Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 225


__ADS_3

Sekitar pukul 22.00, Arion melangkahkan kakinya memasuki kamar setelah selesai dari ruang kerjanya. Di kamar, Arion menemukan Karina belum tidur dan masih berkutat dengan laptop di atas ranjang. 


Arion tersenyum melihat wajah serius Karina, kacamata untuk menghalang pancaran sinar laptop yang dapat merusak mata yang Karina gunakan menambah keseriusannya. Arion berdehem, membuat Karina menoleh sesaat dan memberikan senyum manisnya. Dan kembali pada layar laptop.


Arion lantas duduk di samping Karina, tangannya menggapai bantal dan ia letakkan dalam pangkuannya.


"Belum selesai juga mengenai anak itu?" tanya Arion, mendekatkan wajahnya ke pipi Karina dan menciumnya sekilas. Karina bergumam.


"Siapa namanya?" tanya Arion lagi.


"Syaka," jawab singkat Karina.


"Syaka?" beo Arion. 


"Ngomong-ngomong, bagaimana caramu membelinya? Langsung pada orang tuanya lagi?" Karina menghentikan kegiatannya lalu melepas kacamata seraya menghela nafas.


Ia lalu menatap Arion dengan tatapan datarnya. Arion menaikkan satu alisnya.


"Bukan membeli, tapi menukar. Uang yang aku berikan dulu, adalah untuk menghidupi anak itu. Entah mengapa, terlintas saja di otakku untuk melakukan itu." Karina menatap dalam Arion. 


"Anak itu jarang bersama orang tuanya karena pekerjaan orang tuanya adalah pembunuh bayaran. Anak itu selalu dititipkan, dan dirahasiakan, agar tidak celaka kerena pekerjaan mereka. Hidup tanpa kasih sayang yang cukup itu, sangat tidak menyenangkan. Oleh karena itu, aku mengampuni nyawa mereka dan memberi mereka harapan keluar dari jalan pembunuh, menjadi orang tua yang baik bagi Syaka. Sayangnya, belum sampai waktunya, mereka sudah tewas. Tapi, tewasnya juga sedikit mencurigakan. Kecelakaan? Sepertinya tidak semudah itu."


Karina mengerutkan keningnya memikirkan tentang kematian orang tua Syaka. Karina lantas melihat jam tangannya dan mengirim pesan ke markas kepada informannya untuk menyelidiki mengenai kecelakaan yang menimpa orang tua Syaka.


"Hei, kau ini, aneh. Kau memberinya kebahagian, namun kau memberi mereka jangka waktu, kau buat mereka senang selama beberapa waktu, lalu kau kembali merenggutnya? Ckck."


Arion tidak mengerti pola pikir Karina. Suka, lakukan. Tidak, tinggalkan atau hancurkan. 


Karina hanya tersenyum sebagai jawaban. Arion mendengus lalu meminta Karina untuk menceritakannya secara rinci. Karina yang merasa matanya masih ada sinaran, menyetujuinya.


*


*


*


Flashback, 5 tahun lalu. 


Malam ini adalah malam pergantian tahun. Orang-orang berkumpul di alun-alun kota atau lapangan menyaksikan kemeriahan pergantian tahun itu. Hitungan mundur dari angka 10 sampai 1 begitu serentak diserukan dengan gembira.


Kembang api pun dinyalakan menghiasi langit malam. Warna-warni serta aneka bentuk kembang api begitu meriah. Suara terompet saling bersahutan. Banyak juga yang bersua foto mengabadikan malam tahun baru. Suasana begitu hangat dan ceria.


Saat seluruh dunia merayakan tahun baru, seorang gadis berusia sekitar 19 tahunan malah menatap datar itu dari puncak gunung yang menghadap ke kota S. Wajahnya yang datar dengan sebotol minuman beralkohol berada di tangan. Netranya mengikuti perubahan pada kembang api yang menerangi kota.


"Cantik, namun hanya sesaat," gumamnya dingin, menenggak minumannya lalu menyeka bibirnya.

__ADS_1


Gadis itu lalu mengambil sesuatu dan melemparkannya ke belakang. Samar, terdengar suara pekikan tertahan. Gadis itu mendengus dan kembali melihat pemandangan kota. Cahaya bulan, kini menerangi tempatnya berada. 


"Mau malam sepenting dan seindah apapun itu, tidak ada yang lebih indah daripada malam yang ku nanti! Malam pembalasan! Karena kalian, aku setiap tahun, hanya bisa melihat sinarnya, namun tidak kehangatannya." 


"Di sana penuh kehangatan, sedangkan di sini, aku kesepian, tanpa kasih sayang orang tua, mereka … merebut semuanya dariku! Masa kecilku yang berharga, masa remajaku yang gemilang, mereka … mereka membuatku mengambil jalan dunia bawah."


Gadis itu menunjukkan wajah geram dan emosinya. Tangannya menggenggam erat botol yang ia pegang, sangking kuatnya, botol itu retak dan hancur. Isi dan kacanya membentur bumi, airnya segera masuk ke dalam bumi. Menyisakan seruas luka pada telapak tangan gadis itu. Gadis itu, tatapan matanya tajam. Ia pandangi darah yang keluar dari telapak tangan kanannya dan menarik senyum tipis.


