
Selepas Isya, Karina dengan maserati dan Arion dengan Porsche Panamera meninggalkan kediaman Wijaya dengan posisi Arion memimpin.
Karina menyandarkan punggungnya, mencari tempat yang nyaman. Pak Anton melihat wajah Karina dari kaca spion tengah.
Mengapa wajah Nona tidak bersemangat?batin Pak Anton merasa tidak nyaman.
Mata Karina memang tertutup, tapi Pak Anton merasa ada panah di belakangnya.
Suasana hati Karina sedang tidak baik!
Entah apa lagi yang membuat hati Queen dan CEO serta owner cafe itu buruk.
Pak Anton sedikit terkesiap melihat apa yang Karina lakukan.
"Nona?"
"Ikuti saja," titah Karina tegas, lanjut memejamkan mata. Pak Anton mengangguk.
*
*
*
Tak sampai satu jam Arion sudah tiba di Tirta Hotel. Ia keluar dengan gagah, merapikan jas serta rambutnya. Sorot kamera langsung memburu dirinya. Arion melambaikan tangan menyapa para wartawan dan seksi dokumentasi.
Arion menunggu Karina. Ia melihat jam karena Karina tidak kunjung tiba.
Aneh padahal tadi dia di belakangku, batin Arion.
Karena banyaknya tamu, Arion memutuskan untuk langsung masuk tanpa menunggu Karina.
Apakah kena macet? Tapi ini sudah lima belas menit.
Perasaan Arion gelisah, di samping memikirkan Karina, Arion juga harus berinteraksi dengan relasi bisnisnya.
"Ar."
Arion berbalik ke belakang. Bibirnya melengkung, Arion langsung menyalami Amri dan Maria.
"Mana Karina?"tanya Maria, celingak-celinguk mencari keberadaan menantu tersayang.
"Sepertinya kena macet, Ma. Padahal tadi kami beriringan," jawab Arion, menggendong Alia.
"Macet? Mengapa tidak satu mobil? Kalian bertengkar?"selidik Amri.
Arion menggeleng cepat.
"Ini kan acara perusahaan, walaupun kami suami istri di sini kami adalah presdir dua dari perusahaan besar," ujar Arion.
"Hm, sudah berapa lama kalian terpisah?"tanya Amri lagi.
"Sekitar dua puluh menitan," jawab Arion.
Amri dan Maria mendelik kesal.
"Kemana istrimu itu? Tidak mungkin kena macet. Dia orang tidak sabaran, juga tahu situasi, kau ini bagaimana sih?"kesal Amri.
"Sudah-sudah. Karina pasti dalam perjalanan, atau bisa jadi dia sudah tiba tapi tidak masuk dari lobby. Kalian tahu kan Karina tidak suka jadi pusat perhatian," lerai Maria, mengambil alih Alia dari Arion.
"Ada benarnya juga," setuju keduanya.
*
*
*
Sam datang bersama Lila dan keluarga. Perut Lila semakin membuncit di usia kandungan semester kedua. Kedatangan mereka disusul oleh Calvin, Raina, dan keluarga. Hal sama juga terdapat pada Raina.
Calvin dan Sam langsung menghampiri Arion setelah izin dengan istri mereka. Lila dan Raina sendiri memeriksa sekitar, biar bagaimanapun ini tanggung jawab mereka.
Arion, Calvin, dan Sam saling bercengkrama ria. Akibat kesibukan masing-masing mereka jadi jarang bertemu langsung, hanya ketemuan online.
Sembari menanggapi ocehan kedua sahabatnya, Arion sibuk menanti Karina.
Tiba-tiba saja lampu padam, menimbulkan sedikit kegaduhan.
Tak.
Satu lampu menerangi bagian panggung. Pembawa acara menyampaikan sepatah dua kata. Lampu padam adalah bagian dari pesta. Hanya selama lima menit, lampu kembali menyala.
Musik menyala. Semua tamu undangan menikmati pesta. Hanya saja mereka penasaran akan belum munculnya penyelanggara acara yakni Karina.
