
Di depan sebuah pintu, terlihat seorang pria mengintip ke dalam kamar. Pria itu memiliki tubuh yang kekar, juga wajah yang cukup tampan dengan kumis tipis, tapi lebih memiliki kesan garang dan menyeramkan. Bibirnya yang tipis melengkungkan senyum. Matanya yang tajam melembut, menatap penuh kasih seorang wanita yang dikerubungi oleh tiga anak laki-laki. Wajahnya tampak sangat bahagia, melihat dan mendengar kelekar tawa di dalam kamar.
"Masuklah. Kebiasan mengintip itu tidak baik," ucap wanita itu. Melirik tajam ke arah pintu dengan bibir tersenyum tipis. Ia berbicara menggunakan bahasa arab.
"Ah kau sangat sensitif." Pria itu membuka lebar pintu dan melangkah masuk, duduk di samping sang wanita, tak lupa mendaratkan kecupan hangat di dahi wanita itu. Wanita itu memiliki wajah yang cantik, hanya saja terdapat luka di wajahnya. Tapi itu tak menurunkan kadar kecantikannya. Apalagi saat menggunakan cadar, membuat kesan misterius dan berwibawa.
"Ayah tidak adil! Masa' cuma Ibu yang dicium?"protes salah seorang anak. Wajah ketiga anak itu sangatlah mirip.
"Apa kalian juga ingin Ayah cium?" Ketiga anak itu mengangguk semangat.
"Baiklah-baiklah. Sini Ayah cium kalian." Ketiga anak itu berurutan, pria itu mencium bergantian dahi ketiga anak itu.
Sang wanita diam mengamati, bibirnya melengkungkan senyum.
"Anak-anak bisakah kalian bermain keluar dulu? Ayah ingin berbicara dengan Ibu," pinta pria itu. Sang wanita menaikkan alisnya. Ketiga anak itu menatap sang ibu, meminta persetujuan.
"Pergilah bermain. Jangan telat untuk makan siang," pesannya.
"Baik, Ibu." Setelah mencium pipi sang ibu, ketiga anak itu bergegas keluar.
"Ada apa, Emir?"tanya wanita itu serius.
"Aku ingin meminta saranmu, Kaira."
"Mengenai apa?"
"Ini mengenai perdagangan kita. Belakangan ini perdagangan kita terganggu dengan kehadiran pedagang luar. Pembeli beralih ke pedagang luar itu. Kas kita kini terganggu. Aku bingung mengatasinya. Jika jalur perang, setelah ku selidiki mereka sangat berkuasa di beberapa benua. Jika kita mengalah, kita akan tersingkir. Bagaimana menurutmu, Kaira?"
Wanita yang bernama Kaira itu berdiri, membuka tirai jendela membiarkan cahaya menerangi kamarnya. Emir menatap punggung Kaira.
"Siapa mereka?"
"Pedang Biru!"jawab Emir. Mata Kaira membulat sejenak, ia diam dengan tatapan menerawang keluar.
"Pedang Biru?"gumamnya kemudian.
"Benar. Ku dengar mereka itu mafia. Pemimpinnya juga hilang empat tahun lalu. Ku kira mereka akan kocar-kacir nyatanya kekuasan mereka semakin meluas," jelas Emir, berdiri di samping Kaira.
"Menarik. Jika kau setuju, lebih baik kita adakan sebuah pertemuan. Undang mereka ke istana kita."
"Pertemuan? Apa rencananya?"
"Jika bisa bersekutu untuk apa berselisih?"
Mata Emir membulat takjub.
"Benar juga! Aku akan segera mengirim surat. Terima kasih, Kaira."
"Hm."
Emir segera keluar dari kamar. Wanita itu menatap ke lanjut dengan senyum tipis.
Mengapa terasa familiar?
*
*
*
"Emir, sampai kapan kau mengikat Kaira dengan hubungan palsu?"
"Ayah, jika aku sudah siap dan Kaira sudah membuka diri terhadapku, aku akan menikahinya secara sah!"
"Sampai kapan? Ini sudah empat tahun. Kau mengikatnya sebagai istri palsu dan menjadikan ketiga anak itu sebagai anakmu. Anakku jujur ayah keberatan dengan itu. Usiamu sudah sangat-sangat matang untuk menikah. Ketiga anak itu bukanlah darah dagingmu, tak berhak menjadi pewaris. Emir, cepat nikahi Kaira atau Ayah akan menjodohkanmu!"
Pria bernama Osman itu menatap tajam Emir. Emir menghela nafas pelan.
