
Serentak semuanya menajamkan pendengaran mereka, terdengar samar riuh gemuruh air di pendengaran mereka. Terdengar seperti air jatuh dari atas.
Sam mengedarkan pandangannya.
"Apa ini jalannya Kakak ipar?" tanya Sam menuju jalan kecil yang diberi gapura setinggi kepala.
"Ya. Itu jalannya. Ayo masuk," jawab Karina melangkahkan kakinya duluan.
Jalan sejauh 50 meter itu mereka lalui, kini di depan mereka tersaji air terjun setinggi kurang lebih 30 meter dengan pemandangan yang sangat indah. Air yang sangat jernih dan menggoda untuk diselami.
Semuanya menarik nafas menghirup segarnya udara dan menghembuskannya perlahan. Mereka kemudian mengedarkan pandangan, berdecak kagum atas karya sang maha kuasa.
Mereka, kecuali Karina, Lila dan Raina lantas mencari tempat yang bersih dan tak terkena air. Karina malah menunjukan saung yang berada di seberang, yang mana mereka tak menyadarinya.
"Kita ke sana saja," ujar Karina mulai melangkahkan kakinya melewati aliran air terjun yang sudah jatuh setinggi mata kaki itu. Diikuti Lila dan Raina.
"Bagaimana di sini ada saung? Inikah bukan tempat wisata?" tanya Maria mengikuti Karina. Bahkan tempat wisata saja belum tentu dibangun.
Raina dan Lila yang sudah tahu akan hal itu pun segera menjelaskannya.
"Tante, memang ini memang bukan tempat wisata umum, tetapi wisata pribadi. Jadi, Nona akan membangun tempat untuk bersantai di setiap tempat yang berada dalam kepemilikannya. Termasuk air terjun ini. Lagipula para pekerja kebun sering melepas lelah kemari, jadi saung ini sengaja dibuat," jelas Raina panjang lebar.
"Dan ini selalu dirawat, ada pasukan khusus yang merawatnya," tambah Lila.
Tolonglah, jangan pamer di hadapan kami, ratap Amri, Maria, Sam, Calvin dan Arion.
Karina menyandarkan tubuhnya pada tiang saung, menyilangkan kedua tangannya. Mendengarkan Lila dan Raina yang belum berhenti menjelaskan.
"Nah, sekian penjelasan dari kami. Tolong beri bintang lima ya," ucap Raina.
Kecuali Karina, semuanya melongo dan mengangguk paham.
"Sudah, jangan pamer. Ayo kita bersenang-senang di sini, airnya sangat segar loh," ajak Karina.
Barang bawaan mereka telah berada di tengah saung, para lelaki langsung membuka baju mereka, bertelanjang dada. Membuat wajah para wanita sedikit memanas, apalagi Raina yang baru pertama kali melihat Calvin bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam.
"Kenapa Ra? Mau nyolek?" tanya Calvin mengerling menggoda Raina.
"Bolehkah?" tanya Raina polos.
"Boleh. Kan sudah milik kamu," jawab Calvin mendekati Raina, Raina mulai menjulurkan tangannya, meraba perut Calvin.
Merasa kesadaran mulai menipis, Calvin memegang kedua tangan Raina yang sibuk meraba perutnya.
Calvin menatap serius Raina, Raina mengerjap polos, perlahan Calvin mendekatkan wajahnya ke wajah Raina. Sedikit lagi bibir mereka bertemu.
"Em … belum waktunya, mohon bersabar. Ini tempat umum," ucap Karina menarik Raina mendekat padanya. Wajah Calvin pias, menatap Karina polos.
"Kakak ipar …," rengeknya membuat semua orang tertawa. Raina menundukkan wajahnya malu.
"Ayolah Vin, percepat saja Ijab Qabulnya, biar gak ada yang ganggu," celetuk Sam mulai memasuki aliran air terjun.
"Ayo kita mandi," seru Bayu langsung menceburkan dirinya ke air terjun.
"Bayu …," seru Maria khawatir melihat Bayu yang melompat masuk ke air terjun. Bayu menyelam dan tak lama menggapung, menggerakankan kakinya agar tak tenggelam.
"Hahaha … ini sangat segar, Mama, Papa ayo kemari," ujar Bayu riang.
Seketika khawatir Maria hilang, dia dan Amri segera menyusul Bayu. Raina dan Calvin menuju area berbatu besar di aliran air terjun.