Saat sibuk bertanya dalam hati, tiba-tiba saja lampu kembali padam untuk yang kedua kali. Belakang panggung berubah menjadi sebuah layar lebar.
Arion mengerutkan dahi melihat Karina yang berada di dalam video.
"Selamat malam semua. Saya Karina selaku presdir dari KS Tirta Grub hanya ingin menyampaikan bahwa saya tidak bisa menghadiri pesta tahun baru malam ini. Untuk alasan, alasan pribadi. Saya rasa kalian tidak heran lagi dengan hal ini. So have a nice day. Silahkan nikmati pesta dengan nyaman."
Berakhir. Lampu kembali menyala. Para tamu yang sudah paham dan biasa tidak mempermasalahkan hal tersebut. Karina menyampaikan izin dari video saja sudah termasuk hal langka.
Tatapan Amri dan Maria datar terhadap Arion yang masih menatap lekat dinding panggung.
Kemana dia?batin Arion.
"Kalian bertengkar kan?"desak Maria merasa kesal dengan anaknya ini.
"Enggak Ma. Tunggu alasan pribadi, kemana dia?"
Arion tidak bisa menghubungi Karina. Karina memang telah memberitahunya bahwa akan menonaktifkan handphone. Begitu juga dengan handphone Pak Anton. Untuk mobil sendiri belum dipasang GPS.
"Hal sama seperti tahun lalu. Dia datang lalu izin keluar sebentar tapi tidak kunjung kembali. Ada yang ingat tahun kemarin ia kemana?"tanya Maria, mengingat hal yang sama terjadi pada tahun baru kemarin.
Sayangnya kedua orang itu lupa.
__ADS_1
"Aku tahu Karina di mana."
Ketiga orang itu menoleh ke arah sumber suara. Li dengan Elina serta Gerry menghampiri mereka.
"Kalian juga hadir?"
"Tentu. Apa kita ke sana saja?"sahut Li.
"Kemana?"tanya Amri.
"Pegunungan selatan," jawab Li, berbisik pada Arion.
"Ah aku sudah menduganya sejak awal. Di saat semua baik-baik saja ia tidak hadir apalagi …."
Sebelum Gerry menyelesaikan ucapannya, Elina melirik tajam pada Gerry.
"Kalian tahu sendiri kan?"lanjut Gerry menyadari kecerobohannya.
Gedung ini punya telinga. Semua yang ada di sini sulit untuk dipercaya. Jika kabar Enji koma terdengar publik, saham perusahaan Enji bisa jatuh.
"Begitu rupanya."
Amri mengangguk mengerti.
"Kalian ingin ke sana? Kalau begitu kami akan ikut," ucap Raina yang membuat ke enam orang itu menatap Raina yang datang bersama Sam, Lila, dan Calvin.
"Nona tidak akan sendirian. Dia tetap saja suka menyendiri," celetuk Lila gemas dengan Karina.
"Lantas siapa yang mengontrol di sini?"tanya Li.
"Ck. Apa perlu dijelaskan lagi?"sungut Lila.
*
*
*
Pegunungan selatan adalah salah satu tempat yang cocok untuk melihat keindahan kota di malam hari. Mobil diparkir secara horizontal, menjadi tempat Karina duduk bersandar. Di depan Karina ada api unggun sebagai penghangat.
Di dekat Karina ada sebotol wine yang isinya sudah berkurang. Tatapan Karina datar ke depan, bibirnya melengkung senyum dingin. Pak Anton selalu setia di samping Karina. Di tangannya ada sebuah selimut apabila Karina nanti masih mengeluh dingin.
"Gedung memang punya telinga," gumam Karina dingin.
Pak Anton langsung bersikap waspada ketika mendengar suara mendekat. Karina menggoyangkan botol, sorot matanya berubah dingin dan tajam.
Ia berdecak sebal.
"Nona," ucap Pak Anton khawatir dengan Karina.
Jika Karina tidak hamil tidak masalah tapi ini sebaliknya.
