Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 218


__ADS_3

Arion mengeryit melihat sosok pria yang duduk di meja sekretarisnya saat ia tiba di lantai ruangannya. Bukan apa, Arion mengeryit sebab tampilan pria yang usianya ia perkirakan di bawahnya, tampak gemulai dan kemayu.


Gerakannya pun mempunyai ayunan, tidak tegas layaknya pria. Kulitnya kuning langsat, namun bersinar. Mungkin rutin perawatan kali. 


Arion yakin pria itu juga mengenakan make up, bibirnya juga berwarna walaupun tampak natural. 


"Siapa kamu?" tanya Arion datar. Pria itu dengan lemah lembut mengangkat pandangannya menatap Arion. Ia tersenyum lalu berdiri dan membungkuk hormat layaknya pelayan kerajaan. Arion menghela nafas.


Untungnya tak ada adegan cium tangan, batin Arion.


"Perkenalkan nama saya Novandio. Anda dapat memanggil saya Novan. Saya ditugaskan oleh HRD menjadi sekretaris Anda selama 2 hari ke depan menggantikan sekretaris Ferry," jelasnya dengan nada mendayu.


Arion mengusap tengkuknya ngeri. Novan tersenyum sembari memamerkan gigi putih yang dipagar oleh besi. 


"Rincian agenda Anda sudah saya letakkan di atas meja Anda Tuan Muda, jika ada sesuatu yang kurang, Anda bisa memanggil saya," lanjutnya lagi. 


"Hm." Arion mengangguk dan langsung masuk ke ruangannya. 


Terlihat, di atas meja sudah tersedia secangkir kopi dengan asap yang masih mengepul. Arion mengendikkan bahunya dan segera duduk di kursi kepemimpinannya. Membuka lembar agenda hari ini dan membacanya. 


Setelah membaca detail agendanya, Arion meraih gagang telepon dan menelpon bagian HRD. 


"Aku memang meminta sekretaris pria, tapi tidak seperti itu juga!" ucap datar Arion pada staf yang ia hubungi.


Arion tidak mau menunjukkan ketidaksukaannya di hadapan Novan, ia tak ingin membuat pria yang ia anggap setengah wanita itu menggila jika Arion cela. Setidaknya biarlaj bagian HRD yang turun tangan, dia cukup memberi perintah.


"Maaf Tuan Muda, kami memilihnya sebab memang ia mampu. Walaupun kemayu, dia bisa diandalkan. Dan hanya dia satu-satunya sekretaris pria selain tuan Ferry yang bekerja di sini Tuan," jawab staff tersebut menjelaskan dengan hati-hati. Arion mendengus dan menutup telepon.


Memijat sejenak pelipisnya lalu menghidupkan laptopnya.


"Tuan Muda," panggil Novan dengan nada kemayunya sembari mengetuk pintu. 


"Masuk!" jawab tegas Arion tanpa berpaling dari laptopnya.


Terdengar suara pintu terbuka dan Novan masuk membawa setumpuk berkas yang harus Arion selesaikan dan ia letakkan dia atas meja, hanya menyisahkan satu map di tangannya. Ia tampak membulatkan mata sejenak melihat cangkir kopi yang masih penuh di atas meja, sedangkan Arion membaca berkas.


"Katakan!" tegas Arion, menoleh sekilas ke arah Novan. Novan mengubah cepat ekspresinya menjadi tersenyum.


"Tuan, jangan lupa, pukul 11.00, kita ada meeting dengan Kusuma Corp di restoran XX," ujar Novan mengingatkan. Arion melihat jam tangannya. Dua jam menuju meeting.


"Hm, berkasnya sudah kau siapkan?" tanya Arion.


"Sudah Tuan Muda, silahkan diperiksa kembali." Novan membungkuk dan menyerahkan map biru di tangannya pada Arion.


"Letakkan saja di atas meja," ucap Arion meliriknya. 


"Baik," jawab Novan, Arion mengeryit mendengar nada kecewa Novan. Meletakkan kasar map tersebut.


"Ada lagi?" tanya Arion melirik Novan lagi, sebab Novan tak kunjung beranjak dari hadapannya dan menatapnya lekat.


"Tidak ada!" jawab Novan tergagap disertai tersentak kaget, ia menunduk.


"Maka keluarlah!" tegas Arion.


Dengan wajah campuran, Novan berbalik dan berjalan mengayun bukan tegas keluar ruangan Arion.


Selepas Novan keluar, Arion menghela nafas kasar.


