Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 194


__ADS_3

Joya menatap bangunan kasino di hadapannya dengan wajah tersenyum cerah. Kehamilannya yang sudah menginjak umur lima bulan, tak membuatnya kesulitan bergerak ataupun terlihat genduk. Di tangannya terdapat rantang membawa makan siang untuk Darwis. 


Joya menghela nafasnya panjang. Sejujurnya ia bingung dengan tubuhnya sendiri. Ia merasa ada yang aneh, namun ia tak berani mencari apa itu.


"Semoga saja ini cuma efek kelelahan dan kehamilanku," gumam Joya, melangkahkan kakinya memasuki kasino terbesar itu dan menuju ruang kerja suaminya.


Joya tersenyum tipis, mengingat saat pertama kali ia kemari. Tanpa ia sadari, wajahnya memerah malu mengingat hal itu. Pertemuan pertama setelah bertahun-tahun berpisah serta penyatuan pertama mereka.


"Astaga?!" Joya terperajat kaget saat masuk ke ruangan Darwis. Di dalam Darwis tengah memeluk seorang wanita. Wanita itu terlihat seperti membenamkan wajahnya di dada Darwis. Posisi Darwis membelakangi pintu masuk. 


Joya membeku dalam diamnya. Rantang yang dibawanya seketika jatuh bersama dengan jatuhnya air mata yang Joya keluarkan tanpa diminta. 


Darwis dan wanita itu terkejut, Darwis melepaskan pelukannya dan berbalik.


"Joya," ucap lirik Darwis, berjalan menghampiri Joya.


"Kamu … kalian? Kamu selingkuh??" tanya Joya, menunjukkan wajah amarahnya dan menahan langkah Darwis. Satu kesamaan dengan Karina, Joya tak akan lari ataupun menghidari masalah sekalipun itu menyakitkan. Darwis mengeryit. Sedangkan wanita itu menghapus air matanya, wajahnya terlihat khawatir.


"Selingkuh? Bahkan memikirkannya saja  tak pernah Joya. Dalam kamusku dan kamus kami tak ada kata selingkuh, ini tak seperti yang kamu kira," jelas Darwis, berusaha menenangkan Joya. Ia khawatir Joya akan kelebihan emosi.


"Lantas yang tadi itu apa? Kau memeluk wanita itu dengan mesra dan penuh kasih sayang. Dia siapamu? Kau kan tak punya saudara perempuan?" cercah Joya, menatap sinis wanita yang dipeluk Darwis tadi. 


Mulut wanita itu terbuka, ia hendak berbicara namun ditahan oleh Darwis.


"Kau keluarlah. Ini urusanku dan istriku!" ucap tegas Darwis. Wanita itu menunduk hormat. 


"Nyonya, jangan salah paham. Apa yang Anda lihat itu memang benar tapi artinya bukanlah itu," ucap Wanita itu dengan nada hormat ketika bersinggungan dengan Joya. Joya abai dan menatap tajam wanita itu.


Wanita itu segera keluar. Meninggalkan Joya dan Darwis berdua. Suasana hening. Darwis menatap lekat Joya dan langsung menariknya ke dalam pelukannya. Joya memberontak, namun Darwis malah mempererat pelukannya.


"Ternyata rasanya sakit melihat pria yang telah menjadi suami seorang wanita memeluk wanita lain. Ah, apakah rasa sakitnya sama seperti yang Karina rasanya saat memergoki aku dan Arion dulu?" gumam Joya pasrah dan menyandarkan kepala di dada Darwis.


"Jangan salah paham, ayo duduk dulu biar aku jelaskan," ucap Darwis, melepas pelukannya dan menghapus air mata Joya. Joya dengan kasar mendorong Darwis menjauh darinya dan duduk di sofa.


"Apa yang mau kau jelaskan?" tanya ketus Joya. Mendinginkan wajahnya. Darwis antara menelan ludah dan tersenyum. 


Dengan langkah pasti, Darwis mendekati Joya.


"Namanya Irene," ucap Darwis. Joya mengeraskan rahangnya mendengar Darwis menyebutkan nama wanita itu dengan santai dan lembut.


"Dia adalah satu-satunya sahabatku yang wanita, aku bertemu dengannya saat aku pertama kali menginjakkan kaki di sini," lanjut Darwis.

