
Lila dan Raina yang schok langsung memegang dada mereka. Keringat dingin pun keluar dari pelipis mereka.
"Apa kau serius?" tanya Lila.
"Tentu! Kenapa kalian terkejut seperti itu?Tenang saja Kakak iparku tidak akan marah. Percaya padaku,"ucap Sam santai.
"Kalau begitu terima kasih," ucap Lila menghela nafas lega.
Tak lama Calvin bergabung dengan mereka dengan wajah yang sudah dibersihkan.
Mereka asyik mengobrol. Entah sejak kapan hubungan ke empatnya jadi baik dan lebih dekat.
"By de way kalian bekerja di mana?" tanya Sam.
"Oh ... kami bekerja di perusahaan KS Tirta Grub. Kami perwakilan dari Presdir," terang Raina.
"Lalu apa posisi kalian di sana?" tanya Calvin penasaran. Ia agaknya tertarik dengan Raina.
"Kalau aku adalah sekretaris pribadi Presdir sedangkan Lila adalah asisten pribadi presdir," jelas Raina.
"Waw ternyata kalian hebat ya?!" puji Sam.
"Thanks," sahut Lila.
Mereka terus mengobrol dan tak terasa sudah timbul rasa suka pada mereka.
Lain halnya dengan Arion dan Karina. Mereka turun dari pelaminan dan mendekati keluarga Wijaya.
"Hahaha ... sini ... sini ... duduk di sampingku cucu menantu," ajak Kakek Bram menepuk kursi di sebelah kanannya.
Karina menurut. Arion berdecak sebal.
Siapa sekarang cucu kandungnya, batin kesal Arion.
Tanpa aba-aba Arion langsung duduk di sebelah kiri kakek Bram. Melihat kecemburuan Arion membuat Amri, Maria dan kakek Bram terkekeh geli.
Sedangkan Karina berdecak.
"Kau ini masa cemburu padaku sih?" kesal Karina.
"Hmmm," gumam Arion melipat tangannya.
"Karina benar. Sekarang kita bahas kenapa kalian tak mengunjungiku selama 5 tahun ini. Apa kalian baru berkunjung kalau aku sudah ada tanda nisan?" tanya ketus kakek Bram.
"Bukan begitu kakek. Aku sangat sibuk jadi aku tak punya waktu mengunjungimu ... benarkan Ma ... Pa ...," bela Arion.
Maria dan Amri mengangguk canggung.
"Alasan!?" ketus Kakek Bram.
"Terserah kakek saja. Tapi bagaimana Kakek bisa tahu kalau aku akan menikah?" tanya Arion.
"Hahaha ... tentu saja dari cucu menantuku ini," jawab kakek Bram memegang tangan Karina.
Jawaban Kakek Bram membuat Amri, Maria dan Arion menatap Karina meminta jawaban. Yang ditatap hanya acuh tak acuh.
"Waktu kau ke rumahku semalam kau menjatuhkan undangan atas nama Bram Wijaya. Jadi aku membantumu mengirimnya melalui Handphone karena kau menyelipkam nomor Handphone di undangannya," jawab Karina enteng.
Seusai mengatakan itu Karina mengedarkan pandangannya mencari Enji. Namun, ia tak dapat menemukannya.
Melihat Karina melihat kanan dan kiri membuat Maria bertanya.
"Apa yang kau cari Karina?"
"Apa Mama melihat Enji? Setelah tadi dia pamit ke kamar aku belum menemukannya di antara para tamu," terang Karina.
"Mungkin saja di kamarnya," ucap Maria menduga.
"Semoga," harap Karina.
__ADS_1
Entahlah. Firasat Karina ada yang tidak beres. Namun, ia segera menangkisnya dan berharap semua baik baik saja.
Di salah satu kamar di hotel Grand Nusa.
Terdapat seorang laki laki tengah terduduk di samping ranjang.
Hah ....
Hah ....
Hah ....
Laki laki ia terus memegang dadanya sesakali ia memukulnya. Nafasnya terengah-engah.
Ia mengangkat wajahnya sambil terus memegang dadanya.Tampaklah wajah tampan matanya memerah. Bulir bulir keringat sebesar biji jagung mengucur deras.
"Aku tidak boleh mati!! Masih ada tugas yang belum aku selesaikan," ucap pria itu.
Bukan sekali tapi berkali-kali ia mengulang kalimat itu.
Dengan tertatih-tatih ia merangkak naik ke ranjang. Setiap ia bergerak nafasnya semakin memburu. Dengan susah payah ia meraih laptop yang ada di tengah ranjang.
Hap!
Akhirnya ia berhasil. Namun sebelum dia membuka laptopnya terlebih dahulu ia mengambil botol obat di saku bajunya dan mengambil 5 butir obat. Ia langsung meminumnya sekaligus.
"Aku tahu walaupun aku minum obat ini tidak ada efeknya tetapi setidaknya sakit ini berkurang sesaat sampai aku menyelesaikan tugas terakhirku," gumamnya.
Tanpak terasa air matanya menetes dari mata merah itu. Ia menarik nafas panjang dan diam sejenak menunggu obat yang ia minum bereaksi.
Sembari menunggu obat bereaksi ia mengingat masa lalunya.
Flashback on.
Di sebuah tempat akhir pembuangan sampah terdengar suara tangisan pilu dari seorang anak laki laki berusia 10 tahun. Suara tangisnya kontras dan terdengar sayup-sayup diterpa hujan deras.
Anak laki laki itu menggigil ketakutan. Ia meringkuk di bawah pohon pinus yang mana itu adalah satu satunya di sana. Bibirnya nampak pucat kerena kedinginan.
"Tolong … tolong ... tolong …," teriaknya menangis.
