
"IBUNDA!!"
Ketiga anak lelaki kembar itu menerobos masuk. Emir menoleh dengan wajah cemas, ia sendiri duduk di tepi ranjang dengan menggenggam jemari Kaira.
Ketiga anak itu naik ke ranjang, duduk di samping sang ibu, menatap cemas sang ibu yang masih ditangani oleh dokter.
"Ayah bagaimana keadaan Ibu?"tanya Brian, yang tertua.
Emir menggeleng pelan, menatap harap sang dokter.
"Di mana Paman Aldric?!" Mata Basurata berkilat dingin dengan aura membunuh yang kuat.
"Kakak ini bukan salah Paman Aldric. Ini kecelakaan," ujar Bahtiar menenangkan sang kakak.
"Jelas salahnya! Dia tahu bahwa fisik Ibu lemah tapi lancang menantang Ibu! Aku akan memberinya pelajaran!"geram Basurata.
"Adik tenangkan dirimu. Jangan ganggu Ibunda," tegur Brian.
"Ayah sudah memberinya pelajaran. Paman Aldric sudah menyesali perbuatannya," ucap Emir yang sama sekali tidak digubris.
"Ayah dan kalian berdua jaga Ibu. Aku akan memberinya pelajaran!" Basurata memang yang paling keras kepala, turun dari ranjang dan keluar dari kamar.
"Bara!"teriak Brian memanggil Basurata namun tidak digubris sedikitpun. Emir menatap datar hal tersebut.
Bukan rahasia lagi, memang usia ketiga anak ini masihlah tiga tahun akan tetapi mereka bukanlah anak kecil, pemikiran serta perilaku mereka melebihi usia mereka. Jika mereka mengatakan atau Kaira menyuruh mereka bermain, maka mereka akan belajar memanah, seni pedang, juga strategi, baik perang maupun perdagangan.
"Adik temani Ibunda. Aku akan mengejar Bara!"
Bahtiar mengangguk.
"Ayah jaga Ibunda!"
Brian bergegas menyusul Basurata. Bahtiar menatap datar Emir kemudian menatap lembut Kaira.
"Bagaimana kondisi Ratu?"tanya Emir cepat setelah melihat dokter selesai menangani Kaira.
"Alhamdullilah. Pendarahan Ratu sudah berhenti. Kondisi Ratu sudah stabil. Tinggal menunggu Ratu sadar, Pangeran," jawabnya sopan.
"Alhamdullilah. Syukurlah."
Emir mengangkat kedua tangannya ke atas mengucapkan syukur pada yang kuasa. Bahtiar juga melakukan hal yang sama. Anak termuda itu kemudian mencium punggung tangan Kaira. Senyuman lega terukir di wajahnya.
Emir mengecup kening Kaira yang terbalut perban. Tatapannya lembut, penuh kasih.
"Kalian boleh keluar," ucap Emir pada dokter dan pelayan yang berada di dalam kamar. Satu persatu yang disuruh keluar menunduk hormat dan keluar tanpa suara.
"Kaira cepatlah sabar. Hanya kau yang bisa menenangkan amarah Bara. Kaira aku mohon cepatlah sadar. Ada yang ingin aku sampaikan padamu."
Bahtiar menaikkan alisnya, menatap curiga Emir.
Bahtiar menghilangkan tatapan curiganya saat Rayan masuk dan membisikkan sesuatu pada Emir.
"Bahtiar, jaga Ibundamu. Ayah ada urusan sebentar," tegas Emir. Bahtiar mengangguk paham. Emir dan Rayan bergegas keluar dari kamar.
"Apa yang ingin disampaikan Ayah pada Ibunda?"gumam Bahtiar.
*
*
*
"Hentikan Bara. Aldric sudah mengaku salah!"seru Osman yang melihat Basurata menyiksa Aldric dengan menekan kuat luka-luka Aldric. Brian yang berusaha keras menarik dan menahan adiknya menoleh.
"Kakek bantu aku!"seru Brian.
