Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 236


__ADS_3

Niatnya ingin menggombali Karina, malah jadi garing sebab Karina menjawab tepat.


"Aku juga ada," ujar Karina. 


"Apa itu?" tanya Arion penasaran.


"Apa bedanya kamu dengan matahari, bintang dan bulan?" tanya Karina. Arion mengeryit memikirkan jawaban. Beberapa saat kemudian, Arion menggeleng. 


"Apa bedanya?" tanya Arion menyerah.


"Kalau matahari hanya bersinar dari fajar sampai petang. Kalau bulan dan bintang hanya bersinar saat kegelapan datang, sedangkan kamu selalu menyinari diriku setiap saat. Baik di siang maupun malam. Kamu selalu memberiku kehangatan dan rasa nyaman. Karena kamu, aku mengenal cinta. Thank you very much, My Husband!" papar Karina.


Arion membulatkan matanya dan hatinya berdesir senang. Tapi, kok malah dia yang digomabali ya?


Waduh, malah di depan umum lagi. Arion melirik kanan-kiri, ternyata para pengunjung lain memperhatikan mereka dan tersenyum.


"Kenapa? Garing ya? Padahal aku serius," ucap Karina mendapati wajah kik-kuk Arion. 


"Eh? Enggak kok, Sayang. Aku sangat tersentuh dengan itu. Aku merasa sangat bahagia karena aku menjadi cahaya untukmu," sahut Arion, mengubah raut wajahnya menjadi berseri.


Karina menyipit tidak percaya, tak lama ia menghela nafas kasar.


"Kamu tahukan aku punya penyakit lambung akut serta penyakit jiwa?" tanya Karina serius dengan nada sendu, lirik saat mengatakan penyakit jiwa.


Arion mengangguk. Dahi Arion kembali mengeryit, ingatannya mencari sesuatu yang penting yang berkaitan dengan psiskopat Karina.


Melihat Arion yang mengeryit, Karina mendengus dan menjentikkan jarinya.


"Sudahlah. Tidak penting juga. Hm, apa yang akan kau berikan padaku malam ini?" tukas Karina. Arion berhenti mengeryit dan menaikkan alisnya bingung.


"Hei, kau ini tidak peka ya?"


Baru dipuji, sekarang dicibir. Dasar Karina, sukanya menerbangkan sebelum dijatuhkan.


"Aku sudah memberimu dua hadiah, pertama aku menjawab gombalanmu, kedua aku berhasil menggombalimu. Sekarang giliran kamu dong," jelas Karina. 


"Oh, jadi kamu minta balasan gitu? Baiklah."


Arion mengedarkan pandangannya. Setelah menemukan apa yang ia inginkan, Arion berdiri dan menatap Karina.


"Tunggu dan lihatlah," ujar Arion. Karina penasaran dan mengikuti kemana arah langkah Arion. Ternyata Arion menuju panggung yang biasa digunakan untuk penampilan. 


Arion meminta izin sebentar pada pemusik untuk memakai panggung sejenak. Arion lalu duduk di kursi pianis dan tersenyum hangat menatap Karina. Karina penasaran dengan lagu apa yang akan Arion bawakan.


Dengan menyangga dagunya ia menatap lekat Arion. Intro dengan alunan biola pun terdengar merdu dan romantis. Begitu alunan biola berakhir, Arion langsung bernyanyi dengan tangan yang lincah menekan tus piano.


