Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 380


__ADS_3

"Ayah Emir!"teriak Brian, Basurata, dan Bahtiar bersamaan, berlari menghampiri Emir yang kini berjongkok dengan merentangkan kedua tangannya.


"Ayah sangat merindukan kalian, anak-anak," ucap Emir, mencium satu persatu kening ketiga anak itu. Arion menatapnya dengan rasa iri di hati. Wajahnya tenang dengan mata menatap lembut adegan itu. Karina memeluk lengan Arion, menatap Arion dengan senyuman lebar. Arion tersenyum tipis, memberikan kecupan hangat di kening Karina.


Adegan mesra itu tertangkap oleh mata Emir. Emir tersenyum kecut dengan hati berteriak, cemburu. 


"Bagaimana kabar kalian?"tanya Emir lembut.


"Tentu saja baik, Ayah. Oh iya rumah Ibunda sangat luas dan cantik loh. Ayah nanti Ayah ikut pulang dengan kami ya," ucap Bahtiar. 


"Benarkah? Tapi apakah boleh?" Emir menatap Karina dan Arion. 


Arion membalas tatapan itu.


"Rumah kami luas, tidak alasan aku melarang dan menolak Anda berkunjung. Lagipula, Anda adalah penyelamat keluargaku," ucap Arion. Emir mengerti ucapan Arion, tentu saja dengan bantuan alat penerjemah. 


"Benar Emir. Hari ini ikutlah dengan kami ke rumah kami," imbuh Karina.


"Jika kau memintanya, aku akan melakukannya, Kaira," jawab Emir.


"Kaira?"


"Namaku selama di Maroko," jawab Karina. 


Terjadi juga pertemuan Arion dengan Emir. Kini keduanya berjabat tangan dengan saling menatap tajam, bahkan jabatan tangan mereka adu kekuatan. Merasakan atmosfer kurang nyaman, Enji mengajak anak-anak ke taman markas. Darwis dan lainnya mengamati dua pria berbeda usia dan fisik itu. 


"Sayang, inikah yang namanya Emir?"tanya Arion, menoleh ke arah Karina.


"Hm."


"Boleh juga." Arion berucap sembari menahan rasa kebas di tangannya.


"Apanya yang boleh?"heran Emir, selain mengeratkan jabatan tangannya.


"Lumayan, tapi masih di bawahku," ucap Arion, melirik Karina.


"Kaira inikah suami aslimu? Mengapa terlihat sangat lemah? Tubuhnya juga kurus kering. Apa dia kurang gizi?" Emir menatap Karina penasaran. 


Kurang gizi? Arion kesal, melepas paksa jabatan tangan mereka.


"Anda meragukan kekuatanku?"


"Emir hentikan. Ini wilayahku! Kau harus menghormati siapapun yang ada di sini sekalipun ia pelayan! Emir kemarin aku habis mengamuk karena salah seorang bawahanku merendahkan suamiku, apakah kau ingin aku mengamuk padamu juga?" Sorot mata Karina berubah tajam pada Emir. Emir terkesiap dan seketika menggeleng.


"Hahaha Kaira aku hanya bercanda. Kau sangat mencintai suamimu, mana mungkin aku berani merendahkannya. Sekalipun aku lebih kuat, aku tetaplah kalah darinya." 


Mata Emir meredup, menunduk lesu.


"Bagus!"


"Tunggu! Aku tidak terima dengan ucapan Anda tadi! Karena Anda meragukan kekuatan saya, saya menantang Anda untuk berduel!"ucap Arion lantang, menunjuk Emir. Emir kembali terkesiap, apa Arion serius? Bukan hanya Emir, Karina, Osman, Rayan, dan Aldric terkejut dengan ucapan Arion. Bela diri Emir yang terbaik di kelompok Anfa. Fisik telah ditempa sejak kecil. Terlebih gaya bertarung yang lebih banyak fisik ketimbang menggunakan senjata, kecuali pedang.


"Hahahaha …." Emir terbahak. 


"Kau serius menantangku berduel dengan tubuh keringmu itu? Kau ingin mati?"


"Aku serius! Jangan khawatirkan diriku, khawatirkan saja dirimu, Pangeran Emir!"sahut Arion, memberi peringatan.


"Baik-baik. Aku terima tantanganmu. Tapi jangan menyesal jika kau babak belur nanti!"


"Jangan banyak omong! Duel belum dimulai dan kau lancang menetapkan hasilnya! Inikah jiwa ksatria?"cibir Arion yang membuat Emir tersedak.


"Kaira … mengapa suamimu tak menjadi kritikus atau politikus saja? Ucapannya sungguh tak enak didengar," keluh Emir pada Karina.


"Haha Emir lidah tidak bertulang lebih kuat dan kejam daripada tangan kekarmu itu! Suamiku begitu karena provokasimu," sahut Karina. Emir diam, beradu tatap dengan Arion yang tersenyum tipis.


Emir lantas mendengus.


"Baiklah! Mari kita lihat siapa yang akan menang, lidah tajam itu apa tangan kekarku!"