"Beri aku waktu, Ayah. Selesai pertemuan dengan Pedang Biru, aku akan melamar dan menikahinya. Ayah aku sangat mencintai Kaira. Aku juga sangat menyayangi Brian, Basurata dan Bahtiar. Tolong jangan jodohkan aku dengan gadis lain."
Osman melihat kesungguhan Emir. Pria tua itu menghela nafas pelan.
"Baiklah. Ayah akan menunggunya!" Osman melangkah pergi meninggalkan Emir yang tampak tertekan.
Apakah Kaira akan menerimaku? Bagaimana caranya agar Kaira tidak marah? Ayolah Emir …. Akghhh! Aku bisa gila!
"Sial!"gerutunya.
*
*
*
Kini Emir berada di ruang kerjanya. Ia baru saja menyuruh bawahannya menyampaikan surat yang ia tulis kepada pedagang bernama Pedang Biru itu. Emir termenung, mengingat kali pertama ia bertemu dengan Kaira.
__ADS_1
Empat tahun lalu. Ya empat tahun lalu ia bertemu dengan Kaira.
*
*
*
"Pangeran ada seseorang mengapung di air!"pekik salah seorang prajurit, berlari menuju Omar yang tengah sibuk berdiskusi.
Omar mengerutkan dahinya tak suka.
"Memangnya kenapa?"tanyanya dingin.
Prajurit itu terkesiap, dan segera berlutut.
"Emir ada baiknya kita melihatnya. Sangat langka ada jasad utuh di tengah samudra ini."
"Ck menyebalkan!"gerutu Emir. Melangkah mengikuti prajurit itu.
"Ini keajaiban! Ia masih hidup!"seru prajurit yang mengecek nadi dan nafas orang yang tenggelam itu.
"Wanita? Sungguh keajaiban. Emir kau tak penasaran dengan wajahnya?"
"Mengapa kau berisik sekali, Rayan?"
"Hahahaha. Balikkan tubuhnya, aku ingin melihat wajahnya!"
Emir melirik, matanya menatap dingin wanita tersebut. Ia tak terkejut dengan wajah yang terluka, lebih heran lagi mengapa bisa selamat.
"Uh. Wajahnya terluka. Rayan bagaimana menurutmu? Kita tolong dia?"
"Karena sudah naik ke kapalku, rawat dia dengan baik!" Emir melangkah pergi. Rayan menggeleng pelan.
"Bawa dia ke kamar, suruh pelayan wanita mengganti pakaiannya!"titah Rayan.
"Baik, Tuan Rayan."
***
"Emir baru kali ini aku menemukan wanita hebat dan tangguh sepertinya."
"Di tanah kita juga banyak wanita tangguh!"
"Ini berbeda. Selain mampu bertahan ternyata ia juga mengandung. Emir menurutmu ini mukjizat atau apa? Terombang - ambing di samudra dengan kehamilan yang tidak terganggu?"
"Sayangnya ia koma. Tubuhnya juga terluka parah."
"Bagaimana dengan wajahnya?"
"Bisa sembuh hanya saja akan meninggalkan bekas," jawab Rayan.
"Hei Emir, kau tertarik bukan dengannya? Katakan saja, Emir. Aku yakin seratus persen bahwa ia seseorang yang hebat. Kau bisa menjadikannya sebagai selirmu. Anaknya kelak bisa menjadi bawahan anak kandungmu."
"Menjadi selir? Aku lebih tertarik menjadikannya istri."
Rayan membulatkan mata terkejut.
"Emir kau sungguh bunglon!"seru Rayan gemas. Emir tersenyum tipis meninggalkan Rayan yang mencak-mencak kesal.
***
Satu bulan berlalu. Sikap Emir yang biasanya dingin dengan wanita kecuali sang ibu kini berubah perhatian dengan wanita yang ia beri nama Kaira itu. Setiap pagi dan sore, sebelum dan selesai bekerja, Emir menyempatkan diri untuk menjenguk Kaira. Luka-luka di tubuh Kaira mulai membaik. Kandungan Kaira juga semakin terlihat.
Perlahan tapi pasti, perasaan suka mulai muncul di hati Emir. Kadang Emir bingung dengan dirinya sendiri. Mengapa ia bisa menyukai wanita yang cacat dan tak tahu asal-muasalnya. Malah hamil lagi. Tapi itulah hati, tak bisa ditebak.
