Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 167


__ADS_3

"Apa?!" teriak Joya terkejut.


"Benar Nyonya, pelayan kediaman rumah orang tua Anda, menemukan mayat Tuan Reza dan seorang wanita di lantai," jelas orang di seberang telepon.


"Wanita?" tanya Joya.


"Benar Nyonya, saat ini pihak kami sedang melakukan otopsi pada jenazah keduanya serta beberapa pelayan yang ikut tewas," jawabnya.


Joya langsung mematikan panggilan dan berlari keluar dari kamar, mencari Darwis yang entah di sudut rumah mana ia sekarang. Hati Joya kalut, sedih. Baru beberapa hari ia pergi meninggalkan rumah masa kecilnya, kabar kematian Ayahnya malah menyapa dirinya. Tapi ia tak boleh gegabah. Ia harus tenang.


"Darwis!" teriak Joya ketika di ruang tamu. Joya mengedarkan pandangannya mencari Darwis. Joya berteriak lagi dan lagi. Hingga akhirnya Darwis muncul dari ruang kerjanya.


"Ya," sahut Darwis menuruni tangga. Joya segera menunggu di anak tangga terakhir.


"Darwis ayo kembali ke negara Y, Papa … Papa dia," Joya memegang kerah baju Darwis. Air mata tak sanggup lagi ia tahan.


"Papa? Papa kenapa Ya?" tanya Darwis bingung, berusaha menenangkan Joya dengan memeluknya.


"Papa Wis, Papa ditemukan meninggal di kamarnya, ayo kembali," jawab Joya terisak di pelukan Darwis. Darwis tertegun. Pikirannya langsung tertuju pada Karina. Siapa lagi yang bisa melakukan itu kalau bukan Queen-nya itu?


Tapi Darwis tak menyangka secepat ini. Darwis segera menghubungi pilot pesawat mereka agar bersiap untuk terbang.


"Baiklah, ayo bersiap. Kita kembali ke sana," ucap Darwis, melepas pelukannya dan memeluk pinggang Joya. Darwis mendudukan Joya di sofa. Ia memanggil pelayan dan meminta air untuk diminum Joya.


"Minumlah dulu. Ayo akan mengemas barang sejenak," ujar Darwis, mendekatkan bibir gelas ke bibir Joya. Joya patuh dan meminumnya. Setelah itu, Darwis bergegas menuju kamar dan mengambil apa yang perlu saja. Tak sampai sepuluh menit ia telah kembali lagi dengan tas di punggungnya.


"Ayo," ajak Darwis. Dengan langkah cepat keduanya menuju mobil. 


***


"Ian, gue izin cuti dulu ya, gue mau balik ke negara Y, mertua gue meninggal," ujar Darwis pada Rian melalui telepon saat di perjalanan menuju bandara.


"Innalillahi wainnaillahi rojiun, semoga khusnul khotimah. Gue turut berduka untuk itu. Ya sudah tak apa. Biar kami yang mengerjakan tugasmu. Tapi ingat jangan ketagihan kau nanti," ucap Rian.


"Thanks Bro," ucap Darwis.


"You are welcome. Hati-hati di jalan dan gue sama Satya titip salam salam istri loe, semoga dia tabah dan ikhlas dengan itu," jawab Rian. Darwis tersenyum dan segera mengakhiri panggilan. Darwis merangkul Joya yang pandangannya menatap datar ke depan. 


Mengapa kau pergi secepat ini Pa? Tidakkah kau ingin melihat cucumu nanti? Tapi siapa yang melakukan hal itu? Jika ini adalah pembunuhan, maka aku akan membalas perbuatan pembunuh itu. Joya membatin dengan tatapan mata tajam ke depan. 


***

__ADS_1


Berita tentang kematian Reza telah tersebar ke seluruh penjuru kota C. Orang-orang tentu saja terkejut dengan hal itu. Terlebih lagi orang-orang yang tahu siapa Reza itu, aneh sekali rasanya dia meninggal karena terbunuh.


Banyak asumsi tentang kejadian tersebut. Masyarakat lain mengira itu kemungkinan kasus perampokan. Sebab ditemukan semua penjaga serta pelayan tewas. 


Namun, pihak kepolisian yang menangani kasus itu diam tak memberi keterangan apapun terhadap publik. Hanya mengatakan masih dalam penyelidikan, dan belum tahu apa motifnya.


