
Tiga hari berlalu. Pukul 07.10 pesawat Wijaya mendarat di bandara kota. Arion kembali setelah menambah jadwal perjalanan bisnisnya. Besok adalah hari peresmian Tirta Garden, proyek besarnya bersama dengan KS Tirta Grub.
Dengan membawa sebuah kotak merah dengan pita berwarna biru, Arion turun dari pesawat.
"Gue langsung pulang ya," ujar Ferry yang turun dengan wajah lelah. Ferry meletakkan koper Arion di samping pemiliknya.
"Naik taksi?"tanya Arion, memegang pegangan koper.
"Hm," jawab Ferry.
Arion mengangguk.
"Gue duluan ya, Bos!"
Ferry melambaikan tangan seraya menarik kopernya meninggalkan Arion sendiri yang masih menunggu sopirnya. Arion hanya mengendikkan bahu.
Menunggu sang sopir, Arion menghubungi Karina via video call.
"Assalamualaikum, Sayang," sapa Arion setelah melihat wajah Karina di layar handphone.
"Waalaikumsalam, Ar. Kau sudah mendarat?"tanya Karina seraya merapikan rambut.
"Sudah. Baru saja. Kau dalam perjalanan ke perusahaan?"tanya Arion yang mendapati Karina berada di dalam mobil.
Karina menggeleng.
"Kita date hari ini ya," ucap Karina.
"Date? Sekarang? Di mana?"tanya Arion penasaran.
"Auditorium Angkasa Grub!"jawab Karina tersenyum misterius.
"Hei senyummu membuatku merasa kau bukannya ingin date tapi membalas dendam," ucap Arion tertawa.
"Ya anggaplah begitu. By de way bukannya kau seharusnya juga menghadiri pelantikan direktur baru Angkasa Grub?"tanya Karina.
"Hem, aku sudah mengirim perwakilan. Baiklah, mari kita date dengan menyaksikan pelantikan direktur baru tersebut. Aku penasaran kejutan apa yang akan kau lakukan," putus Arion.
"Yeah. Aku menunggumu, jangan lupa bawa cemilan. Assalamualaikum Ar," riang Karina.
Arion mengangguk.
"Waalaikumsalam," jawab Arion.
Panggilan berakhir. Arion segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu sejak Karina dan Arion berbicara.
"Auditorium Angkasa Grup!"ucap Arion.
Sang sopir mengangguk. Mobil melaju meninggalkan bandara. Arion menatap kotak hadiah untuk Karina.
"Semoga Karina suka," gumam Arion.
*
*
*
*
Pelantikan direktur baru Angkasa Grub dimulai sekitar pukul 08.00. Acara tersebut bukan hanya pelantikan tetapi juga pemberian seminar terhadap mahasiswa tingkat akhir manajemen bisnis juga ekonomi oleh direktur baru.
Baris pertama sampai ketiga kursi di lantai dua diperuntukan oleh petinggi perusahaan juga tamu undangan. Selebihnya diperuntukan untuk mahasiswa yang menghadiri seminar.
Sedangkan lantai satu, diperuntukan untuk para awak media dan juga mahasiswa. Karina memilih tempat duduk di antara para mahasiswa. Tentu saja dengan penampilan tertutup, menggunakan masker.
Arion tiba begitu acara sudah dimulai. Arion langsung masuk mencari keberadaan Karina. Karina yang sudah mengirim lokasi membuat Arion tidak kesulitan menemukannya.
Arion datang dengan setelan kasual. Mengenakan pakaian lengan panjang juga celana jeans, topi dan masker, semua serba berwarna hitam. Tidak lupa membawa cemilan untuk Karina.
"Maaf aku terlambat," ujar Arion duduk di samping Karina.
Para mahasiswa yang hanya terfokus pada podium. Akan tetapi di samping hal itu mereka merasa tertekan dengan aura yang Arion dan Karina lepaskan. Mereka memilih menjaga jarak dari pasangan tersebut.
"Kau tahu apa alasan pergantian itu?"bisik Karina.
"Tidak. Tapi aku yakin kau tahu," sahut Arion berbisik juga.
"Bonekanya memberontak, sang bos takut keberadaannya sebagai pewaris utama tidak diakui dan tidak pernah diketahui. Ia tidak mau tanpa status besar. Jadi dia memutuskan muncul di publik," jelas Karina, berbisik lagi.
Karina mengemil tanpa membuka maskernya.
"Aku mengerti. Aku akan menikmati apa yang akan kau berikan padanya sebagai hadiah," sahut Arion, merangkul Karina.
"Aku yakin anak-anak kita juga menantikannya," lanjut Arion, mengusap perut Karina.
"Aku tak sabar menunggu mereka lahir. Berapa lama lagi? Coba ku lihat tanggal."
__ADS_1
Arion mengeluarkan handphone, membuka kalender.
"Sayang jika menurut lamanya hamil, kau akan melahirkan kurang lebih sebulan lagi. Sayang kita harus segera membeli perlengkapan untuk mereka, juga harus mempersiapkan kamar untuk mereka."
