
Genap dua puluh empat jam, Mira berada di negara K. Tepatnya di kota M, kota yang sama dengan tempat tinggal Trio Tampan dan Joya. Mira, adalah menantu dari keluarga militer. Suaminya adalah anak lelaki tunggal keluarga Adiguna. Eko adalah anak kedua dari tiga bersaudara itu.
Eko sendiri adalah seorang Letnan yang usianya paling muda di antara para Letnan lainnya. Pencapaian Eko itu membuatnya digadang-gadang sebagai pembawa masa keemasan bagi keluarga Adiguna.
Sayang, tiga tahun lalu Eko tewas dalam menjalankan tugas sebagai pasukan perdamaian di negara konflik. Meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, dan Mira tentunya.
Tak tahan dengan kesedihannya, sebab saat mengedarkan pandangannya, selalu saja terbayang masa-masa kebersamaannya bersama sang suami. Akhirnya, Mira memutuskan untuk pergi keluar negeri.
Dengan berat hati, keluarga Adiguna mengizinkan Mira pergi, mereka berharap, Mira dapat ikhlas. Negara Y pun menjadi pilihannya. Mengabdikan diri sebagai dokter kandungan di Tirta Hospital dan menenggalamkan dirinya dalam pekerjaan.
Sesaat, ia lupa dengan kesedihannya, namun saat gelap datang, suasana kamar yang gelap, angin yang berhembus pelan dan hanya biasa cahaya rembulan sebagai penerangan, rasa rindu ingin bertemu dan kesedihan bercampur menjadi satu, menyisakan luka yang mendalam. Terisak, berharap Tuhan juga mencabut nyawanya.
Bayangan kebersamaan, baikkan film yang diputar berulang di kepala Mira, hati … hatinya menangis sedih. Ia belum ikhlas, tidak mudah … bagaimana rasanya, baru menikah seminggu, suaminya pergi bertugas dengan nyawa sebagai taruhan, dan beberapa minggu kemudian pulang tinggal nama dan tubuh yang terbujur kaku? Tanpa ada pertanda atau kata perpisahan, suaminya pergi untuk selamanya? Mau gila rasanya Mira.
Detik demi detik berlalu, hari silih berganti. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun sudah Mira di negara Y. Tidak sekalipun ia pulang atau sekedar memberi kabar pada keluarga Adiguna. Perlahan, rasa ikhlas, mulai menyelimuti Mira, puncaknya adalah pada saat ia bermimpi bertemu dengan Suaminya. Pesan dari suaminya, membuatnya ikhlas sepenuhnya. Kelegaan ia dapat saat hatinya ikhlas.
*
*
*
Kini, Mira tengah mengelilingi kompleks perumahan yang lama ia sambangi bersama dengan adik iparnya. Dengan mengayuh sepedanya, ia dan adik iparnya itu bersepeda ria mengelilingi kompleks. Canda tawa pun mereka suara. Lelah, mereka memutuskan untuk berhenti sejenak dan duduk di bangku yang terbuat dari batu dan keramik, di bawah sebuah pohon beringin. Mira menenggak air mineralnya sedangkan adik iparnya mengelap keringat yang membasihi wajah.
"Kak," panggil adik iparnya itu pelan.
"Ya, Ris?" sahut Mira menatap Riska.
"Kata kakak tiga tahun lalu, kalau kakak sudah ikhlas dan bisa melepaskan kepergian kak Eko, kakak akan kembali ke rumah. Berarti, kakak sudah ikhlas dan rela kak Eko pergi?" tanya serius gadis cantik, bernama lengkap Riska Utami Adiguna itu.
Gadis dengan rambut dikepang dua berusia 17 tahun itu menatap Mira. Mira diam, tidak langsung menjawab. Mira lantas menatap langit, lalu menghela nafas dan mengulas senyum lebar.
"Ya, kamu benar. Kakak sudah ikhlas dan rela sepenuhnya Mas Eko pergi, ternyata rasa tidak rela dan tidak ikhlas itu sangat menyiksa, tapi setelah kita bisa menerimanya sepenuh hati, kelegaan pun kita dapatnya. Ibarat, aliran darah yang awalnya tersumbat, kini lancar selancar-lancarnya," jawab Mira menatap sendu Riska. Riska mengerjap.
"Lalu, apakah kakak akan menikah lagi?"
Mira terkesiap dengan pertanyaan Riska. Mira mengerjap cepat, tak lama ia menggeleng.
"Entahlah Ris, saat ini, kakak ingin menata hati dulu. Masalah, kakak akan menikah lagi atau tetap single sampai maut memanggil, biarlah waktu yang menjawab," jawab Mira. Saat mendengar kata menikah, terbayang lagi wajah Gerry. Mira menggeleng keras seraya menepuk pipinya.
"Kakak kenapa? Mikirin sesuatu? Cowok ya?" tanya Riska keheranan melihat Mira.
