
Pukul 06.40 pagi, kediaman Wijaya dihebohkan dengan Arion yang panik. Arion yang baru bangun dari tidurnya heran
mendapati karina yang tak berada di kamar.
Seluruh sudut kamar dicarinya. Arion memutuskan mencarinya di luar kamar. Ia mengetuk-ngetuk pintu kamar mama dan Papanya.
"Ya …." Terdengar sahutan Amri dari dalam.
"Pa, Papa tahu Karina kemana?" tanya Arion setelah Amri membuka pintu diikuti oleh maria di belakangnya.
"Karina? Bukankah dia sedang berada di negara B?" tanya balik Amri tak mengerti.
"Iya Ar. Kan hari ini dia akan kembali," timpal Maria.
"Tapi Pa, Ma … tadi malam Karina kembali dan tidur di kamar sama aku. Pas aku bangun Karinanya gak ada," terang Arion meyakinkan Maria dan Amri.
"Kamu ngaco deh. Mana mungkin Karina pulang tengah malam terus paginya gak ada. Kecuali dia sengaja pulang terus balik lagi ke negara B," ucap Amri mencoba menyadarkan Arion. Arion mengerutkan dahinya.
"Kamu mimpi kali Ar," ucap Maria.
"Gak Ma. Arion gak mimpi. Pasti Karina ada di bawah," tegas Arion langsung menuju tangga dan menuruninya. Maria dan Amri hanya menaikkan bahunya heran.
"Anak kita kayaknya mulai gak sehat deh Pa," ujar Maria prihatin.
"Hmm … semoga saja menantu kita cepat kembali," harap Amri. Mereka lantas kembali ke dalam kamar dan mempersiapkan diri menyambut hari yang baru.
Sedangkan di bawah, Arion memanggil Karina berulang kali. Namun, tetap saja tak ada jawaban atau semacamnya. Arion memegang kepalanya heran.
"Mimpikah aku," gumamnya. Arion tersenyum sendiri jadinya dan langsung menuju tangga kembali. Baru saja satu anak tangga yang ia naikkin terdengar sahutan Bik Susan.
"Tuan mencari Nyonya muda?" tanya Bik Susan sopan. Ia baru saja kembali dari belakang. Arion mengangguk.
"Iya Bik. Saya merasa tadi malam Karina kembali tapi ternyata cuma mimpi. Karina belum pulang," ujar Arion ramah.
"Tuan tidak bermimpi. Nyonya memang kembali. Tadi pagi jam lima saja bertemu Nyonya muda di ruang tengah. Tapi Nyonya langsung pergi menuju garasi dan pergi lagi," terang Bik Susan. Arion membulatkan matanya dan memegang pundak Bik Susan seraya menggoyangkannya.
"Ya benar Bik? Bibi gak bohongkan? Saya gak mimpi kan?" tanya Arion beruntun. Bik Susan hanya bisa mengangguk.
"Tuan kepala saya pusing," keluh Bik Susan. Arion spontan melepaskan pegangannya dan lari menuju kamarnya. Sedangkan Bik Susan mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha mengusir rasa pusing.
"Aneh," gumam Bik Susan segera melanjutkan apa yang mau ia kerjakan.
Di kamar, Arion melonjak senang. Dengan segera ia menghubungi Karina lewat video call.
"Hai Sayang," sapa Arion setelah melihat wajah Karina di layar handphone.
Dilihat dari tempatnya saat ini Karina tengah berada di meja makan. Ya. Karina memutuskan sarapan lebih awal sebab misi yang harus segera dituntaskan.
"Hai Ar. Tumben sepagi ini nelpon. Pakai acara video call segala lagi," tanya Karina riang. Arion dapat melihat jelas aneka sarapan tersaji di meja makan.
"Gak papa. Kangen. Tumben kamu sarapan pagi sekali? Malah enak semua lagi," ucap Arion.
"Hmm … kamu mau?" tanya Karina menyodorkan sendok berisi makanan ke depan layar.
__ADS_1
"Paketin," sahut Arion.
"Kamu tadi malam pulang kan? Terus kenapa balik lagi? Gak pamit lagi," tanya Arion kesal. Karina malah tersenyum manis.
