Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 301


__ADS_3

Gerry terbangun saat jarum pendek berada di angka 11 dan jarum panjang berada di angka 12. Gerry yang tidur tengkurap berbalik badan lalu duduk. Bangun kesiangan membuat kepalanya sedikit sakit. Gerry mengusap matanya kemudian mengerjap perlahan. 


Ia menguap beberapa kali, sebelum turun dari ranjang. Gerry melangkah gontai, membuka tirai yang menutup jendela, membuka lebar jendela.


Gerry mengedarkan pandangan ke luar kamar, terlihat markas ramai seperti biasa, menjalankan kegiatan masing-masing. Gerry merenggangkan badannya, menghirup udara siang. 


Ceklek!


Terdengar suara pintu dibuka. Seseorang membukanya, diikuti suara langkah masuk. Gerry berbalik. Ia sedikit heran dengan Mira yang sudah kembali dengan wajah yang tampak sedih.


Gerry melangkah menghampiri Mira. Mira terperanjat saat kedua tangan Gerry berada di pundaknya. Ia melamun sedari tadi.


"Ger kau sudah bangun?"tanya Mira, yang pasti tidak perlu dijawab oleh Gerry.


"Tumben jam segini kau sudah pulang? Ada masalah, atau bagaimana?"tanya Gerry.


Tidak mungkin Mira hanya masuk dua tiga jam. Biasanya Mira paling cepat pulang di pukul 17.00 atau pukul 20.00. 


"Aku mengambil cuti," jawab Mira, memeluk Gerry.


Gerry yang merasa Mira tengah sedih, gelisah, juga takut, menepuk-nepuk pelan pundak Mira. 


"Ada masalah apa? Cuti berapa hari?"tanya Gerry lagi.


Mira semakin memeluk erat Gerry. Rasa takut mengutarakan alasan cutinya membuat nyali Mira bak kerupuk tersiram air.


"Sebelumnya kau harus berjanji dulu padaku," ujar Mira, melepas pelukan dan menaikkan jari kelingkingnya.


"Janji apa?"tanya Gerry, semakin penasaran juga bingung.


Biasanya jika sudah meminta janji seperti ini, pasti wanita melakukan sesuatu yang akan membuat marah seorang pria.


"Berjanjilah jika ku katakan alasannya kau tidak akan marah, ataupun memukul diriku, aku takut sikapmu akan berubah setelah mengetahui alasannya cutiku," ujar Mira.


Gerry menghela nafas. Baru bangun sudah dihadapkan pada situasi seperti ini. Beragam alasan berkumpul di benak Gerry.


Melihat wajah Mira yang memelas, Gerry tersenyum lembut dan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Mira. 


"Aku janji, katakanlah apa alasannya," jawab Mira. 


"Aku … aku menyinggung Karina," ucap Mira terbata.


Rasa takut semakin mendera saat Gerry membelalakan mata, lebih mirip dengan melotot. Gerry mundur selangkah. Mira menunduk dengan bahu bergetar.


"Apa yang kau singgung? Bagaimana kau begitu bodoh menyinggung Karina?"bentak Gerry.


Gerry tidak habis pikir, padahal hampir setiap waktu Gerry mengingatkan Mira untuk tidak mencari masalah dengan Karina, walau sekecil apapun. Jika urusannya sudah dengan Karina, ia pun tidak dapat membela Mira. 


Mira mundur.


"Ge … Gerry kau sudah berjanji untuk tidak akan marah," ucap Mira, menagih janji. 


Gerry yang marah, mengingat janjinya, ia mengatur nafas, mereda emosi.


"Jelaskan!"titah Gerry dingin, ia duduk di tepi ranjang.


Dadanya masih terlihat naik turun. Mira menjelaskan secara detail, ia sadar bahwa jika ia berbohong maka semakin fatal akibat yang akan ia terima.


Masalah awalnya memang sepele, tapi jika sudah menyinggung Karina dan organisasinya, beruntung jika tidak mati. Untung saja Karina tidak sekejam dulu. Beruntung kami menikah di saat ia sudah sedikit lembut, batin Gerry. 


"Mendekatlah," ucap Gerry.


Mira mendekat ragu. Gerry meraih kedua tangan Mira.


"Hanya sebulan bukan? Selama itu kau akan menjalani pembelajaran 50% di dalam markas dan 50% di lapangan. Jadwalmu sudah berubah besok."


Gerry sedih, tapi mau bagaimana lagi, Karina sudah jatuh perintah, tidak ada yang bisa membantah.


"Maaf," ucap Mira, menunduk dalam.


"Tidak apa. Wajar bagi orang baru sepertimu. Tapi aku sedikit kecewa kau tidak bisa memfilter ucapanmu," ucap Gerry.


Mira semakin merasa bersalah, ia kembali menjatuhkan tubuhnya, memeluk Gerry erat. Saat ini hanya pada Gerry ia bisa bersandar. Gerry mendengar suara tangis tertahan. 


