
"Kau yakin Ji? Apa kau tak tahu bagaimana wajah para keluargamu di luar? Terutama wanita muda berpakaian lelaki itu, sangat kacau," ujar Faisal, mencoba membujuk Enji membatalkan rencananya.
"Keputusanku tetap jalankan, apapun hasilnya nanti akan ku terima, aku berdoa dan berharap jika operasiku nanti berhasil dan tak ada hambatan nanti dari tubuhku," jawab Enji mantap dengan suara pelan.
"Baiklah, apa yang di tanganmu? Apa mau ku berikan pada mereka?" tanya Faisal, melihat telapak tangan Enji yang mengepal dan menggenggam sesuatu.
"Tidak perlu. Biarlah kakakku yang membukanya," jawab Enji. Faisal mengangguk.
Faisal segera keluar, memberitahu kondisi Enji pada keluarga. Setelah selesai berbicara dengan Faisal, Karina langsung lari ke ruangan Enji.
Menatap Enji yang ia kira masih belum sadarkan diri, namun nyatanya Enji tertidur. Menyiapkan mental menghadapi air mata Karina.
Aku harus bisa, maaf kakak, aku harus melakukan ini. Selain tak mau membuatmu terus bersedih terus, aku juga ingin membalas dendam pada mereka, mereka yang telah membuangku di tempat sampah. Bukannya aku tak mau tetap berada di sisimu. Dua belas tahun yang berharga, tapi aku merasa lebih banyak menyusahkanmu. Aku mandiri tetap masih kau sanggah di belakang. Aku ingin mandiri, semandiri-mandirinya. Aku akan kembali, jika saatnya sudah tiba. Biarlah aku mati di mata dunia, yang penting aku tetap hidup di mata dan di hatimu. Kakak, aku juga yakin, suatu hari kau pasti akan tahu kelakuanku ini. Aku akan dengan senang hati menerimanya, batin Enji kala Karina menyentuh genggaman tangannya.
Karina dengan mudah membukanya. Enji membuka matanya. Karina tampak senang dan langsung memanggil dokter namun ditahan oleh Enji. Enji dan Karina mengobrol, sebagaimana diobrolkan dalam bab "selamat jalan, Enji".
Setelah Enji dinyatakan meninggal dunia, Karina keluar dengan langkah gontai, Arion juga ikut keluar pastinya. Membiarkan Faisal dan lainnya mengurus mayat Enji.
"Ri, keluar kamu. Sampai kapan kamu bersembunyi di balik sana?" tanya Faisal membuka kain penutup wajah Enji.
"Berapa lama jantungnya terhenti?" tanya Faisal lagi.
"Hanya lima menit, sebentar lagi juga berdetak kembali," jawab Riri menantikan mesin pendeteksi detak jantung kembali menunjukkan garis naik-turun.
Faisal, semasa Karina dan Arion fokus pada Enji, Ia menyuntikkan cairan bening sesuai dosis yang Riri berikan pada cairan infus Enji.
Cairan itu adalah ramuan yang Riri buat dan teliti selama beberapa tahun belakang, sejak mengenal Enji dan mendengar rencana Enji. Riri serius dalam pembuatan penghenti jantung sementara.
Dan kini diberikan pada Enji, setelah lulus semua ujian dewan khusus dan tentunya lulus uji coba. Cairan ini privat tidak disebarluaskan di pasaran ataupun publik. Pemakaiannya hanya untuk pribadi, dan itu adalah Enji dan Riri.
Hanya dua orang itu saja yang memiliki hak dan wewenang terhadap cairan itu. Dan rencananya setelah pemakaian ini, cairan itu akan dimusnakan.
Menghindari pencurian serta penyalahgunaannya di kemudian hari jika hal ini terekspos ke luar.
"Hm, apa pengganti Enji sudah disiapkan? Kemungkinan jenazahnya akan dimakamkan besok," ujar Faisal.
"Ya iyalah besok. Masak malam ini sih? Dikira maling mayat nanti," sahut Riri ketus. Faisal mengulum senyum.
Sang asisten menahan tawa. Biasanya Faisal tak pernah kalah berdebat dan kesal. Akan tetapi, di hadapan Enji, Karina serta Riri, dokter ini hanya bisa mengulum senyum menurut.
"Sudah, cepat pindahkan Enji ke bilik itu. Lalu bawa mayat itu untuk melakukan prosesi apa yang dilalukan pada jenazah," ujar Riri. Faisal mengangguk.
Dengan segera memindahkan Enji ke bilik kecil di yang hanya terpisah tirai berwarna hijau tua. Di sanalah Riri dan mayat pengganti Enji berada selama adegan di atas.
