Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 265


__ADS_3

Amri agaknya mulai paham alur masalahnya dan menyerahkan kertas pada Arion. Arion menerima dengan sedikit bingung lalu membacanya. Perlu kejelian dan latihan khusus untuk membaca tulisan itu. Tulisan Amri mirip tulisan dokter, yang bisa dibaca oleh apoteker.


"Tapi Pa, perusahaan sudah rugi dengan pembatalan kerja sama ini, harus kan kita berhentilah proses pembangunannya? Sudah separuh jalan Pa, terlebih material yang tertunda kemarin sudah tiba, harga saham kita juga belum terkendali," protes Arion setelah membaca dan memahami tulisan Amri. 


"Biarkan saja. Masalah saham akan terkendali sendiri setelah intinya selesai. Kita tidak memohon, mereka yang akan memohon. Ingat Ar, Papa lebih dulu bermain dengan bisnis. Perusahan ini Papa bangun bersama Mamamu dengan keringat dan darah. Sudah banyak hambatan yang kami lewati, masalah begini memang sudah lama tidak muncul, semua ada jalan keluarnya. Biarlah kita rugi pada proyek kali ini, tapi melihat peluang dan banyaknya proyek tahun depan, kerugian ini tidak sebanding. Berharganya uang lebih berharga lagi harga diri. Sekarang kita rencanakan serangan balik. Zi, kamu tahu tugasmu bukan? Ar, selesaikan urusanmu dengannya. Jika mau membunuhnya, ingat tanpa jejak. Biarkan dia merasa menang untuk sesaat," ujar Amri memberi arahan. 


Pria tua itu tidak akan membiarkan jerih payahnya rusak karena hal sepele. 


"Lalu kita patahkan dia untuk selamanya!" sambung Arion dan Enji bersamaan dengan senyum smirk mereka. Ketiga pria itu lantas tertawa lepas. 


"Lakukan sesuai tugas kalian, Papa akan urus perusahaan yang mau membatalkan kerja sama dengan kita sekaligus mengadakan konferensi pers. Kalian undang para wartawan itu, sebagian lagi tangkap pekerja kurang ajar itu!" tegas Amri pada Arion, Enji dan bawahannya yang berada di dekat mereka. Serentak semua mengangguk. 


Arion menyambar kunci mobilnya lalu keluar ruangan. Enji kembali berselancar ria di laptopnya. Amri membuka berkas lalu membacanya sebentar. Pria tua itu memastikan semua sudah berada dalam jangkauannya.


"Rian, kamu urus masalah saham!" perintah Amri pada asistennya. Rian mengangguk dan segera ke ruang pemantauan harga saham.


"Aku penasaran cara kakakmu menyelesaian masalah perusahaan. Nzi apakah kakakmu itu langsung turun tangan atau bawahannya yang turun?" tanya Amri. Enji yang sedang fokus melirik sekilas.


"Ini bukan waktunya gosip, Pa!" jawab Enji. Amri berdecak lidah. Dia kan penasaran dengan cara kerja Karina, tapi memang semua keluarga Sanjaya dingin dan cuek mau dikata apa?


 Orang anak seusia Bayu saja sudah tahu cara dingin dan menjaga jarak dari yang namanya perempuan, kecuali Karina dan Maria. Aih, mengingat Bayu, Amri teringat pertemuannya dengan seseorang kemarin. Amri menatap Enji sejenak lalu meraih jasnya dan keluar ruangan. 


*


*


*


Di sebuah ruangan, lebih tepatnya kamar, seorang pria yang duduk di kursi roda tampak tersenyum puas. Ia menatap penuh kemenangan ke arah laptopnya. Mengamati diagram yang terus bergerak turun dan berhenti pada titik yang dikatakan rendah. Tawa pun ia gemakan. 


"Kau terlalu meremehkanku Tuan Muda Arion! Biarpun aku baru di dunia bisnis, tapi aku ahli di bidang komputer dan komunikasi. Hahaha … bagaimana tidak ahli? Aku kan dosen di bidang itu. Bagaimana rasanya dilanda kebingungan Tuan Muda? Andai saja aku bisa melihat wajah panik dan gerammu pasti aku akan tertawa terpingkal-pingkal," ucapnya dengan nada bangga. 


Pria itu lantas memutar kursi rodanya menuju rak yang berada di dekat pintu kamar. Diambilnya sebotol bir lalu menenggaknya langsung.


"Saat kamu bangkrut, aku akan mendapatkan cintaku kembali!" desisnya dingin.


 Pria itu lantas kembali lagi melihat laptopnya. Botol yang berada di tangan tiba-tiba saja ia jatuhkan dengan wajah terbelalak kaget. Diraihnya mouse dan digerakkan untuk memeriksa. 


Wajahnya menggelap melihat garis grafik yang turun perlahan beranjak naik. Pria itu menggebrak meja. Giginya saling bergesekan sangat emosi.


