
Siapa yang tak bahagia jika melihat orang yang kita sayangi sembuh dari penyakitnya, apalagi vonis dokter sudah di jatuhkan, dan kini bisa berdiri tegak dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Seperti itulah perasaan nyonya Helen, dengan hanya bermodalkan keyakinan pada seseorang yang baru dia temui, ternyata bisa mengobati cucu satu-satunya, hampir setahun dia mondar-mandir mencari obat, hampir seluruh daratan China sudah ia datangi setiap mendengar ada Lelang.
Tapi hari ini, kelelahan nya berakhir dengan kesembuhan cucunya.
" Bagaimana Nyonya Lily, apa anda sudah percaya dengan saya, tanya Ranti mengagetkan Lily yang lagi memeluk anaknya
" Terimakasih Nona, saya sungguh percaya, silahkan ambil nyawaku sebagai bayaran kesembuhan anak saya, kata Lily
" Santai saja, nyonya, saya bukan dukun, saya hanya ingin melihat detik-detik terakhir aku ingin menolong Putri mu dan sekaligus ingin melihat seberapa besar nyonya menyayangi putrimu.
" Bayarannya sangat murah, cukup kita berteman saja, kapan-kapan mainlah ke Indonesia, kampung halaman almarhum Ayah Nyonya, kata Ranti
" Saya janji setelah semua urusan beres, saya akan ke Indonesia, kebetulan saya ingin mencari siapa yang membunuh ayahku, Jawab Lily
" Sontak Ranti terkejut, " maaf kalau telah menyinggung perasaan kalian semua, kata Ranti
" Tidak apa-apa, saya sangat mengenal orang yang membunuh ayahku 18 tahun lalu, kata Lily
" Apa nama keluarga nya, tanya Ranti
" Yang memberikan minuman kepada ayahku adalah Anak tertua dari keluarga SETIAWAN, Bahkan terakhir saya dengar teman baik ayah saya katanya di bunuh juga, Paman Adrian dan Tante Monic, sangat menyayangi aku, tapi kasihan mereka di bunuh oleh Om Ferdiansyah juga sama seperti Ayahku, kata Lily
Ranti yang mendengar cerita Lily, bertanya ke nyonya Helen, kenapa bisa seperti itu Nyonya, Ranti berusaha tegar
Adriansyah Setiawan dan suamiku, walau umurnya jauh berbeda, tapi mereka berdua itu sangat cocok, bahkan suamiku telah menganggap, Adrian adalah adiknya, begitu sebaliknya.
Sewaktu ada lelang proyek di Batam, Perusahaan Suami saya ikut bertarung dengan perusahaan Mertuanya Ferdiansyah, namun dia kalah.
Walau demikian, Suamiku memberikan beberapa pekerjaan, yang nilainya lumayan besar di Waktu, karena dia serakah, dia membangun proyek itu tidak sesuai ketika di uji. Saat itu suamiku menegurnya, saat itu dia diam ternyata menyimpan dendam.
Setahun kemudian Adrian menikah dan pasti kami di undang, dan itulah malam yang mengenaskan, suami saya di culik di depan mata Lily, dan keesokan harinya Suami saya di temukan di tol Jagorawi sudah meninggal.
Siapa lagi yang membunuhnya kalau bukan Ferdiansyah dan teman-temannya.
Tiga hari kemudian setelah acara pemakaman suami saya, aku di suruh pergi dari kediaman mertuaku, Keluarga Kusuma, seperti ketika mereka mengusir adik iparku yang paling kecil, dan saat itu masih memiliki bayi laki-laki baru berusia 1 tahun.
Sekarang saya tak tahu dimana dan bagaimana adik iparku dan keponakan laki-laki saya. Kakak suami saya tertua itu berteman akrab dengan Ferdiansyah.
Begitulah kenangan kami di Indonesia, saya hanya bersyukur, suami saya memiliki aset pribadi yang lumayan besar, ketika say kembali ke sini saya mulai berbisnis perhiasan, kebetulan saya dulu belajar desain jadi saya coba terapkan dan akhirnya saya dan Lily bisa seperti saat ini.
