
Ceklek.
Suara pintu kamar mandi terbuka. Arion yang sedang melihat suasana pagi halaman dari balkon berbalik melihatnya. Karina keluar dengan menggunakan handuk.
"Sudah cepat sana mandi," ucap Karina.
"Oke."
Arion masuk ke kamar mandi dan segera menyegarkan tubuhnya. Karina menuju walk in closet memilih pakaian untuk digunakannya. Pilihannya jatuh pada dress berwarna kuning.
Karina segera memakainya. Selesai berpakaian Karina mengambil laptopnya dan flashdisk dan menyolokkannya pada laptop. Karina melihat sekilas informasi yang tertera di file flashdisk itu.
"Argantara Company? Reza Algantara? Hmmm ... ternyata mereka merubah nama belakangnya," gumam Karina.
"Saatnya bermain," gumam Karina tak lupa senyum devil di wajahnya.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Dengan cepat Karina melepas flashdisk dari laptop dan menyimpan keduanya.
"Apa kau menyiapkan pakaianku?" tanya Arion.
"Ada," jawab Karina.
"Di mana?" tanya Arion yang tak menemukan pakaiannya di ranjang.
"Di atas meja di sampingmu," jawab Karina menunjuk meja di samping kamar mandi.
"Ah ... iya ya aku tak melihatnya," ucap Arion tertawa.
"Hmmm ...," sahut Karina datar.
Arion segera memakai pakaiannya. Selepas itu ia berjalan mendekati Karina. Arion hendak memberi ciuman lagi di kening maupun bibir Karina.
"Mau apa?" tanya Karina.
"Cium kamu. Emang gak boleh?" ujar Arion.
"Hmm ... boleh," ucap Karina.
Arion tersenyum. Ia memegang wajah Karina dengan kedua tangannya. Perlahan Arion
menundukkan wajahnya dan memajukan bibirnya mencium kening Karina. Selepas kening Arion mengarahkan bibirnya ke bibir Karina. Namun, sebelum sampai tujuan terdengar suara Bik Mirna dari luar kamar.
"Non ... sarapan sudah siap," ujar Bik Mirna.
Arion dan Karina kaget mendengar suara Bik Mirna terutama Arion yang kesal tak jadi ciuman. Karina melepaskan tangan Arion dari wajahnya.
Mengganggu saja, gerutu Arion dalam hati.
"Iya Bik. Sebentar lagi saya turun," jawab Karina.
"Iya Non," sahut bik Mirna.
"Sudah ayo turun. Bik Mirna itu orangnya susah. Sekali dipanggil gak datang maka dia akan ngamuk," ujar Karina berjalan keluar dari kamar.
"Ngamuk? Emang dia berani?" tanya Arion mengikuti Karina.
"Menurutmu?" tanya balik Karina.
"Ya gak berani. Kan kamu dingin kayak dataran es," jawab Arion.
Mendengar kata dataran es membuat Karina menatap tajam Arion. Namun, bukannya marah Karina malah tersenyum.
"Bik Mirna itu orangnya disiplin tinggi. Semuanya sudah diatur olehnya. Walaupun itu majikannya sendiri dia akan tetap marah jika majikannya tidak disiplin," terang Karina.
"Terkesan tidak sopan," komentar Arion.
"Jadi kau mau bilang aku tak sopan begitu?"
"Eh ... kok jadi kamu yang merasa?" tanya heran pada Karina.
"Ya iyalah kan aku yang membuat peraturannya," kesal Karina.
"Jadi kau yang membuatnya?" tanya Arion namun tak dijawab karena mereka sudah sampai di meja makan. Di sana sudah menunggu Maria dan Amri yang duduk manis. Di atas meja makan sudah bertengger manis sarapan pagi khas Indonesia, nasi uduk.
"Di mana Kakek?" tanya Arion yang tak menemukan kakeknya itu di meja makan.