Kamu yang telah mengisi hari-hariku


Terima kasihku selalu buat kutersenyum


Aku bahagia ditakdirkan bersamamu


Tuhan, satukanlah kita sampai waktu memisahkan


Kau malaikat tak bersayap yang aku cinta


Kau malaikat yang selalu menerangiku


Aku sayang kamu


Aku cinta kamu


Tuhan, tolong satukanlah kita


Dalam doaku selalu sebut namamu


Aku ingin hidup sampai tua bersamamu


Aku bahagia ditakdirkan bersamamu


Tuhan, satukanlah kita


Sampai waktu memisahkan


Kau malaikat tak bersayap yang aku cinta


Kau malaikat yang selalu menerangiku


Aku sayang kamu


Aku cinta kamu


Tuhan, tolong satukanlah kita


 Alunan biola kembali terdengar. Para pengunjung terbawa suasana. Tak sedikit pada pengunjung merekam penampilan Arion. Ada juga yang mengangkat tangan mereka mengikuti melodi yang bergema. Serta ada juga yang saling bersandar satu sama lain. Karina tersenyum lebar membalas tatapan Arion.


Wooooooo


Kau malaikat tak bersayap yang aku cinta

__ADS_1


Kau malaikat yang selalu menerangiku


Aku sayang kamu


Aku cinta kamu


Tuhan, tolong satukanlah kita


Kau malaikat tak bersayap yang aku cinta


Kau malaikat yang selalu menerangiku


Aku sayang kamu


Aku cinta kamu


Tuhan, tolong satukanlah kita


Aku sayang kamu


Aku cinta kamu


Tuhan, tolong satukanlah kita


*


*


*


Suara tepuk tangan memenuhi ruangan, Arion berdiri lalu menyapa para pengunjung. Arion lantas segera turun panggung dan kembali ke mejanya. Arion disambut pelukan hangat dan ciuman pipi oleh Arion.


"Suka?" tanya Arion.


"Banget, thanks ya."


"Apapun untukmu, kalau begitu kita pulang?" ajak Arion.


Karina melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 22.00. Karina mengangguk.


Arion memanggil pelayan dan membayar pesanan mereka. Setelah mendapatkan bill dan kartu kembali, keduanya segera meninggalkan restoran dengan hati yang berbunga. 


*


*


*


Di sofa, Sam duduk dengan menatap datar ke depan. Tangannya memegang sebotol wine. Sam mendekatkan mulut bobor ke bibirnya dan menghirup aroma wine yang manis. Mata terpejam, seirama dengan dadanya yang menarik nafas.


Sam menenggak sekali wine lalu menyeka bibirnya dengan punggung tangan. Pegangan di botol menjadi remasan. Sam meletakkan kasar botol di atas meja.


Sam kemudian menghembuskan nafas kasar, hubungannya dan Lila belum membaik juga. Lila selalu menghindar dan tidak mau menemuinya. Hati Sam gusar, cemas dan campur aduk.


Rasa rindu di dada membuncah hendak disalurkan. Kepalanya terasa hendak pecah memikirkan masalahnya. Ya jangan dipikiran dong Bang Sam. Hehehe.


Terlebih lagi, saat Mama dan Papanya mengabari bahwa mereka berdua akan kembali besok, hari minggu. Kalau sampai keduanya tahu, hubungannya dan Lila renggang, bisa dimarahi habis-habisan dia. 


Para pelayan rumah hanya mengetahui bahwa Nyonya muda mereka sedang tugas di luar negeri. Sam lah yang mengatakan hal itu. Kalau Sam jujur mengatakan Lila yang pisah atap dengannya, otomatis orang tuanya akan tahu sebab para pelayan di sini adalah mata-mata Mama dan Papanya. Sayangnya semua itu hanya aman sampai sore tadi. 


Ditambah lagi masalah Dayana. Wanita itu, walaupun sudah ditolak dan Sam sudah tahu kebenarannya, tetap kekeh bahwa Sam menodainya. Danaya malah menyangkal Sam dan menuduh Sam tidak mau tanggung jawab dan menghindar dari masalah serta memanipulasi data. 


Sam yang kesal saat itu, langsung saja menitahkan para mafianya agar membungkam mulut Dayana dan keluarga. Bukan membunuh, hanya menahan sebab Lilalah yang akan membungkam mulut Dayana selamanya.


 Sayangnya, sekarang insiden tidak mengenakkan itu malah jadi trending topic. Ternyata sebelum dibungkam, keluarga Pratama menyebarkan kabar pada media mengenai pernikahannya dengan Dayana. Ide gila apa ini? 