"Bagaimana? Bagaimana bisa sahamnya kembali naik? Bagaimana bisa mereka bisa menanganinya? Apa dia ikut campur? Akhg … sialan! Rencana yang ku susun mengapa bisa berantakan?" pekik Pria itu meremas kasar rambutnya.


Pria itu lantas membuka laman berita, dibacanya dengan teliti berita terbaru dari Jaya Company, sekali lagi ia memukul meja. Urat lehernya bahkan sampai menonjol sangking kesal dan emosinya. 


"Ternyata mereka memang mumpuni. Sepertinya aku salah perhitungan! Tapi tidak apa, masih ada waktu menjatuhkan Tuan Muda itu!" tekad pria itu tersenyum misterius. 


"Jika aku tidak berhasil menjatuhkannya dari bidang bisnis, akan aku jatuhkan lewat asmara. Lihatlah bagaimana carimu menangani masalah percintaan!" gumamnya dingin. Segera kembali berselancar dan masuk ke dalam dunia kerjanya.


Brak!

__ADS_1


Terdengar suara sesuatu yang dibuka secara paksa. Pria itu menoleh ke arah pintu. Matanya membulat mendapati sesorang dengan wajah penuh emosi berada di depan pintu kamarnya. Lengan pria itu mengepal menatap dirinya dengan tatapan membunuh. 


"Ternyata memang kau pelakunya. Bagaimana dengan serangan baliknya? Apakah kau terkesan Risky Aditya?" 


Pria yang berada di depan pintu itu adalah Arion, sedangkan yang duduk di kursi roda adalah Risky. Pria itu seakan belum jera dengan apa yang ia dapat. Obsesi mendapatkan Karina belum padam, malah semakin menggila. 


Risky mengira apabila Arion bangkrut maka Karina akan berpaling. Aigo, apakah Karina wanita mata hijau? Apakah dia lupa bahwa Karina lebih kaya dari Arion? Cinta buta memang membuat gila!


Risky yang awalnya kaget kini tersenyum tipis. 


"Mengesankan. Cukup membuatku kagum. Haruskah aku memberi dirimu tepuk tangan yang meriah Tuan Muda?" tanya Risky dengan nada yang menjengkelkan di telinga Arion.


 Arion maju, Risky tetap tenang padahal dalam hati disko takut. Wajah Arion sangat menyeramkan sekarang. 


"Nope! Tidak perlu! Aku hanya butuh nyawamu sebagai balasan perbuatanmu!" 


Wajah Risky seketika memucat. Bukannya mau berkecil hati, tapi kondisinya memang buruk. Tangannya saja masih sering ngilu kalau ia gunakan, kakinya belum berfungsi, bagaimana bisa melawan Arion yang segar bugar dan sedang dilanda emosi?


Risky menelan ludah kasar melihat Arion yang semakin mendekatinya, dan kini hanya berjarak satu langkah dari kursi rodanya. 


"Kau! Kau jangan berani melukaiku! Kau akan dalam bahaya jika membunuh ku!" seru Rizky dengan tergagap. Arion tersenyum smirk dan memegang kerah baju Rizky. 


"Sekalipun aku membunuhmu, tidak akan ada yang keberatan!" ejek Arion dingin. Wajah Rizky memucat, bersamaan dengan nafasnya yang mulai tersengal karena Arion mengetatkan cengkeraman pada lehernya. 


"Katakan kau mau mati dengan cara apa? Aku pasti akan senang hati melakukannya. Ah ya, mulai sekarang kau kubur saja obsesimu itu. Trik dan rencana busuk apa pun yang kau lakukan tidak akan berhasil mengacaukan rumah tanggaku dengan Karina!"


"Jangan, aku belum membahagiakan ibuku. Ku mohon jangan ambil nyawaku beliau akan sangat terpuruk!" pinta Rizky. Arion tersenyum miris meremehkan Rizky.  


"Dasar bodoh!" desis Arion. Melepas kasar cengkeraman lalu melayangkan bogem mentah ke wajah Rizky. Rizky memejamkan mata meringis sakit, sudut bibirnya berdarah. 


Bugh! Satu pukulan lagi mendarat di wajahnya. 


"Membunuhmu hanya akan mengotori tanganku. Kau ada dapat hukuman yang lebih berat dari kematian!" ucap dingin Arion lalu menelpon seseorang. Lima belas menit berlalu, dua orang berseragam polisi datang.


"Tangkap dia!" tegas Arion. Salah seorang polisi memborgol kedua tangan Rizky, lalu mendorong kursi roda Risky keluar.


"Kami permisi Tuan," ucap polisi yang berbicara sejenak dengan Arion. Arion mengangguk.Tak lupa laptop Risky juga dibawa sebagai bukti. Arion sudah menyiapkan pengacara terbaiknya untuk menuntut dan menjebloskan Rizky ke penjara dengan waktu kurungan yang lama.