Nyatanya pihak kepolisian menduga itu adalah balas dendam. Terlebih dengan semua bukti tertulis yang ditemukan di sebelah mayat Reza. Ada banyak informasi rahasia dalam peristiwa ini. Ini juga membongkar kejadian pembunuhan satu dekade lebih yang lalu.


Pukul 19.00, Joya dan Darwis tiba di Tirta Hospital. Dengan segera keduanya melangkah menuju ruang jenazah setelah bertanya pada resepsionis.


"Bagaimana hasilnya Pak?" tanya Joya pada polisi yang Joya yakini adalah pimpinan untuk kasus ini.


"Benar dengan Nyonya Joya?" tanya Polisi tersebut ramah.


Joya mengangguk. 


"Begini Nyonya, dari hasil otopsi beliau tewas sebab kehilangan darah serta penyakit kanker paru-paru yang parah sebab tekanan fisik dan batin. Sedangkan untuk wanita yang kami temukan tewas di sampingnya karena luka tembak di punggung," jelasnya.


"Kanker paru-paru? Anda katakan bahwa Papa saya menderita itu? Akan tetapi saya tak pernah tahu Papa sakit. Dan untuk wanita itu, siapa dia?" Joya tak menyangka. Tapi hasil otupsi tidak mungkin diragukan hasilnya.


"Mengenai Anda tahu atau tidak tentang penyakit Papa Anda bukan masalah saya, kami di sini untuk mengupas kasus ini. Dan wanita itu, kami pun tak menyangka. Beliau adalah ibu Anda sendiri. Jadi boleh kita ke kantor untuk meminta pernyataan Anda serta menjawab pertanyaan kami?" tanya Polisi itu.


"Tenangkan dirimu, Sweetheart," pinta Darwis.


"Bagaimana aku bisa tenang Darwis? Kedua orang tuaku tewas bersamaan?" tanya Joya lirik.


"Padahal baru tiga hari yang lalu aku bertemu dengannya," lanjut Joya.


"Apakah kami bisa melihat jenazah keduanya?" tanya Darwis pada polisi tersebut.


"Tentu, kami tidak ada alasan untuk melarangnya," jawabnya. 


Darwis dan Joya berdiri, dengan langkah seakan penuh tekanan keduanya memasuki ruang jenazah. Petugas segera menuntun keduanya ke arah jenazah Reza dan Elsa. 


Joya dengan tangan gemetar membuka kain yang menutupi wajah Reza. Wajah pucat dengan bibir terkatup rapat, suhu tubuh yang dingin serta nafas yang telah menghilang. Joya sontak langsung memeluk tubuh Reza yang terbujur kaku dan menangis histeris. Bisa dibayangkan bagaimana sedihnya kehilangan sosok seorang Ayah? 


"Pa, kenapa Papa pergi tinggalin Joya untuk selamanya?" tanya Joya.


Darwis mengelus punggung Joya. Joya masih menangis tak bergeming. Setelah puas memumpahkan kesedihannya di tubuh Reza, Joya berpaling menuju Elsa. Wajah sendu yang selalu ia rindukan pergi untuk selamanya.


"Mama lagi. Kenapa Mama datang kalau cuma tiga hari kita bersama? Mengapa Mama memberi bahagia lalu Mama pergi meninggalkan kesedihan? Mengapa harus ada perpisahan dalam pertemuan? Mengapa?!" teriak Joya kesal pada mamanya.

__ADS_1


Bruk!


Joya pingsan setelahnya. Darwis sontak langsung menggendong Joya dan membawanya untuk mendapat perawatan. Darwis sangat khawatir pada kondisi Joya dan juga calon anaknya.


"Beliau tak apa, hanya kelelahan dan kehilangan kendali atas luapan emosi yang ia rasakan. Saya telah memberinya penenang, kemungkinan esok pagi baru siuman. Saya harap Anda dapat lebih membuatnya tenang jika ia sudah sadar. Kondisi ini jika berkelanjutan dapat membahayakan kondisi janin yang sedang ia kandung," jelas dokter yang menangani Joya. Darwis mengangguk. Dokter keluar dari ruang rawat Joya. 


Darwis menghela nafas panjang. Kemudian bangkit dan berniat menemui pihak kepolisian.


