
"Karina darimana saja kau?" Joya menunjukkan wajah galaknya pada Karina.
"Luar. Ada apa?" Karina kembali duduk, Azura dan Dylan duduk di dekat Karina.
"Bukankah kau yang memanggilku?"
"Aku lupa."
Joya mengepalkan tangannya kesal dengan Karina. Ia duduk dengan wajah ditekuk, minum meredakan kekesalannya.
"Kau mengerjaiku! Aku langsung menemuimu setelah Gibran mengatakan kau mencariku. Yang ada aku yang mencarimu!"gerutu Joya.
"Ada yang ingin aku tanyakan." Karina acuh dengan gerutuan Joya.
"Apa itu?!" Joya bertanya ketus. Karina menunjukkan wajah datarnya, menatap serius Joya. Joya terkesiap dengan tatapan Karina, segera mengubah raut wajahnya serius juga.
"Bagaimana hubungan Satya dan Riska?" Joya tidak langsung menjawab, mencerna pertanyaan Karina. Dahinya mengeryit tipis. Tahapan Joya tertuju pada Dylan yang menatap lekat Karina.
Aku tahu penyebab pertanyaan ini, batin Joya, menghela nafas pelan.
"Setahuku mereka baik-baik saja. Tapi belakangan ini aku merasa aneh dengan mereka. Saat ku tanya pada Riska, katanya baik-baik saja."
"Dan kau percaya?" Tatapan menyelidik dengan nada dingin.
"Jujur sih tidak. Tapi aku juga tidak bisa memaksa seseorang menceritakan masalahnya padaku, bukan?" Joya menunjukkan mata khawatir dengan hubungan Satya dan Riska.
Karina mendengus pelan.
"Sudahlah. Nanti saja mengurus masalah itu," putus Karina.
"Why?"
"Waktunya dansa, apa kau tidak ikut?" Karina berdiri, menatap lantai dansa di mana beberapa pasangan sudah di dalamnya. Musik mengalun lembut, pasangan-pasangan itu mulai berdansa.
Joya juga ikut melihat ke sana. Terlihat Darwis celingak-celinguk mencari seseorang.
"Sayang." Arion mendekati Karina dan langsung merengkuh pinggang Karina.
"Kita berdansa?"
"Tentu." Keduanya bergandengan tangan menuju lantai dansa. Joya mengerjap pelan melihat dua orang itu.
"Mama nggak dansa sama Papa? Tuh Papa nyariin Mama loh," ujar Gibran yang melihat Darwis.
"Papa sama Mama Zura juga ikutan tuh," ucap Azura, tersenyum lembut melihat ke arah Rian dan Angela.
Joya ingin melangkah menghampiri Darwis, tapi wajah murung Dylan mengurungkan langkahnya.
"Dylan kenapa muram?" Joya mengusap lembut kepala Dylan.
"Mama sama Papa Dylan mana, Tante?"
"Mungkin mereka cari udara segar," ucap Joya setelah tak mendapati Satya dan Riska di tempat.
"Udara segar?" Dylan jelas tidak percaya. Joya semakin yakin bahwa hubungan orang tua Dylan bermasalah.
"Adik Dylan mengapa kamu murung? Ikutlah dengan kami keluar." Bintang menepuk pundak Dylan.
"Nona muda?"
"Pesta dansa ini khusus untuk orang dewasa. Lebih baik keluar melihat pemandangan. Kita ke lantai tertinggi," ajak Bintang lagi.
"Tapi …."
"Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Yakinlah Mama dan Papa kamu akan baik-baik saja," ucap Biru.
"Baiklah. Tante jika Mama sama Papa mencariku…."
"Tante tahu. Pergilah," potong Joya.
Dylan mengangguk, berdiri dan menggenggam tangan Biru.
"Azura manis, dan kau juga ikut!" Ini lebih mirip perintah ketimbang ajakan. Bintang memberikan sorot mata tegas pada Gibran.
"Baik, Nona muda." Gibran dan Azura menundukkan kepala patuh.
Setelah keenam anak Karina, anak-anak tangan kanan Karina keluar dari ballroom, barulah Joya melangkah menghampiri Darwis yang sudah menunggu dengan tangan terulur menjemputnya.
"Mengapa lama sekali? Dan kemana anak-anak?"
Darwis meletakkan satu tangannya di pinggang Joya dan satu tangan dari di bahu, begitu juga sebaliknya. Bergerak sesuai dengan irama musik.
