Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 359


__ADS_3

Matahari telah kembali ke peraduan. Guratan jingga berubah menjadi langit gelap dengan bintang yang berkilauan. Angin pantai berdesir lembut, membelai lembut kulit, menerpa rambut. 


Musik alami dari ombak-ombak juga masih terus berlanjut seakan mereka tak kenal lelah bermain. Pantulan bulan di air membuat suasana yang hangat menjadi semakin hangat. 


Saat ini, Karina, Arion, dan seluruh keluarga tengah berada tak jauh dari tepi pantai. Menggelar tikar sebagai alas di pasir putih. Api unggun menjadi penghangat udara. Gitar sebagai penambah suasana. Duduk berdampingan dengan pasangan masing-masing, kecuali Enji yang duduk di pinggir, menatap laut dengan jemari memegang ranting, mencoret - coret pasir. 


Para balita sudah tidur dengan dijaga oleh para pelayan. Kakek Tio dan nenek Mina juga tidak bergabung karena kelelahan berkeliling pulau. 


Ah Star Boy juga tidak ikut. Ketujuh pria itu kini terbaring lelah di kamar masing-masing. Tentu saja kelelahan karena keaktifan mereka. 


Sekarang Karina dan pasangan lainnya tengah memainkan sebuah  permainan tebak-tebakan, tebak duet lagu. Karena hanya Enji yang tunggal maka ia menjadi pembawa acara.


 Peraturan permainan  yang sederhana. Saat ada pasangan yang tengah bernyanyi, pasangan lain akan menebak dengan terlebih dahulu mengangkat bendera merah. Jika ada lebih dari satu pasangan yang mengangkat bendera maka yang tercepat adalah yang terpilih.  


Waktu bernyanyi maksimal satu menit. Penilaian yang mirip dengan penilaian ujian, benar 4 poin, salah -1 poin dan apabila pass 0 poin. Selain itu saat menjawab wajib bersamaan, tak boleh hanya satu yang menjawab. 


Diperbolehkan menebak lebih dari satu kali. Saat ini Karina dan Arion yang memimpin, disusul Darwis dan Joya serta Li dan Elina. 


Saat ini adalah giliran Karina dan Arion. Arion membisikkan judul lagu pada Karina. Karina mengangguk menyetujui. Arion mulai memetik senar gitar.


Karina


Shì nǐ ràng wǒ kànjiàn gānkū shāmò kāi chū huā yī duo


Arion


Shì nǐ ràng wǒ xiǎng yào měitiān wèi nǐ xiě yī shǒu qínggē


"Ah lagu mandarin lagi. Aku menyerah!"ucap Rian mengangkat bendera putih, tentu saja setelah diskusi batin dengan Angela.


Karina


 Yòng zuì làngmàn de fù gē


Arion


Nǐ yě qīng qīng de fù hè


Bareng 


Yǎnshén jiāndìngzhe wǒmen de xuǎnzé


"Selera loe universal masa' lagu mandarin nggak tahu? Padahal loe jagonya makan ramen."


Satya melayangkan ledakan.


"Selera gue kuliner bukan musik!"sahut Rian tegas.


"Yeee nggak adil loe!"balas Satya.


"Lalu apa loe tahu lagu prancis? Kalau bisa coba nyanyi!"tantang Rian.


"Okay! Siapa takut?!"jawab Satya. 


Kedua pria itu saling menatap tajam.


Karina


Shì nǐ ràng wǒ de shìjiè cóng nà kè biànchéng fěnhóng sè


Arion 


Shì nǐ ràng wǒ de shēnghuó cóngcǐ dōu zhǐyào nǐ pèihé


"Oi-oi! Kalau nggak bisa jawab mending diam saja!"potong Enji, melemparkan kartu kuning pada Rian dan Satya.


Satya dan Rian menatap Enji protes. 


"Apa?!"ketus Enji, melotot kesal pada keduanya.


"Hmph!"dengus keduanya, saling membelakangi. 


