
Pukul 14.00, Arion tiba di parkiran khusus CEO KS Tirta Group. Dengan segera ia melangkahkan kaki menuju lift dan naik ke lantai dimana ruangan istrinya berada.
Di ruangannya, Karina telah menyiapkan pekerjaannya. Karina melepas kacamatanya dan menyatukan kedua telapak tangannya lalu ia renggangkan.
"Sayang," panggil Arion melangkahkan kakinya memasuki ruangan Karina.
"Eh? Waalaikumsalam. Sudah hadir saja kamu Ar." Karina berdiri dari kursi kepemimpinannya dan menyalami Arion. Arion tertawa canggung dan mengusap rambut Karina.
"Assalamualaikum Sayang, tentu saja aku harus tepat waktu sebab ini adalah USG pertama anak kita," ucap Arion.
"Hm, sudah yuk berangkat," ajak Karina, menyambar tas selempang di atas meja.
Arion mengangguk. Arion kemudian memegang tangan Karina dan berjalan bersamaan keluar.
"Kalau ada berkas yang perlu aku periksa, kirimkan saja ke email seperti biasa," ucap Karina pada Lila, Raina serta Sasha dan Aleza.
Keempat orang itu mengangguk.
Karina dan Arion segera menuju lift dan turun ke lantai bawah. Pak Anton dengan sigap membuka pintu untuk Karina. Arion memasuki mobilnya sendiri. Kedua mobil itu segera meninggalkan parkiran khusus menuju ke rumah sakit.
Di perjalanan, Karina membuka handphone-nya dan membuka laporan tentang perkembangan restauran yang ia bangun di negara Bangtan Boys.
"Ternyata sudah rampung seminggu lalu. Dan di jadwal minggu depan adalah peresmiannya. Huft, terbang ke sana deh," gumam Karina. Karina lantas teringat rencananya dengan Maria.
Karina mengulas senyum. Ia segera mencari kontak handphone dan menghubungi Maria.
"Assalamualaikum Sayang, ada apa? Tumben kamu hubungi Mama?" tanya Maria yang keheranan di rumahnya.
"Waalaikumsalam Ma. Gak salah kan Ma?" tanya Karina.
"Eh, jelas tidak dong Sayang. Cuma heran saja. Ada apa?"
Maria kembali menanyakan hal yang sama.
"Masalah kita yang mau memperbaiki hubungan Papa dan Kakek, Karina ada rencananya," ucap Karina.
"Benarkah? Rencana apa itu?" tanya Maria bersemangat. Di rumahnya ia melihat ke segala arah ruang tengah, memastikan suaminya tak mendengar pembicaraannya dengan Karina.
"Minggu depan kan Karina mau ke Korsel, mau meresmikan secara langsung cabang restauran baru Karina di sana. Jadi kita liburan bareng di sana. Karina akan kontak Nita setelah ini. Mama kasih tahu Papa, biar bisa ngosongkan jadwal kalau ada agendanya," tutur Karina.
"Hm, penyatuan berkedok liburan. Mama setuju, kalau begitu Mama akan bicara sama Papa."
Karina dan Maria sama-sama tersenyum di tempat masing-masing. Karina mengakhiri panggilannya.
Karina langsung menghubungi Nita. Nita yang sedang menyusui anaknya yang berjenis kelamin perempuan mencari handphonenya yang berdering.
"Di sini rupanya," gumam Nita menemukan handphone-nya di bawah selimut.
"Nona?" gumam Nita lagi, langsung mengeser ke icon hijau.
"Saya Nona," ucap Nita.
"Lakukan hal yang aku katakan. Kita mulai rencananya. Kamu sudah bisa berpergian bukan?" tanya Karina.
"Sudah Nona," jawab Nita. Karina segera memberitahu garis besar apa saja yang harus Nita lakukan. Nita mendengarkan dengan teliti sembari terus menyusui anaknya.
***
"Akhirnya selesai juga awal rencana," gumam Karina memalingkan wajahnya menatap gedung-gedung tinggi dan megah di sisi jalan. Karina lagi-lagi menarik senyum tanda kelegaan.
Dua puluh menit kemudian, ia dan Arion tiba di parkiran rumah sakit. Tentu saja rumah sakit kepunyaannya. Dengan langkah bersamaan, saling bergandengan tangan dan wajah yang berseri bahagai keduanya memasuki rumah sakit menuju ruangan dokter yang biasa memeriksa kandungan Karina.