Osman mendekat dan segera menarik Basurata yang meronta dengan tatapan yang terfokus pada Aldric. Aldric yang meringkuk kesakitan di atas ranjang tak berani melawan. Ia melirik ke arah Osman yang membawa Basurata menjauh. Teriakan Basurata menggema, memaki Aldric. Brian menghela nafas lega.
Aldric kini berusaha untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. Menjauhnya Basurata bukan berarti ancaman bagi Aldric menjauh. Yang berdiri di dekatnya ini lebih menyeramkan dari kedua adiknya. Brian pandai mengatur emosi, ia yang paling bijak namun juga paling berbahaya. Senjatanya bukanlah besi atau kayu melainkan otak. Brian adalah anak yang unggul dalam bidang strategi.
"Paman Aldric, jangan salahkan adikku karena menyiksamu. Salahkan dirimu sendiri yang mencari masalah dengan kami. Kau tahu kondisi Ibunda lemah tapi kau memaksanya untuk berduel. Paman … jika terjadi sesuatu yang buruk dengan Ibunda, aku pastikan kau akan mati di tanganku!"
"Am-ampuni hamba, Pangeran Brian! Hamba bersalah. Silakan Anda menghukum hamba! Hamba tak akan melawan!"
Brian menatap dingin Aldric.
__ADS_1
"Iya atau tidaknya, biar Ibunda yang menentukkan!"tegas Brian, meninggalkan kamar Aldric.
Anak-anak Ratu sungguh berbahaya, batin Aldric.
Anak-anak Kaira disegani bukan karena Emir melainkan karena sikap dan ketegasan mereka. Kecerdasan juga kekejaman di usia muda. Ketiga anak itu saling melengkapi satu sama lain. Jika tidak diganggu mereka akan bersikap biasa layaknya seorang tuan muda dari keluarga hebat. Kunci perubahan sikap mereka adalah Kaira. Begitu juga yang terjadi pada Kaira. Sebagai pendatang yang diakui istri oleh Emir tentu saja posisinya masih labil, terlebih saat Emir tidak ada di sisinya. Satu-satunya cara adalah memantapkan posisi dan kekuasan dengan kemampuan sendiri.
*
*
*
Uhhh
Kaira mengeluh sakit. Matanya perlahan terbuka. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Apa yang terjadi?"ucapnya dingin.
"Ibunda, Ibu sudah sadar?" Kaira mengedarkan pandangan, mendapati ketiga anaknya menatapnya harap-harap cemas.
"Anak-anak kalian di sini?"
Kaira berusaha duduk namun ditahan oleh ketiga anaknya.
"Pelayan panggil dokter!"ucap Brian.
"Ibu bagaimana perasaanmu? Bagian mana yang sakit?"tanya Bahtiar lembut.
"Ibu baik-baik saja. Hanya kepala ibu yang sedikit pusing," jawab Kaira.
"Bohong!"sela Basurata.
"Kepala Ibu jelas terantuk batu. Mana mungkin tidak sakit!"
"Bara!"tegur Brian.
"Jadi kau berharap Ibu celaka?"
Basurata langsung terdiam, menunduk bersalah akibat tatapan dingin Kaira.
"Bukan begitu, Ibu. Ananda sangat tidak ingin Ibunda celaka," ucap lirik Basurata. Matanya berubah sendu, Bahtiar yang paling peka langsung mengusap punggung kakak keduanya itu agar tak menangis. Tapi tetap saja.
"Ibu adik tidak bermaksud begitu. Ia hanya terlalu khawatir. Tadi saja, jika ibu tidak kunjung sadar pasti sekarang adalah pemakaman Paman Aldric," tutur Brian.
"Apakah Emir menghajarnya?"
"Bukan hanya Ayah, kak Bara juga ikut andil Ibu," jawab Bahtiar.
Kaira mengubah tatapannya, menatap lembut ketiga anaknya. Kaira meminta Basurata mendekat. Anak mendekat, dan langsung memeluk Kaira erat.
"Kakak jangan terlalu erat. Ibunda masih sakit," ujar Bahtiar.
