
"Apakah harus aku yang memimpin meeting dengan perusahaan itu?" tanya Karina dingin atas laporan Raina yang mengatakan bahwa perusahaan yang akan meeting dengan mereka harus Karina sendiri yang memimpinnya atau menghadirinya, tak boleh diwakilkan.
"Saya sudah mengatakan berulang kali kepada mereka bahwa Anda tidak bisa menghadirinya meeting tersebut. Namun mereka mendesak agar Anda yang datang. Kalau tidak mereka akan membatalkan kerjasama ini, Nona," jelas Raina menundukkan kepalanya.
Takut dengan wajah dingin dan kepala tangan mereka.
"Ckck, perusahaan itu sudah keluar dari zona nyaman. Batalkan saja kerjasama dengan mereka!" ucap Karina dingin.
Karina kembali berkutat dengan laptop di hadapannya.
"Tapi Nona, perusahaan mereka adalah salah satu rekan kerjasama yang mumpuni. Akan sangat tidak bijak jika membatalkan kerjasama dengan mereka. Terlebih lagi kita sudah lama bekerja sama dengan mereka dan hasilnya selalu memuaskan," ujar Raina, menatap Karina.
Karina menghentikan ketikan jarinya pada keyboard laptopnya dan menatap Raina dengan satu alis terangkat.
Raina menelan ludahnya takut. Nonanya kini seperti hendak memakan orang. Rasanya satu ruang berdua bersama Karina di ruangan yang luas ini seperti tertindih beban berat.
Karina kemudian menghela nafas kasar dan meminta berkas untuk meeting. Raina dengan segera mengambil berkas di mejanya dan menyerahkannya pada Karina. Raina menghela nafas lega.
"Ada yang salah di beberapa bagian. Sudah aku tandai yang salah. Cepat perbaiki!" ucap Karina, meletakkan berkas yang telah ia baca dengan seksama.
Raina mengangguk dan segera keluar dari ruangan Karina. Karina mengerakkan bibirnya berpikir. Tak lama ia kembali berkutat pada laptopnya, mencari nama perusahaan yang mendesak agar ia sendiri yang menghadiri meeting.
"Pantas saja Raina menahanku agar tak membatalkan kerjasama dengan mereka. Tapi agaknya ada yang aneh. Aih, ya sudahlah," gumam Karina.
Di mejanya, Raina dibantu oleh Aleza segera merevisi bagian yang ditandai Karina. Tiga puluh menit kemudian, Karina keluar dari ruangannya dengan membawa tas selempang dan laptopnya.
"Ayo berangkat," ucap Karina datar, memasuki lift khususnya duluan, disusul oleh Raina dan Aleza.
"Jaga Nona dan Raina, Za. Ibu hamil gampang emosi," ucap Sasha memperingatkan Aleza.
Aleza hanya menggerakkan jarinya setuju.
Pak Anton membuka pintu mobil saat Karina keluar dari lift. Begitu Karina masuk mobil dan duduk dengan gayanya.
Pak Anton segera menutup pintu dan menuju kursi kemudi. Menjalankan mobil keluar parkiran diikuti oleh mobil yang dikemudikan Aleza menuju lokasi meeting di mall kota.
Karina melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 10.30. Lagi-lagi Karina menghela nafas dan mengusap perutnya.
Siska akan segera menikah dengan Ferry, Sedangkan tiga bujangan, jomblo forever itu belum juga memperlihatkan tanda-tanda hendak berumah tangga ataupun benang kasih dengan seseorang, batin Karina memikirkan sesaat tentang Gerry, Rian, dan Satya.
Usia mereka bertiga sudah kepala tiga. Dan Karina khawatir jika mereka tak kunjung menikah, maka takutnya tak ada yang mewarisi kerakter ketiga orang tersebut.
"Jangan terlalu keras berpikir, Non. Santai saja. Cukup sudah masa kecil dan remaja Anda berpikir keras hingga membuat kepala meledak," ucap Pak Anton.
"Hm," sahut Karina, memilih memejamkan matanya menunggu tiba di tujuan.
Tidak sampai tiga puluh menit, Karina beserta Aleza dan Raina tiba di mall. Ketiga wanita itu melangkahkan kaki menuju tempat yang ditujukan untuk tempat meeting . Tibalah mereka di sebuah ruang VIP restoran khas jepang.
Di sana sudah menunggu dua orang pria. Yang satu Karina perkirakan usianya sama dengannya dan satu lagi adalah pria paruh baya. Karina menebak pria muda itu adalah CEO baru atau sederajatnya.
"Selamat datang KS Tirta Grub," sambut kedua pria lain usia itu seraya berjabat tangan dengan Karina, Aleza, dan Raina.