"Aku tidak mengerti dengan hal ini. Apa aku yang terlalu bodoh atau mereka yang terlalu pandai? Teknik penyerangan yang sama setiap tahun. Tapi tidak masalah, hatiku sedang buruk, kalian akan jadi pelampiasan."
Karina kemudian berdiri. Ia lantas berjalan dan berhenti di sisi mobil yang lain. Tak berapa lama, segerombolan sepeda motor berhenti tidak jauh Karina. Karina menyipitkan mata akibat silau lampu motor.
"Siapa yang mengirim kalian?"tanya Pak Anton dengan nada mengintimidasi.
"Tanyakan saja di alam kubur!"sahut salah satu dari mereka. Mereka lantas tertawa.
"Hari ini adalah hari kematianmu. Oh tidak juga hari kematian anakmu!"ejek mereka, serentak mengacungkan pistol ke arah Karina dan Pak Anton.
Pak Anton tentu saja membalas acungan pistol tersebut. Karina masih memainkan jari.
"Benarkah?"tanya Karina dengan nada tengil.
"Apa kalian tidak merasa malu? Kalian punya senjata sedangkan aku tidak. Kalian pria sedangkan aku wanita. Kalian cuma bawa diri sedangkan aku membawa anakku yang belum lahir. Apa kalian manusia? Apa yang akan rasakan seandainya istri kalian berada di posisiku?"
Karina menggunakan cara sederhana untuk memanipulasi para pembunuh itu.
"Kami tidak menikah dan tidak akan punya anak! Wanita dan pria sama sekarang. Bukankah kau lebih lebat dari pria? Bukankah wanita lebih hebat dari pria? Oh ya dia bersenjata, kami tidak merasa malu sebab kami menyerang orang yang sangat berpengaruh!"sahut orang yang sama.
Karina terkekeh.
Ternyata kumpulan gay, batin Karina.
"Dia seorang pengawal, wajar bukan?"
Karina sudah mengirim pesan pada pengawal bayangannya lewat jam tangan.
"Berhenti negosiasi! Ayo serang!"
Sebelum peluru mereka keluar dari kandang, Pak Anton lebih dulu menembak lampu motor mereka. Suasana gelap seketika. Karina dan Pak Anton berpencar. Menyerang dalam kegelapan.
Karina memakai kacamata yang sudah dirancang khusus untuk dapat melihat dalam kegelapan.
Dor
Dor
Dor
Tembakan dilayangkan Karina. Mengenai sasaran tapi tidak mati. Tembakan sembarangan pun dilakukan oleh para pembunuh. Karina yang bersembunyi di balik mobil sembari mengisi amunisi menyeka keringat. Nafasnya sedikit memburu. Antara kelelahan dan niat membunuh yang tinggi.
Dor
Dor
Dor
"Sial mereka tidak ada habisnya!"gerutu Karina. Karina sendiri bukannya tidak terluka, peluru sempat menyerempet telinga serta lehernya.
"Nona, mereka sangat banyak," lapor Pak Anton.
"Hm," sahut Karina.
__ADS_1
"Ups."
Karina terdiam saat moncong pistol menempel di dahinya. Karina mendongak.
Dor.
Sebelum menarik pelatuk, pembunuh itu sudah mati duluan. Karina melihat sekitar.
"Kalian lambat sekali!"kesal Karina pada para pengawal bayangannya.
"Maaf Queen. Mereka mengepung jalan menuju kemari, kami harus membereskan mereka dulu. Apa Queen terluka?"
"Tidak. Hanya lecet," sahut Karina. Tentu saja tatapan tidak percaya ditujukan untuk Karina.
"Ini hanya luka kecil," tegas Karina. Karina menekan luka di leher, berusaha menghentikan darah yang keluar.
"Queen sopir Anda terkena tembakan."
Karina bergegas melihat kondisi Pak Anton yang berada di depan mobil. Cahaya lampu mobil membuat Karina melihat jelas luka tembakan di pinggang Pak Anton.
"Kalian berdua keluarkan peluru dan hentikan pendarahannya. Setelah itu bawa ke markas!"titah Karina.
