
Tak terasa tiga hari telah berlalu. Siang yang terik menambah ketakutan Li dan Gerry. Mereka kini berada ruang kerja Karina di markas Pedang Biru. Pendingin udara tak mampu mendinginkan gejolak mereka berdua.
Hasil tes DNA Enji sudah keluar. Kini hasil tes itu berada di tangan Karina. Karina membaca laporan itu dengan teliti. Awalnya wajahnya santai dan datar.
Namun, sekarang wajahnya menggelap dan sukar untuk dijabarkan. Li dan Gerry yakin, pasti hasil tes itu yang membuat Karina begini. Dan hasilnya pasti berbeda dari yang seharusnya.
Karina melemparkan laporan di tangannya ke lantai. Membuat Li dan Gerry melonjak kaget. Mereka ingin segera keluar, sebelum gunung es di hadapan mereka mengeluarkan lava panas.
Karina mengempalkan tangannya dengan nafas memburu. Penyebabnya adalah hasil tes itu menyatakan bahwa yang berada di pusaran atas nama Enji Tirta Sanjaya bukanlah Enji, melainkan orang lain.
Artinya hasilnya adalah negatif. Karina awalnya merasa keliru. Jelas-jelas Enji meninggal di hadapannya. Tetapi, laporan ini tak mungkin salah. Tak ada pihak luar yang mengetahuinya. Tesnya pun dilakukan di laboratorium markas. Hanya mereka bertiga yang tahu tentang ini.
"Queen?" panggil Li was-was. Takut Karina tak bisa mengontrol emosi.
Karina melirik Li dan Gerry bergantian. Hanya sekilas. Tatapannya berganti menatap foto Enji yang terletak di atas meja kerjanya. Selain foto Enji juga ada foto Arion dengan dirinya.
Karina meraih frame foto Enji. Tatapannya bercampur.
"Kendalikan diri Anda, Queen," pinta Gerry dengan suara pelan. Masih tersirat ketakutan di suaranya.
"Hmmm …." Karina bergumam sebagai jawaban. Karina segera mengendalikan emosinya.
Mengatur nafas agar sesak di dadanya mereda. Lima menit kemudian, Karina sudah terlihat lebih santai.
Li dam Gerry bernafas lega.
"Apakah Anda menginginkan kami mencari keberadaan Enji?" tanya Li.
"Tak usah," jawab Karina datar.
"Dia benar Enji. Dia masih hidup. Biarkan saja dia berkeliaran di luar sana. Sampai dia bosan pasti dia akan kembali lagi. Mungkin saja, ini ada hubungannya dengan jantungnya. Anak itu ternyata sudah sangat terlalu dewasa. Mengambil keputusan untuk melakukan penipuan dan menghilang. Dengan dinyatakan meninggal maka dia dapat dengan bebas melakukan apa yang dia mau. Enji, di mana kau sekarang?" Karina tersenyum pahit.
"Maksud Anda, bisa jadi Enji melakukan pengobatan jantungnya begitu?" Gerry memastikan dugaan.
"Dan cara yang paling tepat untuk itu adalah donor jantung." Li ikut menyuarakan dugaannya.
"Benar," sahut Karina. Donor jantung mempunyai banyak resiko. Apalagi kondisi jantung Enji kala itu yang sudah parah. Tapi … mengapa Enji tertutup masalah ini?
Apakah tak mau melihat Karina sedih terus-menerus karena hal itu? Jadinya, Enji merancang rencana itu, agar Karina hanya sekali bersedih dan tak mengkhawatirkannya lagi.
"Simpan hasil tes itu. Jika sudah waktunya, pasti anak nakal itu akan kembali, mungkin saja jika jantungnya sudah sembuh," tutur Karina tersenyum tipis.
Li memungut hasil tes yang tergeletak diam di lantai.
Enji, kakak menunggumu kembali. Syukurlah kau masih hidup. Anakmu menunggumu. Bayu, kau bukan lagi yatim piatu. Ayahmu masih ada dan hidup di dunia ini, batin Karina memejamkan matanya.
"Ganti papan nama Enji menjadi papan nama mayat yang berada di dalam pusarannya," titah Karina setelah membuka mata.
"Laksanakan," jawab Li dan Gerry bersamaan.
Karina lantas keluar dari ruangannya. Menuju halaman markas di mana Pak Anton beserta mobil menunggu.
Karina mengulas senyum tipis sepanjang langkahnya. Walaupun kecewa, tak dapat dipungkiri hatinya juga bahagia. Adik kesayangannya belum tiada.