Setelah memantai aktivitas Enji dari kamera yang berada di laptop
Enji Riri bergegas ke rumah sakit sebelum Karina tiba. Karena kondisi dini hari jadi tak ada yang menaruh kecurigaan padanya. Riri dengan segera masuk ke ruang UGD dengan membawa pasien yang sudah meninggal di jalan dan memakainya topeng wajah Enji, agar tak tercium kecurigaan.
Paginya, barulah iring-iringan mobil jenazah dan mobil Karina serta rombongan menuju pemakaman. Tak ada bersemayam di rumah duka. Jenazah yang sudah dimandikan, dikafani serta disholatkan langsung diboyong ke pemakaman.
***
Ketika pemakaman Enji selesai, menyisahkan duka di hati Karina. Namun ia berusaha ihklas, apalagi dengan dukungan suaminya. Di saat Karina meninggalkan pemakaman, Enji, Faisal dan Riri mendarat di negara C.
Mengapa negara C? Sebab negara ini jarang Karina kunjungi. Negara ini adalah negara yang memiliki sejarah kelam bagi Karina.
__ADS_1
Karina enggan menginjakkan kaki di sini. Bahkan di sini hanya ada satu anak cabang mafia dan perusahaan. Itupun sudah mulai terlupakan.
Karina hanya membaca laporannya secepat kilat. Lain halnya dengan di negara lain. Setiap kota memiliki satu cabang.
Enji, Riri dan Faisal menuju rumah sakit yang telah dikontak oleh Riri. Seminggu kemudian, setelah kondisi Enji benar-benar siap. Barulah cangkok jantung dilaksanakan.
Untuk proses pemulihan, Riri membawa Enji menuju rumah sederhana yang telah dipersiapkan sebelum.
Semua dalam rencana. Rumah sederhana tak mencolok, di dalamnya ada satu ruangan besar berisikan alat kedokteran yang lengkap untuk penyakit Enji. Faisal hanya menemani Enji selama dua minggu.
Setelah itu ia kembali dengan rasa berat hati, hatinya yang tertinggal dan hatinya yang yakin dengan Riri adalah kekasihnya. Dengan tanda lahir di belakang telinga yaitu tiga tahi lalat berbentuk segitiga yang tanpa sengaja Faisal lihat kala mereka tak sengaja bertabrakan.
Tapi mengapa Riri tak mengenalinya? Apakah wajahnya terlalu berubah? Atau Riri melupakannya? Riri yang sama namun bertolak belakang dengan Riri yang Faisal kenal.
Flashback Off.
***
Satu hari kemudian. Di kediaman Bram Wijaya, negara B.
Di kamarnya dengan kakek Bram, Nita tengah duduk bersandar pada kepala ranjang. Nita sendiri di dalam kamar. Kakek Bram pergi keluar mengurus masalah perusahaannya. Kakek Bram memang masih memiliki perusahaan, cukup ternama di kota tempat mereka tinggal.
Nita mengusap perut buncitnya yang sudah menginjak kehamilan tujuh bukan atau 28 minggu. Senyumnya ia sungguhnya. Kehidupan sempurna ia rasakan kini.
Ya walaupun suaminya tak muda lagi, dan dikatakan sebagai aki-aki sebab sudah punya cucu hampir sama dengan usianya, tak apalah yang penting hatinya klop dengan kakek Bram.
Cinta, tak mengenal umur bukan? Jodoh? Gak bakal kemana. Mau terpisah di barat dan timur, asalkan jodoh pasti bertemu.
Dering handphone di atas nakas membuat Nita berhenti mengusap perutnya. Mengambil handphone dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Nona?" gumam heran Nita. Untuk tujuh bulan terakhir baru inilah Karina menghubunginya. Jika sudah begini pasti ada masalah penting.
Nita segera menjawab panggilan.
"Nona," ucap Nita.
"Nita, kamu bisa ikut dalam rencana kami?" tanya Karina dari sana. Nita mengerut lagi. Rencana? Kami? Berarti tak satu orang.
"Rencana apa ya, Nona?" tanya Nita penasaran.
"Rencana membuat suamimu, Mas Brammu itu dan papa mertua saya berbaikkan. Apa kau tak mau melihat mereka berbaikan dan kau mendapat restu dari papa mertua saya?" jawab Karina. Nita diam. Jujur sejujurnya, dia mengharapkan restu Amri.
"Bagaimana? Bisa tidak?" Karina menanyakan jawaban.
"Bisa Nona. Tentu saja bisa," jawab mantap Nita.
"Bagus!" seru Karina dari tempatnya berada kini.