"Mereka ke lantai pribadi Karina," jawab Joya. Darwis ber-oh-ria.
"Ku rasa setelah pesta Karina akan menyidang Satya dan Riska."
Darwis mengangkat alisnya kemudian tersenyum simpul.
"Baguslah. Jadi masalah di antara mereka tidak berlarut-larut."
"Kau tahu?"
"Tidak tahu pasti tapi aku yakin setelah ini semua akan clear."
"Satya cukup tertutup dengan rumah tangganya," imbuh Darwis.
"Ya kehidupan rumah tangga memang tak baik diumbar. Lebih baik kita bersiap mendengar amarah Karina." Joya berdigik mengingat kala Karina murka.
"Tapi aku kok merasa aneh ya?"
"Aneh?"beo Joya.
"Tatapan Elina dan Mira itu terasa aneh. Apa yang mereka pikirkan dan melihat Karina begitu?"
Joya mengedarkan pandang mencari kedua wanita itu.
"Kau benar. Tatapan Sasha, Lila, dan Raina juga sama. Tapi mengapa yang ditatap begitu santai?"
Keduanya melihat Arion dan Karina yang menikmati dansa mereka. Di dekat keduanya ada Amri dan Maria.
"Ah lupakan saja. Memikirkan Karina sama saja membuat kepala meledak." Joya mendadak kesal. Darwis terkekeh pelan.
"Eh kenapa kau tersipu?" Padahal Darwis tidak menggoda Joya.
"Sepertinya aku tahu alasan tatapan mereka tadi," sahut Joya dengan menunduk.
__ADS_1
"Apa itu?"
"Karina menggoda mereka."
Darwis paham maksud Joya. Ia hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan. Tadi tanpa sengaja Joya dan Karina bertemu pandang. Karina langsung saja memberinya kerlingan juga senyum menawan. Joya langsung tersipu malu melihatnya.
Di sisi lain, Sasha duduk tenang menikmati acara. Senyumnya terukir lembut saat melihat Emir dan Aleza. Pasangan baru itu juga ikut berdansa.
"Sayangku mengapa kamu tidak ikut berdansa?" Helian duduk di samping Sasha. Sasha mendengus sebal.
"Siapa yang sayangmu? Jangan buat orang salah paham, Helian!"
"Tentu saja kau. Aku tidak main-main. Jadilah kekasihku."
Aleza tertawa pelan.
"Tidak-tidak. Aku menolak. Dulu memang iya aku suka padamu tapi kini rasa itu sudah hilang. Aku tak mau keterusan jatuh dalam pesona playboymu!"
"Aku playboy?" Helian menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tak percaya.
"Coba saja kau hitung mantanmu!"sahut Sasha acuh.
"Uh aku lupa." Helian menggaruk kepalanya.
"Tapi aku senang kau pernah suka padaku. Suatu kehormatan bisa disukai olehmu," tutur Helian sungguh-sungguh.
"Sepertinya kita impas," ujar Sasha.
"Ya kau benar. Kita impas. Jadi apakah hubungan kita hanya sebatas teman kerja?" Helian menunjukkan wajah memelas.
"Lantas? Kau mau jadi apa ku?"balas Sasha.
"Kekasih tak bisa bagaimana jika jadi kakak?"tawar Helian.
"Kakak? Kau mau jadi kakakku? Wah Helian kau sungguh cerdas ya?"
"Tentu saja!"
"Baiklah. Akan aku pikirkan, calon kakakku tersayang." Sasha berdiri, memberi senyuman lebar pada Helian.
"Aku akan menunggu jawabanmu." Sasha mengangguk kemudian melangkah pergi.
Helian menghela nafas kasar, tatapan menyesal.
"Sasha, biarpun kau menolakku menjadi kakakmu aku tetaplah kakakmu," gumam Helian, berdiri dan melangkah keluar dari ballroom.
Saat Sasha menikmati minumannya, ada lagi yang menghampirinya.
"Nona, maukah kau berdansa denganku?" Rayan bertanya seraya mengulurkan tangannya pada Sasha.
Sasha dengan menatap datar Rayan.
Tatapan itu?
"Maaf aku menolak. Aku hanya akan berdansa dengan orang yang aku sukai," tolak Sasha.
"Aku menyukaimu, Nona." Rayan tetap mempertahankan senyumnya. Sasha menggeleng.
