Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 158


__ADS_3

Di Tirta Hospital negara F, tempat Ferry dirawat, kebahagian meliputi keluarga Ferry. Pasalnya Ferry tadi sekitar pukul 17.00, merespons saat diajak berkomunikasi. Ia menggerakkan satu jarinya kala Wulan membicarakan tentang Siska.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, di ruangan VVIP, orang tua serta adik Ferry duduk satu sofa seraya menikmati makan malam mereka dengan hati yang sedikit lega.


Di ranjangnya, Ferry masih menutup matanya erat. Alat medis yang menempel di tubuhnya berbunyi dengan teratur. Tiba-tiba jari telunjuk kanan Ferry bergerak perlahan. Kelopak matanya juga bergerak. Perlahan tapi pasti mata yang telah menutup selama 10 hari itu terbuka. 


Ferry menyipitkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya. Langit-langit berwarna biru dengan lukisan emoji senyum menyambut penglihatannya.


Ferry mengerjap beberapa kali. Kepalanya terasa pusing, bau obat menyapa penciumannya. Tubuhnya rasanya kaku dan lemah. Ferry membuka mulutnya.


"Siska," gumam Ferry menggumamkan nama yang terlintas di pikirannya.


Ferry menggerakkan kepalanya menoleh ke arah di mana keluarganya berada. Suara berisik mengganggunya. Wulan yang telah selesai makan malam, tak sengaja menoleh ke arah ranjang sang kakak. Matanya membulat melihat tatapan kakaknya. Tatapan rumit. Kakaknya menatap dia dan orang tuanya lekat. 


Wulan membekap mulutnya sendiri dan berdiri.


"Ada apa Lan?"tanya Andi penasaran dengan eskpresi sang anak.


"Kak Pa, kakak sudah membuka matanya," jawab Siska berjalan dengan langkah lebar menghampiri ranjang Ferry. Andi dan istrinya saling tatap dan melihat ke arah ranjang. Dahi mengerut sang anak sulung yang mereka lihat. 


Diliputi rasa penasaran dan haru, keduanya berdiri dan menyusul Wulan.


"Kakak," panggil Wulan menggenggan jemari sang kakak.


Ferry diam tak merespon, tetapi matanya menatap bergantian tiga orang yang di dekatnya.


"Syukurlah Nak, kamu sudah sadar," ucap lega Nia, mamanya Ferry.


"Papa tahu anak Papa akan berhasil melewati masa komanya," tambah Andi.


"Kalian siapa?" tanya Ferry pelan dengan nada penasaran. 


Jeder!


Tentu saja ketiga orang itu merasakan petir menyambar mereka. Ketiganya saling tatap. Anak mereka amnesia? 


Dengan segera Andi menekan bel memanggil dokter. Nia memegang jemari tangan kanan Ferry. Nia menatap penuh kasih dan sayang terhadap Ferry.


"Sayang masa' kamu lupa dengan Mama dan Papa serta adikmu sendiri sih? Gak lucu bercanda kamu, Ferry," ujar Nia mengira Ferry bercanda. Memang Ferry suka bercanda kala berkumpul dengan keluarganya.


Sayangnya Ferry menggeleng lemah.


"Saya tidak ingat apapun, kecuali satu nama," ujar Ferry. 


"Apa nama saya Ferry?" tanya Ferry menatap Nia.


"Ya nama kamu Ferry, Ferry Nurwahyu. Putra sulung dari Andi Nurwahyu dan Nia Laila Wati," jawab Andi mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya. Bahagia, haru dan sedih. Akhirnya putranya sadar, namun kehilangan ingatan. Sepertinya benturan keras waktu kecelakaan sangat berdampak.


Ah, tunggu, Ferry hanya ingat satu nama, dan itu bukan namanya. Andi mengajukan pertanyaan tersebut. Mereka mencoba tenang agar tak membuat Ferry berusaha mengingat dengan keras, hal itu akan membuat Ferry merasakan sakit dan tertekan. Mereka akan membuat Ferry mengingat semua, itu harus ada kuncinya dan kuncinya adalah satu nama ini.


"Siska," jawab Ferry.


"Kakak ingat dengan kak Siska?" tanya Wulan berbinar. Syukurlah, kakaknya ingat dengan calon kakak iparnya.