"Eh? Kamu mikir apa sih? Kakak pulang sekalian mau ngerayain ulang tahun Papa, cowok? Emangnya mau sama janda terus mertuanya jenderal?" sahut Mira datar dan kembali menaiki sepedanya. Mira mengayuh sepedanya, meninggalkan Riska yang masih duduk seraya menatap punggung Mira yang kian menjauh.
"Tapi, pandangan matamu sudah lain kak, aku melihat di hatimu, tidak hanya ada kak Eko seorang, ada orang lain yang menempati hatimu. Aku sih setuju saja, tapi bagaimana dengan Papa? Pasti dia akan mengira kamu mengkhianati kak Eko. Huft, melelahkan!" gumam Riska, beranjak dan menyusul Mira.
*
*
*
Pukul 17.00, Karina sudah berada di rumah. Karina duduk di sofa ruang tengah dengan Syaka berada di hadapannya. Di samping Syaka ada Gerry yang Karina suruh ke rumahnya.
__ADS_1
"Karina, anak ini mau di tempatkan di mana?" tanya Gerry penasaran sembari meneliti fisik Syaka. Syaka menelan ludahnya, rasanya ia seperti ditelanjangi dengan tatapan mata Gerry.
"Markas, uji bakatnya di mana, dan dia mau jadi apa. Kemampuan bisa dikembangkan dari sebuah bakat. Gali bakatnya dan kembangkan potensinya. Kau tahu sendiri bukan tata caranya?"
Karina menatap Gerry dengan tatapan datar. Gerry mengangguk paham.
Syaka melirik Karina yang sedang meminum coklat hangat. Matanya memancarkan ketidakinginan untuk berpisah, satu malam tinggal bersama di sini, membuat Syaka merasa nyaman dan ingin mengabdi pada Karina seumur hidup, terlepas dari apakah ia dibeli atau tidak.
"Kakak, aku akan dibawa kemana? Tidak bisakah aku tinggal di sini saja?" tanya harap Syaka. Karina melirik sekilas dan menggeleng.
"Belajarlah dan asa kemampuanmu. Saat ini kau masih terlalu muda untuk ikut bersamaku. Seperti kesepakatan dulu, saat umurmu 20 tahunlah, barulah kamu ikut denganku. Kelak, kamu akan mendampingi para pewarisku. Ketahuilah, Syaka, aku sudah memilihmu, maka jagalah kepercayaanku dengan segenap hatiku. Jika kau melenceng, kau akan merasakan mati tidak bisa, hidup pun terasa menyiksa," ucap Karina dengan nada dingin dan tegasnya.
Mata Syaka berkaca-kaca dan dengan keberaniannya ia memeluk Karina.
"Karina kau serius?" tanya Gerry yang tampak ragu. Karina melirik Gerry.
"Kau meragukanku?" tanya balik Karina. Gerry sontak menggeleng. Karina tersenyum lebar sebagai balasan.
"Kakak. Terima kasih telah menerimaku! Aku berjanji, akan belajar dan bekerja dengan keras. Aku akan jadi tameng anak-anak Kakak kelak, aku adalah benteng mereka. Aku berjanji!"
Mata Syaka memancarkan keseriusan, kemantapan dan rasa percaya diri yang tinggi. Karina tersenyum tipis.
"Janjimu, adalah nyawamu. Aku suka tekadmu. Anak lelaki, pantang ingkar janji," sahut Karina.
"Ya kalau begitu, aku pamit," ujar Gerry. Karina mengangguk. Gerry dan Syaka lalu membungkuk hormat dan segera melangkahkan kaki mereka keluar dari rumah Karina.
Karina menghela nafas panjang, lalu meraih ponselnya di atas meja. Karina mencari nomor kontak Li lalu melakukan panggilan. Tak lama, terdengar suara Li menyahut.
"Sudah selesai?" tanya Karina.
"Bagus! Sekarang selidikilah masalah Sam dan Lila, lakukan secara diam-diam. Jangan sampai Calvin dan lainnya tahu. Aku juga penasaran dengan kebenarannya," titah Karina lagi.
"Masalah Lila dan Sam? Haruskah kita ikut campur?" tanya Li bingung dan heran. Karina mengeryit tidak suka.
"Aku mau lihat kebenarannya. Kalau terbukti Sam bersalah, maka, boom. Kembang api raksasa," ketus Karina.
"Oh, baiklah," sahut Li cepat. Dan panggilan segera berakhir.
Karina menghela nafasnya dan tersenyum simpul. Karina lalu melihat jam tangannya. Sebentar lagi waktu magrib. Karina lantas berdiri dan berjalan menaiki tangga. Menuju kamarnya.
*
*
*
Arion menghembuskan nafas lega saat ia tiba di rumah. Dengan segera ia melangkahkan kaki menuju kamar dan mendapati Karina sudah tertidur. Arion menghela nafas dan mengecup kening Karina.