Empat bulan. Empat bulan setelah pertama kali bertemu, akhirnya Kaira sadar dari komanya. Emir tentu senang. Ia sangat bahagia. Rasa senangnya bertambah karena Kaira lupa ingatan. Emir yang baru pertama kali kontak mata dengan Karina, langsung jatuh hati. Tanpa pikir panjang, Emir langsung mengaku bahwa ia adalah suami Kaira. Ia dan Kaira adalah pasangan suami istri. Yang mana Kaira koma karena kecelakaan. Untung saja Kaira percaya dengan semua ucapan Emir.
Setelah berbulan-bulan menjalani ikatan palsu, Emir bersyukur atas tindakannya itu. Semakin lama ia mengenal Kaira, semakin ia jatuh hati. Emir juga merasa jika ia tak mengikat Kaira pasti Kaira akan terbang pergi bak burung yang bebas.
Hanya saja biarpun mereka dikenal sebagai pasangan suami istri, belum pernah sekalipun mereka berhubungan suami istri, bahkan berciuman saja tak pernah. Paling keras hanyalah cium kening dan bergandengan tangan.
Emir beralasan bahwa tubuh Kaira sangat rentan. Selain itu, Kaira juga belum menerima sepenuhnya bahwa mereka suami dan istri. Hubungan mereka lebih ke arah saling menguntungkan. Kecerdasan dan talenta Kaira sangat berguna bagi keluarga mereka.
*
*
*
"Tak terasa sudah empat tahun dan aku belum berani mengatakan yang sebenarnya."
Hah.
"Ini lebih sulit daripada pertempuran."
__ADS_1
"Emir kau di dalam?"
"Masuklah, Rayan!"
Sosok pria yang bertubuh tegap dengan wajah yang tak kalah tampan dari Emir masuk dengan senyum mengembang.
"Wah mengapa kau tampak tertekan? Masalah ayahmu dan Kaira lagi?"
"Rayan aku takut kehilangan Kaira."
"Katakan saja yang jujur. Kaira itu wanita yang sangat berbeda. Ia kepala dingin, pasti ia akan mengerti," saran Rayan.
"Ucapan mudah. Tindakannya sangat sulit!"
"Kau itu pangeran. Mengapa jadi pecundang? Ini bukanlah Emir yang aku kenal!"
"Cinta merubahmu, Emir."
"Ya cinta merubahku. Lantas mengapa kau mencariku?" Sorot mata Emir berubah tajam pada Rayan. Rayan langsung berubah serius.
"Itu … Kaira akan berduel lagi dengan Aldric."
Mata Emir membulat.
"Mengapa tak dari tadi?!"pekik Emir, langsung berdiri dan keluar dari ruangannya. Rayan langsung mengejar.
"Dasar bodoh!"gerutu Emir.
"Pangeran gawat!"seru prajurit, dengan wajah panik menghadap pada Emir.
"Kenapa? Aldric kalah?"
"Bukan. Itu … itu Ratu. Ratu Kaira pingsan. Kepalanya membentur batu!"
"APA?!"
*
*
*
Di arena duel, seorang pria diam membisu menatap keramaian di hadapannya.
"Apa? Apa yang aku lakukan?"gumamnya dengan tatapan menyesal.
"Kaira!"
Pria bernama Aldric itu menoleh ke arah Emir yang menatapnya penuh emosi.
Buukk!
Bogem mentah ia terima. Aldric tersungkur ke pasir. Tak melawan malah memohon ampun pada Emir.
"Pangeran ampuni aku. Aku salah. Aku salah pangeran."
Emir yang sudah naik pitam tak mempedulikan permohonan Aldirc. Ia menghajar habis-habisan Aldric.
"Cukup Emir!"pekik Osman.
"Emir cepat bawa Ratu!"seru Rayan. Emir memberi tatapan bengis pada Aldric yang kini meringkuk penuh kesakitan. Emir menatap Kaira yang terbaring dengan kepala berdarah. Wajah Emir langsung berubah cemas. Ia langsung menggendong Kaira menuju kamar. Rayan mengikut.
"Rawat Aldric," titah Osman.
*
*
*
"Tuan Li, kita mendapat pesan dari kelompok Anfa."
Li yang kini memang berada di Maroko menoleh ke arah bawahannya itu.
"Bukankah itu kelompok yang hampir berperang dengan kita?"
"Benar Tuan. Lantas apa yang akan kita lakukan?"
"Mereka sudah berinisiatif, tentu saja harus menerimanya. Kirim balasannya, Pedang Biru setuju mengunjungi mereka!"
"Tapi Tuan …."
"Apapun tujuan meraka, tentu harus kita hadapi!"tegas Li.
"Baik, Tuan!"
__ADS_1
"Siapkan kendaraan, kita berangkat satu jam lagi. Lebih cepat lebih baik!"titah Li lagi.