__ADS_1
"Entahlah Ar dari tadi Papa tak melihatnya," jawab Amri.
"Apa mungkin Kakek masih tidur?" ucap Maria menduga.
Karina duduk dan memanggil Bik Mirna.
"Saya Nona," ucap bik Mirna
"Apa Bibi sudah membangunkan Kakek Bram?" tanya datar Karina.
"Sebelum memanggil Nona saya sudah membangunkan Kakek Bram namun sepertinya Kakek Bram tidak ada di kamarnya. Soalnya saya sudah memanggil dan mengetuk pintu kamar berulang kali juga tak ada jawaban. Terakhir saya mendobrak pintunya namun tetap saja Kakek Bram tak ada di dalam kamar Nona," jelas panjang lebar Bik Mirna.
Maria dan Amri tertegun mendengar Bik Mirna mendobrak kamar kakek Bram.
Apa Karina tak akan marah? batin Maria dan Amri.
Sedangkan Arion terdiam mengingat perbincangannya tadi tentang Bik Mirna.
Ngamuk ya? Serem, batin Arion menatap ngeri Bik Mirna.
"Hmm ... lalu Nita?" tanya Karina lagi.
"Nita saya tidak tahu kemana Nona."jawab Bik Mirna.
"Oke kamu boleh pergi," ucap Karina.
"Baik Nona," ucap bik Mirna.
Kalau ada yang tanya mengapa Bik Mirna bisa dobrak pintu ya karena Bik Mirna adalah salah satu anggota Pedang Biru Mafia yang ditugaskan untuk menjadi asisten rumah tangga Karina.
"Jadi Ayah gak ada di kamar?" tanya Maria.
"Dan Nita juga tidak tahu ada di mana?" sambung Amri.
"Jangan-jangan ...," ucap Arion.
"Kakek kawin lari sama Nita??!!!" ujar Maria, Amri dan Arion bersamaan.
"Bukan," ucap Karina dengan santainya memulai sarapannya.
"Jadi?" tanya Amri.
Terlihat kakek Bram tengah berada di halaman belakang yang berisi hewan peliharaan Karina. Tak lupa dengan Nita di sampingnya.
"Oh ... jadi kakek melanjutkan turnya," ucap
Arion.
"Kirain kawin lari," ucap Amri yang mendadak jadi kesal sendiri.
"Sudahlah ... ayo kita sarapan," ajak Arion menengahi.
Akhirnya mereka berempat sarapan pagi tanpa kehadiran kakek Bram.
***
Lain halnya dengan Kakek Bram yang tengah asyik memberi makan kelinci. Tangan kanannya memegang wortel dan tangan kirinya memegang seekor kelinci berwarna putih kecuali bagian kaki, telinga dan hidungnya dan juga memiliki warna mata merah. Kelinci ini adalah kelinci hias jenis himalaya.
"Hahaha ... ayo makan yang banyak," riang kakek Bram.
Tak sampai lima menit kelinci yang diberi nama Malaya itu menghabiskan satu wortel berukuran besar.
"Kakek ... kelincinya sudah kenyang tapi Kakek belum sarapan," ucap Nita yang setia menemani kakek Bram. Nita juga ikut memberi makan kelinci lainnya namun bedanya Nita langsung memberi makan di tempat yang telah disiapkan.
"Ya kau benar. Aku sudah berkeliling lumayan lama. Perutku mulai bernyanyi ria. Baiklah aku akan sarapan dulu," ucap kakek Bram berdiri dan melepaskan kelinci itu.
Kakek Bram dan Nita langsung masuk ke dalam rumah dan menuju meja makan. Sebelum masuk kakek Bram dan Nita mencuci tangan dulu di tempat yang telah disediakan. Kebersihankan sebagian dari iman.
"Apa kalian sudah selesai sarapan?" tanya kakek Bram yang mendapati keluarganya hendak meninggalkan meja makan.