Arion lalu membuka kemejanya dan berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan diri, tak lupa menjalankan kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Ingin mengajak Karina menemaninya untuk makan malam, rasanya tak tega membangunkan Karina, maka jadilah Arion kembali keluar kamar dan menuju meja makan. Bik Mirna dengan sigap melayani makan tuan mudanya itu.
"Anak itu, di mana?" tanya Arion menanyakan tentang Syaka.
__ADS_1
"Den Syaka sudah dibawa ke markas sama Tuan Gerry, Tuan Muda," jawab Bik Mirna. Arion hanya mengangguk dan ber-oh-ria saja.
"Oh ya Bik, Karina jadi beli kelinci untuk temannya Malaya?" Arion penasaran.
"Jadi Tuan, bahkan Nona juga membeli beberapa ikan hias, juga iguana. Jadi semakin ramai deh taman hewannya," terang Bik Mirna tersenyum. Arion kembali mengangguk dan pamit kembali ke kamar.
Saat membuka pintu, Arion mendapati suasana kamar yang gelap. Arion mengerutkan dahinya heran dan melangkah mencari saklar lampu. Dan, Arion lupa, bahwa semua di kamar ini di atur otomatis.
"Sayang?" panggil Arion. Bukan sahutan yang didapat, malah perutnya terasa dilingkari oleh sesuatu. Arion memegangnya dan itu adalah tangan.
"Apa?"
Arion sedikit terlonjak mendapati Karina memeluknya dari belakang. Dapat ia rasanya jelas, kulit Karina berada di punggungnya. Hembusan nafas Karina, juga terasa olehnya. Apalagi ia hanya memakai kaos tipis dan celana pendek, khasnya saat mau tidur.
"Kau sedang apa?" tanya Arion tanpa berbalik.
"Aku ingin permen," jawab Karina dengan suara serak menggoda.
Arion tertegun. Hatinya berdesir ngeri. Jika Karina sudah meminta dan mendahului, maka ia hanya bisa diam, Karina yang pegang kendali.
"Permen? Permen apa yang ada padaku, Sayang?" tanya Arion, sedikit bingung.
"Aku ingin permenmu," sahut Karina.
"Bibir?" terka Arion.
"Bukan, yang ini." Arion membulatkan matanya saat tangan Karina menyentuh adiknya yang masih terbalut kain celana.
"Aku mau dia dan juga dirimu," ucap Karina serak.
"Jangan menggoda. Aku agak lelah, Yang," pinta Arion. Jujur, memang ia merasa lelah. Banyak meeting yang ia jalani hari ini, belum lagi masalah di kantor.
"Kamu diam saja, biar aku yang melakukannya," sahut Karina, melepas pelukannya dan membalikkan Arion menghadapnya.
Samar, Arion hanya melihat Karina yang memakai pakaian tipis, lebih mirip lingerie, dan itu sangat menggoda, ditambah dengan perut yang membuncit, kesan seksi yang didapat.
Perlahan, tanpa banyak bicara, Karina memangut bibir Arion. Mengecap kemanisan yang tidak pernah ada habisnya, terbawa suasana, Arion membalas. Tanpa melepas pangutan bibir mereka, Arion menggendong Karina ke ranjang. Tiba di ranjang, Karina melepas pangutannya dan dengan sigap membalikkan badan Arion menjadi di bawahnya.
Arion mendesah kasar, saat merasakan bajunya dirobek.
"Yang, jangan bar-bar dong," keluh Arion. Karina acuh. Arion menegang saat merasa di dadanya ada ada sesuatu yang kenyal dan bergerak ke sana kemari.
Desahan pun ia suarakan. Karina meneruskan aksinya. Saat keinginanya tercapai, Arion memejamkan matanya menikmati perlakuan Karina padanya.
Jujur, ini adalah pertama, Karina melahap permen miliknya. Desahan demi desahan, ia keluarkan dengan puncak yang menyembur di mulut Karina. Karina tampak terbelalak dan memuntahkan apa yang ada di mulutnya.
"Cuih, apa itu tadi?" Karina mencari remote dan menghidupkan lampu. Terlihat, Arion masih menikamati pelepasannya. Bercak putih, juga terlihat berceceran.
"What? Astaga! Mengapa aku minum ini?" Karina malah panik dan kesal sendiri. Arion membuka matanya. Dan mengeryit.
"Bukankah kamu seharusnya tahu? Sudah berapa kali aku menumpahkan di sana, tadi bar-bar, sekarang polos," gerutu Arion. Mendengus sebal. Karina nyengir dan menggaruk kepalanya.
"Hehehe," tawa Karina.
__ADS_1
"Hei, ini nanggung. Kamu juga seperti sangat berniat."
Arion menyeringai dan segera menerkam Karina. Dan, persatuan dua insan tidak terelakan. Puas satu kali, Arion hendak lanjut, namun wajah lelah Karina yang sudah tertidur, menghentikannya, dengan segera ia selimuti tubuh polos Karina dan ia ikut di dalamnya.