Kedua pria itu langsung melangkah menuju arena tanding. Rayan dan Aldric segera menyusul Emir. Osman menatap canggung Karina dan keluarga. 


"Hahaha ... anak muda memang energik," ucap Osman yang ditanggapi datar oleh Karina dan lainnya.


"Tuan, yang anak muda hanyalah anakmu dan dua orangmu itu. Anakku sudah berusia 34 tahun dan ayah dari enam anak, apa masih pantas disebut anak muda?"ralat Amri.

__ADS_1


"3-34 tahun? Tapi wajahnya?" Osman terkejut. Ya terkadang wajah membohongi umur. 


"Jangan heran. Lihat saja para idol asia timur itu, usia sudah kepala tiga empat, wajah masih baby face," tutur Maria. 


Osman mengangguk dengan wajah yang masih terkejut.


"Usia mereka juga sama dengan Arion, tapi lihatlah wajah mereka itu, semakin tua semakin menawan!" Darwis, Rian, dan Satya tersenyum lebar mendengar pujian Karina.


"Dunia ini terlalu luas, wajar jika orang udik ini tidak tahu," ujar Osman.


"Jika begitu, ayo kita susul anak-anak kita," ajak Amri, melangkah duluan bersama dengan Maria. Karina menyuruh Darwis, dan lainnya melangkah duluan, kecuali Osman yang berjalan berdampingan dengan Karina.


"Apa yang ingin Paman sampaikan?"tanya Karina tanpa menatap Osman, lebih fokus melihat-lihat bagian markas yang ia lalui.


"Mengapa kamu tidak melarang mereka? Kamu tahu sendiri kan kekuatan Emir?"heran Osman.


"Arion berani menantang Emir. Artinya ia percaya dengan kemampuannya bahwa ia akan menang. Paman tidak perlu cemas," jawab Karina santai.


"Kau juga sangat percaya diri dengan kemampuan suamimu," gerutu Osman.


"Aku sangat percaya pada suamiku, Paman. Sekalipun ia kalah ia kalah dengan terhormat," sahut Karina.


"Kau memang pintar bicara," gerutu Osman lagi.


*


*


*


Di arena tanding, Arion dan Emir telah bersiap untuk berduel. Arion telah berganti pakaian, celana sport panjang dan kaos hitam tipis. Emir sendiri tetap mengenakan pakaiannya tadi.


Di bangku penonton, sudah duduk Karina dan yang lain. Rayan dan Aldric menatap cemas Emir. Darwis, Rian, Satya juga Osman menatap cemas Arion. Karina, Amri, dan Maria malah menatap santai.


"Masih ada waktu untuk berubah pikiran," ucap Emir.


"Menjilat ludah bukanlah gayaku! Jikapun aku kalah aku kalah dengan terhormat," jawab dingin Arion.


"Huh! Keras kepala! Aku akui keberanianmu, tapi apakah kau berani taruhan denganku?"


"Taruhan? Katakan!"


"Baik! Aku terima taruhanmu. Jika kau menang, kau bisa menghabiskan waktu bersama dengan Karina dan anak-anak. Akan tetapi jika kau kalah, kau harus memanggilku kakak, Pangeran Emir!"


"Deal!" Keduanya berjabat tangan dan mulai mengambil kuda-kuda, pertarungan resmi dimulai. Ah taruhan mereka ini hanya mereka yang tahu. 


Emir melancarkan serangan duluan, mengincar kaki dan uluh hati Arion. Arion memblokir serangan itu, mundur beberapa langkah dengan tatapan serius. Emir hanya terfokus menyerang dua bagian itu. Gerakan yang cepat dan teratur membuat Arion kewalahan menahan serangan itu. Emir tak memberinya kesempatan menyerang balik. Emir tersenyum miring.


Bugh!


Arion terlambat menghindar dan terkena tendangan Emir di bagian perut. Arion terjatuh, berusaha duduk dengan memegang perut.


Ciuh!


Setengguk darah Arion keluarkan.


"Arion!" Maria memekik cemas. Arion menoleh kepada Maria, tersenyum dengan kepala menggeleng.


"Menyerah saja. Kau sudah kalah!"ucap Emir, mendekati Arion yang masih terduduk di tanah sembari mengusap bibir dengan punggung tangan. Arion kemudian tersenyum geli.


"Kau terlalu cepat menyimpulkan!"ejek Arion, berusaha berdiri kemudian menepuk kaosnya yang kotor dengan debu.


Emir tersentak pelan. Ia diam-diam kagum dengan Arion. Masih sanggup berdiri setelah semua serangannya.


"Ayo lanjutkan!"


"Keras kepala!"kecam Emir.


Keduanya kembali bertarung. Arion yang tadi hanya menangkis serangan Emir, kini mulai melancarkan serangan setelah melihat serangan Emir yang kecepatannya berkurang. 


Bugh.


Bugh.


"Bagaimana mungkin?" Emir terkejut saat ia dijatuhkan oleh Arion. Dadanya terasa sesak dan ia batuk darah. Setelah itu barulah terasa lega.