"Aku tidak akan meminum atau mengonsumsi apapun selama aku tidak memintanya," gumam Arion menatap datar kopi yang sudah dingin. 

__ADS_1


Satu jam kemudian, Arion berdiri dan membawa berkas untuk meeting dengan Kusuma Corp. Arion meraih jas yang ia sampirkan di kursi kerjanya. Setibanya di luar, Novan berdiri dan menerima sopan berkas yang Arion berikan.


Kesempatan, ia menyentuh tangan Arion sekilas. Arion menatap tajam Novan. Gaya kemeja putih, celana hitam dengan satu tangan di kantong celana sedangkan satu tangan lagi memegang jas yang ia sampirkan di bahu.


"Jaga sikapmu. Aku tak masalah kau kemayu, tapi jangan berani kau menyentuhku!" tegas Arion, apalagi mengingat harimau yang siap menerkamnya jika ia macam-macam. 


"Maaf Tuan, tidak sengaja," jawab gugup Novan. Arion menggelengkan kepalanya, dan harus tahan selama dua hari. Dan untungnya besok tanggal merah nasional. Libur, jadi ia tak perlu bertemu dengan Novan.


Setibanya di basement, Arion masuk ke kursi penumpang setelah sang sopir membukakan pintu untuknya, sedangka Novan yang awalnya mau duduk di samping Arion, Arion suruh duduk di samping pengemudi. 


Novan mendengus dalam hati. 


Menarik! ucapnya dalam hati.


*


*


*


Enji keluar dari perusahaan yang ia dirikan di bidang software, ia menuju parkiran di mana motornya berada. Kacamata dan helm ia kenakan. Celana jeans dengan bagian lutut sobek dan kaos oblong menjadi setelahnya. 


Enji segera melajukan motor keluar parkiran dan perusahaannya. Waktu menunjukkan pukul 14.00. Enji menambah laju motornya membelah jalanan, dengan gesit menyalip kanan-kiri. 


Sekitar dua puluh lima menit kemudian, Enji tiba di Tirta Hospital. Melepas helmnya dan merapikan rambutnya. Kacamata ia biarkan tetap melekat. 


Enji segera turun dari motornya dan melangkah masuk ke rumah sakit. Melewati koridor dan menaiki lift. Dan keluar di lantai tiga. Enji lantas segera mencari ruangan dokter spesialis jantung yang tak lain adalah Riri. Entah mengapa, ia rindu dengan wanita yang pernah merawatnya itu, tapi ini rindu sebagai seorang sahabat, bukan kekasih ataupun cinta.


"Kakak, Ratuku," seru Enji langsung membuka pintu ruangan Riri. Ia membeku melihat Faisal dan Riri yang tengah berpelukan dengan wajah sedih dan sehabis menangis. Sepasang insan itu lalu melepas pelukan mereka dan mengusap air mata yang masih menetes.


"Kalian? Kenapa?" tanya Enji was-was. Faisal menunjukkan wajah kesalnya dan menendang kaki Enji yang telah berada di dekatnya.


"Kau! Mengapa kau tidak mengetuk pintu? Di mana sopan santunmu?" balas Faisal. 


"Terserahku dong, ini kan tempat umum siapapun bisa masuk!"


Enji tak mau disalahkan. Riri yang jengah langsung menjewer telinga Faisal dan Enji. Kedua pria itu mengaduh sakit.


"Aduh Ri, ini jari apa capit kepiting, pedas sekali rasanya, aduh copot nih telinga!" Faisal meringis dan memohon ampun pada Riri.


"Ratuku, aku tidak sengaja. Jangan buat aku cacatnya, aku."


Belum selesai Enji menyelesaikan ucapannya, Riri sudah melepas jewerannya. Kedua pria itu mengusap telinga mereka yang memerah dan panas.


"Ada urusan apa kamu kemari Zi?"tanya selidik Riri. Enji tersenyum.


"Memeriksakan jantung Ri, aku kan tetap aku kontrol selama tiga bulan kedepan," jawab Enji duduk di kursi yang dekatnya. Riri ikut duduk dan Faisal berdiri di samping Riri, menatap Enji tajam dan memberi peringatan.


Jangan merayu istriku, itulah arti tatapan Faisal yang ditanggapi santai oleh Enji.


Aku bukan pebinor! balas Enji melalui tatapannya.


"Oh, apa kamu merasa ada yang aneh atau tidak nyaman?" tanya Riri serius.