"Aku kangen sama kamu. Rasa kangen aku membuatku melakukan hal gila ini. Kamu tahu rasanya terbang tengah malam dan pagi buta? Seru loh," cerita Karina menunjukkan wajah senangnya.
"Astaga? Segitunya kamu? Aku saja tak berani. Kamu naik pesawat siapa?" tanya Arion heran. Sebab tak ada pemberitahuan akan pesawatnya digunakan dalam waktu beberapa jam terakhir.
"Emmm … itu ya. Aku … aku naik pesawat ...," jawab Karina terbata-bata.
Aduh mati aku. Gak mungkinkan aku bilang naik pesawat pribadi aku. Gak mungkin juga bilang pesawat Li. Apa jawab gitu saja ya??
batin Karina meringis.
"Pesawat??" tanya Arion.
"Pesawat KS Titra Grub. Aku meminjamnya atas izin pemiliknya melalui Lila dan Raina," jawab Karina meyakinkan. Arion menautkan alisnya tak percaya.
Bagaimana bisa? Mengapa presdir perusahaan besar begitu royal pada Karina? Bagaimana bisa seperti itu? Arion baru mengetahuinya saat ini.
Apa jangan-jangan Karina ada hubungan dekat presdir itu? Tapi apa? Sepupu, adik, atau apa? batin Arion.
"Mereka sangat royal padamu. Apa kau membangunkan mereka tengah malam?" tanya Arion masih tak percaya. Karina menunjukkan ekspresi canggung.
"Hehehehe … best friend forever. Siap sedia kapan pun. Pagi, siang, malam, tengah malam, pagi buta selalu standby," jawab Karina canggung.
"Masak?" Arion masih tak percaya.
"Di dapur," sahut Karina polos. Arion membulatkan matanya dan terkekeh pelan.
"Hmm … oke. Kamu gak sarapan? Gak lapar apa habis teriak-teriak?" ledek Karina mulai menyantap makanannya lagi.
"Tahu dari mana?" tanya Arion malu.
"Dari sikap kamu lah. Pasti kamu teriak sana teriak sini, bangun Mama sama Papa, bikin heboh rumah," jawab Karina.
"Kamu benar Sayang. Habisnya kamu datang gak dikira pergi tak pamitan. Aku kirakan mimpi. Untung saja ada Bik Susan," ujar Arion memayunkan bibirnya.
"Hush … kamu kira aku jelangkung apa?" ketus Karina.
"Sudah ah. Kamu nyebelin. Aku mau berangkat nyelesain masalah," ucap Karina.
"Eh jangan ngambek dong. Aku bercanda Sayang. Jangan marahnya. Kapan kamu pulang kabarin aku. Aku ada sesuatu untukmu," ujar Arion was-was.
"Oke. Aku tunggu," ucap Karina mematikan panggilan via video call.
Arion tersenyum bahagia. Bukan mimpi. Dengan segera ia membersihkan dirinya dan turun menuju meja makan. Arion memberitahu pada Amri dan Maria jika yang ia katakan tadi bukan mimpi. Maria dan Amri hanya dapat menjatuhkan rahang mereka takjub sekaligus ngeri dengan menantu mereka.
***
Pov Joya
Ini adalah hari ketiga aku mengintai KS Tirta Grub. Dua hari kemarin aku tak mendapat satupun informasi. Malah menambah kekesalanku. Bagaimana tidak? Arion menolak bertemu denganku. Kartu akses yang ku pegang sudah tak berlaku.
__ADS_1
Sebelum jam masuk kerja aku sudah berada di dalam mobilku yang aku parkir tak jauh dari perusahaan itu namun tempatnya strategis. Aku bisa melihat mereka, mereka tak bisa melihatku.
Aku mendengus kesal. Informasi yang diberikan baji*gan itu sangat minim. Aku harus menggali lagi. Aku bersiap dengan teropong modifikasiku ketika ada dua mobil mewah yang masuk ke parkiran khusus CEO.
"Lagi-lagi mereka," kesalku setelah mengetahui siapa yang turun dari mobil berwarna biru.