__ADS_1


Belum sempat Emir berdiri, baru saja bernafas lega, Arion menduduki tubuhnya dan memukul wajahnya. Emir menggunakan lengannya untuk melindungi wajahnya. Biarpun begitu, pukulan Arion masih terasa, sangat sakit. 


Emir hendak membebaskan diri, tapi kakinya dikunci oleh Arion. Emir tak menduga Arion punya kekuatan sebesar ini. 


"Kau kalah, Emir!"ucap Arion, memberikan satu pukulan keras lagi kemudian berdiri dan kini dengan kejam menendang tubuh Emir berkali-kali. Emir merasa seluruh tubuhnya sakit semua. Mengapa tenaga Arion begitu besar? 


"Katakan kau menyerah atau aku akan terus menendangmu!"ancam Arion.


Emir tidak menggubris, Arion tetap menendang Emir. 


Grep!


Emir berhasil meraih kaki Arion.


Ahhh!


Emir berteriak sakit kala tangannya diinjak oleh Arion.


"Beraninya kau menginjak kaki Pangeran!"geram Emir. 


"Disini kau hanya tamu!"jawab acuh Arion.


"Kau bebas memilih. Jadi jantan atau pecundang!"lanjut Arion.


"Ahhh cukup! Cukup! Aku menyerah! Aku kalah kau menang!" 


Emir sungguh berat mengatakan hal itu. Ia yang selalu menang kini harus mengaku kalah dengan menyedihkan. Arion mengangkat kakinya dari tangan Emir. 


"Pilihan bijak!"puji Arion. Rayan dan Aldric masuk arena untuk membantu Emir berdiri. Osman memejamkan matanya, cukup kecewa dengan kekalahan Emir. 


Darwis dan dua saudaranya masih mencerna apa yang barusan terjadi. Arion menang melawan Emir yang gagah? Luar biasa.


Karina bangkit dan ikut masuk ke dalam arena. 


"Bagaimana kekuataan pria kurus ini, Emir?" Karina mengusap lebam pada wajah Arion.


"Aku akui dia memang kuat. Aku percaya fisik tak menentukkan kekuatan. Aku tak akan meremehkan orang lain," ucap Emir.


"Tapi aku penasaran bagaimana caramu mengalahkanku padahal kau sudah terdesak?"


"Tentu saja strategi. Kau berambisi menang, pasti akan menyerangku dengan kekuatan penuh. Kau mengerahkan banyak tenaga untuk serangan tadi. Sementara aku hanya menangkis dan menahan, tenagaku tidak cepat terkuras. Dan kesalahan fatalmu adalah memberi lawan kesempatan. Kau mudah puas dan lengah saat lawanmu terpojok. Kau bahkan mengajakku berbicara seolah aku sudah tak berdaya. Di pertarungan tadi, aku menunggu kau melemah dan disitulah aku bergerak. Emir secara fisik kau memang lebih gagah dariku, tapi dari segi pengalaman, kau jauh di bawahku. Kau hanya bermain di daerahmu, bagai katak dalam tempurung. Manusia sepertimu sudah banyak aku jumpai. Hanya saja kau lebih baik dari mereka," jelas Arion panjang lebar. 


Emir membulatkan matanya, kini ia benar-benar mengerti. Ia memang mulia dan kuat di wilayahnya, namun dunia ini luas. Di atas langit masih ada langit. Jangan pernah meremehkan seseorang dan mendikte seseorang dari luarnya saja. 


"Huh sia-sia aku mengkhawatirkanmu!"ketus Karina.


"Maafkan aku, Sayang," pinta Arion, mencubit gemas pipi Karina yang menggembung.


"Aku kalah. Kau benar, aku ini katak dalam tempurung. Sesuai taruhan kita tadi, aku akan menjadi budakmu, seumur hidup," ucap Emir.


"APA?!" Osman menatap Emir marah. Rayan dan Aldric terkejut bukan baik. Pangeran mereka yang  mulai dan dihormati mengatakan bahwa ia akan jadi budak Arion? Ini mimpi kan?


"Ar?"


"Shut, nanti aku jelaskan."


"Aku menolak. Aku tidak mau punya anak sebesar dirimu!"tolak Arion.


"A-anak?" 


"Ya aku tidak mau merawat anak sebesar dirimu! Merepotkan!"


Karina terkikik geli melihat wajah bingung Emir dan tiga lainnya. 


"Dalam bahasa melayu, budak artinya anak," jelas Karina.


"Bukan, yang ku maksud bukan menjadi anak tapi pelayan," ralat Emir.


"Aku menolak. Kau itu calon pemimpin kelompokmu. Jika kau jadi pelayan siapa yang menggantikan ayahmu? Lagipula aku tidak kekurangan pelayan," sahut Arion.


"A-aku harus menepati ucapanku!"


"Baiklah! Kau sekarang jadi pelayanku dan saat ini juga aku membebaskan dirimu. Sudah kan?"


"Eh?" Emir terperanjat. 

__ADS_1


"Sekarang kau harus memanggilku kakak," tagih Arion.


"K-Ka-Kakak." Canggung dan terputus-putus. Arion tertawa puas, mengulurkan tangannya mengajak Emir berjabat tangan juga berpelukan sebentar.


__ADS_2