__ADS_1
Karina dan Arion berjalan menuju pinggir aliran, memasukkan kaki mereka ke dalam air setinggi lutut kaki itu. Lagi-lagi, suara kicauan burung dan desiran angin yang menggoyangkan dedaunan mewarnai hari.
Sam dan Lila mengikuti jejak Bayu, berenang di muara jatuhnya air terjun yang sangat segar.
"Sayang, berenang yuk," ajak Arion. Karina menggeleng.
"Gak ah. Malas, kamu saja," jawab Karina.
Arion tersenyum manis, Karina berkerut dahi.
"Ditolak kok senyum sih?" tanya Karina heran.
"Terus aku harus ngapain? Nangis? Galau merana? Atau apa?" tanya balik Arion menjawab pertanyaan Karina dengan rentetan pertanyaan. Karina mendengus kesal.
Karina mengalihkan pandangannya yang semula menatap Arion kini menatap permukaan air. Terlihat ada ikan-ikan kecil di sana. Aliran air yang terbilang cukup deras walaupun hanya semata kaki adalah wilayah yang sangat pas bagi ikan ini.
"Hubby, cari ikan yuk," ajak Karina.
"Ikan? Di sini?" tanya Arion menatap serius permukaan air.
"Bukanlah, di sebelah sana," jawab Karina berdiri, menunjuk aliran air setinggi lutut.
"Tapi Sayang, kita gak bawa alat mencari ikan, pancing saja tak ada. Bagaimana caranya? Menyelam atau aku buat tombak dulu?" ucap Arion ikut berdiri.
"Itu gak masalah, ikannya banyak kok. Tanpa pancing dan tombak pun bisa kok. Biasanya Pak Tri nabur benih ikan di sana setiap tiga bulan sekali," jawab Karina.
"Benarkah? Ya sudah ayo, tapi kamu gak lelah kan? Jangan sampai lelah, kasihan anak kita, lebih baik aku saja yang nyari, kamu duduk diam di pinggir. Kasih arahan saja," ujar Arion menggenggam jemari tangan kanan Karina.
Karina tersenyum manis, mengangguk sebagai jawaban.
Lagipula ikannya bisa ditangkap tanpa dicari, batin Karina tertawa dalam hati. Mereka berdua segera menuju lokasi yang Karina maksud.
Tapi, di hadapan mereka kini adalah keramba, yang membentang dari tempat mereka berpijak ke seberang aliran, selebar lima meteran dengan panjang tiga meter.
Arion dapat melihat jelas ikan mas baik yang berwarna kuning atau mas, hitam maupun putih, serta ikan nila berenang bebas di sana. Di tengah keramba terdapat sebuah ember putih bekas cat tembok ukuran besar digantungkan pada dahan pohon yang melengkung. Bagian bawah ember dilubangi dan diberi pipa sepanjang satu meter. Itu berfungsi sebagai tempat keluarnya pakan ikan yang mana akan keluar, jika ikan menggoyang pipa yang berada di dalam air.
"Sayang, ini bukan mencari tapi mengambil," ujar Arion menggaruk kepalanya. Harusnya dia ingat bahwa bahan-bahan menu cafe istrinya ini diproduksi sendiri, tak mengherankan lagi jika Karina memelihara ikan.
Bahkan di rumah pribadinya, Arion tahu bahwa Karina memelihara piranha, ikan bergigi tajam itu hidup santai di bak halaman samping.
"Kan sudah Sayang katakan," jawab santai Karina duduk di bebatuan.
"Sudah sana tangkap, masuk saja ke kerambanya," ucap Karina.
Arion segera masuk ke dalam air, masuk ke dalam keramba untuk mengambil ikan.
"Sayang kan bisa diangkat saja," ucap Arion.
"Aku maunya kamu tangkap sendiri walaupun di keramba," sahut Karina yang membuat Arion menghela nafas pelan.
Mungkin saja ngidam. Tapi apa sudah masuk fase itu ya? batin Arion mulai menundukkan badannya, dadanya menyentuh permukaan air.
Selagi Arion berusaha menangkap ikan, Sam dan Calvin yang jiwa petualangnya meningkat drastis mulai memanjat sebuah pohon yang berada di pinggir air terjun, dilihat dari mulusnya pohon dapat disimpulkan bahwa pohon ini sering digunakan untuk terjun bebas ke dalam air. Bagian di mana air terjun jatuh memiliki kedalaman lebih dari dua meter.