Ya. Siapa lagi kalau bukan dua wanita yang sangat ramah pada Karina pada pertemuan CEO enam bulan lalu. Aku sangat mengingat kejadian itu. Di mana Arion mulai tak menghiraukanku.
Tapi tunggu, aku sepertinya kenal dengan mobil di belakang mobil biru itu. Itu seperti ….
Pintu mobil terbuka. Dugaanku benar. Itu dia ….
Hayo … siapa dia?
Pov Joya end.
***
Informasi tentang Pedang Hitam sudah rampung semua di meja belajar Karina. Andi dibolehkan berangkat kerja ke rumah sakit seperti biasanya, namun tanpa sepengetahuan Andi, di sampingnya banyak pengawal bayangan Karina yang mengawasi setiap gerak-geriknya.
Ditambah lagi dengan alat pelacak dan penyadap yang Karina tanamkan pada tubuh Andi sewaktu ia tak sadarkan diri.
Pedang Hitam Mafia. Mafia yang dibentuk oleh Rudi Alkanda. Ya musuh Karina lagi.
Kebetulan yang menyenangkan menurut Karina. Saat ini ia tengah menyusun rencana pembebasan Lala dan menumpas musuhnya itu nanti malam bersama Darwis, Rian dan Satya. Tak lupa Li dan Gerry, Karina panggil ke negara B dengan membawa dua puluh pasukan elitnya dari negara Y.
Ya pasukan elit negara Y memang mempunyai kemampuan lebih mumpuni dari pada pasukan markas cabang.
Karina tengah sibuk membahas strategi yang akan ia gunakan. Di meja belajar yang tersambung dengan layar virtual yang menampilkan dena lengkap kediaman dan markas Pedang Hitam sampai ke akarnya.
Karina hanya menyuruh Darwis, Rian dan Satya yang mengamatinya. Ia malah santai menghitung hari. Entah apa yang ada di pikirannya.
"Ada cela sebelah sini, Queen," ujar Rian menunjuk sisi kanan markas. Karina menganggukkan kepalanya paham tanpa menoleh.
"Di sini juga ada. Ini adalah terowongan rahasia. Ukurannya dari jalan di samping mall dan tembusnya adalah kandang kuda di sisi selatan markas," ucap Satya. Lagi-lagi Karina hanya mengangguk.
"Bagaimana denganmu Darwis?" tanya Karina melirik Darwis sekilas. Darwis terdiam dan mengamati lebih dalam dena kediaman.
"Sudah tak ada lagi. Tapi aku punya saran yang lebih menantang," ujar Darwis santai.
"Apa itu?" tanya Karina bertopang dagu.
"Masuk secara terbuka. Kita bukan pengecut yang masuk dari jalan rahasia. Serang dari segala penjuru. Timur, selatan, utara dan barat. Luluhkan segalanya. Masuk secara jantan," jelas Darwis menyeringai. Rian dan Satya membeku mendengar ide Darwis. Lain halnya dengan Karina yang tersenyum puas.
"Ide kita searah. Aku setuju," ucap Karina santai.
"Hehehehe … balas dendam lagi dimulai," kekeh Karina diikuti Darwis.
"Siapkan segalanya. Jam sebelas malam kita gempur mereka. Aku mau bersantai sebelum bermain," perintah Karina berdiri dan meninggalkan ruang belajar menuju lantai tiga, tempat untuk bersantai.
Darwis, Satya dan Rian segera melaksanakan perintah Karina. Karina malah memanjakan tubuhnya dengan nge gym. Yap inilah santai versi Karina. Mengeluarkan keringat dan menjaga kebugaran dan ketahanan tubuhnya di tengah aktivitas yang sangat padat.
Pukul 13.00, Li, Gerry dan pasukan sebanyak dua puluh orang yang berpenampilan layaknya turis tiba di negara B. Bus jemputan mereka sudah menunggu. Para pasukan segera naik. Bus segera melaju perlahan menuju kediaman markas negara B.
__ADS_1
Li dan Gerry menuju mobil mereka menuju kediaman Karina membahas rencana lebih lanjut. Sesampainya di kediaman Karina, mereka berdua disambut oleh Darwis, Satya dan Rian. Akhirnya mereka melakukan reuni singkat. Membicarakan tentang keseharian mereka masing-masing.