Ya penyesalan selalu datang terlambat, batin Gerry, membalas pelukan Mira.


"Sudah tidak apa. Lain kali lebih waspada dan berhati-hati. Jadikan hari ini sebagai pelajaran, kelak kau harus hati-hati jika berurusan dengan seseorang yang tidak berada dalam jangkauan. Oh ya, di mana Karina? Ku dengar kemarin ia menginap," tanya Gerry, mengalihkan pembicaraan. 


"Mereka pergi," jawab Mira, tetap memeluk Gerry.


Tangisnya yang sudah mereda, mendadak pecah. Gerry menggeleng pelan. Ia membiarkan Mira menangis dalam pelukannya, membasahi bajunya. 

__ADS_1


Sekuat apapun seorang wanita, jika dibentak oleh seorang pria atau suami, pasti akan tetap merasa sakit. Maaf Mira … aku tidak bermaksud membentakmu. Sebelum dirimu, Karina sudah berada di hatiku. Cintaku padanya tidak sama dengan cintaku padamu. Kalian berdua adalah wanita yang berharga dalam hidupku, jadilah kuat dan cerdas. Kelak akan banyak cobaan yang akan kita lalui. 


Gerry memejamkan mata. 


Aku harus menemui Karina setelah Mira bangun, putus Gerry. 


Mira tertidur dalam pelukan Gerry, Gerry memindahkan Mira ke atas ranjang. Setelahnya baru ia mandi, membersihkan diri untuk kembali beraktivitas.


*


*


*


Satya yang baru saja menginjakkan kaki memasuki rumah dikejutkan dengan suara ledakan dari arah dapur. Ia berlari menuju dapur. Terlihat asap mengepul tipis di atas kompor.


Dapur juga berantakan. Gerry terperanjat melihat dua sosok yang berdiri. Wajah mereka terlihat sedikit tegang juga lega. Warna angus terlihat di wajah dan pakaian mereka. Kebetulan warna pakaian yang digunakan adalah warna cerah. 


Bukan hanya Satya, para pelayan juga berlari menuju dapur. Mereka bergegas membereskan kekacauan. 


"Joya kau tak apa?"


Satya mendengar suara bertanya, sudah dapat dipastikan itu Darwis dan Joya.


"Aku baik. Hanya kaget saja," jawab Joya.


Kedua orang itu keluar dari dapur, Darwis membimbing Joya, memegang tangan dan merangkul pinggang menuju ruang keluarga. Satya menggelengkan kepalanya, ia mengikut ke ruang keluarga.


"Yo apa yang terjadi sampai-sampai dapur meledak?"tanya Satya.


Satya melihat Joya menyembunyikan wajah pada dada Darwis. Darwis terkekeh.


"Kerjakan siapa lagi kalau bukan Kakak Iparmu ini? Memang aku pernah meledakkan dapur?"sahut Darwis santai.


"Darwis jangan katakan, aku malu," rengek Joya.


Darwis tertawa kecil. Satya tersenyum geli. 


"Aduh Kakak Ipar, apa kamu kurang puas dengan masakan pelayan dan suami tercintamu itu? Kalau Anda ingin meledakkan dapur, jangan dapur rumah, suruh saja suamimu membuat dapur pribadi yang bebas mau Anda apakan," ujar Satya.


Darwis memberikan tatapan kesal. Satya hanya membalas dengan menaikkan turunkan kedua alisnya.


"Bukan! Bukan begitu yang ku maksud!"bantah Joya, duduk tegak. 


"Tidak perlu Wis. Aku dan dia baik-baik saja. Lihat dan rasakan," tolak Joya, menarik tangan Darwis ke perut.


Darwis membelalakan mata.


"Dia menendang!"seru Darwis berbinar. Joya mengangguk.


Satya sendiri merasa jadi nyamuk besar, ia memilih bermain dengan handphone.


"Maaf, aku tidak ada keinginan untuk membuat kekacauan di dapur. Aku hanya ingin menjadi istri yang baik, yang sempurna. Selama ini aku belum pernah menyentuh dapur, dan beberapa hari lalu aku belajar resep masakan sederhana. Aku berniat untuk membuatnya, siapa tahu aku tidak cocok dengan dapur," tutur Joya.


Darwis mengangkat wajahnya dari perut Joya. Satya meletakkan handphonenya.


"Kakak Ipar, aku tahu maksud Kakak apa. Tapi mengingat kondisi Anda saat ini, akan lebih baik Anda fokus pada kesehatan Anda dan Darwis kecil. Ya aku tahu, ada pelayan bukan berarti kita selalu berpangku tangan, tapi untukmu ini yang terbaik. Benarkan Wis?"


Satya menunjukkan wajah meminta persetujuan. Darwis mengangguk.


"Ya itu benar. Terlebih kau memiliki suami yang jago masak. Kau tidak perlu memasak," tegas Darwis.


Joya menghela nafas lega.