" Apa benar yang bernama Adriansyah itu orang uang baik, tanya Ranti memancing
" Paman Adrian sangat baik, saya memanggilnya paman Kecil, karena dari semua teman-teman ayah dialah yang muda, namun paling pintar, Kenang Lily
" Diam-diam Ranti mengambil dompetnya, dan bertanya
" Apa Adriansyah Setiawan ini yang nyonya Helen maksud? tanya Ranti sambil memperlihatkan foto ayahnya, saat menggendongnya.
" Lily, tolong ambilkan album foto lama ayahmu di kamar Mom, perintah nyonya Helen dengan gemetaran
" Kenapa foto Adriansyah ada di tanganmu, foto itu aku yang memotret nya, sehari sebelum aku datang kesini dan aku di kirim foto itu 1 bulan setelahnya, ada tiga foto yang aku ambil, pertama Adriansyah dan putrinya, kedua Monicha dan putrinya ketiga mereka sekeluarga, dan aku juga memiliki satu foto bersama putri Adriansyah, ada juga foto Lily menggendong Putri Adriansyah, kata nyonya Helen
" Saya adalah anaknya, Ranti Putri Setiawan, umurku 15 tahun saat ini, dan ini foto ibuku waktu menggendongku, dan ini aku dan ibuku di Cirebon, kami lari dari kejaran Paman Ferdiansyah dan anak buahnya, kata Ranti
__ADS_1
Lily kemudian kembali ke ruang tamu tempat Ranti dan ibunya berbicara dan memberikan foto - foto masa lalu nyonya Helen.
" Bacalah di bagian foto yang aku punya, kata Ranti
" membaca tulisan tangan Monicha Herdiani, membuat mata nyonya Helen sembab, dia teringat saat mereka berdua suka jalan bareng seperti kakak dan adik.
" Kalau kamu anaknya Adriansyah Setiawan apa yang bisa membuktikan kepada saya, kalau kamu anaknya Adriansyah Setiawan, kata nyonya Helen
" Ini no telepon pak Haris fan tanyakan kepadanya, pengasuhku namanya bibi Suratmi, apa nyonya mengenalnya dan ini foto saya dan bibi Suratmi beserta paman, suaminya bibi Ratmi, ini diambil saat aku masih TK kecil di Cirebon dan ini rumah yang ibuku beli ketika lari dari kejaran Paman Ferdiansyah.
Kami keluarga SETIAWAN memiliki tato, apa nyonya pernah melihatnya, dan ini tato saya di buat sehari setelah saya lahir, kata Ranti sembari menunjukkan tatonya.
Bibi saya, namanya Nindya Pratiwi Setiawan, punya anak kembar, sekarang, mereka tinggal di Jogjakarta, kampung halaman ayahnya mereka, apa nyonya mengenalnya, tanya Ranti
Mereka juga punya Tato yang sama dengan saya, kata Ranti
" Saya pernah melihat tato seperti ini, dirumah paman Adrian, di badan 2 perempuan kayaknya kembar, kata Lily
" Mereka itu, namanya Renata dan Renita, ini tato mereka, dan ini mereka sekarang.
Ranti menghubungi Haris lewat Video call dan diangkat oleh Haris
" Halo Nona Muda,bagaimana perjalanan anda ke China, tanya Haris
" Pak Haris, apakah ayah punya teman bernama Willy Kusuma, istrinya orang China asli
" Dia teman ayah baik sekaligus kakak angkat Nona, tapi Tuan Willy sudah meninggal sebelum peristiwa di keluarga Nona Muda.
