
"Kunci mobil." Karina menjulurkan tangannya ke hadapan Enji. Kini mereka tengah berada di dalam mall dan bersiap untuk membeli apa yang mereka perlukan.
"Untuk?" Enji menatap selidik Karina sembari mengambil kunci mobil dari saku celananya.
"Mau ke markas, ada urusan," jawab Karina. Enji mengangguk dan memberikan kunci mobil pada Karina. Lagipula kan itu punya kakaknya.
"Lah jadi Kakak gak jadi belanja?" tanya Bayu, sedikit murung. Karina tersenyum.
"Kamu sama Ayahmu saja yang belanja. Kakak ada urusan penting," jawab Karina.
"Ya gak asyik dong kalau gak sama Kakak."
Bayu mengerucutkan bibirnya beberapa cm ke depan.
"Jadi sama Ayah gak asyik gitu?" Enji menyilangkan tangannya menatap Bayu kesal.
"Maksudnya gak asyik ngabisin uang Ayah sendirian. Ntah Ayah bilang anak kecil gak boleh boros nanti kebiasaan sampai dewasa. Kalau sama Kakak kan gak ada yang berani ngelarang." Bayu tersenyum menunjukkan deretan gigi putih rapinya.
Enji tambah kesal. Anaknya ini sebenarnya nurun siapa sih? Ibunya setahunya adalah wanita yang hemat.
"Hm, belanjalah yang sewajarnya. Belilah yang penting, jangan beli yang aneh-aneh, harganya mahal, gak ada gunanya nanti," peringat Karina.
"Gak janji ya Kak." Bayu mengangkat jarinya membentuk huruf V.
"Selamat bersenang-senang. Aku jalan dulu, see you next time," ujar Karina, memakai kembali kacamatanya, berbalik dan berjalan keluar.
"Waalaikumsalam Kak," jawab Bayu dan Enji, membuat Karina yang telah jalan beberapa langkah terhenti dan menoleh ke belakang. Karina membuka kacamatanya dan menunjukkan wajah datarnya.
"Assalamualaikum," ucap Karina.
Setelah Bayu dan Enji memjawab, Karina kembali melanjutkan jalannya. Setibanya di parkiran di mana mobilnya berada, Karina segera masuk dan menghidupkan mesin mobil.
Sebelum menjalankan mobilnya keluar parkiran, Karina mengambil handphone-nya dari tas selempangnya.
"Lah habis daya."
Karina menunjukkan raut wajah kesalnya. Ia segera mencharger handpohenya pada pengisi daya yang terdapat pada mobilnya.
Setelah itu, barulah Karina kembali memakai kacamatanya dan mulai melajukan mobil. Membelah jalanan kota Seoul menuju markas yang terdapat di kota ini.
***
Di salah satu hotel berbintang yang berada di kota Seoul. Di kamar bernomor 555, Nita sembari menyusui putrinya menatap gelisah layar handphonenya. Berkali-kali ia mengeceknya berharap ada notifikasi dari Karina.
"Haish, ke mana Nona? Sejak kemarin tidak ada kabar lanjutan, sebenarnya jadi gak sih? Masa' jauh-jauh kemari hasilnya zonk? Sudah susah bujuk Mas Bram agak mau liburan, malah gak ada kepastian dari Nona," gumam Nita, mengeluh pada Karina.
"Kamu kenapa sih? Sejak kemarin Mas perhatikan kamu gelisah terus? Bolak-balik lihat handphone habis itu mendengus," tanya heran kakek Bram yang berbaring di ranjang.
Aduh ternyata Mas Bram peka juga ya, batin Nita, bingung mau menjawab apa.
__ADS_1
"Em, itu Mas, saya mau hubungi Nona, kan sudah lama saya gak kontak-kontakan sama Nona, saya rindu dengannya Mas. Mau saya hubungi handphonenya gak aktif dari kemarin kan saya jadi gak tenang," jawab Nita tersenyum.
Kakek Bram menyipitkan matanya, menatap selidik Nita. Nita tetap mempertahankan senyumnya.