Angela dan Riska hanya memutar bola mata malas, sudah hal biasa jika Rian dan Satya bertengkar karena hal sepele. Di mansion, hanya Darwis saja yang paling waras dan dewasa.


Arion dan Karina yang sudah selesai bernyanyi, tersenyum tipis melihat pertengkaran Rian dan Satya. Yang lain malah tertawa ketika kedua pria itu mati kutu di hadapan pembawa acara. 


"Jadi tidak ada yang tahu lagu ini?"tanya Karina mengedarkan pandangannya.


Siska mengangkat tangan tapi tidak dengan bendera merah.


"Aku tahu lagunya tapi tidak judulnya," ujar Siska, menggaruk lehernya saat semua tatapan tertuju padanya.


"Berarti sama seperti kenal rupanya tapi tidak namanya," timpal Enji.


"Nah apa para kakek dan nenek kita ini tahu jawabannya?"


Enji berpaling menatap keempat pasangan yang sudah menjadi kakek dan nenek itu.


"Kami dominan hafal lagu inggris," jawab Tuan Adiguna.


"Saat usia tua begini kami lebih sering mendengarkan lagu religi. Jadi kami tidak tahu apapun tentang lagu itu," ujar Amri yang langsung disetujui oleh Hamdan dan Angga.


"Benar. Terlebih saat sudah punya cucu. Lagu religi dan anak-anaklah yang setiap hari kami dengarkan," tambah Angga.


"Okay. Berarti kalian pass. Bagaimana dengan yang lain?"


Enji menatap bergantian Li, Elina, Darwis, Joya, Lila, Sam, Rainad dan Calvin.


"Pass," jawab Lila diikuti oleh Raina.


"Aku ingat lagu ini, tapi judulnya hanya ingat satu kata," ujar Elina.


"Akupun begitu. Karina tidak adakah clue?"


Joya menatap Karina.


"Hm. Sering digunakan di sound tiktok, salah satu soundtrack di drama yang pernah kita tonton," jawab Karina.

__ADS_1


Elina dan Joya berusaha keras mengingat kapan mereka nonton drama china bersama dengan Karina. 


"Ah!" 


Elina berseru, langsung berbisik pada Li kemudian mengangkat bendera merah.


"Ya?"


Enji bertanya.


"A Little Sweet! Love 020!"jawab Li dan Elina serentak.


Karina dan Arion hendak membenarkan namun ditahan kala Joya dan Darwis juga mengangkat bendera merah mereka.


"Silence Wang feat BY2 : A Little Sweet Ost. Love 020!"jawab keduanya serentak.


Karina dan Arion saling tatap. Kedua jawaban benar tapi jawaban yang paling lengkap adalah jawaban Darwis dan Joya. 


Karina melirik Enji, menyuruhnya untuk memutuskan penilaian. Enji sempat menatap Karina protes. Ia takut salah memberi penilaian. Tatapan tak terbantahkan Karina mengalahkan rasa takutnya.


"Dua jawaban yang berbeda tapi sama. Aku beri 3 poin untuk kak Darwis dan kak Joya serta 1 poin untuk kak Li dan kak Elina," ucap Enji.


"Tidak keberatan kan?"


Darwis dan Li menggeleng. Yang penting poin mereka tidak berkurang.


"Sekarang giliran kak Darwis dan kak Joya, waktu dan tempat dipersilahkan," ucap Enji, kembali duduk.


"Dipersilahkan? Kau pikir kami mau pidato hah?"gerutu Joya.


"Hehehe."


Enji tertawa.


"Sudahlah. Ayo cepat!"ujar Gerry.


"Sebentar bos!"sahut Darwis.


Darwis membisikkan judul lagu pada Joya. 


"Kau tahu kan?"


"Tentu saja. Itu salah satu lagu favoritku," jawab Joya, bangga.


Karena Darwis yang tidak pandai main gitar, maka mereka berdua bernyanyi tanpa alat musik apapun.