Karina mengusap kasar siku.
Seorang pengawal memapah Karina untuk duduk di dalam mobil. Membuka atap mobil untuk memudahkan pergerakan.
Dengan telaten pengawal tersebut mengobati luka Karina.
"Apa sudah mati semua?"tanya Karina.
"Ada beberapa yang belum. Kami mengikat mereka untuk diinterogasi."
"Berikan satu padaku, darahku mendidih melihat darah," ujar Karina.
"Queen??"
"Berikan saja!"tegas Karina.
Pengawal tersebut menelan ludah. Pasti ukurannya mati mengenaskan di tangan Karina.
Setelah luka Karina dibersihkan dan diplester, Karina mengambil pisau lipat dari dalam tas. Salah satu pembunuh yang masih hidup dengan luka tembakan di paha dan bahu kiri bersimpuh di hadapan Karina.
Karina meletakkan pisau lipat di dahi pembunuh itu.
"Orang yang aku bunuh lebih banyak daripada yang kalian bunuh. Orang yang mau membunuh juga banyak, sangat banyak malah. Apa kalian berpikir aku benar-benar sendiri tanpa pengawalan?"
"Kau!"geram pembunuh itu.
"Kau melukai bawahanku dan juga aku. Kau juga mengatakan bahwa anakku juga akan mati hari ini. Tapi ini adalah hari kematianmu bukan hari kematianku!"
Karina menyayat pipi pria itu. Erangan sakit membuat jiwa membunuh Karina semakin naik.
Bruk!
Karina menendang pria itu hingga terjungkal ke belakang. Batuk darah dialami oleh pria itu.
"Ingin membunuhku? Berlatihlah dengan baik di alam kubur!"
Dor.
Satu tembakan di jantung membuat nyawa pria itu melayang seketika.
"Lagi! Mana lagi?!"seru Karina, ia malah duduk di samping mayat, menusuk-nusuk tubuh tak bernyawa itu
Karina melakukan penyiksaan terhadap pembunuh yang masih hidup. Lebih parah dari sebelumnya. Gunung yang semula hening berubah mencekam akibat rauangan para pembunuh. Karina berdiri saat semua pembunuh mati. Sembari membersihkan pisau lipatnya, Karina menyuruh para pengawal untuk menumpuk mayat kemudian disiram oleh bahan bakar.
Suara terbuka dan tertutup korek api membuat jantung para pengawal berdebar kencang.
"Selamat tahun baru!"ucap Karina dingin melempar korek api ke tumpukan mayat.
Api dengan cepat membakar mayat-mayat tersebut. Nyala api yang besar langsung membuat tubuh hangat.
"Kalian pergilah, aku masih ingin di sini," usir Karina, ia duduk di kursi kemudi dengan tatapan ke arah kota.
"Ingat 1 km."
"Tidak Queen. 500 meter."
"800 meter."
"300 meter."
"700 meter."
"200 meter. Tidak ada perubahan lagi!"
Karina mendengus sebal. Dengan kesal Karina melambaikan tangan setuju.
Setelah para pengawal pergi, Karina kembali menenggak wine.
Menara tertinggi di kota mulai menghitung mundur pergantian tahun. Saat berada di angka 00.00 serentak kembang api menghiasi langit malam.
Karina menoleh ke arah bakaran saat mencium bawah daging dibakar.
"Heh?" Karina tersenyum tipis mendapati ada iringan mobil mendekatinya.
"Queen itu keluarga Anda," lapor penjaga bayangan.
Mereka lebih waspada sekarang.
Lima mobil mewah berhenti berjajar. Masing-masing pintu terbuka. Arion, Amri, Maria, Li, Elina, Gerry, Lila, Sam, Raina, dan Calvin turun bersamaan dari mobil. Mereka menatap rumit Karina dan sekitar.
"Kalian datang? Pertunjukan sudah selesai, kalian terlambat," ledek Karina.
Arion yang langsung menyadari apa yang terjadi di sini, langsung bergegas menghampiri Karina, memeluk istrinya.
__ADS_1