"Kalau kamu rindu dengan Karina, mengapa kamu mengajak liburan kemari? Mengapa gak ke negara Y saja?" heran kakek Bram lagi.
"Eee … habis dari sini kan bisa Mas, Nita kan penasaran sama kota ini, nah habis dari sini kan kita bisa singgah di rumah Nona, sekalian bawa hadiah dari sini," ujar Nita.
"Baiklah, tak apa, kalau begitu ayo kita keluar, bosan tahu di kamar terus, Alia juga butuh jalan-jalan," ajak kakek Bram, bangkit dari ranjang dan menghampiri Nita yang duduk di kursi meja rias.
"Okey, aku bersiap sebentar." Nita memberikan Alia dalam gendongan kakek Bram. Kakek Bram menerimanya dengan hati-hati. Penuh waspada.
Kakek Bram tersenyum dan bermain dengan Alia, sembari menunggu Nita yang tengah bersiap.
Positif thingking saja, mungkin Nona kelupaan atau ada urusan yang lebih penting dari ini, sadar Nita kau ini anggota kelas berapa, dibandingkan urusan lainnya kau di nomor ke sekian, batin Nita.
***
"Mana barang yang ku minta?" tanya Karina. Saat ini ia tengah berada di ruangannya di markas Pedang Biru kota Seoul dan pusatnya markas di negara ini.
Tangan kanan Karina yang bertugas memimpin markas di negara ini segera memberikan apa yang Karina minta.
"Selebihnya sudah saya perintahkan untuk diletakkan di bagasi mobil Anda, ini adalah yang permintaan spesial Anda," ujar tangan kanan Karina. Karina mengangguk.
"Lee, apa ada perkembangan dari Blood Sweet? Mereka tak kembali mengganggu kan?" Karina menatap Lee, tangan kanannya. Tangannya mengambil isi paperbag yang Lee berikan tadi.
Guratan takut terlihat samar di wajah Lee, berusaha ditutupi. Bukan takut pada Blood Sweet tapi pada tatapan Karina yang seakan mengulitinya.
"Maaf atas ketidakbejusan saya dalam menghadapi musuh, jujur saya kami merasa tak mampu menghadapi mereka, jika kami sudah mengepung dan hendak menumbangkan mereka. Mereka selalu menggunakan jurus andalan mereka yang membuat kami lari tunggang langgang. Selain itu kami tak tega dan merasa pengecut jika melawan wanita," ucap Lee menunduk takut, sesekali matanya mencuri pandang melihat ekspresi Karina. Hanya menunjukkan wajah datar dan menaikkan satu alisnya.
"Oh." Hanya satu kata sebagai respon Karina. Karina mengalihkan tatapannya mengamati pena spesial yang ia minta. Terdapat ukiran namanya dan Arion serta nama twins yang telah mereka siapkan untuk anak kembar mereka nanti. Ukiran berwarna emas itu kontras dengan warna pena yang hitam.
Karina menekan sekali tombol bagian atas. Mata pena muncul, Karina menekannya lagi, mata pena berganti menjadi sebuah senjata berubah laser yang mematikan.
Jika ditekan tiga kali, laser akan hilang dan berganti menjadi sentrum yang mampu membuat orang dewasa tepar dalam beberapa sekon.
Karina tersenyum puas.
"Mengapa tak mengerahkan pasukan wanita?" tanya Karina, menyimpan kembali pena di tangannya ke dalam paperbag.
"Anda lupa kah, jika di negara ini Anda tak membuat pasukan wanita?" jawab Lee, memberikan pertanyaan. Dahi Karina mengerut, beberapa waktu kemudian Karina kembali dengan wajah datarnya.
"Sepertinya aku harus menyidang Li dan Gerry sekembalinya dari sini," ucap Karina.
"Urusan ini biar aku yang tangani, wanita haruslah lawan wanita," ujar Karina pada Lee.
"Tapi-" tahan Lee ragu.
"Maksudku aku yang buat rencana kalian yang jalani, aku juga mau lihat jurus apa yang mereka gunakan hingga membuat kalian lari," ralat Karina tegas. Ia kemudian berdiri.
__ADS_1
"Ah baiklah," ucap Li.