Pak Anton dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Karina. Karina masuk. Perlahan mobil putih itu melaju meninggalkan markas Pedang Biru.
__ADS_1
****
Di negara C, sebuah rumah sederhana bercar coklat. Pepohonan rimbun melengkapi kesederhaanya.
Pria dengan seragam serba putih, duduk di ruang tengah rumah tersebut. Wajahnya setengah pucat namun berseri dengan senyum lebar di wajahnya.
"Jadi, akhirnya kakak tahu aku belum meninggal," gumam pria itu. Dua pria lain yang duduk di hadapannya mengangguk. Mereka baru saja melaporkan apa yang disuruh oleh majikannya awasi.
"Apakah kakak sudah memberitahu apa hubunganku dengan Bayu?" tanya pria itu dengan wajah serius.
"Nona belum memberitahu hal itu," jawab salah seorang dari mereka.
"Kakak selalu bisa mengendalikan emosinya. Wanita es itu juga tak melakukan apapun setelah tahu kebenarannya. Malah mengganti papan nisan. Kakak, apa yang kau rencanakan?"
Pria itu menatap fotonya bersama seorang wanita. Rasa rindu membuncah, namun dia belum bisa keluar sekarang.
"Palingan dia berencana menghukummu dengan cara lama, kau kan membuatnya menangis kala itu. Kau kan tahu air matanya itu sangat mahal, dan kau membuatnya mengalir deras kala itu," sahut wanita berusia sekitar 30 tahunan, memakai pakaian khas dokter. Pria itu terkekeh.
"Aku selalu siap menerima hukuman darinya, Ri. Bagaimana kondisiku? Apa aku sudah sembuh total? Kau tahu tidak? Aku sangat merindukan kakak dan tentunya juga anak yang selama ini tak pernah aku ketahui. Bayu Tirta Sanjaya," celoteh pria itu dengan riangnya. Dokter wanita itu bernama Riri. Dokter pribadi untuk pria itu.
Wanita itu membuka laporan kesehatan pria itu dalam beberapa hari terakhir. Wanita itu tersenyum.
"Ri? Bagaimana? Aku sudah sembuhkan?" tanya pria itu tak sabaran.
"Kau memang sudah sembuh. Tapi aku masih harus memantai kondisimu beberapa minggu lagi. Kau tak masalah kan?" jawab Riri.
"Oh … ayolah. Jantungku sudah sembuh," rengek pria itu. Riri yang kesal menjewer telinga pria itu.
"Ayolah. Aku doktermu. Kau pasienku. Kau harus menurut padaku demi kesembuhanmu. Di sini aku ratunya. Jadi kau harus menurut. Lihat saja kondisimu, kekelahan sedikit saja akibat perjalananmu menjenguk makammu sendiri saja sudah membuat wajahmu pucat. Pokoknya kau tak boleh keluar sebelum sembuh sesembuh sembuhnya. Ingat itu," tegas Riri yang membuat pria itu mendengus kesal.
"Sayangnya, kedudukan ratu lebih kuat daripada raja di sini. Jadi raja harus menurut pada ratu. Jika tidak ratu akan meloporkan raja pada ibu suri agar ibu suri datang kemari dan menghukum raja, kedudukan ibu suri lebih kuat dari raja dan ratu," ujar Riri dengan seringainya.
Pria itu menggelengkan kepalanya. Ya dimaksud ibu suri oleh Riri adalah kakak pria itu.
"Jangan ratu. Kondisi raja masih belum stabil. Jika ibu suri datang dan menghukum raja, raja benar-benar akan berada di dalam liang lahat," pinta pria itu memelas. Riri terkekeh dan mengusap rambut pria itu.
"Raja yang pintar. Sekarang lebih baik raja istirahat," titah Riri. Pria itu mengangguk.
Segera beranjak dari ruang tengah menuju kamarnya, dituntun oleh Riri tentunya. Sedangkan kedua pria tadi segera melesat keluar menuju pintu, menjalankan kembali tugas yang mereka emban.
Ya. Pria itu adalah Enji Tirta Sanjaya. Dia memang belum meninggal. Hanya melakukan manipulasi pada kematiannya. Hal itu tak lepas dari campur tangan Faisal.
Dan Riri adalah dokter rahasia Enji, ini di luar pengetahuan Karina. Karina sama sekali tak tahu mengenai hal ini. Sebenarnya hatinya berat meninggalkan Karina.