Karina hanya menggerakkan matanya mengucapkan terima kasih lalu duduk dan dengan tegas mengatakan meeting segera dimulai.
"Ehem. sebelumnya perkenalkan saya Rizki Aditya, putra bungsu dari Tuan Aditya Alamsyah. Saya di sini mewakili ayah saya untuk meeting dengan Anda sekalian dan ini juga meeting perdana saya. Jadi saya mohon bantuan para senior," ujar pria muda yang bernama Rizki.
Rizki tersenyum lebar dan menatap Karina cukup lama. Karina menunjukkan raut wajah dinginnya.
"Saya tak perlu tahu Anda siapa. Tapi lain kali jangan pernah mengancam untuk membatalkan kerjasama perusahaan jika bukan saya yang menghadirinya atau kerjasama ini akan benar-benar berakhir," ucap Karina dingin, menatap tajam Rizki.
__ADS_1
Rizki tersenyum kaku. Dalam hatinya mengumpat kesal.
Wanita ini memang tak berubah. Ck, sudah bertahun-tahun pun dia masih sama. Tak pernah main-main, tidak bisa diajak bercanda. Sayang sekali dia sudah menikah. Tapi walaupun sudah menikah, aku masih bisa menikung. Masalah anaknya nanti, aku akan menyayanginya sama seperti anak kandungku sendiri. Astaga, kau ini berpikir terlalu wah, Zki, batin Rizki.
Raina dan Aleza mengulum senyum mereka melihat wajah takut kedua orang itu.
"Sudah, ayo mulai!" ucap Karina.
Akhirnya mereka segera memulai meeting. Membahas tentang kerjasama mereka dan rencana jangka panjang kerjasama mereka.
Karina hanya memperhatikan dan mendengarkan dengan baik dengan sesekali menimpali. Ia menjadikan meeting ini menjadi tempat menguji Rizki yang mengaku ini meeting perdananya.
Jawaban dan ide-ide Rizki mendapat tepuk tangan dari Karina. Karina merasa cukup dengan semua yang dilontarkan oleh Rizki. Meeting selesai pukul 12.30, kerena terlalu serius, sampai lupa waktu.
"Lumayan untuk seorang fresh graduated," ucap Karina dengan nada datarnya saat berjabat tangan dengan Rizki.
Rizki tersenyum. Hatinya berbunga-bunga dengan pujian Karina.
"Terima kasih, ini juga atas bimbingan Anda," ujar Rizki, mengeratkan jabatan tangannya pada Karina.
Karina mengeryit dan membalas lebih erat lagi hingga Rizki menunjukkan wajah meringis sakit.
"Tuan muda, kau sakit?" tanya sekretaris Rizki.
Bukan lebih tepatnya sekretaris ayahnya Rizki.
"Tidak, aduh, sakit," rintih Rizki.
Karina tersenyum miring dan melepaskan kasar jabatan tangannya.
"Jangan main-main. Atau kau akan menyesal!"ucap Karina berbalik dan keluar ruang VIP.
Sekretaris Rizki mendengus dengan kelakuan Tuan muda keduanya.
Tuan muda kedua, cintamu telah diambil orang. Kau harus rela, batinnya.
*
*
*
"Presdir Karina, tunggu sebentar!" panggil Rizki, berusaha mengejar Karina yang sudah hampir mendekati lift.
Karina, Raina, dan Aleza menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Ada apa Tuan muda? Ada yang mau dibahas lagi? Ini sudah di luar jadwal," tanya Aleza, sopan dan mengembangkan senyumnya.
"Ah ini bukan masalah pekerjaan. Saya hanya ingin mengundang Anda untuk makan siang bersama saya, bolehkan?" jawab Rizki penuh harap.
Karina mengeryit dan melemparkan pandang pada Raina dan Aleza. Kedua orang itu malah mengangkat bahu tak tahu mau jawab apa.
"Em, tak ada maksud terselubung kok. Anggap saya ini adalah rasa terima kasih saya atas bimbingan kalian tadi. Lagipula sudah jadwalnya makan sian. Ibu hamil kan tak boleh makan telat, terutama yang sudah punya penyakit maag akut," tutur Rizki menjelaskan maksudnya.
Darimana pria bau kencur ini tahu Nona punya penyakit maag akut? batin Raina.
"Tuan muda kedua tahu tentang penyakit Nona saya? Anda siapa dan apakah pernah berhubungan dengan Nona?" tanya Aleza mewakili Karina.
Karina malah menyandarkan tubuhnya ke dinding serta menyilangkan tangannya menonton mini drama di depannnya. Rizki tersentak kaget dan diam saat.