"Ouh tidak! Sayang sekali darahku yang berharga jatuh sia-sia ke bumi!" seru Gadis itu, segera membuka dasi yang ia gunakan lalu membalut lukanya sendiri. 


Setelah selesai, Gadis itu menajamkan telinga dan memejamkan matanya. Tak lama, ia menarik seringai. Cahaya bulan, ditambah cahaya lampu petromax yang ia bawa, membawa kesal menyeramkan pada Gadis itu.


"Gelap, hanya suasana, bukan penglihatan. Keluarlah. Aku tahu kalian sudah mengincarku selama beberapa hari ini. Mari bertarung, aku ingin melampiaskan kesedihan ini pada Kalian!" tegas Karina. Berdiri dan mengedarkan pandangannya ke arah gelapnya pepohonan. Suara gemirisik membuat Gadis itu waspada dan mengambil senjata rahasianya.


Tak lama, terdengar suara kekehan dan tawa. Dua orang, namun berbeda kelamin. Keluar dari semak belukar dan berjalan mendekati Gadis itu. Langkah mereka terhenti kurang lebih dua meter dari tempat Karina berdiri. Karina menunjukkan wajah datar tanpa ekspresinya.


"Memang pantas kau menjadi Ketua Pedang Biru. Instingmu sangat tajam!" ucap salut pria yang memegang sebuah pistol di tangannya.


"Karena kau sudah tahu, maka kami akan segera mengakhiri hidupmu, Nona!" lanjut wanita yang berada di samping pria itu. Keduanya sama-sama mengenakan masker.


"Siapa yang menyuruh kalian? Pembunuh bayaran?" Gadis menyimpan senjatanya dan menyilangkan kedua tangannya di dada.


Kedua orang itu saling pandang.


"Rahasia!" jawab mereka serentak. Mereka sedikit heran dengan Gadis yang hendak mereka bunuh itu. Santai, seolah maut bukan ancaman baginya. Gadis itu, kini malah kembali duduk dan melihat langit yang menyisakan bias kembang api.


Mereka hendak menarik pelatuk untuk menembak Gadis itu. Namun, Gadis itu mengangkat satu tangannya dan menoleh ke arah mereka.


"Sekalipun, kalian menembakku. Aku tidak akan mati! Aku tidak akan mati sebelum dendamku terbalas! Kalian bisa menembakkan semua peluru ke tubuhku, membuat nyawaku melayang, akan tetapi. Sekalipun aku mati, aku akan tetap membalas dendam, pada kalian, keluarga kalian dan para baji*gan itu!" ujarnya penuh penekanan dan di akhiri dengan seringai.


"Dari pada kamu mengoceh, lebih baik panggil bantuanmu saja."


Wanita itu melepaskan satu tembakan, namun dengan mudahnya Gadis itu menghindar. 


"Pergi, atau kalian yang mati!" Gadis itu berkata dingin. Aura membunuh Gadis itu keluarkan, hawa tak bersahabat, membuat kedua orang pembunuh itu merasa takut. 


Mereka melangkah mundur, saat Gadis itu berjalan ke arah mereka. Sekarang, mereka tak ubahkan rusa yang terdesak oleh singa. Mata Gadis itu berkilat, dengan tatapan membunuh, mampu membunuh hati mereka yang ketakutan. Selama, bertugas, baru kali ini mereka merasakan hal seperti ini.


Bruk!


Tiba-tiba saja, tubuh mereka ambruk dan membentur tanah. Tubuh mereka rasanya lemah tidak bertenaga. Senjata di tangan, tergeletak tanpa tuan dan Gadis itu mengambilnya. Satu ia simpan, satu lagi ia mainkan dengan tangan kirinya yang tidak terluka. 


"Kalian sudah ku beri kesempatan, namun kalian membuangnya!" Gadis itu mencibir dan mengarahkan moncong pistol ke arah kepala sang wanita. 


Keringat dingin dan rasa takut menjalar sekujur tubuh.

__ADS_1


"Jangan! Jangan bunuh kami! Kami akan melepaskanmu, kamu benar. Seharusnya kami berada bersama keluarga kami, bersama putra kami, bukannya hendak membunuhmu. Kami mohon, beri kami kesempatan!" Wanita itu menangis, sang pria yang melihat itu, ikut menangis juga.


"Oh, kalian punya anak? Kasihan sekali anak itu. Punya orang tua, namun tidak bisa bersama. Ternyata ada yang lebih menyedihkan dariku. Ckck, kalian ini sungguh tidak pantas dianggap orang tua!" kecam Gadis itu.