Namun yang ada teriakannya hilang diterpa suara petir yang menggelegar. Tangisnya semakin pecah. Ia merasa ini adalah akhir dari hidupnya. Saat ia pasrah dengan keadaan ada suara lembut yang membangunkannya.
"Hei ... hei ... kau ...," panggil orang itu.
Mata yang tadinya terpejam kini terbuka perlahan. Tampaklah sosok gadis kecil berusia sekitar 11 tahun tengah menatap dirinya.
"Tolong ... tolong aku ... dingin ... dingin ...," racau anak laki-laki itu.
Gadis berkucir kuda tak lupa payung yang menaungi kepalanya dari hujan itu tampak hanya berwajah datar.
Krekk ....
Terdengar suara seperti hendak tumbang dari pohon pinus yang disandari anak laki-laki itu.
Gadis kecil itu melepaskan payungnya yang segera hilang dibawa angin. Gadis itu mendekati anak laki-laki itu dan menggendongnya di punggungnya.
Ia membuat tangan anak laki-laki itu memeluk lehernya. Dengan cepat ia berjalan meninggalkan pohon pinus itu.
Sekitar 50 meter dari sana ....
Krek ....
Brukk ....
Pohon itu tumpang selangkah setelah gadis kecil itu melangkah melebihi 50 meter. Wajahnya tetap datar seolah tidak terjadi apa apa.
Ia berjalan menuju jalan raya dengan menggendong anak laki-laki itu. Ia mendekati satu mobil yang terparkir. Di belakangnya ada 2 mobil lagi.
Seorang pria dengan badan kekar langsung membukakan pintu untuk gadis itu. Setelah menutup pintu untuk gadis itu ia segera menuju mobil yang ada di belakang mobil yang dinaiki oleh gadis kecil itu.
__ADS_1
"Pulang!!" ujar dingin gadis itu.
"Baik Nona," jawab sang supir.
Perjalanan serasa sangat lama sebab mobil hanya bisa melaju dengan kecepatan 20-30 km perjam yang disebabkan oleh derasnya hujan dan kencangnya angin.
Sesampainya di kediaman gadis kecil itu ia segera menggendong kembali anak laki-laki itu menuju kamarnya. Ia menuju ke kamar mandi dan meletakan anak laki laki itu di bath up kemudian menyetel air mandi menjadi air hangat.
Mata anak laki laki itu perlahan terbuka merasakan tubuhnya mulai menghangat. Perlahan ia dapat melihat seorang gadis kecil tengah membuka dan bajunya.
Ia tersentak kaget saat tangan gadis kecil itu hendak membuka celananya. Refleks dengan gerakan lemah ia menahan tangan gadis itu.
Namun gadis itu ta menggubrisnya. Ia lantas menyingkirkan tangannya dan tetap membuka celananya. Kini ia sudah tidak menggunakan sepotong kain pun.
Gadis itu segera memandikannya. Dia hanya bisa pasrah saat tangan gadis itu mengusap setiap bagian tubuhnya.
Selesai mandi gadis itu memakaikannya baju hangat tak lupa ia mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Selepas itu ia menidurkannya di ranjang.
Setelah itu gadis itu menyelimutinya dan bergegas membersihkan tubuhnya yang basah. Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya.
Ia segera naik ke ranjang dan bergegas tidur. Namun, ia tak bisa memejamkan mata karena anak laki-laki itu mengigaukan kata dingin.
Dengan cepat gadis itu memeluk anak laki-laki itu. Alhasil ia berhenti mengigau dan terlelap begitu juga gadis kecil itu.
Flashback off.
Pria itu tersenyum mengingat itu.
"Sungguh aku ingin kembali ke masa itu," liriknya.
Merasakan sakit di dadanya sedikit mereda ia segera membuka dan menghidupkan laptopnya. Ia kemudian menyambungkan laptop dan flashdisk.
Ia dengan fokus menyelesaikan tugas yang terdapat di dalam flashdisk.
Sementara itu ....
Di aula, Sam, Calvin, Lila dan Raina mendekati keluarga Wijaya yang asyik berbincang. Tak lupa Karina yang mendapat banyak hadiah dari kakek Bram.
"Halo Tuan Amri, Nyonya dan Tuan Besar Bram," sapa Lila.
"Halo ... dengan siapa ya kok kalian bisa bersama dua anak ini?" balas Maria menunjuk Sam dan Calvin.
Lila menjabat tangan Amri sedangkan Raina menjabat tangan Maria.
"Hm ... perkenalkan saya Lila. Asisten pribadi presdir KS Tirta Grub," ucap Lila formal.
"Dan saya Raina. Sekretaris pribadi Presdir KS Tirta Grub," ucap Raina tegas. Karina tersenyum tipis mendengarnya.
"Oh ... KS Tirta Grub ... suatu kehormatan kalian bisa menghadiri acara kecil kami ini," ucap Amri.
"Anda terlalu merendah Tuan Amri ...," sergah Raina.
"Haha ... dibandingkan KS Tirta Grub kami ini tidak ada apa apanya," sambung kakek Bram.
"Benarkah?" tanya canggung Lila yang mendapat tatapan acuh dari nonanya.
"Benar. Apakah presdir kalian juga akan hadir?" tanya Amri.
"Ah maafkan kami. Presdir tidak bisa hadir kerena urusan mendesak," ucap sesal Lila.
"Ah ... tidak masalah bukan kah hal baru kalau Presdir kalian tidak hadir kan?" sambung Arion yang dari tadi diam.
"Anda benar Tuan," jawab Lila tersenyum masam.
Presdir kami hadir disini. Bahkan dia jadi istrimu dan sekarang duduk di sampingmu. Kau saja yang tak menyadarinya, batin Lila dan Raina.
*SELAMAT HARI KELAHIRAN PANCASILA*
__ADS_1