"Jaga markas baik-baik, aku pergi dulu," ucap Karina. Lee mengangguk dan memberi hormat pada Karina. Karina segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dan markas menuju mobilnya.
Sesampainya di mobil Karina langsung membuka handphone-nya. Mengecek apakah ada informasi penting yang dikirimkan padanya.
"Hm, ternyata mereka memang sempat bersembunyi di amazon. By de way keren juga ya tempat sembunyi, pintu masuknya dari dalam air. Tapi di mana mereka sekarang? Huft, dasar bintang bisa sialan, buat susah dan pusing saja," kesal Karina membaca laporan yang informannya berikan.
Karina segera membalas laporan informannya itu. Karina mengerut heran mengerut heran melihat banyak yang mengirim pesan padanya serta panggilan tak terjawab.
"Astaga, lupa sama Nih anak jadinya. Kasihan Nita."
Karina menepuk pelan dahinya dan segera membalas pesan Nita. Seusai itu Karina membalas pesan Nita dan memberi arahan, Karina menyimpan handphone-nya. Menghidupkan mesin mobil dan melaju meninggalkan markas menuju kantor Big Hit Entertaiment.
"Bentar lagi jam makan siang, kudu cepat nih," gumam Karina, menambah kecepatan mobilnya.
***
Kini Maria dan Amri sedang dalam perjalanan menuju restauran. Ternyata kawan lama mereka telah pindah rumah, para tetangga mengatakan bahwa kawan lama mereka itu pindah ke luar kota, Ulsan.
Maria dan Amri memutuskan untuk mencari ke sana esok hari. Saat berhenti di lampu merah, tanpa sengaja mata Maria menangkap sosok Nita dan kakek Bram berjalan di trotoar.
Keduanya tampak bahagia. Tanpa sadar Maria tersenyum, terlebih melihat Nita yang menggendong bayi yang notabenya adalah adik iparnya.
"Mama kenapa senyum-senyum sendiri? Lihat apa?" Amri mengikuti arah pandang Maria. Maria terkesiap dan segera merubah raut wajahnya.
"Gak lihat apa-apa kok Pa, salah ya kalau Mama senyum? Mama cuma teringat sama mereka dulu, nostalgia Pa," ujar Maria.
Amri mengerut heran dan mencoba melihat apa yang Maria lihat tadi. Maria gelisah. Bayangan familiar terbayang di kepalanya, namun itu tak lama, karena kendaraan di belakang mobilnya ribut ngajak ngelud sebab lampu sudah berubah hijau dan mereka belum jalan, padahal posisinya paling depan.
Halusinasi aku saja mungkin, mana mungkin dia dan pelayan itu di sini, batin Amri, dengan cepat menjalankan kembali mobilnya.
***
Bayu mendengus kesal mendengar omelan marah dari dua orang berbeda jenis kelamin yang lebih tua dan tinggi darinya, berusia sekitar 13 dan 15 tahunan, marah padanya. Bayu mengerti ucapan mereka sebab Karina dan Enji menjadi guru bahasanya.
Terlihat celana putih yang dipakai sang pria kotor terkena tumpahan minuman. Itu adalah noda minuman yang Bayu minum sebelum tumpah.
Beberapa saat lalu, saat tengah asyik menikmati minuman dinginnya, ada yang menabrak dirinya dari depan. Sepertinya sang penabrak terlalu asyik mengobrol pada sang wanita sehingga tak memperhatikan jalan. Padahal Bayu sudah berdiri di pinggir. Memang kalau oleng ribet urusannya.
Atau bisa juga pria itu tak melihat Bayu.
"Sudah selesai?" tanya Bayu jengah menggunakan bahasa korea.
"Sekarang giliranku," ucap Bayu lagi.
"Na na na na, jangan marah-marah! Kamu duluan cari gara-gara. Saya santai kenapa kamu gerah? Tambah parah bilang saya yang salah?" tanya Bayu, menggunakan nada pada ucapannya.
Kedua orang di hadapannya tampak heran dengan bahasa Bayu. Jelas, Bayu menggunakan bahasa Indonesia.
__ADS_1