"Apakah Anda tidak paham ucapan saya, Tuan Rayan?"
"Lalu apakah Anda pria yang Anda sukai?"
"Tentu." Sasha melangkah, mata Rayan mengikuti kemana Sasha pergi.
"Dialah yang aku sukai." Mata Rayan terbelalak saat tahu Aldric lah yang disukai oleh Sasha.
Bukan hanya Rayan, Aldric juga sangat terkejut saat Sasha tiba-tiba menggandeng lengannya dan mengatakan ia adalah pria yang disukai oleh Sasha. Aldric masih membeku, mencerna apa yang terjadi.
"Apa Anda sudah paham?"
"Aku paham." Rayan tersenyum kecut. Sasha mengangguk puas dan menarik Aldric ke lantai dansa. Aldric yang tidak tahu caranya berdansa hanya mengikuti gerakan Sasha. Jujur hatinya dilema dengan ucapan Sasha tadi. Haruskah ia mengalah atau memperjuangkan?
Tak sanggup melihat dua insan itu, Rayan memilih keluar dari ballroom untuk menenangkan hatinya yang sakit.
"Nona apa kau serius?" Aldric mulai bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Sasha tersenyum.
"Aku ingin aku menjawab apa?"
"A-aku." Aldric tampak dilema.
"Sudahlah. Kau sendiri ragu." Sasha melepas pegangannya dari Aldric dan berbalik lalu melangkah keluar dari lantai dansa.
Aldric tidak rela.
Maaf Tuan Rayan. Aku akan memperjuangkan perasaanku!
Aldric langsung mengejar dan menarik Sasha dalam peluknya. Sasha terperanjat, mengerjap pelan mencerna apa yang terjadi.
"Aku ingin nona menjawab ya," bisik Aldric.
Deg.
Perasaan yang terbalas. Sasha bahagia mendengarnya. Segera mengubah posisi menjadi memeluk leher Aldric. Aldric sendiri jujur masih merasa kaku, ia belum pernah sedekat ini dengan perempuan yang bukan muhrimnya.
"Jadi kita resmi menjadi sepasang kekasih?"tanya Sasha.
"Benar."
"Tapi apa kau tak takut dengan Rayan?"
"Nona sejak aku menjadi bagian Pedang Biru kesetiaanku juga berpindah pada Pedang Biru. Atasanku adalah Queen bukan Tuan Rayan. Sebagai seorang pria bukankah aku harus memperjuangkan cintaku?"
"Memang pantas menjadi pria yang aku sukai. Aldric I love you."
"Aku juga mencintaimu, Nona."
"Ck. Mengapa panggilan formal? Panggil namaku!"
"Tapi status keanggotaan kita berbeda, ini adalah peraturan, Nona."
"Kecuali untuk pasangan. Panggil aku Sasha!"
"Hei mengapa ragu? Cepatlah!"sentak Sasha yang gemas melihat Aldric yang ragu.
"Baik Sa-Sasha."
__ADS_1
Senyum Sasha mengembang, kembali berdansa dengan status yang berubah, sepasang kasih.
*
*
*
Dansa berakhir begitu juga dengan pesta pernikahan. Acara selesai sebelum Ashar. Satu persatu tamu undur diri menyisakan keluarga inti. Anak-anak masih berada di lantai pribadi. Setelah memberi salam perpisahan pada anggota lain yang masih di tempat, Emir dan Aleza ke ruang ganti untuk menukar pakaian mereka.
Satya dan Riska masuk dengan bergandengan tangan. Terlihat bahagia tapi Karina menangkap kejanggalan. Karina hanya memberikan tatapan menyelidik pada keduanya, sekilas, membuat keduanya membeku sesaat.
"Malam ini pulang ke rumahku," ucap Karina.
"Oke." Darwis langsung setuju.
"Kami juga?" Li menunjuk dirinya dan Gerry.
"Tidur di ruang tamu mau?" Arion menjawab dengan pertanyaan.
"Aku tidak masalah." Li menjawab mantap.
"Aku juga," timpal Li.
"Ku rasa nantinya tidak akan seperti rencana." Enji bersuara setelah selesai dengan handphone di tangannya.
"Biarlah. Yang penting kumpul," sahut Amri seraya tertawa.
"Oh iya anak-anak mana?"tanya Satya.
"Kemana saja kau sampai anak sendiri tidak tahu di mana?"cibir Enji langsung.
"Aku …."