Kita lihat, sampai mana kau bertahan di saja. Arion tersenyum miring kemudian berjalan keluar dari kamar dan rumah ini, kembali ke perusahaan. Arion bukannya bodoh ataupun terlalu kasihan, Arion hanya tidak tega membuat ibu dari Rizky tambah terpukul dan bersedih hati. 


Di hari yang spesial ini, Arion tidak mau membuat seorang ibu sekalipun bukan ibu kandungnya terluka. Setidaknya itu adalah hadiah hari ibu untuk Dinda. Dinda adalah ibu yang baik dan mulia, Arion heran mengapa wanita sebaik Dinda harus melahirkan anak seluar biasa Rizky dan Rifky? Lagipula ia tidak mau menurunkan harga dirinya membunuh orang cacat. 


Penjara saja sudah cukup untuk orang yang biasa bebas. Terkekang di ruangan kecil bercampur dengan tahanan lain sudah cukup menjadi hukuman untuk orang seperti Rizky. Arion hanya sedikit prihatin dengan nasib Dinda.


"Sungguh malang!" gumam Arion.


*


*

__ADS_1


*


Di saat keluarga Wijaya berkerja sama menuntaskan masalah, kediaman Alantas malah gaduh dengan ulah San dan Hamdan yang sedang memasak di dapur. Atas permintaan wanita mereka, kedua orang itu terpaksa berperang dengan alat dapur demi membuat menu yang telah ditentukan oleh Lila dan Rasti. 


"Aduh mata Papa panas nih, ingus Papa juga mau keluar. Bawang memang ahlinya membuat air mata keluar tanpa ada hal yang mengharukan," aduh Hamdan yang merem melek memotong bawang merah. Sam membenahi apronnya, ia sendiri kini tengah menghaluskan daging sapi.


"Ma, awas muntah makan masakan Papa!" teriak Sam pada Rasti yang berada di ruang tengah, sedang nonton drama bareng Lila. 


"Kalau iya Mama bakalan muntah di tubuh Papa!" sahut Rasti yang membuat Sam terkikik geli dan Hamdan yang menatap tajam anak tunggalnya itu.


"Menantu, kalau bakso buatan Sam tidak enak, semburkan saja di wajah tengiknya ini!" balas Hamdan. Sam melebarkan matanya menatap kesal Hamdan. Hamdan menaik turunkan alisnya merasa menang dari Sam.


"Kalau masakan kalian berdua tidak enak, seminggu pisah ranjang!" balas Lila dan Rasti bersamaan. Kini kedua pria itu menelan ludah takut dan serius membuat masakan mereka. Sangking seriusnya, tawa Rasti dan Lila tidak mereka tanggapi. 


"Oh Xiao Nai, wajah dinginmu sungguh memikat," pekik Lila kagum dengan pemeran utama pria dalam drama Love 020 itu.


"Cerdas, pemain game peringkat satu, jago basket, jago buat game, romantis, perhatian, terus terang, aigo idaman sekali," timpal Rasti, wanita hampir setengah abad itu memang sangat menyukai pria dengan usia matang namun wajah masih remaja.


Beda dengan pria umur tiga puluh di sini. Tapi, mau sesuka dan sekagum apapun, hatinya tetaplah pada Hamdan seorang. 


"Love 020, masuk list drama favorit!" seru keduanya serentak lalu tertawa lepas dan lalu nonton dengan cemilan yang tersaji penuh di atas meja.


*


*


*


"Kamu bisa masak Ra? Kok Mama enggak pernah tahu?" tanya Santi heran. Raina tersenyum, Calvin datang lalu merangkul Raina.


"Sebab setiap Raina masak, makanannya selalu mendarat di perut Calvin. Masakan Raina limited edition, jadi harus diborong agak tidak kehabisan. Mama sama Papa saja yang selalu telat dan sukanya di kamar melulu, mana tahu kalau Raina jago masak," jawab Calvin.


"Enggak adil dong. Mama sebagai mertua kamu punya hak buat mencoba masakan kamu. Mama minta hari ini kamu temani Mama masak makan malam, tidak ada penolakan," protes Santi mencembikkan bibirnya. 


"Gimana Ra?" tanya Calvin.


"Boleh, mau gimana lagi? Kamu sih selalu habisin makanan yang aku buat untuk Mama dan Papa. Giliran protes aku yang kena, huh," jawab Raina mencubit pinggang Calvin. Calvin meringis dengan tetap tersenyum.


"Yeah! Kalau begitu Mama ganti baju dulu." Santi langsung naik menuju kamarnya.


"Ribet deh Mama. Mau masak saja pakai acara ganti baju. Memangnya salah masak pakai baju pesta?" tanya Calvin heran. Raina mengangkat kedua bahunya.


"Takut bau asem kali," jawab Raina melepas rangkulan Calvin dan beranjak menuju dapur. Calvin mengekor dan membantu Raina memakai apron sampai topi ala chef. Keduanya bercanda lepas di dapur, baru terhenti saat Santi datang memakai pakaian rumahan. Calvin beranjak menuju ruang kerjanya meninggalkan Raina dan Santi berdua di dapur. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2