"Untuk detail dan waktu perencaan serta tugasmu, akan aku kirimkan dalam waktu dekat," ucap Karina.
"Baik Nona," jawab Nita.
"Jaga kandunganmu. Rencana dimulai setelah kau selesai melahirkan," ujar Karina.
"Laksanakan, Nona," jawab Nita. Panggilan berakhir. Nita meletakkan handphonenya dan mengulas senyun lebar.
__ADS_1
Keinginannya ada jalan. Walaupun tugasnya nanti, dia harus bisa membujuk kakek Bram, setidaknya mencairlah sedikit hati kakek Bram.
***
Kini tiga hari telah berlalu, hari yang ditunggu-tunggu bagi kelompok Cinnamon dan Pedang Biru akhirnya tiba. Di tempat tinggal mereka, pagi buta pukul 03.0 dini hari, kelompok Cinnamon sudah mulai berberes.
Membersihan diri dan memakai pakaian yang layak tak kurang bahan. Begitupun dengan Elina dab Marlena. Tetapi awalnya mereka mengawasi para anggota mereka, agar tidak ada yang salah. Hari ini adalah hari penting bagi Elina, Marlena dan Cinnamon pastinya.
Marlena, tersenyum miring saat mengingat apa yang ia lakukan membalas dendam dan berdamai dengan hati.
Ayahnya telah tiada. Artinya ia cuma bisa berdamai. Untuk mantan pacar dan pasanannya dulu, Marlena tak segan menghabisi mereka.
***
Waktu menunjukkan pukul 06.00, empat armada bus yang Karina kirimkan untuk membantu mobilitas anggota Cinnamon sudah tiba tiga puluh menit lalu. Sopir keempat bus itu pun wanita, diambil dari pasukan elit wanita Karina.
"Bu, apa kau sudah selesai?" tanya Elina memasuki kediaman Marlena. Elina menggunakan celana panjang yang tidak ketat serta kaos bercorak tiga warna, putih hitam dan abu-abu. Rambutnya ia kucir kuda agar tak menggenggu pergerakannya.
"Sudah," jawab Karina. Marlena menggunakan rok berwarna navy serta baju berwarna sama juga.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Elina.
"Ayo," sahut Marlena berdiri. Tak lupa kotak nginangnya ia bawa. Elina diikuti Marlena segera keluar dari kediaman Marlena.
Mengumpulkan para anggota dan memberi intruksi serta arahan. Lima menit kemudian, para anggota masuk dengan rapi dan teratur ke dalam bus yang Karina kirim.
Jumlah mereka hanya bekisar 55 orang. Sisanya lagi yang tak masuk ke bus mini, beralih naik ke bus model lama yang Cinnamon miliki. Setelah semua anggota masuk, barulah Elina dan Marlena masuk ke dalam mobil mustang mereka.
Pukul 06. 20, iring-iringan itu meninggalkan markas Cinnamon menuju markas pusat Pedang Biru.
***
Pukul 08.30. Rombongan kelompok Cinnamon tiba di Pedang Biru. Tampak jelas kekaguman para anggota Cinnamom pada bangunan di hadapan mereka kini.
Bangunan bercat putih itu nampak silau diterpa mentari lagi. Belum lagi pepohonan besar nan terawat serta air mancur berbentuk mawar di tengah halaman menambah keindahannya.
"Welcome, Cinnamon," ujar Karina yang keluar dari dalam markas dan menyambut Elina serta rombongan.
Karina yang menggunakan celana panjang tidak ketat serta kaos atasan berwarna putih menyambut Elina dan kelompok.
Di belakangnya ada kelima tangan kanannya dengan wajah Darwis yang masih bingung. Wajar, diakan tak tahu tentang ini.
"Sebenarnya ini ada apa dan mereka siapa?" tanya Darwis menyenggol bahu Satya.
"Mereka Cinnamon, datang untuk bergabung dengan Pedang Biru," jawab Satya.
"Bergabung? Maks …," ucapan Darwis dipotong oleh Rian duluan.
"Nanti saja jika ingin bertanya, kau lihat tidak lirikan mata Queen."
"Hm." Darwis mendengus.
"Haha … thanks Karina," ucap Elina berpelukan dengan Elina dan menyalami Marlena.
"Madam, bisa kah Anda berhenti menginang sebentar saja," pinta Karina.
__ADS_1
Marlena mengangguk. Ia tahu alasan Karina. Kini mereka diajak ke sebuah ruangan besar mirip audotorium. Di panggung tersedia meja panjang dengan lima kursi di kanan dan kirinya. Masing-masing berjarak satu meter.