"Yuhuu I'm coming."seru Sam meloncat dari atas pohon setinggi tujuh meter itu. Sam menekuk lututnya di udara.
Byuurrr.
Air terciprat ke segala arah saat Sam mendarat di air.
__ADS_1
Setelah Sam menampakkan wajahnya keluar dari air, barulah Calvin melompat.
"Hati-hati Pipin Sayangku," teriak Raina dari bawah.
"Yoi Ra," sahut Calvin saat di tengah terjunan.
Byuur.
Lagi-lagi air terciprat. Calvin muncul di permukaan air, menyibakkan rambutnya yang basah. Mereka lanjut mandi, Lila dan Raina serta Maria yang sudah merasa lelah keluar dari air dan duduk di bebatuan.
Tak lama Lila beranjak menuju saung, mengambil buntalan kecil dan membawanya kembali bergabung dengan Lila dan Raina.
"Na? Lihat Nona?" tanya Lila duduk di samping Raina.
"Kayaknya tadi ke sana deh," jawab Raina menunjuk lokasi di mana Arion sedang berusaha menangkap ikan.
Lila mengangguk. Keasyikan mandi dan bersama pasangan membuat mereka sesaat lupa dengan Nona tercinta mereka.
Lila membuka buntalan, aroma gorengan spesial langsung tercium.
"Tante, ayo ngemil dulu, ganjal perut sebelum makan siang," ujar Lila menyodorkan buntalan kepada yang lebih tua.
"Thanks Lil," ujar Maria mencomot parsel dan saus sachetnya. Setelah itu, buntalan itu Lila letakkan di atas batu yang datar di tengah mereka.
Lila mengambil pisang goreng dan Raina mengambil bakwan. Cemilan sederhana mereka nikmatin dengan segala rasa.
Tak terasa satu gorengan buntalan itu habis dan berakhir di lambung ketiganya.
Raina bersendawa kecil, membuat Maria dan Lila tertawa renyah.
"Eh … Tan, kita bawa berapa buntalan?" tanya Lila dengan wajah serius.
"Kayaknya kita tadi bawa tiga deh," jawab Maria mengingat.
"Syukurlah."Lila berucap syukur dan menggelus dadanya.
Para lelaki kecuali Arion yang bersama Karina mulai keluar dari air, terlihat jelas tubuh mereka menggigil dan mata memerah. Ditambah angin membuat mereka memeluk tubuh sendiri dengan erat. Rasa dinginnya lebih dingin saat ini dibandingkan waktu di dalam air. Para Wanita segera mengambilkan handuk untuk lelaki mereka.
"Ma, Karina sama Arion mana? Pulang duluan?" tanya Amri melihat kanan-kiri.
"Mana Mama tahu Pa, kan dari tadi Mama lihatin Papa sama Bayu terus," jawab Maria membuat Amri berkerut dahi.
"Mama serius?" tanya Amri.
"Om, Nona dan Tuan Arion sedang mencari ikan," ujar Raina memberitahu.
"Mencari ikan?" beo Amri, Sam dan Calvin bersamaan. Raina menggangguk. Tak lama terdengar suara sapaan yang akrab di telinga mereka, membuat mereka me mengedarkan pandangan mencari sumber suara. Dari balik lompong raksasa yang lebat, muncullah Arion dan Karina dengan Arion menenteng dua ikat rentetan ikan yang Ia tangkap.
"Waktunya bakar ikan," ucap Karina menggeluarkan pisau dari tas kecilnya.
"Alamak? Banyak sekali senjatamu di tas sekecil ini Kakak ipar," pekik Sam yang tanpa sengaja melihat isi tas selempang Karina. Ada dua pisau lagi dengan ukuran lebih kecil dari yang Karina ambil, pistol serta pena laser.
"Senjata apanya?" tanya Maria. Semua diam, Amri dan Maria tidak tahu bahwa anak dan menantunya adalah mafia kelas kakap.
"Maksudnya kartu uang kakak ipar banyak sekali. Bukankah uang termasuk senjata?" kilah Sam meyakinkan. Amri dan Maria awalnya tak percaya, namun mengingat siapa menantu mereka ini membuat mereka paham.
Karina segera memberi arahan, Sam dan Lila mencari kayu dan membuat api. Calvin dan Raina membersihkan ikan agar siap olah, sedangkan Maria dan Amri mencari kayu untuk panggangan. Sedangkan Karina dan Arion duduk bersandar pada dinding saung dan akhirnya jatuh terlelap tidur.
__ADS_1