"Sudah Ayah. Ayah dari mana saja?" tanya Amri.
"Dari belakang memberi makan harimau," ketus Kakek Bram.
"Harimau?" beo Amri
Kakek Bram mengabaikan beo an Amri dan langsung duduk untuk sarapan.
__ADS_1
"Cucu menantu temani aku sarapan ya?" pinta kakek Bram menatap Karina.
Karina diam saja tak menjawab.
"Kakek ... kami sudah sarapan. Kakek sarapan sendiri saja ya ... aku dan Karina mau kembali ke kamar mengambil baju-baju Karina, Kakek," ucap Arion.
"Apa kau bilang cucu tengik?" kesal kakek Bram.
"Kami sudah sarapan Kakek. Lebih baik Kakek sarapan di temani Nita saja," jawab Arion.
"Kalau kakek tidak muncul kami akan mengira kakek kawin lari dengan dia," ucap Arion lagi yang membuat kakek Bram berang. Sedangkan Nita yang juga anggota Pedang Biru Mafia hanya menunjukkan ekspresi datar.
"Dasar kau cucu tengik kau ini. Kau pikir aku dengan mudahnya melupakan nenekmu. Lebih baik kau pergi saja sana ke kantor dan bekerja untuk istrimu," ketus kakek Bram.
"Kantor? Ngapain?" tanya Arion.
"Ya kerjalah. Masak mau makan. Sudah sana pergi sudah dua hari kan kamu cuti," usir kakek Bram.
"Cuti dua hari apa akan membuatku bangkrut kakek?" tanya ketus Arion.
"Lagian aku masih dalam suasana pernikahan," lanjutnya.
"Ya-iya lah dua hari cuti kan kamu tidak tahu apa saja yang dilakukan karyawanmu. Bisa saja mereka berpesta ria merayakan cutimu," ucap kakek Bram.
"Mengapa mereka harus berpesta?" tanya Arion tak paham.
"Ya-iyalah kan libur dari wajah gunung api yang tiap hari meledak," ejek kakek Bram.
"Kakek??!!" kesal Arion.
"Sudahlah Ar kamu gih ke kantor saja," putus Karina yang jengah mendengar tingkah kakek dan cucu ini.
"Tapi Kar ...," ujar Arion.
"Sudah sana. Nanti aku bawain makan siang," rayu Karina.
"Benarkah?" tanya Arion berbinar.
"Hmmm."
"Oke aku ke kantor segera," ucap Arion langsung ke kamar dan mengambil kunci mobilnya.
"Aku berangkat," pamitnya.
Tinggallah kakek Bram, Karina, Maria dan Amri di rumah.
"Ya sudah kakek sarapan dulu. Perut kakek dari tadi sudah bernyanyi," ucap Karina.
"Baiklah," sahut kakek Bram.
"Kalau gitu Mama sama Papa jalan-jalan keluar dulu ya," pamit Amri dan Maria.
"Baiklah. Hati-hati Ma, Pa ...," saran Karina.
Maria dan Amri keluar untuk jalan-jalan di halaman Karina sebab kemarin mereka tak sempat.
Tinggal kakek Bram dan Karina. Nita menuju dapur menemui Bik Mirna.
"Bagaimana? Kakek suka tur singkatnya?" tanya Karina.
"Aku sangat menyukainya," jawab kakek Bram.
"Syukurlah,"lega Karina.
"Oh iya Karina bolehkan aku minta sesuatu padamu?" pinta kakek Bram.
"Apa itu?" tanya Karina.
"Emmm aku ingin tinggal di sini untuk beberapa waktu. Suasana dan keunikan rumah ini membuatku nyaman," jawab kakek Bram.
Karina menyengitkan dahinya. Tak lama ia mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
"Boleh," ucap Karina.
"Benarkah?" binar kakek Bram.
"Hmm....," sahut Karina.
__ADS_1
"Terima kasih cucu menantu," riang kakek Bram.
***