"Jangan mengatakan hal itu! Kami menyayanginya! Kami mencintainya! Kami ini menghabiskan waktu bersamanya. Sayang, jerat dunia bawah dan pekerjaan kami tidak mengizinkan kami melakukannya. Kami selalu menutupi identitasnya, agar tidak diketahui oleh para musuh kami!" bentak pria itu, dengan mata memerahnya menatap Gadis itu. Gadis itu mengalihkan tatapannya pada pria itu. Gadis itu mendengus, bukankah dia musuh dari mereka, mengapa malah membuka rahasia? Ataukah? Gadis itu paham. Nyawa mereka kini berada di tangannya. Dia yang pegang kendali.


"Kau tahu apa yang bisa membunuh tanpa diketahui, bahkan tidak perlu meninggalkan rasa sakit. Tidak berwarna, tidak berbau dan bisa dicampur dengan apa saja. Di dalam tubuh kalian sudah terdapat itu, dan dalam hitungan tiga puluh menit kemudian, selamat, kalian tinggal nama!"


Gadis itu tertawa seraya menggelengkan kepalanya melihat wajah bingung, pucat dan tidak percaya pada dua orang itu, keduanya berusaha untuk duduk dengan kondisi badan yang lemah.


"Racun? Kau meracunin kami? Jadi, yang sesuatu yang menusuk kami tadi adalah, racun?" Mata pria itu membulat. 


"Nona, mohon selamatkan kami. Kami berjanji akan mengabdi padamu sebagai balasannya. Jangan ambil nyawa kami. Kami ingin bersama putra kami!" pinta wanita itu.


Tangannya bergerak mengambil sesuatu, lalu melemparkannya tepat di mata Gadis itu. Gadis itu menutup matanya, merasakan pedih dengan bubuk yang dilemparkan wanita itu.


"Sialan!" umpatnya geram. Saat bubuk menghilang, pria dan wanita itu sudah hilang. Gadis itu yang tak lain adalah Karina, tersenyum sinis. Ia mengalihkan tatapannya sesaat ke langit lalu membuang senjata di tangan. Karina lalu mengambil lampu petromaxnya dan berjalan menuruni gunung menuju mobilnya yang terparkir di bawahnya.


"Kita akan bertemu lagi," gumam Karina datar. Benar saja, baru saja ia setengah perjalanan, ia mendengar suara teriakan dan ringisan kesakitan. Karina mendekati asal suara. 


"Lima belas menit lagi!" Karina melihat dua orang itu memejamkan mata menahan rasa sakit.


"Sialan!" umpat pria itu.


"Tak ada artinya kalian mengumpat!" sahut Karina.


"Racun apa ini? Akh!" Wanita itu mengerang, memukul dadanya yang sakit.


"Racun? Aku menamakannya Racun kemuning. Saat masuk ke tubuh kalian, rasa panas dan sakit akan menerpa kalian. Jantung kalian dan organ kalian serasa diremas, dan sakitnya, kalian yang rasakan sendiri!" sahut Karina santai.


"Adakah? Adakah penawarnya? Kami bersedia menukarnya dengan apapun!" teriak frustasi pria itu, benar apa yang dikatakan Karina, semuanya sakit. Panas!


"Dengan apa? Pengabdian kalian? Kalian berani menipuku, namun, jika dengan anak kalian, akan ku pertimbangkan!" Karina menatap remeh kedua orang itu.


"Baik! Kami akan melakukannya!" jawab cepat pria itu tanpa menatap sang wanita. Wanita itu membulatkan matanya tidak percaya.


"Apa-apa kau hah!? Kau mau mengorbankan anakku? Kurang ajar kau!" pekik wanita itu emosi.


"Lantas kau mau apa? Mati?!" balas pria itu tidak kalah emosi.


"Hei!" Karina jengah. Tatapan keduanya terarah pada Karina.


"Aku mau anak kalian, saat usianya menginjak 20 tahun, kalian harus mengantarkannya padaku. Selama itu, kalian berhak menghabiskan waktu bersama, mencurahkan kasih dan sayang kalian padanya. Baik itu anak perempuan atau laki-laki sama saja bagiku. Kalian juga akan aku keluarkan dari dunia bawah dan menjalani hidup seperti orang biasa. Masalah biaya, akan aku tanggung setiap bulannya. Bagaimana? Pilihan ada pada kalian. Hidup atau mati, kalian yang tentukan. Waktunya tidak banyak, hanya 8 menit lagi!"


Keduanya tampak saling pandang dan saling berdiskusi. Pada ujungnya, mereka setuju dan Karina memberikan obat penawarnya saat di menit terakhir. Mereka lantas dibawa ke markas dan melakukan perjanjian cap darah. Karina memberikan mereka topeng perubah wajah, dan mengantarnya ke kediaman mereka, sedangkan para bawahan yang mendapat perintah, bergerak menyerang pelaku di balik layar yang memerintahkan mereka.

__ADS_1


Setibanya di kediaman pria dan wanita itu, terlihat anak lelaki menghampiri mereka. Ketiganya saling berpelukan dan melepas rindu. Karina menanyakan namanya.


"Ingatlah! Jangan macam-macam denganku. Aku selalu mengawasi kalian. Pergilah ke tempat yang aman, sampai jumpa lagi!"


__ADS_2