"Sebenarnya apa titik terang kejadian ini? Oh ya di mana pelayan yang pertama kali menemukan mayat kedua mertua saya?" tanya Darwis datar pada polisi tadi.


"Sebelumnya mohon maaf Tuan, kami belum bisa menarik kesimpulan atas semua bukti sebab kasus ini sangatlah unik menurut kami. Oleh sebab itu kami tutup mulut tak terbuka kepada publik. Saya tak mau kasus ini menjadi meleber kemana-mana jika publik mengetahui lebih jauh lagi," terangnya.


"Dan untuk pelayan tersebut, dia berada di kantor dalam pengawasan kami," tambahnya.


***


Pelayan yang pertama kali menemukan mayat dan kejadian di kediaman Argantara bernama Inah. Inah Senin siang tadi barulah kembali dari kampung halamannya setelah cuti 3 hari sebab anak bungsunya sakit.


Ia curiga dengan awal tiba di gerbang kediaman tempatnya bekerja. Sepi, biasanya penjaga ramai ngopi di pos. Dengan was-was ia mencoba membuka gerbang. Tidak dikunci. Inah segera masuk.


Pamandangan horor terlihat jelas di matanya. Mayat para penjaga yang disusun rapi di ruang tamu, serta beberapa kepala manusia di atas meja. Inah sontak saja langsung menutup pandangannya dengan telapak tangannya. 


Hatinya berdebar sekaligus takut dan sedih. Teman seperkerjaannya tewas dengan kondisi mengenaskan. Pikiran Inah langsung tertuju pada Tuannya. Dengan segera ia menuju kamar Tuannya dan menemukan Tuannya dan seorang wanita tewas.


 Di sebelah Tuannya ada setumpuk kertas putih. Inah segera lari dan menghubungi polisi. Tak butuh waktu lama, polisi tiba dan menangani semuanya. Membawa mayat para korban dan membawa bukti serta dirinya untuk diperiksa. Sedang sebagian lagi melakukan olah tkp.


Itulah penjelasan dari Inah saat ditanyai oleh Darwis di ruang introgasi khusus kantor polisi. Setelah mengerti alurnya, Darwis mengajak polisi yang bersamanya keluar.


"Bukti tertulis itu membawa kami pada kejadian pembunuhan keluarga David Sanjaya. Fakta yang kami dapat dan kebenaran yang telah kami uji dari bukti tertulis itu menyatakan bahwa Reza Argantara adalah Reza Sanjaya, adik kandung sekaligus pelaku utama pembunuhan dari David Sanjaya. Kemudian mengenai wanita itu. Lebih menarik lagi. Dari data kependudukan ia sudah terdaftar dalam catatan kematian 14 tahun silam, tetapi sekarang malah ditemukan tewas di kamar Tuan Reza," tutur polisi yang bersama Darwis. Darwis hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis.


 "Jadi apa Anda sudah menarik kesimpulannya?" tanya Darwis setelah diam beberapa saat.


"Ini adalah kasus balas dendam. Dan kami mencurigai Nyonya Elsa sebagai pelakunya. Mengapa? Karena motif sakit hati atas perlakuan Tuan Reza terhadapnya. Jujur, saya sendiri saya geram melihat bukti kertas yang berisi hal itu. Terlebih di sana ada pistol yang tergeletak di lantai serta sidik jarinya menandakan itu adalah milik Nyonya Elsa," jawabnya.


"Apa Anda percaya begitu saja dengan bukti tertulis itu?" tanya Darwis lagi.


"Tentu saja, tidak! Kami menyelidikinya lebih dulu. Dengan bantuan dari informan Pedang Biru yang bekerja sama dengan kami, kebenaran bukti ini dapat dipastikan. Tak ada keraguan di dalamnya. Semuanya lugas dan masuk akal," ucapnya.


Darwis kembali tersenyum. Ia pamit pada polisi itu dan segera memasuki mobil, kembali ke rumah sakit.


Nyatanya Karina menyuruh anggotanya mengurus jejaknya. Menghapus sidik jarinya pada apa yang ia sentuh dan melempar semua tuduhan pada Elsa. Untuk ukiran nama Sanjaya yang ia buat, itu hanya akan diketahui sebagai arti penyesalan Reza akibat perbuatannya dulu terhadap keluarganya sendiri. Atau bisa saja, atas dasar rasa dendam Elsa. 

__ADS_1


__ADS_2