__ADS_1


Berarti mereka sudah bersahabat selama bertahun-tahun. Apa ia masih disebut sahabat jika selama itu? Apa mereka pernah memendam rasa satu sama lain? Joya khawatir dengan itu. Ia tak mau kehilangan apa yang sudah sah menjadi miliknya.


"Jika aku ingin selingkuh atau memiliki wanita lain, mengapa aku harus membebankan diriku sendiri dengan menikah denganmu? Logikanya kan aku lebih leluasa berhubungan dengan wanita lain jika aku tak menikah, bebas mau pilih yang mana. Itu lebih baik daripada aku menanggung dosa membuat air mata seorang istri jatuh. Tapi kau kan tahu sendiri. 12 tahun aku menunggumu tanpa kepastian. Hanya keyakinan teguh di dalam hati. Serta kamu juga tahu bahwa aku tak pernah melakukan hubungan terhadap wanita lain. Kau adalah yang pertama dan satu-satunya dalam hidupku," tutur Darwis, berlutut dan mencium kedua tangan Joya bergantian.


"Mengapa sahabat harus semesra itu? Kau bahkan memeluknya dan menatapnya penuh kasih sayang," protes Joya tak terima dan tak suka tentunya.


"Hmh, mungkin efek lamanya persahabatan kami. Tapi kau tak perlu cemburu atau apa, dia sudah menikah jauh sebelum kita menikah. Tepatnya dua tahun lalu, dan dia kemari bersama suaminya," jelas Darwis, meyakinkan Joya. 


Ya, mungkin aneh ya dua belas tahun persahabatan antara wanita dan pria tanpa ada rasa. Tapi itulah yang terjadi pada Irene dan Darwis, persahabatan mereka murni persahabatan tanpa ada benih cinta yang tumbuh, dalam arti rasa cinta kepada lawan jenis dan ingin memilikinya. Yang ada hanya rasa cinta dan kasih sayang dari persahabatan menjadi seperti saudara, bukan pasangan.


"Oh lalu mengapa kalian tak bersama? Dan mengapa kau tak pernah bercerita padaku? Pria memang suka membuat penasaran dan kala salah paham," tanya Joya, masih dengan nada datarnya.


Darwis tersenyum. 


"Selera kami berdua jauh bertolak belakang, lagipula ia sudah tahu sejak awal aku hanya mencintai satu wanita, dan itu dirimu. Kau tahu apa tipenya?" Joya mengangkat alisnya dan menggeleng.


"Tipenya adalah pria yang alim dan saleh. Ustad atau anak pesantren, dia bilang hidupku ini sangat kelam, akan lebih baik jika aku memiliki suami yang ahli agama dan saleh." Darwis tertawa kecil saat selesai mengucapkan hal itu.


"Oh, jadi mengapa tadi ia seperti menangis? Bukankah seharusnya ia tahu bahwa haram baginya menyentuh pria lain selain mahramnya, apalagi sampai segitu. Kau juga, mengapa harus seperti itu. Untung saja aku tak membawa senjata, jika tidak aku akan menghabisinya saat itu juga!" ucap sinis Joya, menyilangkan kedua tangannya di dada dan mencembikkan bibirnya.


"Haha, maklum saja. Dia kemari karena ia katanya ngidam ingin bertemu dan memelukku. Ya aku sebagai seorang sahabat dan saudara karena lamanya persahabatan itu tak dapat menolaknya. Lagipula diawasi langsung oleh suami dari layar handphone," jawab Darwis, mengusap lembut rambut Joya.


Joya masih meragu di dalam hatinya. Namun mengingat ucapan Irene tadi, apa yang terlihat belum tentu kebenarannya. Joya mencoba percaya. Lagipula, semua yang Darwis ucapkan dirasanya dapat dipercaya.


"Sudah jangan ceritakan! Kau mau membuat hati dan kepalaku mendidih?" sarkas Joya. 


"Iya, baiklah, tapi apa kau tahu alasannya ia tak datang pada hari pernikahan kita?" tanya Darwis lagi.


"Sudah ku katakan jangan bahas lagi. Lebih baik aku makan siang di luar, bekal yang ku bawa sudah mencium lantai!" tegas Joya.


"Karena dia mendapat musibah keguguran dan ini adalah kehamilan ke tiganya," ucap Darwis, mengabaikan ucapan Joya. Joya tertegun.