"Semuanya baik Tuan, Nyonya. Janin Anda tumbuh dengan baik tanpa kekurangan. Akan tetapi saya sarankan Anda jangan terlalu lelah. Saya akan berikan vitamin dan asupan lainnya yang baik dan dibutuhkan oleh Anda dan janin Anda, seperti biasanya," ucap sang dokter yang berjenis kelamin wanita bernama Mira.
__ADS_1
Arion tersenyum seraya menatap Karina yang juga menatap dirinya. Tangan mereka tetap saling berpegangan.
"Alhamdullilah," ucap keduanya bersamaan.
"Em dokter Mira, kami ingin melakukan USG untuk melihat bagaimana anak kami di dalam," ujar Arion.
Dokter Mira menautkan alisnya. Biasanya walaupun disarankan berkali-kali jawabannya tetap tidak.
Tak mau membuat pasiennya kecewa atau kesal padanya dokter Mira langsung tersenyum dan mengangguk.
"Baikah Tuan, saya akan melakukan USG," jawab dokter Mira.
Dokter Mira segera melakukan USG pada Karina. Tak perlu waktu lama, bagian rahim Karina sudah tertera di layar monitor. Arion menatap lekat layar tersebut.
Benar dugaan mereka berdua. Terdapat dua janin dalam rahim Karina. Dokter Mira membulatkan matanya tak lama ia segera mengucapkan selamat pada Arion dan Karina.
"Anda mau mendengar detak jantung mereka berdua Tuan, Nyonya?" tanya dokter Mira. Karina dan Arion mengangguk. Rasa haru bahagia melingkupi keduanya.
"Subhanallah," ucap Arion yang mendengar detak jantung buah hatinya yang masih berada dalam kandungan.
"Ini kah detak jantung anak kita Sayang?" Arion bertanya pada Karina.
"Tentu Ar, memangnya detak jantung siapa lagi?" Karina bertanya heran dan menatap Arion.
"Hm," gumam Arion. Keduanya tenggelam dalam perasaan bahagianya. Setelah serangkaian ini itu, akhirnya keduanya meninggalkan ruangan dokter. Arion menunjukkan hasil USG yang diberikan dokter Mira.
"Satu sama kamu satu sama aku, okey?" Karina mengambil satu foto dan memasukkannya ke dalam tasnya. Arion mengambil dompet dan menyimpan foto itu di dalamnya.
Setelah tiba di parkiran, Karina memilih pulang bersama dengan Arion. Pak Anton jadinya membawa mobil tak berpenumpang.
Arion dan Karina sepakat memberitahu keluarga besar nanti waktu liburan. Ya Karina telah memberitahu agendanya untuk minggu depan. Kebetulan juga, Arion akan melakukan perjalanan bisnis ke Korsel. Jadinya ya bisnis sekaligus liburan.
***
"Ada yang salah denganku kah?" tanya Arion, mengamati dirinya sendiri. Karina menggeleng.
"Aku ingin sesuatu," ucap Karina. Arion membulatkan matanya, tak lama tersenyum lebar. Tangannya menggenggam kedua tangan Karina.
"Apa itu?" tanya Arion penasaran. Akhirnya hal yang ia nanti selama kehamilan Karina yaitu ngidam tiba juga.
"Aku ingin makan beton," jawab Karina enteng. Ada kelegaan di hatinya. Sebenarnya sejak tadi sore ia ingin namun ditahan. Tetapi pada akhirnya ya ia sampaikan juga.
Arion tersentak dan membelalakan matanya. Ia memejamkan matanya.
"Mau apa Sayang?" tanya Arion setelah membuka mata, memastikan pendengarannya tidak bermasalah.
"Aku mau makan beton Ar," jawab Karina jelas, padat.
"Alamak, beton?" Arion terlonjak kaget ke belakang.
"Dan harus malam ini juga!" tambah Karina.
"Tapi Sayang, apa ada toko beton malam-malam begini buka? Besok pagi saja ya, atau ganti yang lain deh," pinta Arion. Karina cemberut. Ia menatap kesal Arion.
