftarkan Bayu sekolah. Sedang Amri dan Maria seperti aktivitas seperti biasa.


***


Pukul 10.00 pagi, kediaman Wijaya dikejutkan dengan pulangnya kakek Bram dan Nita. Kakek Bram menggandeng mesra istri mudanya itu.


Mereka langsung masuk ke dalam rumah. Amri dan Maria yang melihat kedatangan mereka terdiam. Amri mulai mengepalkan tangannya melihatnya bersama Nita. Maria memegang lengan suaminya menyalurkan ketenangan.


Kakek Bram dan Nita duduk di sofa. Nita tertunduk tak berani menatap Maria terutama Amri. 


"Masih ingat anak Ayah?" tanya Amri.


"Huh … jika bukan permintaan istriku aku tak mau kembali kemari," ketus kakek Bram. Amri dan Maria membulatkan matanya.


"Istri??" gumam Amri.


"Ayah sudah menikah dengan pelayan ini?" tanya emosi Amri.


"Pa jaga emosi Papa. Biar bagaimana pun dia Ayah kandungmu," bisik Maria.


Amri mendengus kesal.


"Jadi  Ayah mau apa kemari?" tanya Amri. 


Nita mengangkat pandangannya dan meremas ujung bajunya.


"Sebelumnya saya mohon maaf! Saya tak ada maksud menggoda atau merayu ayah Anda. Tapi satu yang saya tahu, saya merasa nyaman bersama mas Bram. Oleh karena itu, saya mohon restui kami," ucap pelan Nita. 


"Jangan memohon padanya," ucap kakek Bram tak suka. 


"Dasar pelayan tak tahu malu," desis Amri.


"Jaga bicaramu Amri!" bentak kakek Bram.


"Jangan membentakku!" tegas Amri. 


Ketegangan terjadi, Amri dan kakek Bram saling bertatapan tajam. Para istri sibuk menenangkan suaminya masing-masing.


Saat asyik-asyiknya, ada suara yang mengganggu.


"Sudah tua masing saja bertengkar. Rupanya anak dan ayah keluarga Wijaya seperti ini!" seru Karina yang baru tiba di rumah. Bayu langsung disuruhnya masuk ke kamar. Dengan santainya Karina duduk di sofa tunggal. 

__ADS_1


"Bicara dengan kepala dingin. Jika sama-sama dengan kepala panas maka ada ada double ledakan," ucap Karina.


Mereka semua diam menurut. Aura pemimpin yang terpancar dari tubuhnya membuat semua yang ada di sana tertunduk. 


"Oke aku di sini meminta secara baik-baik. Saya mohon Anda menerima pernikahan ini. Sebab ini sudah terjadi.  Jadi apa salahnya Anda merestui mereka. Lupakan dulu sakit hati Anda. Karma itu ada," ucap Karina datar pada Amri.


"Apa makudmu cucu menantu?" tanya kakek Bram tak paham.


"Tidak ad," jawab Karina. Amri masih tampak mengingat dan menimbang. Rasa sakit hatinya bukan kerena dia anak terbuang, melainkan kakek Bramlah penyebabnya.


Kakek Bram sebenarnya adalah orang yang tempramen. Karena sifat tempramennya inilah ibunya stress dan meninggal. Baru semenjak kematian ibunya, ayahnya ini baru menyesal dan perlahan tempramennya hilang. 


"Baiklah. Aku setuju. Tapi satu hal aku minta, aku tak akan mengakui anak yang nanti apabila lahir sebagai adikku," tegas Amri meninggalkan ruang tamu. Maria menyusul.


"Hmmm … masalah selesai. Sekarang aku harus memanggilnya Nita atau nenek muda Nita," ujar Karina.


"Emm … terserah Anda saja Nona," jawab gugup Nita.


"Kalau begitu aku akan tetap memanggilmu Nita," jawab Karina.


"Tidak. Kamu bukan lagi pelayan. Sekarang kamu adalah istriku. Panggil dia Karina atau cucu menantu," tolak kakek Bram. 


"Maaf Mas. Saya tidak bisa. Saya sudah terbiasa dengan ini," ujar Nita tersenyum membujuk suaminya.


"Hmm … terserah ayo kita pulang," tegas kakek Bram langsung berdiri.  Nita dan Karina ikut berdiri.


"Kami pulang cucu menantu," ujar kakek Bram langsung keluar. Nita menatap Karina takut.


"Sudah sana pulang," ujar Karina.


"Baik Nona. Sekali lagi saya mohon maaf. Saya permisi pulang Nona," ujar Nita membungkuk.