Arion menatap Karina. Karina mengangguk.
"Aku setuju, setelah semua jadwal penting selesai, kita akan mempersiapkan hal itu," jawab Karina setuju.
*
*
*
Setelah acara pelantikan selesai, direktur baru tersebut langsung memberikan pidato kepada para mahasiswa yang disiarkan langsung juga oleh beberapa stasiun berita. Karina menguap mendengar pidato direktur tersebut.
Ia memberikan motivasi serta memperkenalkan Angkasa Grub kepada publik. Ucapan manis dan berwibawa yang mudah diterima publik ia sampaikan.
Arion hanya memutar bola mata malas.
"Dasar muka badak!"gerutu Karina pelan.
"Apa kita di sini hanya menyaksikan ucapannya?"tanya Arion.
"Sebentar lagi," jawab Karina.
Saat menjelaskan produk anak perusahaan terbaru, tiba-tiba saja layar yang berada di kanan dan kiri podium menampilkan rekaman yang berisi pengakuan dari kedelapan orang yang Karina culik beberapa hari yang lalu.
Juga rekaman mengenai pencucian yang, pembelian saham ilegal, uji coba yang sengaja menyalahi aturan, pembunuhan yang dilakukan perusahaan dan antek-anteknya hingga kelakuan kejam direktur baru itu, serta pengakuan kepala dokter rumah sakit yang mana mengaku bahwa ia menyaksikan sendiri direktur baru itu membunuh sang ayah yang sakit.
Suasana yang semula riuh kini menjadi hening, semua mata tertuju pada kedua layar tersebut. Para tamu undangan yang merupakan direktur dari perusahaan lain tercengang begitu juga dengan petinggi perusahaan. Awak media sibuk mengabadikan kejadian ini.
Terlihat direktur lama panik dan menyuruh staff untuk mematikan video. Sayangnya bagian itu sudah diduduki oleh orang Karina.
Mata direktur baru itu menjadi dingin melihat semua kejahatan yang ia dan perusahaan lakukan terungkap.
"Ini puncaknya," ujar Karina.
Arion menaikkan satu alisnya menunggu.
"Lima, empat, tiga, dua, satu!"
Byur!
Cairan merah tumpah dari atas tepat di atas direktur baru tersebut. Sekejap, setelan berwarna coklat susu yang ia gunakan berubah menjadi merah. Cairan itu mengotori lantai, menciprat ke segala arah.
Setelah itu barulah pita kertas beraneka warna yang biasanya ditaburkan setelah suatu acara dilepaskan. Direktur itu antara menyeramkan juga tampak konyol.
Mahasiswa yang kaget juga merasa jijik langsung berhamburan keluar. Tamu undangan pun segera meninggalkan tempat, mereka merasa jijik sekaligus kasihan pada direktur baru tersebut. Baru dilantik tapi sudah dihancurkan.
Mata Arion melebar melihat hal itu.
"Darah?"
"Yap, darah ayam," jawab Karina tersenyum puas.
Arion langsung tertawa seraya menggelengkan kepala. Karena suasana yang gaduh, tidak ada yang memperhatikan mereka berdua.
Staff Angkasa Grub langsung mengamankan direktur mereka.
"Ah pertunjukan belum selesai."
Karina menoleh ke arah pintu masuk, diikuti oleh Arion.
"Kepala kejaksaan?"
"Dia orangku," bisik Karina.
"Angkasa Grub sudah hancur, My Hubby. Mereka tidak akan bisa menyelamatkan direktur mereka dari hukuman. Kemungkinan ia juga akan dihukum mati. Sedangkan antek-anteknya juga merasakan hal yang sama," ujar Karina, matanya menilik lekat ketika tangan direkrut baru dan lama diborgol kemudian digiring keluar dari auditorium tanpa perlawanan.
Media mengikuti rombongan kejaksaaan tersebut. Para petinggi perusahaan juga digiring ke kejaksaan untuk dimintai keterangan. Publik seketika heboh dengan berita panas yang mengawali awal minggu mereka.
Arion dan Karina kembali menatap layar yang kini menayangkan berita mengenai penangkapan kedelapan orang itu. Karina tertawa menonton saat jaksa yang tiba di kejaksaan dengan wajah babak belur.
"Aigo, apa yang terjadi padanya?"
Arion terkejut. Mata Arion kembali melebar melihat seorang pria tua menghampiri jaksa tersebut dengan membawa sebuah ikat pinggang.
"Dia? Hahaha ini penyambutan yang luar biasa! Sayang kau sangat hebat!"seru Arion.
"Syukurlah kau suka," ucap lega Karina.
*
*
*
__ADS_1
Saat publik membicarakan Angkasa Grub dan pihak hukum sibuk menyelidiki juga menyelesaikan masalah Angkasa Grub, Arion dan Karina malah menikmati santapan makan siang di sebuah restoran ternama.
Arion masih saja tersenyum mengingat momen direktur tersebut disiram darah. Wajah geram dan malu begitu jelas teringat oleh Arion.
"Sayang, kau pakai cara mafia Italia tahun '60 an kan?"terka Arion.