Darwis


Dengarlah cinta … hatiku remuk redam 


Jika tak ada kamu menemani aku


Joya


Dengarlah cinta … ku memanggil namamu di setiap malamku ku memikirkan kamu


Raina, Siska, dan Riska mengangkat bendera secara bersamaan. Enji bingung menentukan siapa yang pertama.


Karena lamanya keputusan Enji alhasil para suami sudah bertengkar.


"Kami yang duluan!"ucap Calvin.


"Kami duluan! Kalian beberapa sekon setelah kami!"sergah Satya.


"Ooi-oi! Kami yang duluan! Kalian sesudah kami!"ucap Ferry.


"Enak saja! Jelas-jelas Riska duluan yang angkat bendera!"bantah Satya.


"Duluan siapa hah? Istri gue yang duluan! Istri gue paling cepat kalau tahu sesuatu!"seru Calvin. 


"Maksud loe istri gue lambat gitu?!"


Satya dan Ferry menyerang Calvin. Calvin terperanjat sejenak.


"Jelaslah!"sahut Calvin, yakin.


"OOi-oi! Wasit kita belum menentukan kalian sudah mau gelud!"ucap Li yang jengah.


"Katakan siapa yang duluan!"


Enji meloncat ke belakang saat diserang oleh Satya, Calvin, dan Ferry.  Enji melirik Karina meminta bantuan. 


"Siska yang pertama," ucap Karina.


"Nah apa gue bilang!"ucap Ferry bangga.


"Karina/kakak ipar?!"protes Satya dan Calvin.


"Nggak bisa diganggu gugat! Tanyakan saja pada yang lain selain kau dan kau!"sahut Karina.


"Ya benar. Aku melihat Siska duluan yang angkat bendera," ucap Maria.


"Mama juga melihatnya. Itu adil!"ujar Intan.


"Ya-ya. Mereka yang lebih dulu."


"Maka katakan jawaban kalian," ujar Enji.


"Al Ghazali feat Chelsea Shania: Kesayanganku Ost. Samudra Cinta!"jawab Siska dan Ferry bersamaan.


"Yups! 100!"seru Joya.


Siska dan Ferry bertos ria.


Satya dan Calvin mendengus. Keduanya saling tahap, mata mereka terlihat licik merencanakan sesuatu.


Saat giliran Siska dan Ferry, keduanya malah berulah. Yang tadinya Siska dan Ferry ingin menyanyikan lagu yang berjudul My Heart kini malah berubah menjadi dangdutan.

__ADS_1


"Senyummu sungguh menawan," senandung Calvin menunjuk Raina.


"Wajahmu ayu rupawan," lanjut Satya menunjuk Riska.


"Kemana mata memandang," lanjut Calvin, mengajak Raina berdiri.


"Hanyalah dirimu yang selalu terbayang…."


Satya kehabisan nafas setelah nada tinggi.


Suasana yang tadinya kondusif kini pecah. Para orang tua yang sudah punya cucu, tubuh mereka bergoyang mengikuti 


Ay-ya-ya


Li, Elina, Gerry, dan Mira menaikkan tangan mereka menyanyikan bait selanjutnya.


"Hatiku tergoda," senandung Darwis dan Joya bersamaan.


Ay-ya-ya


Giliran Satya, Sam, dan Lila yang menyahut.


"Sungguh mempesona," lanjut Karina dan Arion. 


Enji sendiri duduk lemas di pinggir dengan mencoret - coret pasir.


Ay-ya-ya


Para lansia yang menyahut.


"Saat memandangmu hatiku bergetar," lanjut Calvin memegang dadanya menatap Raina.


Ay-ya-ya


Serentak menyahut kecuali Enji.


"Kau sungguh jelita."


Li berdiri, menunjuk Elina yang masih duduk.


Ay-ya-ya


"Tak dapat ku lupa," lanjut Ferry memeluk Siska.


Ay-ya-ya


"Padamu aku benar-benar cinta…." 


Para suami bernyanyi bersama sembari menunjuk sang istri, kecuali pada lansia.


Setelah itu semua mengambil nafas.