Dan sekarang semua di luar kendali. Bukan tentang media, media gampang bisa diatasi. Masalahnya adalah Papa dan kini marah besar. Sam terancam dipecat jadi anak. Lila, Sam berpikir dan was-was Lila akan tetap kekeh mau berpisah. 


Akan tetapi, sepertinya Sam masih diberikan waktu. Masih ada waktu sampai besok pagi sebelum Mama dan Papanya tiba. Dan masih ada waktu dua puluh empat jam untuk Sam membujuk dan berbaikan dengan Lila. 


Ya, Sam harus bergegas. Jika semula ia langsung pergi saat Lila menyuruhnya pergi seban takut Lila kelebihan emosi jika dipaksa. Sekarang, Sam harus bisa membawa Lila pulang. Malam ini juga! 


Sam kemudian menyapu wajahnya kasar dan menuju kamar mandi. Membasuh wajahnya dengan dinginnya air. 


"Kau pasti bisa Sam. Aku tidak peduli apapun rintangannya, yang penting salah paham ini segera berakhir!" tekad Sam penuh keyakinan. 


Beranjak keluar dan mengambil jaket lalu memakainya. Sam keluar dengan menimang kunci mobil menuju garasi. 


Gerbang kediaman Anggara terbuka lebar saat Sam melajukan mobilnya keluar. 


Berpacu dengan waktu dan hati, Sam dengan kecepatan tinggi menggasak jalanan malam. Pikirannya cuma tertuju pada Lila. Sam melihat jam mobil. Masih pukul 23.00. 


"Semoga belum tidur!" gumamnya penuh harap.


*


*


*

__ADS_1


Di kediaman Alantas, Calvin meratap antara kesal dan sedih. Di jam segini harusnya ia berada di kamar, berbaring di samping Raina, atau memeluknya. Ini sekarang ia malah kena hukum tidur di luar rumah, hanya beralaskan tikar, selimut tipis dan berbantal tangan dari Raina. Aneh ya? 


Malah Mama dan Papanya Calvin tidak protes lagi anaknya disuruh tidur di luar, padahalkan Calvin anak mereka. Keduanya malah menatap datar dan melenggang masuk ke kamar.


Calvin dengan wajah frustasinya memejamkan mata mencoba tidur. Andai saja Raina tidak mengancamnya, Calvin akan tidur di pavilium pelayan ataupun pos saptam. 


Ingatannya kembali ke sore tadi, akan masalah Sam disorot media. Raina murka habis padanya. Ini yang namanya satu yang buat masalah, semua kena imbasnya.


Flashback on.


"Apa-apa ini? Sahabat koplakmu ini mau memadu Lila dengan medusa itu?" pekik Raina tidak terima saat membaca berita dari media online.


Calvin, membulatkan matanya dengan keringat yang menghampiri. Rasanya Calvin jadi batu, lidahnya kelu, otaknya tidak memiliki jawaban.


Raina menatap berang Calvin dengan kedua tangan mengepal erat.


"Beraninya dia menyelingkuhi Lila. Apa sih kurangnya Lila? Kau lagi, kau pasti tahukan? Mengapa tidak memberitahuku? Kau tahu, Lila sering melamun belakangan ini, ternyata ini akarnya. Aku saja yang tidak peka!"


Raina memukul dada Calvin. Calvin diam saja membiarkan Lila melampiaskan kekesalannya. Dalam hati, Calvin mengumpati kesal Sam. Gara-gara masalah Sam, dia juga bermasalah. 


Lama kelamaan, kekuatan pukulan Raina seperti angin sepoi-sepoi. Pukulannya digantikan oleh suara tangis Raina. Calvin tersentak dan langsung memeluk Raina. 