"Aku beruntung pernah mendapat kekasih dan suami yang jago masak," ucap Joya, tanpa sadar mengingat Arion.


"Kekasih?"tanya Darwis, cemburu.


"Arion maksudnya?"timpal Satya.


"Eh?"


Joya terkejut dengan wajah cemburu Darwis. 


"Bukan itu maksudnya."


"Kau mengingat mantanmu itu? Enakan masakan siapa? Dia atau aku?" 


"Tentu saja kau. Aku hanya mengingatnya."


"Mengingat berarti kau mengenangnya. Ck. Awas saja jika aku bertemu dengannya, aku akan menantangnya adu masak!"

__ADS_1


Darwis mengepalkan tangan, kesal dan cemburu.


"Aku hanya teringat. Kau cemburu seperti anak kecil. Lagian dia sudah jadi suami Karina, memangnya aku tidak sayang nyawa berurusan dengannya? Kau ini aku kan punya masa lalu, setidaknya wajar aku mengingatnya. Dia hanya masa lalu, kamu adalah selamanya. Dia mantan dan kamu suami," jelas Joya, mencoba meruntuhkan kecemburuan Darwis.


Darwis mendengus. 


"Maka kau harus menjaga kesehatan dan istirahat yang cukup. Joya aku bisa menutupi rasa cintaku selama bertahun-tahun. Tapi aku tidak bisa menutupi rasa cemburu barang satu detik. Jadi, jangan pernah membahas tentangnya lagi," ujar Darwis.


Joya mengangguk.


"Duh akhirnya selesai juga pertengkaran manis kalian, selamat sudah berbaikan ya," ucap Satya, yang hanya menyimak.


"Hmm … bagaimana denganmu?"tanya Darwis.


"Denganku?"


"Iya, hubunganmu dan Riska bagaimana? Ayo cepat nikahi dia," ucap Joya memberi semangat. 


"Hari ini kau pulang lebih lama, ada masalah apa?"tanya Darwis setelah melihat jam tangannya.


"Aku bertemu dengan orang tuanya," jawab Satya. 


"Benarkah?"


Joya dan Darwis hendak menginterogasi Satya.


"Ya."


"Bagaimana hasilnya? Pasti mereka tidak bis menolak bukan?"


Darwis positif pada hasilnya.


"Ku rasa begitu, tapi sepertinya jenderal tua itu hendak mengujiku. Dia sadar pihak mereka tidak bisa menolak, tapi pihak kita bisa membatalkan. Tadi aku juga menerima pesan dari Karina bahwa aku bebas memilih pilihanku sendiri, aku tahu apa artinya bukan?"


"Kau bebas memilih lanjut atau membatalkan, jadi apa pilihanmu?"tanya Joya. 


"Apalagi selain lanjut?"


"Bagus! Kau harus tepat janji. Tapi apa gerangan yang membuat Karina berubah pikiran?"


Darwis mencari alasan dari pesan Karina.


"Kau tahu dia sukar ditebak," ucap Satya.


Joya dan Darwis mengangguk.


"Aku yakin pasti jenderal itu akan menyulitkanmu. Ia pasti punya cara untuk membuat mentalmu jatuh," ucap Joya, mengingat saat Darwis bertarung demi mendapatkan restu. 


"Apapun itu, aku akan menghadapinya!"tegas Satya.


"Ah ya di mana Rian?"tanya Satya, ia tidak melihat Rian setelah kembali.


"Ke luar kota," jawab Darwis.


Setelah menjawab, Darwis mengajak Joya ke kamar. Selain untuk bersih-bersih juga untuk membuat Joya beristirahat.


Satya tersenyum jahil, ingin mengerjai kedua orang itu. Ia batuk beberapa kali, seperti hendak bernyanyi. Benar saja, Joya dan Darwis berbalik dengan wajah bingung mendengar nyanyian Satya.


Meski ku bukan yang pertama


Di hatimu tapi cintaku terbaik untukmu


meski ku bukan bintang di langit


tapi cintaku yang terbaik


Kemanapun kau pergi, kita pasti akan bertemu. 


Kemanapun kau menghindar kita pasti akan bertemu. 


Tak peduli kau mengabaikan diri ini, pasti kau akan menyerah dengan sendirinya. 


Cinta sejati tidak akan pernah mati. Mereka akan terus hidup sekalipun raga sudah menyatu dengan tanah.


Kau adalah pasanganku, kau adalah milikku. Kita ditakdirkan bersama sejak lahir. Cinta tak pernah salah. Semoga cinta kalian abadi!


Seusai itu, Satya melangkah menuju kamarnya.


"Dia menyairkan kisah kita?"tanya Joya, baru sadar.


"Sepertinya iya. Bukankah itu benar?"

__ADS_1


"Hm. Dia pria yang aneh. Belum pernah jatuh cinta tapi sudah bisa membuat syair," heran Joya.


Darwis yang tersenyum, mereka lanjut menuju kamar.


__ADS_2