"Ya, sekarang. Aku tidak nyaman melihat wajah dan air mata yang kamu keluarkan. Kalian kenapa sih?" jawab Enji, penasaran. Riri mendengus.


"Itu air mata kebahagiaan. Bukan kesedihan!" tegas Faisal, menatap lembut Riri dan menyentuh jemarinya.


Enji menaikkan alisnya bingung.

__ADS_1


"Bahagia? Mengenai apa?" Enji memangku tangan di atas meja.


"Kau akan jadi seorang Paman!" ucap beritahu Riri dengan wajah berseri-seri.


"Oh, kan memang aku akan jadi paman," sahut datar Enji.


"Hei Zi, bukan dari kakakmu itu tapi dari kami!" ralat Faisal. Enji refleks membulatkan matanya. Ia berdiri dan berjalan ke samping Riri.


"Kak, kau hamil?" tanya Enji yang masih tak percaya.


Jelas memang, Riri sempat divonis dokter sulit memiliki keturunan, namun kerja keras, niat, doa, harapan dan daya upaya yang dilakukan mereka membuahkan hasil. Walaupun kondisinya lemah, tapi mereka sudah sangat bersyukur.


Riri mengangguk. Enji mengucap syukur. Faisal bukannya tidak suka pada Enji dengan sikapnya, akan tetapi ia hanya mewaspadai Enji jikalau Enji kelepasan pada Riri, secara Ririkan sudah menjadi istrinya, bahkan jika belumpun, Riri hanya miliknya seorang!


"Selamat," ujar Enji setulus hati.


Setelah berbincang beberapa menit, Faisal menggantikan Riri memeriksa kondisi jantung Enji. Faisal tampil serius dengan jas kedokterannya.


Setelah beberapa saat, Faisal mengatakan bahkan kondisi jantung Enji sudah oke semua. Tidak ada yang bermasalah lagi. Enji segera berpamitan pulang, meninggalkan pasangan suami istri yang sedang dilanda bahagia itu.


Saat tiba di parkiran, nada panggil handphone-nya berbunyi, Enji meraih handphone di saku celana dan melihat.


Ternyata Bayu yang menghubunginya.


"Assalamualaikum Bay," jawab Enji.


"Waalaikumsalam Yah, Ayah di mana?" Enji mengeryit dengan nada ketus Bayu.


"Ayah di rumah sakit Nak, baru mau pulang," jelas Enji.


"Oh, coba lihat jam," ujar Bayu. Enji melihat jam tangannya. 


Ia mengucap istigfar melihat waktu yang menunjukkan pukul 15.30.


"Ayah kelupaan Nak, sebentar tunggulah Ayah, Ayah segera tiba," sesal Enji. Bayu terdengar mendengus. 


"Haduh, ngambek deh anak emas. Salahku sih, mati bosan dia menunggu setengah jam," runtuk Enji pada dirinya sendiri. Segera dengan cepat mengemudikan motornya menuju sekolahan Bayu. Setibanya di depan gerbang sekolah Bayu, terlihat Bayu menunggu dengan wajah ditekuk dan tangan disilangkan di dada.


"Maaf Sayang, ayo cepat naik," pinta Enji, Bayu dengan malas naik atas motor memakai helm yang Enji berikan.


"Jadi jamur aku nunggu di sini, Yah," ketus Bayu saat Enji hendak melajukan motor.


"Maaf Sayang, tadi Ayah periksa kesehatan jantung Ayah setelah setahun operasi," jelas Enji.


"Hm," gumam Bayu, memeluk Enji dari belakang agar ia tidak jatuh dan diterjang angin.


Bayu yang sudah kesal, tambah kesal karena ia kena semburan asap knalpot truck yang warnaya hitam. Batukpun tidak terlewatkan. 


"Kurang asam!" umpat Bayu kesal, mengibaskan bajunya yang bau asap saat turun dari motor.


"Makanya jangan ditekuk wajahnya," ledek Enji. Enji lantas menggendong Bayu memasuki lift.


"Hm, bagaimana kondisi Ayah?" tanya Bayu, berubah jadi perhatian.


"Baik, semua okey dan kabar gembiranya Tante Riri hamil," papar Enji. Bayu tersenyum, hanya tersenyum. Enji heran. Bayu segera masuk ke dalam kamar.


"Yah, malam ini menginap di rumah kak Karina ya," teriak Bayu dari dalam kamar.


"Oke," jawab Enji.

__ADS_1


__ADS_2