"Ah kacau-kacau. Permainan selesai. Silakan bernyanyi sesuka hati tanpa peraturan!"gerutu Enji, berdiri.


Semua tatapan tertuju padanya. Agaknya pria single itu tersinggung dengan lagu cinta dari para pasangan.


"Cie ada yang tersudut nih. Makanya Zi cepat halalkan kekasihmu," ucap Rian yang tidak tahu bahwa Enji sekarang jomblo.


"Apa? Halalkan siapa? Percuma punya kekuasaan kalau nggak update!"ketus Enji, langsung melangkah pergi dengan kaki yang dihentak-hentakkan kesal.


"Maksud Enji apa ya?"tanya Rian pada Karina, Li, dan Gerry.


Calvin dan Sam tertarik dengan itu. Raina duduk setelah lelah digendong berputar oleh Calvin.


"Enji sekarang tuh jomblo. Setelah sadar dia memutuskan kekasihnya," jelas Li.


"Ups. Pantas saja wajahnya ditekuk selama permainan. Tapi apa alasannya?"tanya Rian penasaran.


"Banyak. Nggak selevel. Nggak cocok dengan keluarga kita. Kekasihnya terlalu mudah dipengaruhi, tidak berani mengakui kesalahan sendiri malah melimpahkan pada orang lain. Dan yang utama … kekasihnya kehilangan hati dari Bayu," jelas Li yang tahu seluk beluk hubungan Enji dengan Jessica.


"Setahuku kekasihnya adalah asisten pribadi Enji. Apakah gejolak perusahaannya beberapa waktu lalu karena wanita itu?"terka Sam.


"Ya," jawab Li.


"Jadi alasan utama Enji putus adalah Bayu?"jelas Calvin.


"Tapi nggak heran juga sih. Siapa juga yang tahan sama anak kutub berapi itu."


Karina, Arion, Amri, dan Maria langsung memberi tatapan tajam pada Calvin. Calvin langsung berkeringat dingin. Suasana yang tadinya ceria serasa mencekam akibat aura menindas dari empat orang itu. 


"Apakah kau tidak tahu bahwa cinta dan kasih sayang seseorang yang dingin dan temperamen lebih dalam daripada yang lembut? Sama seperti jangan anggap orang pendiam itu kelinci. Kalian tidak akan menyangka jika seandainya kelinci itu adalah singa yang tengah mengintai mangsa. Salah Jessica sendiri yang tidak mampu mempertahankan hati Bayu!"ucap Karina dingin.


"Kau hanya beberapa kali bertemu dengan Bayu. Jangan simpulkan sesuatu dari luarnya!"tegas Arion.


"Aduh-aduh. Hentikan itu! Ar kamu kayak nggak tahu sifat Calvin saja. Bukankah lebih baik blak-blakan dari pada berbicara di belakang?"lerai Hamdan.


Arion menghela nafas.


"Maaf Paman. Kami mudah terpancing jika ada yang mencela keluarga kami jika tidak sesuai dengan kenyataan. Aku akui Bayu memang kutub berapi. Tapi itu hanya pada orang-orang yang tidak ia sukai. Mulutnya memang pedas tapi sesuai dengan kenyataan," ujar Arion.


"Paman mengerti," sahut Hamdan.


"Ah kakak ipar aku salah. Tolong maafkan ucapanku tadi," pinta Calvin, menangkupkan kedua tangan di depan dada.


"Hm," sahut datar Karina.


"Sudah selesai? Lebih baik kita kembali happy. Bagaimana jika bernyanyi bersama? Tema bebas seperti kata Enji tadi," saran Darwis.


Karina dan keluarga Wijaya menarik aura mereka. Helaan nafas lega terdengar bersahutan.


"Baiklah. Aku menjadi gitarisnya," sahut Arion.


"Lantas lagu apa yang akan kita nyanyikan?"tanya Li tak sabar.


"Apapun itu yang penting happy!"sahut mereka bersamaan. 


Li tersenyum tipis. 

__ADS_1


__ADS_2