Sebagai wanita ia dapat merasakan sakit dan sedihnya kehilangan anak yang belum lahir, apalagi sampai dua kali.


Kasihan dia, batin Joya.


"Aku mau minta maaf padanya, bolehkan?" pinta Joya. Kini Darwis yang tertegun, tak lama ia tersenyum.


"Baiklah, ayo kita ke cafe tak jauh dari sini. Di sanalah Irene dan suaminya berada," ajak Darwis.


Joya tersenyum dan berdiri, namun saat hendak melangkah, ia merasa pijakannya tak kokoh dan seketika limbung dan kembali duduk di sofa. Darwis menatap Joya khawatir. Menjadi panik ketika melihat tetesan cairan berwarna merah terjun bebas dari hidung Joya dan menodai pakaian yang Joya kenakan.

__ADS_1


Joya membeku. Ia menatap rumit  darah tersebut dan menaikan pandangannya.


"Darwis, aku kena-?" Belum selesai Joya berucap, kegelapan menjemput kesadaran Joya. Joya pingsan dalam dekapan Darwis.


"Joya, hei bangun," ucap Darwis, panik dan mengguncangkan tubuh Joya. 


Dengan segera Darwis mengangkat tubuh Joya dan bergegas keluar dari ruangannya menuju mobil dan bergegas ke rumah sakit. 


"Bertahanlah sayang, sebentar lagi kita tiba di rumah sakit," ucap Darwis sembari menyetir dan mencuri pandang ke arah Joya. Hatinya diliputi kecemasan dan kekhawatiran. 


"Oh Tuhan, pertanda apa mimisan itu?" gumam Darwis. Tak sampai dua puluh menit, Darwis tiba di rumah sakit.


Memanggil para dokter dan perawat. Joya segera ditangani oleh dokter. Darwis menunggu gelisah di ruang tunggu. 


Sesekali melihat jam tangannya. 


Di tengah kegelisahannya, dering handphone membuatnya terkejut. Darwis mengambil handphone-nya dari saku celana dan melihat siapa yang menelpon dirinya.


"Halo, ada apa Ren?" tanya Darwis, mencoba tenang dan duduk seraya menghela nafas kasar.


"Kamu kemana? Aku lihat tadi mobil kamu ngebut sekali, seakan tergesa-gesa," ujar Irene. Memang benar, Irene dan suaminya tadi baru saja keluar dari cafe bersamaan dengan lewatnya mobil Darwis. Mereka tertegun dengan cara mengemudi mobil itu.


"Istriku pingsan dan mimisan. Ini aku di rumah sakit," papar Darwis, mengadu pada Irene.


"Innaillahi, Joya kenapa? Kamu main kasar ya?" tuduh Irene spontan.


"Gila kamu! Mana mungkin aku kasar dengan istriku sendiri. Haih, aku berdoa dan berharap dia baik-baik saja," bantah Darwis tegas. 


"Ya sudah, aku dan Mas Irwan akan ke sana, di mana rumah sakitnya?" putus Irene.


"Rumah sakit ibu dan anak Bunda Kasih," jawab Darwis. Setelah itu, Irene langsung mematikan panggilan sepihak tanpa mengucapkan apapun lagi.


"Ck, kebiasaannya mirip Karina," decak Darwis.


"Suami pasien?" Suara pintu terbuka bersama dengan suara dokter membuat Darwis mengangkat pandangannya.


"Saya Dok, bagaimana keadaan istri saya?" cercah Darwis.


Dokter berjenis kelamin wanita itu menghela nafas panjang.


"Kami belum bisa memastikan penyakit apa yang diderita oleh istri Anda, kita harus menunggu hasil lab darah istri Anda, sementara itu, kondisi istri Anda sudah stabil, tinggal menunggu efek obatnya habis baru beliau akan sadar," terang tersebut.

__ADS_1


"Apakah itu penyakit berbahaya Dok? Secara saya melihat sendiri istri saya mimisan dan pingsan," tanya Darwis, wajahnya muram dan tak tenang. Takut hal yang buruk benar-benar terjadi pada mereka.


"Lebih baik kita bicara di ruangan saya saja. Biar lebih santai," ajak dokter mengulas senyum tipis. Darwis mengangguk dan ikut melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter tersebut.


__ADS_2