"Hanya nama, wajahnya samar," jawab Ferry memejamkan matanya. Tak lama, dokter datang dan memeriksa keadaan Ferry. Secara vital semua baik, hanya perlu beberapa perawatan saja. Masalahnya memang adalah ingatan Ferry yang hilang. 


Hanya ingat nama Siska doang. Setelah menerima penjelasan dari dokter, ketiga orang itu bernafas lega. Hanya hilang ingatan sementara, bukan permanen. Artinya mereka harus berusaha mengembalikan ingatan Ferry. 


"Kalau begitu kami permisi, Tuan, Nyonya," pamit sang dokter.


"Terima kasih Dok," ucap Andi membungkukan badannya. Sang dokter mengangguk.


"Aku hubungi kak Siska ya," ujar Wulan meraih handphonenya.


Andi dan Nia bertatapan ragu. Tapi, Siska juga harus tahu agar tak terjadi kesalahpahaman. Keduanya setuju. Ferry diberi obat penenang, karena pada saat diperiksa ia mencoba mengingat dengan jelas hingga berusaha menyakiti dirinya sendiri.

__ADS_1


Wulan segera melakukan panggilan pada Siska. Tak perlu waktu lama, panggilan langsung terhubung dan dijawab oleh Siska.


"Halo Lan, ada kabar baru tentang Ferry?" tanya Siska dengan nada penuh harap.


"Ada dua kabar kak," ucap Wulan.


"Kabar apa?" tanya Siska tak sabar.


"Kabar yang pertama, kabar baik, kak Ferry telah sadar, tapi …," jawab Wulan, dengan nada menahan haru dan sedih. Membuat Siska lebih penasaran dengan kabar kedua.


Hati membuncah bahagia, pasti. Kekasihnya telah sadar. 


"Kabar keduanya?" tanya Siska lagi.


"Kak Ferry hilang ingatan. Dia hanya mengingat satu nama yaitu nama Kakak, tapi ia hanya ingat nama bukan wajah," jelas Wulan menangis. Hatinya sedih.


Siska menghembuskan nafas pelan. Siska berjalan menuju jendela apartemennya. Menatap langit malam dengan sinar rembulan yang terhalang awan. Kelambu, seperti hatinya. 


Siska sudah memperhitungkan semuanya. Luka di kepalanya Ferry, pasti sangat berpengaruh. Tapi Siska tak menyangka ingatan Ferry yang terganggu.


"Kak," panggil Wulan yang tak mendengar respon Siska.


"Ah ya," sahut Siska.


"Kakak gak papa kan?" tanya Wulan khawatir.


Di tempatnya, Siska menggeleng. 


"Tidak Lan. Kakak okey," jawab Siska.


"Kalau begitu secepatnya kakak akan ke sana," lanjut Siska.


"Kakak mau nyusul kemari?" Wulan sungguh tak menyangka.


"Iya. Kakak akan ke sana," ujar Siska.


Wulan segera menyampaikan apa yang Siska sampaikan. Kedua orang tua Ferry, saling pandang. Seutas senyum terpatri di wajah mereka. Mereka berharap dengan datangnya Siska nanti, dapat membuat ingatan Ferry kembali, walaupun sedikit demi sedikit. 


***


Darwis dan Joya melangkahkan kaki mereka memasuki halaman pavilium barat markas Pedang Biru kota N. Halaman yang terang dengan lampu seperti lampu taman di depan pavilium.


Untaian bunga pot gantung tergantung di depan teras. Jendela tertutup rapat. Hanya bias cahaya lampu yang mereka lihat.


"Apa ini tempatnya?" tanya Darwis pada pengawal yang mengantar mereka.


"Iya Tuan, ini kediaman nyonya Elsa, sudah satu satu beliau menempati pavilium ini," terang pengawal tersebut.


Darwis mengangguk dan mengangkat tangannya menyuruh pengawal tersebut pergi. Joya melangkahkan kakinya duluan memasuki teras, mengetuk pintunya dengan ragu.


Ketukan pertama tak ada jawaban. Ketukan kedua pun sama. Membuat Joya kesal jadinya. 


Darwis pun gantian mengetuk pintu. Terdengar sahutan suara wanita dari dalam. Suara itu membuat Joya tertegun dan membeku.


Suara yang familiar namun samar, suara yang sering ia dengar semasa kecilnya. Tak lama pintu terbuka, menampilkan seorang wanita yang wajahnya tetap segar di usia yang tak lagi muda. 