Dan benar, yang kemarin Karina lihat di dalam mobil yang bersampingan dengan mobil Arion adalah dirinya. Enji sengaja melakukannya. Ingin melihat apa reaksi Karina.
Jujur saja, ia terkejut dengan laporan makam atas nama dirinya dibongkar. Tak menyangka Karina benar-benar serius walaupun hanya sekilas lihat.
***
Kini Karina melangkahkan kakinya turun dari mobil, memasuki rumahnya. Di halaman terdapat mobil yang tak asing, namun jarang Karina lihat. Itu bukan mobilnya.
"Non, Nyonya Maria datang berkunjung kemari," ujar Bik Mirna kala Karina memasuki rumah.
"Mama?" gumam Karina bingung. Ada urusan apa Maria datang ke rumahnya? Tak masalah sih. Tapi agak aneh saja gitu.
__ADS_1
"Di mana Mama sekarang Bik?" tanya Karina.
"Nyonya ada di ruang tengah, Non," jawab Bik Mirna. Karina segera melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.
Khawatir. Miu kan masih berada di sini. Tadinya mau di ajak ke markas, akan tetapi Miu asyik bermain dengan Naina.
Tiba di ruang tengah, Karina menggelengkan kepalanya serta menahan tawa. Hanya senyum simpul yang ia sematkan.
Miu bermain di lantai di atas permadani dengan bola kesukaannya, sedangkan Maria duduk di sofa dengan menaikkan kaki juga di sofa. Menatap Miu dengan rasa penasaran.
Sudah setengah jam ia memandangi Miu yang bermain dengan santainya tanpa ada niat menyerang. Naina sebagai pengasuh sementara berdiri mengawasi tak jauh dari tempat Miu berada.
"Ma?" panggil Karina. Maria menoleh. Dengan segera beranjak dan menghambur memeluk Karina.
"Akhirnya kamu pulang juga," ujar Maria melepas pelukannya.
"Hm … apa kucing ini menakuti Mama?" tanya Karina melirik Miu yang sekarang berada di kakinya. Maria terlonjak kaget. Dan beralih ke belakang Karina.
"Miu?" panggil Karina. Miu mengangkat pandangan.
"Miu? Nama jaguar ini Miu?" tanya Maria. Karina mengangguk.
"Iya, Ma. Kucing ini namanya Miu," jawab Karina.
Karina dan Maria kemudian beranjak duduk di sofa. Miu ikut dengan Naina, bermain di taman belakang dengan beberapa temannya yang berbeda spesies namun masih termasuk hewan buas.
"Tumben Mama kemari? Ada hal apa?" tanya Karina.
"Hmm …." Maria ragu menjawabnya.
"Hmm?" Karina tak sabar. Maria menarik nafas dan membuangnya perlahan.
"Mama butuh bantuan kamu," jawab Maria.
"Untuk?" Karina meminta kejelasan.
"Untuk memperbaiki hubungan Papa dan kakekmu. Kau tahu kan hubungan kedua orang itu bagaimana? Mama merasa keluarga Wijaya tak utuh seperti dulu, ya walaupun dulu memang sudah renggang, tetapi tak serenggang sekarang," jelas Maria. Karina mengangguk paham.
"Kau bisa kan membantu Mama?" tanya Maria penuh harap.
"Bisa. Mama sudah ada rencananya belum? Apa kita harus susun rencana lagi?" tanya Karina.
Maria nyengir.
"Mama belum ada rencananya. Mama ingin memastikan kamu mau atau tidak. Jadi, ya kita harus susun rencana. Tapi ini di luar pengetahuan Papa ya. Kamu bisa kan mengontak ibu agar turut andil dalam hal ini? Mama tahu bahwa Ibu Nita tak jahat, hanya memperjuangkan cinta," jawab Maria.
"Untuk itu, Karina bisa," jawab Karina mantap. Maria tersenyum dan memeluk Karina.
Maria dan Karina pun berdiskusi tentang rencana mereka. Ditemani teh hangat serta kue basah buatan Bik Mirna membuat sore yang hangat semakin hangat.
Menjelang magriblah, Maria baru kembali dari rumah Karina. Karina melambaikan tangannya saat mobil Maria meninggalkan halamam rumahnya. Miu ikut melepas dengan goyangan ekornya.
Setelah mobil Maria menghilang dari pandangan, barulah Karina masuk ke dalam rumah diikuti Miu. Menuju kamarnya dan segera masuk ke kamar mandi.
Miu menunggu dengan santai di sofa. Tak lama azan magrib berkumandang. Karina segera melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim kala azan selesai berkumandang.
__ADS_1