"Ya. Aku sepertinya harus mengirimkan ucapan terima kasih kepada keluarga Cassano atas tradisi mereka yang aku pinjam," ujar Karina tersenyum.
"Tapi harusnya kan darah b*bi, mengapa jadi darah ayam?"heran Arion.
"Hewan itu, dagingnya saja sudah haram apalagi darahnya. Lebih baik menggunakan darah ayam. Lagipula darah ayam itu paling murah. Lebih baik menggunakan yang murahan untuknya," jawab Karina.
Arion menggeleng mendengar perhitungan Karina.
"Ah hampir saja kelupaan. Sebentar ya," ucap Arion menepuk dahinya pelan, langsung berdiri dan keluar dari ruangan.
Karina menatap kepergian Arion dengan wajah bingung. Tak berselang lama, Arion kembali dengan membawa sesuatu yang disembunyikan di belakangan badan.
"Apa itu?"tanya Karina.
"Buah tangan dariku," jawab Arion memberikan kotak berwarna merah dengan pita biru tadi.
Karina menerima dengan wajah penasaran akan isinya. Karina menutup mulut setelah membuka kotak tersebut.
"Ini spesial aku pesan untuk kita. Ini hanya ada satu set, tidak akan ada perhiasan yang sama dengan ini di luaran sana. Desainnya juga aku yang membuatnya, bagaimana? Kau suka? Kau puas kan?"tanya Arion menantikan jawaban Karina.
Karina mengangguk. Kotak tersebut berisi perhiasan pasangan dan jam tangan pasangan. Terdapat dua cincin, dua kalung berwarna perak dengan liontin nama gabungan Arion dan Karina, ARKA, dua gelang serta anting untuk Karina. Semua perhiasannya berwarna perak.
Di cincin tersebut terdapat ukiran nama masing-masing pasangan. Untuk Karina terdapat ukiran huruf A dan untuk Arion terdapat ukuran huruf K ditambah ukiran bunga mawar, pedang dan berlian.
Ukuran yang sama juga terdapat pada gelang. Sedangkan anting-anting itu berbentuk berlian. Ukiran tersebut terlihat sangat rumit dan mendetail. Pasti butuh seorang ahli yang hebat untuk membuat perhiasan - perhiasan itu.
Untuk jam tangan sendiri adalah buatan dari perusahaan ternama yang desainnya berasal dari Arion.
"Aku puas. Aku bahagia."
Keduanya berpelukan. Arion bahagia Karina puas dengan apa yang ia berikan.
"Akan aku pakaikan padamu," ujar Arion.
Karina mengangguk.
Arion memasangkan cincin di sebelah jari yang sudah dipasang cincin pernikahan. Arion kemudian memasangkan kalung pada leher Karina. Karina memegang liontin nama tersebut.
"Arka, singkatan yang indah," ujar Karina.
"Aku butuh waktu yang lama untuk itu," sahut Arion.
Arion memegang tangan Karina, memakai kan gelang di sana. Arion membantu Karina melepas kedua anting kemudian memakaikan anting yang baru.
Kini Karina gantian memakai kan cincin, gelang, dan kalung pada Arion.
"Jam tangan itu?"tanya Karina.
"Aku sudah melengkapinya dengan tehnologi terbaru. Kau mau menggunakannya sekarang?"jawab Arion.
"Hm, kau tahu kan aku jarang mengganti jam tanganku. Sejak sebelum aku bertemu denganmu, aku tidak pernah menggunakan jam tangan lain selain ini."
Jika menggunakan jam tangan baru, Karina hanya menggunakannya sebentar. Bertahan satu hari sudah jago.
"Tidak apa. Gunakan saja saat kau ingin. Atau kau bisa menambahkan teknologi yang ada pada jam tanganmu ke jam tangan ini, kalau bisa punyaku juga," ujar Arion tersenyum.
"Baiklah."
Karina mengangguk.
"Kalungnya akan terlihat lebih indah jika kau membuka bajumu," ucap Karina menggoda Arion.
Arion melihat kalungnya yang masih berada di luar baju. Arion yang mengenakan kemeja langsung membuka semua kancing kemeja dan menunjukan dada hingga perutnya kepada Karina. Tak lupa berpose layaknya seorang model dengan tatapan seksi balik menggoda Karina.
"Begini kan?"
Karina menelan ludah.
"Kancingkan kembali bajumu!"seru Karina saat melihat pelayan masuk.
Arion menoleh ke belakang dan mendapati dua pelayan itu tertegun melihat penampilan Arion.
Karina mendengus, berdiri untuk mengancingkan kemeja Arion.
"Jaga mata kalian!"ketus Karina.
Arion tersenyum melihat sikap Karina. Kedua pelayan itu tersentak dan langsung meminta maaf, keduanya segera keluar.
"Jangan buka pakaian di tempat lain selain kamar kita!"peringat Karina dingin.
"Aku kan hanya menuruni ucapanmu," sahut Arion polos.
__ADS_1
"Ya jangan di sini juga!"balas Karina.