Joya membulatkan matanya dan membekap mulutnya sendiri. Jantungnya berdebar kencang. Matanya memanas. Sedangkan wanita itu yang tak lain adalah Elsa Rianti. 


Wanita itu hanya menampilkan senyum. Wajah yang dirindukan Joya, wajah sendu yang Joya sukai, yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman dan tenang kala keraguan dan ketakutannya, dulu waktu masa kecilnya.


"Ibu." Joya maju ke hadapan Elsa. Lidahnya keluh, kebahagian tak bisa Joya ungkapkan dengan kata. Elsa merentangkan tangannya. Wajahny tetap tersenyum.


"Kemarilah Nak, kemari Putri kecilku. Ibumu ini merindukanmu," ucap Elsa dengan nada lemah lembutnya.


Joya menaikkan satu tangannya, air mata tentu saja sudah jatuh. Joya menyentuh pipi kanan Elsa. Elsa memejamkan matanya kala jemari halus Joya menyentuhnya.

__ADS_1


"Kau kah ini Bu?" tanya Joya tercekat.


"Tentu Sayang, siapa lagi?" tanya balik Elsa.


Joya langsung saja menghambur ke pelukan Elsa. Joya menumpahkan segalanya di dekapan sang Ibu. Elsa dengan lembut mengelus punggung Joya. Wanita itu mencium kening Joya. Hati Elsa merasa bahagia. Ia tak kaget sebab Karina telah memberi pesan padanya. Akan kehadiran Joya yang akan menemuinya. 


"Ibu," panggil Joya serak.


"Ya Sayangku?" jawab Elsa. Joya melepaskan pelukannya. Ia menatap sendu wajah sang ibu. 


"Bisa Ibu ceritakan bagaimana ini semua bisa terjadi? Ini bukan rekayasakan Bu? Kau bukan orang lain yang menyamar sebagai Ibuku bukan? Bisa saja wanita licik itu menjadi teknologi untuk mengecohku," seru Joya mendadak tak menerima. Ia menghempaskan tangan Elsa yang ia pegang. Joya berjalan mendekati pagar teras. 


Elsa mengernyit. Ia menampilkan senyum tipis. Keras kepala Joya memang tak hilang bila di hadapan Elsa.


Darwis menyentuh pundak Joya dan menggelengkan kepalanya. Ia tak terima Joya memaki Karina. Tapi itu harus Darwis tahan, sebab sekarang ini adalah kebenaran, bukan kebohongan. Darwis tahu semua ini? Tentu saja tidak! Ia tak pernah tahu sedikitpun.


"Nak, apakah kamu ragu dengan Ibumu sendiri? Ya aku akui bahwa Pedang Biru memang ahli dalam teknologi, tapi kau bisa membuktikan sendiri aku adalah Ibumu, ayo masuklah," ajak Elsa.


Joya menoleh ke arah Elsa. Pikiran dan hatinya bertentangan. Pikirannya hanya mengacuh pada opini ini semua rekayasa. Tapi hati seorang anak bertemu orang tua juga terasa di hatinya. Perasaan murni, naluri seorang anak, yang ia tatap sekarang adalah ibunya.


"Pergilah Joya. Hilangkan keraguanmu dan dapatkan jawaban yang dapat membuatmu yakin," ujar Darwis menepuk pundak Joya. Joya menoleh ke arah suaminya. Wajah suaminya tersenyum cerah, memberinya rasa percaya. Joya mengangguk pelan. Dengan segera ia mendekati Elsa kembali.


Elsa dengan merangkul Joya membawanya ke dalam paviliumnya. Hal pertama yang Elsa tunjukkan adalah semua lukisannya. Joya menatap rumit lukisan tersebut. Semuanya hampir wajah sang ayah. Namun dalam keadaan yang tidak baik. 


Joya bertanya-tanya dalam hati. Ia menatap Elsa. Meminta jawaban.


"Lukisan di sisi sini adalah keadaan ibu sewaktu ibu masih bersama dirimu, dan di sisi sini adalah keinginan Ibu untuk membalas apa yang telah Ayahmu perbuat pada Ibu. Sebelas tahun dalam ruang gelap itu sungguh menyiksa. Tak ada cahaya, hanya biasnya yang dapat Ibu rasakan Nak," terang Elsa.