Aduh, memang ibu hamil aneh. Mau jadi apa sih kamu Nak? Masih di kandungan saja mau makan beton, batin Arion.
Apaan sih responnya? Memangnya aneh ya aku ngidam beton? batin Karina.
"Kamu serius mau makan beton?" tanya Arion memastikan. Karina mengangguk. Arion menghela nafas. Dengan segera ia beranjak dan mencari kunci mobil.
"Aku pergi dulu ya cari beton buat kamu, Assalamualaikum," pamit Karina.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, semangat Sayang," jawab Karina, melambaikan tangannya pada Arion.
Tak berselang lama, terdengar suara mobil yang semakin lama semakin menjauh dan hilang dari pendengaran Karina. Karina kemudian mengambil remote dan menghidupkan televisi.
Eh, tapi tuh anak tahu gak beton ya? Jangan-jangan Arion ngira aku mau makan beton bangunan. Astaga! Lupa deh ngasih tahu kalau aku maunya beton biji nangka. Hubungi dulu Arion, biar jelas dan dia tahu, batin Karina meraih handphone-nya dan mencari kontak Arion.
"Assalamualaikum Sayang," ucap Karina.
"Waalaikumsalam Sayang," jawab Arion. Terdengar suara ribut kendaraan lalu lalang.
"Gimana? Sudah datang betonnya?" tanya Karina.
"Belum Yang, masih aku cari. Semua toko bangunan yang aku tahu sudah pada tutup," jawab Arion.
"Tuh kan benar dugaan aku, kamu mikirnya aku mau makan semen beton, bukan beton yang itu Ar," ujar Karina tertawa.
"Jadi?" Suara Arion terdengar sedikit kesal.
"Beton biji nangka," jawab Karina.
"Oalah, biji nangka toh," gumam Arion, tapi terdengar oleh Karina.
"Nah gini kan aku jelas apa yang mau aku cari, kamu sabar sebentar ya, paling lama dua jam aku dah balik sama beton kamu," tutur Arion.
"Maaf ya, kamu jadi repot dan bingung," ucap sesal Karina.
"Untuk kamu dan anak-anak kita, itu bukan apa," jawab Arion.
Karina tersenyum dan segera mengucapkan salam. Arion tersenyum geli atas keinginan Karina.
"Ke kediaman Wijaya ya Pak," titah Arion pada sopirnya.
"Baik Tuan," jawab sopir Arion.
***
Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menitan, mobil Arion tiba di depan gerbang kediaman Wijaya. Gerbang segera terbuka mendengar suara klakson mobil Arion. Maria dan Amri yang tengah berada di ruang keluarga menatap heran Arion yang masuk tergesa, mengucapkan salam secara singkat dan tanpa menunggu jawaban langsung menuju halaman belakang.
"Arion kenapa Pa? Sendirian juga gak sama Karina," tanya Maria. Amri menaikkan bahunya tak tahu.
Ia memilih kembali menikmati film "Iron Man" yang baru saja dimulai.
Lima belas menit kemudian, Arion kembali ke ruang keluarga dengan membawa plastik berisi nangka yang telah tua.
Maria dan Amri menatap Arion meminta jawaban. Arion tampak menghela nafas lega dan tersenyum bangga.
"Akhirnya dapat juga apa yang Karina mau," ucap Arion menatap puas nangka yang dipegangnya.
"Ooh, jadi Karina ngidam nangka ya Ar?" tanya Maria memastikan.
"Bukan nangkanya Ma, tapi bijinya, beton," jelas Arion.
"Jadi menantu kami ngidam beton nangka. Tahu dari mana kamu di rumah ada nangka matang?" tanya Amri.
"Dari ingatan Arion. Kan pohon nangka di belakang banyak, nah pasti ada satu yang matang. Untung saja Karina jelasin apa yang ia mau, kalau enggak pasti aku masih muter-muter kota nyari beton bangunan," tutur Arion.
Amri dan Maria mengut-mangut.
"Kalau gitu Ar pamit pulang ya Ma," pamit Arion.
"Ya sudah sana. Hati-hati di jalan, bilangin sama sopir kamu jangan ngebut," ujar Maria memperingati.
"Cepat sana, kasihan istri kamu, ibu ngidam itu gak sabaran loh," ujar Amri. Arion mengangguk dan segera berpamitan.
__ADS_1