"Mengapa Samsam itu tega menduakan Lila? Aku sebagai sahabat dan saudaranya tidak setuju! Sangat tidak setuju! Kau mengapa diam? Jawab aku! Kapan Samsam itu mulai selingkuh? Biar ku hajar dia, tanganku gatal ingin memukul wajah sok polosnya!" geram Raina di sela tangisannya.


"Itu hanya kabar burung, Ra," ujar Calvin tegas.


Riana mengangkat wajahnya dan menatap Calvin. Kesempatan dalam kegentingan, Calvin mengecup singkat bibir Raina. Raina terkesiap dan mengerjap. Sesaat ia lupa.


"Sam memang salah, tapi dia tidak selingkuh. Lebih tepatnya semua ini adalah manipulasi Dayana. Aku, Arion dan Sam sudah mencari tahu kebenarannya. Ini hanya trik belaka."


Calvin membawa Raina untuk duduk di ranjang dan menceritakan kebenarannya.


Raina mendengarkannya dengan seksama walaupun masih menangis. 


"Jadi begitu? Kasihan Lila, kau tahu ..  dia jadi pendiam. Saat ditanya, jawabannya tidak apa, hanya masalah kecil. Aku dan Lila sudah bersama sangat lama, harusnya aku lebih peka dan perasa. Akan tetapi, aku malah tidak bisa melihat masalah yang menimpanya," sesal Raina.


Calvin menyeka air mata Raina.


"Kalau begitu, apakah kamu tahu di mana Lila berada?" tanya Calvin serius. Raina menggeleng cepat.


"Mana aku tahu, aku saja baru tahu sekarang masalahnya. Lila tidak cerita apapun padaku. Huh dia memendamnya sendirian. Saat pulangpun, aku tahunya ia pulang ke arah kediaman Anggara," jelas Raina. Calvin mengesah pelan.


"Aku sudah mencoba melacaknya, sayangnya tidak berhasil," keluh Calvin.


Raina mengerjapkan matanya sesaat dan tersenyum lebar.


"Aku bisa melacaknya," ucap Raina.


"Benarkah?"


Raina mengangguk dan segera meraih laptopnya. Memainkan jarinya di atas keyboard. Setelah beberapa saat, Raina mengesah dan mencembilkan bibirnya.


"Bagaimana?"


"Sandinya sudah diubah oleh Nona. Setiap mobil memiliki GPS yang sandinya sama semua dan hanya Nona yang memegang kuncinya," ujar Raina memperlihatkan layar login yang ditolak.


"Ya sudah, tidak apa. Aku yakin Lila baik-baik saja. Dia kan Pedang Biru," hibur Calvin. Raina mengangguk setuju. Tatapan Raina, tiba-tiba saja menatap tajam Calvin. Calvin terlonjak dan menatap bingung Raina.


"Ra?"


"Kau harus dihukum!"


"Apa salahku?"


"Kau menyembunyikan masalah ini!"


"Hanya karena itu?"


"Gantinya aku kesal pada Sam! Kau yang menggantikannya!" Calvin menghela nafas kasar.


"Hah, okey, apa hukumannya?"


"Tidur di teras!"


"What??"


Setelah berdebat, Calvin mengalah. Dengan langkah lemah ia menenteng tikar plastik dan selimut tipis. Wajahnya kusut.  Masih baik Riana perhatian, dikasih tikar sama selimut.


"Kamu apa aku yang tidur di luar?"


Ancaman Raina membuat Calvin mengalah. Saat berpapasan dengan mama dan papanya, mereka berdua malah menatap acuh seakan sudah menduganya.


 


Flashback off.


Calvin kini sudah tidur. Tanpa ia sadari, Mama dan Papanya mengintip dari jendela. Keduanya menatap kasihan anak mereka. Akan tetapi, dunia rumah tangga sang anak, mereka tidak berani ikut campur.


Di kamar, Raina berusaha memejamkan mata walaupun sulit. Mendengarkan lagu religi menjadi caranya. Dengan melodi menenangkan dan penuh makna, Raina mulai memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2