"Hmm …," jawab Karina. Nita segera keluar menyusul suaminya. Tinggallah Karina sendiri di ruang tamu. Karina mendengus kesal. Selesai sudah masalah ini.


Dengan segera ia naik ke kamar. Bayu asyik kembali dengan laptopnya. Karina membuka laptopnya. Ia membuka email dan mengerjakan pekerjaannya dari rumah. Tiba-tiba ada panggilan video dari Li dan Gerry.


"Ada apa?" tanya Karina datar.


"Apa kami mengganggu Queen?" tanya Gerry.


"Untuk saat ini tidak," jawab Karina tegas.


"Ada apa?" tanya Karina lagi.


"Maaf Queen. Kami hanya ingin memberi saran dan masukkan tentang pernikahan Anda," jawab Li.


"Hmm … apa peduli kalian?" tanya Karina lagi. Ia menyangga dagunya dan menatap keduanya penuh selidik dari layar laptop.


"Tentu kami peduli dengan hal ini Queen. Kebahagian Anda adalah bahagia kami sedangkan kesedihan dan kemarahan Anda adalah sedih dan marah kami," jawab Li lugas.


"Pedang Biru Mafia sangat erat rasa persaudaraan walaupun tak sedarah. Kami anda didik untuk saling membantu dan menyemangati di kala duka. Dan saling mengingatkan di kala suka," tambah Gerry.


"Hmm … tak sia-sia aku mendidik kalian," sahut Karina.


"Lalu apa saran kalian??" tanya Karina semakin tertarik dengan apa yang akan disampaikan dua tangan utamanya ini.


"Kami rasa Queen harus melupakan sejenak balas dendam Anda. Dan saya rasa Anda harus memberikan kesempatan bagi suami Anda," jawab Li.


"Saya melihat Anda mendapat kepuasan ketika Anda membully suami Anda. Bahkan sampai detik ini, suami Anda tak curiga dengan identitas asli Anda. Sebenarnya saya kasihan dengannya. Anda selalu mengacuhkannya walaupun saat ini dia suami Anda. Saya dapat melihat cinta di mata pada saat Anda berdansa dengannya di acara kemarin," jelas Gerry.


Jelas mereka tahu, sebab mereka hadir di sana. Tapi tak menunjukkan dirinya pada Karina. Meskipun begitu, mereka yakin pasti Karina tahu akan hal ini.


"Aku tak menyukainya. Aku hanya ingin mendapatkan Joya dan membalas perbuatan Reza perlahan," ucap Karina.


"Tapi Queen. Walaupun Anda sudah menghabisi tiga dari lima pelaku pembunuhan atas keluarga Anda, hati Anda tetap tak senang. Anda selalu terbayang masa lalu," ujar Li.


Karina menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali. Ada setitik rasa untuk Arion di hatinya. 


"Saya sarankan cobalah Anda belajar mencintai suami Anda. Beri dia kesempatan. Soal masalah balas dendam dan mengurus organisasi biarlah kami yang mengurus. Kami meminta Queen menghabiskan waktu Anda tanpa pusing dengan pekerjaan dan juga balas dendam," timpal Gerry. Karina bungkam. 


"Jika seandainya dia menyakiti hatiku di kemudian hari, apa yang akan aku dan kalian lakukan?" tanya Karina.


"Jika itu terjadi, kami akan membumihanguskan keluarga Wijaya dari dunia ini," ucap Gerry tersenyum devil.


"Ohh … aku terima saran kalian. Tapi masalah dendam aku tak bisa mentolerinnya. Aku akan tetap membalas dendam. Entah itu sekarang atau besok!" ucap Karina ikut tersenyum.


"Tapi karena kalian sudah memberiku saran aku ada hadiah untuk kalian," ujar Karina yang membuat Li dan Gerry merinding seketika. 


"Aku mau kalian tambah jumlah kapal pesiar Pedang Biru yang berlayar. Dalam waktu satu tahun itu harus selesai," perintah Karina. Li dan Gerry menjatuhkan rahangnya. Yang benar saja? Tapi keputusan Karina sudah mutlak.


Mereka hanya bisa mengangguk pasrah. Karina tersenyum puas.


"Matikan sambungannya. Aku sibuk," perintah Karina dingin. Li dan Gerry segera memutus panggilan via video call.


Karina menerawang jauh ke awang-awang. Mengingat kembali kisah hidupnya. Mungkin ini saatnya ia memperoleh cinta. Karina tersenyum sendiri ketika mengingat Arion yang selalu ia bully.


"Oke. Aku akan belajar mencintainya," lirik Karina.

__ADS_1


__ADS_2