"Hanya kepala ibu yang sakit. Anak-anak berikan ibu pelukan," ucap Kaira. Brian langsung memeluk Kaira. Bahtiar masih ragu, mata Kaira meyakinkannya. Ketiga anak dan ibu itu berpelukan.
Dokter masuk tergesa, mengganggu momen itu, membuatnya dihadiahi tatapan kesal mereka berempat. Dokter segera memohon ampun. Brian mendatarkan wajahnya. Menjauh sedikit memberi ruang agar dokter bisa memeriksa Kaira.
"Ratu kondisi Anda sudah baik-baik saja. Cukup habiskan obat yang saya berikan, akan akan sembuh total."
"Aku tahu. Tapi kondisi tubuhku yang lemah akan semakin lemah. Kau boleh keluar."
Dokter mengangguk dan keluar tanpa suara.
"Ibunda, apa maksud Ibunda tadi?"tanya Bahtiar.
"Kalian tak perlu cemas karena Ibu sudah menemukan obat untuk fisik Ibu. Sekarang katakan pada Ibu di mana Emir?"
"Ayah berada di ruang pertemuan. Ada apa Ibu?"jawab Brian.
"Dengan Pedang Biru?" Ketiganya mengangguk.
"Ibu akan ke sana. Kalian boleh tinggal atau ikut!"
Kaira menjejakkan kedua kakinya di lantai.
"Tapi Ibu ... bukankah?" Brian ragu.
__ADS_1
"Ini sangat penting, Brian. Ibu harus ke sana," tegas Kaira.
"Baiklah. Aku akan ikut."
"Aku juga."
"Adik juga."
*
*
*
Ruangan yang luas dan terang, lampu gantung yang besar terlihat begitu indah di langit-langit ruangan. Puluhan lilin juga menambah penerangan dan kesan abad pertengahan. Di dalamnya terdapat beberapa pria dewasa yang sepertinya tengah berdiskusi. Dua pria yang memakai kalian berbeda dari tiga lainnya tampak santai sembari menikmati hidangan di meja.
Ketiga pria yang mengenakan pakaian kombinasi modern dan tradisional itu saling lirik dengan tatapan heran. Dua pria di harapan mereka ini mengapa bisa begitu santai?
Apa mereka tak takut hidangan itu diracun? Atau memang mereka tak waspada? Inikan bisa dikatakan sebagai kandang lawan mengapa bisa tetap tenang. Penjelasan mereka sedari tadi ditanggapi santai oleh keduanya.
Tiga pria itu tak lain adalah Osman, Emir, dan Rayan sedangkan dua pria lagi Li dan Rangga. Yap Rangga yang awalnya bertugas di markas negara A Li pindahkan ke markas pusat untuk membantu dirinya dan kini ikut dengannya ke Maroko.
"Sudah selesai?" Li menatap ketiganya.
"Sudah, Tuan Li. Bagaimana pendapat Anda?"balas Emir. Li mengulas senyum tipis.
"Mengapa kalian berinisiatif menjalin kerja sama dengan kami? Aku tak heran dengan alasan kedudukan dan keinginan kalian agar perdagangan kalian meluas. Hanya saja, menurut pengamatanku, kelompok-kelompok dagang di sini mempunyai harga diri yang tinggi. Mustahil mereka mengajak pedagang asing kerja sama lebih dulu. Yang biasanya terjadi adalah peperangan. Aku tebak ide ini bukan kalian kalian. Siapa gerangan yang berani menyampaikan ide itu? Aku ingin bertemu dengannya."
Osman, Emir, dan Rayan terkesiap. Mereka tak menduga Li menebak asal muasal pertemuan ini. Emir tersenyum tipis.
"Anda benar. Ini memanglah bukanlah ide dari kami melainkan dari isteriku. Ia yang menyarankan pertemuan ini. Setelah kami rembukkan ini juga jalan yang bagus. Kerugian dapat diminimalisir sedangkan kita sama-sama mendapat keuntungan," ujar Emir.