__ADS_1
"Eh, ternyata benar. Padahal saya cuma asal tebak. Mungkin dari pengalaman saya. Kakak saya juga mengidap maag karena keseriusan bekerja sampai lupa waktu dan saya melihat Presdir Karina dan kakak saya itu mirip," dalih Rizki.
Mendapat tatapan tak percaya dan menyelidik serta putaran bola mata malas untuk Karina.
"Ya baiklah. Ayo pergi. Daripada kau kebanyakan berbicara di situ," ucap Karina.
Melangkahkan kakinya mencari restoran yang menggugah selera makannya dan berhenti di restoran dengan tulisan restoran khas turki.
Karina melihat daftar menu yang terpajang jelas di depan restoran kemudian mengangguk. Ia masuk diikuti Rizki, Raina, dan Aleza.
Karina dan Rizki duduk satu meja sedangkan Raina dengan Aleza. Pelayan datang dan menyerahkan buku menu. Karina membolak-balik halaman sedangkan Rizki bertopang dagu dan menatap Karina dengan senyum manis di wajahnya.
"Bir künefe ve kadayıf sipariş ettim. (Saya pesan satu künefe dan kadaif)," ucap Karina dengan bahasa Turki.
"Tamam. Eğer siz efendim? (Oke. Anda Tuan?)," tanya pelayan ramah menunjuk Rizki yang masih memperhatikan Karina.
"Rizki!" sentak Karina membuyarkan tatapan Rizki dan dengan cepat menjawab kebab, itulah yang terlintas pada otaknya.
Tak lupa juga memesan minuman agar tidak serat di leher.
"Tamam. Siparişler yakında gelecek. (Baiklah. Pesanan akan segera tiba)," ucap pelayan tersebut segera undur diri.
"Jaga pandanganmu atau kau akan kehilangan pandangan selamanya," ucap Karina dingin, mengambil handphonenya.
"Jika aku kehilangan pandangan karenamu, aku rela," jawab Rizki.
Memberanikan diri memegang tangan Karina. Karina segera menepisnya kasar dan memberikan sorot mata menusuk dan membunuhnya. Jujur saja bulu kuduk Rizki meremang. Lebih seram dari tatapan ayahnya saat marah.
"Jangan buat aku emosi. Kau tak akan sanggup menahan akibatnya!"peringat Karina sekali lagi.
"Maaf, aku hanya ingin dekat denganmu, ketua osisku," cicit Rizki takut.
Nasib baik Karina masih memberinya kesempatan. Jika tidak, mungkin ia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
Karina menaikkan pandangannya dari layar handphonenya menatap Rizki saat mendengar kata ketua osisku.
"Kau satu sekolah denganku?"tanya Karina, penasaran.
"Ya, kau lupa denganku? Aku wakilmu. Rizki Aditya!"sahut Rizki.
Sedikit kesal namun lega karena cluenya berhasil membuat Karina memperhatikannya.
"Rizki Aditya," gumam Karina, mengingat-ingat nama itu.
"Oh, kau rupanya. Mengapa kau baru muncul sekarang ke dunia bisnis? Kemana saja kau?"tanya Karina, setelah mengingat siapa Rizki.
Ya satu angkatan dengannya dan kebetulan juga wakilnya saat di osis. Ya memang Karina pernah menjabat sebagai ketua osis. Ya mungkin masih jarang seorang siswi jadi ketua osis. Namun itu tak berlaku bagi sekolah Karina. Di sana asalkan memenuhi kriteria, mendapat dukungan para siswa, dan para guru bisa menjadi ketua osis.
"Kau itukan hilang kabar setelah lulus. Aku memang baru bergabung dengan perusahaan setelah tiga tahun mengabdi sebagai dosen di universitas," jelas Rizki.
Karina hanya mengangguk. Ia lalu kembali kepada handphonenya.
Arion kemana ya? Panggilan aku kok tak kunjung dijawab? batin Karina, kesal dengan Arion.
Rizki hendak berbicara lagi. Namun tertahan dengan pesanan mereka yang telah tiba. Karina menyimpan handphonenya dan membaca doa makan dalam hati lalu langsung menyantap makan siangnya.
Rizki yang melihat itu, ya langsung mengikut makan, menikmati kebab pesanannya.
Karina, sampai kapan ku simpan cinta dalam diam ini? Apakah terlambat jika ku ungkapkan hari ini? Oh ya, cincin. Aku akan membelikanmu cincin. Sebagaimana janji yang pernah ku ucapkan dulu, batin Rizki.
__ADS_1
Pria ini lebih matang dari zaman sekolah dulu. Saatnya menagih janji, batin Karina, tersenyum samar.