Joya mengeryit tak paham. Elsa akhirnya dengan lembut menceritakan semuanya. Bagaimana dulu, waktu Karina menemukannya dan tentu saja satu tahun belakang ini.


Elsa tahu, Joya pandai membedakan mana yang baik dan benar. Elsa tak merasa masalah menceritakan hal itu. Karena Joya memang harus tahu. Bukan berniat memisahkan hubungan Ayah dan Anak. Tapi sakit hatinya, lagi pula usia Joya bukan lagi remaja. Sudah saatnya Joya tahu kelakuan asli Reza. 


Menunjukkan bahwa selama yang Joya lihat selama ini tentang Reza hanya sebagian. Bukan seluruhnya. 


 Joya menunjukkan wajah tak percaya, geram, emosi, dan lain sebagainya. Hatinya menangis, mendengar kelakuan sang ayah terhadap malaikat tak bersayapnya. 


Terakhir, sebagai bukti yang lebih, Elsa membuka bajunya dan menunjukkan luka di punggungnya akibat sayatan pedang. Luka yang sangat dalam, yang ia terima sewaktu melindungi Reza dari musuh. Waktu itu usia Joya masih dua tahunan.


Joya terdiam. Ia ingat luka itu. Luka yang sama, tempat yang sama, dan semuanya sama. 


"Kau ingatkan luka ini Joya?" tanya Elsa menoleh ke arah Joya yang ia belakangi. Joya mengangguk pelan. Elsa tersenyum puas. 


"Kau memang Ibuku. Maafkan anakmu ini tak percaya akan ucapanmu," ucap sesal Joya bersimpuh di lantai. Elsa segera memakai kembali bajunya dan memegang kedua pundak Joya. Joya berdiri dan menundukkan wajahnya. Elsa memegang dagunya Joya, membuatnya terangkat dan saling beradu pandang.


Keduanya lantas kembali berpelukan. Cukup lama, hingga suara deheman Darwis lah yang membuat mereka melepas pelukan.


Darwis tersenyum dan segera menyalami sang ibu mertua. Elsa tersenyum dan membelai lembut rambut Darwis.


"Kau pasti Darwis, suami Joya bukan?" terka Elsa.


Darwis dan Joya saling pandang dengan tatapan heran.


"Anda sudah tahu?" tanya heran Darwis.


"Tentu, Karina sudah memberitahu semuanya," jawab Elsa. 


***


Malam itu Joya tidak bisa tertidur lelap walaupun berada di pelukan sang ibu. Darwis tidur di bangunan utama. 


Pertanyaan Karina mengiang di kepalanya. Jadi semua ucapan Karina adalah kebenaran. Karina tak berbohong padanya. Dan masalah ibunya yang mau balas dendam, hati Joya sedikit tak terima. Anak mana yang mau melihat orang tuanya saling menyakiti dan ingin saling membunuh?


Joya ingin orang tuanya akur, tenteram dan penuh kasih dan sayang. Tapi itu tak akan pernah terjadi. Salahkan saja Reza yang memulai akar masalah. Dendam di hati tak semudah dihilangkan bak membalikkan telapak tangan.


Setelah perdebatan batin yang lama, Joya akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan sang ibu. Serta menjadi anggota yang baik di Pedang Biru. Lebih nyaman menjadi anggota daripada Ketua muda mafia ayahnya. Terkadang, seorang anggota ingin menjadi ketua dan seorang ketua ingin menjadi anggota. 

__ADS_1


Inilah yang Joya rasakan sekarang. Bukan mudah menjadi Ketua muda. Tanggung jawab yang ia emban bukanlah mainan. Lagipula Joya kan sudah menjadi istrinya Darwis, saatnya mengabdikan hidupnya pada sang suami. Menjadi istri dan anggota yang baik.


Maaf Ayah, aku bisa menerima apapun kelakuanmu selama ini. Tapi aku tak bisa menerima perlakuanmu terhadap ibuku. Jangan salahkan diriku yang ingin membuatmu merasakan apa yang selama ini ibu rasakan. Memang tak pantas bagi seorang anak begitu, tapi apa daya. Aku hanyalah manusia biasa yang punya batas kesabaran. Hatiku tak seluas samudra, batin Joya sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur. Menyusul sang ibu yang telah ke alam mimpi duluan.


__ADS_2