"Aku tidak sepenuhnya setuju. Walaupun kita tidak bekerja sama, kami akan tetap mendapat keuntungan. Kalianlah yang merugi. Apapun langkah yang kalian ambil kalian tetap rugi. Jalan satu-satunya memanglah mengambil keputusan ini. Tuan-tuan sekalian, jika kita bekerja sama yang paling diuntungkan adalah kalian. Aku akui Anda cermat mengambil keputusan. Akan tetapi kami harus mendiskusikan dengan petinggi-petinggi lain," ucap Rangga, menunjuk Emir.
"Jadi bisakah aku bertemu dengan penggagas ide ini?"tanya Li dengan sorot mata yang tidak bisa ditolak.
"Maafkan saya, Tuan. Istri saya tidak bisa hadir. Kondisinya tidak memungkinkan untuk hadir di sini. Lagipula wanita dilarang masuk ke ruang pertemuan ini," tolak halus Emir.
"Baiklah. Kita bisa bertemu setelah dari sini," sahut Li santai.
"Istri saya sedang sakit. Ia tidak bisa bertemu dengan tamu!"tegas Emir.
"Jika begitu kita atur waktu, jika istri Anda sudah sehat, aku akan berkunjung sekaligus memberi keputusan," balas Enji. Emir tak mengerti dengan pola pikir Li.
Saat Li dan Emir berjabat tangan, terdengar keributan dari luar dan kelimanya dikagetkan dengan seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan cacar serta tiga orang anak lelaki yang wajahnya sama persis.
"Kaira!"seru Emir, langsung melangkah mendekati Kaira.
Osman sendiri menggepalkan tangan, wajahnya terlihat geram.
"Kaira kau sudah sadar? Mengapa tak beristirahat saja di kamar? Kaira cepatlah keluar. Ayah akan marah jika kau tetap di sini." Emir menatap cemas Kaira, berbicarapun ia berbisik.
"Pelayan bawa Ratu dan para pangeran kembali!"teriak Osman, matanya menatap dingin Kaira. Kaira tak menghiraukan kepanikan dan kemarahan dua orang itu. Menepis tangan Emir, melirik sekilas ke arah Li dan Rangga kemudian membalas tatapan Osman dengan tatapan dingin. Li dan Rangga tertegun sejenak, kemudian sama-sama tersenyum penasaran.
Li yang melihat ketegangan itu, mengamati dengan tatapan fokus pada Kiara dan ketiga anaknya.
Rasanya familiar.
Li terkejut dari duduknya saat menilik lekat wajah tiga bocah itu. Dan lagi, Kaira sangatlah familiar. Tinggal melihat wajah itu, pasti akan terjawab.
"Jangan tarik Ibunda! Kakek Anda jangan marah dulu! Ibunda menerobos masuk bukan tanpa alasan kuat! Mohon Kakek mengizinkan Ibunda tetap berada di sini." Brian menatap harap Osman.
"Brian ini menyalahi aturan! Kalian akan dihukum setelah ini!"tegas Osman.
"Aku tahu Kakek. Tapi mohon izinkan sekali ini saja," pinta Brian.
"Benar Kakek. Kami bersedia dihukum asalnya Ibunda menyelesaikan urusannya di sini!" Basurata ikut berbicara.
"Kakek demi cucumu ini, mohon beri waktu sebentar untuk Ibunda," pinta Bahtiar.
Emir menggeleng keras melihat kekompakkan ibu dan anak.
"Kaira aku mohon kembalilah. Jangan buat Ayah murka. Kalian aku mohon."
Emir menggenggam jemari Kaira, memberinya tarikan pelan tapi Kaira tak bergeming.
__ADS_1
"Tapi aku di sini bukan sebagai Ratu melainkan sebagai perwakilan!" Kiara akhirnya bersuara. Li membulatkan matanya, cangkir digenggamannya jatuh. Li menatap Kaira rumit yang dibalas tatapan acuh Kaira.
"Karina?"ucap lirik Li, menunggu Kaira selesai membuka cadarnya