"Berdua boleh tapi jangan sampai lupa sama anak," sindir Enji lagi.
"Kau!" Satya geram dan menunjuk Enji.
"Apa?"tantang Enji.
"Ck!" Satya meredam emosinya saat sadar Karina ada di depannya. Riska mengeratkan genggamannya.
"Anak-anak ada di lantai pribadiku. Dan untuk kalian berdua, kita perlu bicara!"tegas Karina.
Satya dan Riska mengangguk pelan setelah diam sejenak. Terlihat raut wajah mereka berubah pucat, tangan yang saling tergenggam itu pun berkeringat dingin. Hati keduanya cemas, mereka dalam masalah.
Yang lain selain Enji, Darwis, Joya, dan Karina tentunya saling melempar pandang bingung. Tapi kebingungan itu mereka tahan saat pengantin baru berjalan ke arah mereka. Bergandengan tangan dengan wajah bahagia. Diikuti oleh Osman dan Rayan yang sudah terlihat tenang mengambil tempat duduk.
"Kita berangkat ke bandara," ucap Karina.
"Sekarang?" Aleza merasa terlalu cepat.
"Baiklah." Emir menyetujui.
"Leza kita sudah membahasnya, maafkan aku karena harus pergi secepat ini," ujar Emir.
"Baiklah. Aku mengerti." Senyum Aleza terbit.
*
*
*
Iring-iringan mobil menarik perhatian pengguna jalan lain. Jajaran mobil sport melaju dengan kecepatan sedang seakan sedang parade mobil sport. Beberapa ada yang mengabadikannya, sebagian lagi berdecak kagum.
Di bandara sudah menunggu Sasha dan Aldric yang bersandar pada bumper depan mobil. Keduanya langsung berdiri tegak kala iring-iringan mobil tiba. Yang pertama keluar adalah Osman dan Rayan. Rayan memalingkan wajahnya saat melihat tangan Sasha dan Aldric yang bergandengan. Hatinya berdenyut sakit.
"Paman aku masuk lebih dulu." Rayan langsung melangkah naik ke pesawat, tidak menyapa Aldric ataupun Sasha. Aldric dan Sasha tersenyum simpul. Patah hati memang sakit. Rayan tak sanggup melihat kebersamaan itu.
"Kasihan," gumam Osman.
"Hei Emir jangan lupa bayar bahan bakarnya!"tegur Karina.
Emir yang baru keluar berdehem.
"Akan ku transfer biayanya," sahut Emir.
"Bagus!"
Arion tersenyum simpul.
"Sasha!"
"Leza!"
Keduanya berpelukan, pelukan perpisahan. Tangis terdengar, Emir memberi waktu untuk keduanya.
"Emir aku harap kau menepati semua janjimu! Jaga dan cintai Aleza dengan sepenuh hatimu. Satu saran dariku, jangan pernah ungkit masa lalu!"tegas Karina.
"Seperti keinginanmu, Kakak." Emir mengangguk.
"Nona."
"Leza aku doakan kau bahagia selalu. Jadilah istri yang baik," ucap Karina.
"Baik, Nona." Aleza dan Karina berpelukan.
Setelah mengucapkan perpisahan pada semua yang mengantar, Emir dan Aleza naik ke pesawat. Osman masih belum naik, berbicara sejenak dengan Karina.
"Perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku harap Rayan bisa menerimanya," ucap Karina.
"Sebuah pukulan keras baginya karena ditolak. Tapi aku juga tidak bisa memaksa wanita itu. Aku juga tidak bisa menyalahkan Aldric," ucap Osman.
"Aldric, semoga kau bahagia." Harapan yang tulus dari Osman. Aldric mengangguk.
"Terima kasih atas doa Anda, Tuan."
"Baiklah. Kami harus pulang. Sampai jumpa lagi. Assalamualaikum." Osman mengangkat kedua tangannya ke atas, melambaikan perpisahan.
"Waalaikumsalam, semoga selamat sampai tujuan!"
Osman mengangguk dan segera naik.
"Leza aku menunggu kabar menjadi seorang bibi!"teriak Sasha. Aleza dan Emir yang masih menunggu di depan pintu tentu saja langsung tersipu, keduanya hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
__ADS_1
Pesawat lepas landas, meninggalkan kota S saat waktu hampir menjelang magrib. Karina dan keluarga juga meninggalkan bandara kembali ke hotel untuk menjemput anak-anak.