" Istri almarhum Tuan Willy, sudah kembali ke China, menurut Adrian, nyonya Helen dan putrinya di usir oleh keluarga Kusuma, ada apa Nona muda bertanya soal almarhum tuan Willy Kusuma, tanya Haris bingung
" Apa pak Haris mengenal istri pak Willy, tanya Ranti
" Ini orangnya, apa pak Haris masih mengenalnya, kata Ranti sambil memberikan handphonenya ke nyonya Helen
" Halo Nyonya, maaf saya kira tidak akan melihat nyonya lagi, Lily apa kabar Nyonya, tanya Haris dengan bahagia
" Kamu lihat sendiri, Lily sudah dewasa dan sudah memiliki seorang putri, berarti saya sudah punya cucu, namanya Celine umur 13 tahun, kata nyonya Helen, sambil memberikan handphone ke Lily
' Halo paman Haris, apa kabar mu
" Ternyata kalian masih lancar berbahasa Indonesia, kata Haris
" Ya kami setiap hari di rumah berbahasa Indonesia, hanya Putriku yang tidak lancar, hehehehe paman sudah tidak ganteng lagi seperti dulu, ledek Lily
" Paman sudah tua, nanti paman kasih tau bibimu, kalau kamu sudah punya anak, kata Haris.
Setelah berbincang dengan Haris, Helen tak bisa tidak memeluk Ranti,
" Panggil aku Bibi, maaf dari tadi kami tidak berbahasa Indonesia, bibi sangat kangen dengan ayah dan ibumu, dan maaf juga tadi tidak percaya kalau kamu anaknya Adriansyah dan Monicha, kata Helen
" Tidak apa-apa bibi, ini sudah takdir, aku bersyukur datang ke negara ini dan bertemu dengan temannya orangtuaku.
Aku sepuluh tahun tinggal di panti asuhan Charity di Surabaya tapi sekarang aku sudah punya rumah sendiri dan aku hingga sekarang tetap tinggal di Surabaya, bersama keempat kakak angkat ku di Panti.
Salah satu dari mereka adalah laki-laki, namanya Darel Kusuma, dia saat ini berusia 18 Tahun Februari depan akan ulangtahun ke 19, ini fotonya.
__ADS_1
" Siapa tahu dia keponakan bibi dan sepupu kandung kak Lily, ibunya sebelum meninggal, menitipkan dia ke Suster Diana yang saat itu adalah ketua Panti, sama dengan saya juga dititipkan bibi Ratmi sebelum dia kembali ke Jakarta.
" Selesai Tahun Baru China, kami bertiga akan ke Indonesia, dan akan ke Panti Asuhan Charity di Surabaya, siapa tahu ada petunjuk keponakan saya, karena sebagian harta suami saya adalah milik ayahnya keponakanku itu, seingat saya nama keponakanku Daniel Kusuma, ayahnya Karel Kusuma dan ibunya Daniaty Elsanti, dan disurat wasiat suamiku tertulis Daniel Kusuma, sebagai keponakan, kata Helen
" Kita lihat saja nanti, kalau bukan juga tidak apa-apa, kata Ranti
" Celine, Walau Ranti hanya beda dua tahun dari kamu, tetap kamu harus memanggil nya Bibi, karena secara tidak langsung, ibumu dan Ranti adalah sepupu, kamu paham Celine, tegas nyonya Helen
" Ia Nek, kata Celine
' Celine beri hormat kepada Bibi Ranti
" Terimakasih Celine, mulai hari ini dan seterusnya, kamu adalah keponakanku paling besar, Besok pagi datanglah ke hotel Shangrila cari bibi disana, nanti bibi berikan kamu hadiah.
" Sekejap juga Ranti menundukkan kepala, " Ranti Putri Setiawan, memberi hormat kepada Bibi, dan kak Lily, Ucap Ranti
" Hormatmu Bibi terima, dan mulai hari ini dan kedepannya bibi adalah pengganti orangtuamu.
" Adriansyah Setiawan dan Monicha Herdiani, lihat anak kalian sudah besar dan Tuhan menunjukkan kebaikanNya, memberi saya kesempatan melihat anak kalian berdua, ijinkan aku menjadi pengganti kalian, ungkap Helen
" Terimakasih Bibi, jika bibi ada waktu senggang datanglah ke Surabaya, Ranti pasti menyambut Bibi dan kalian semua nya.
" Besok tolong datang ke hotel, ada yang ingin aku berikan kepada kalian bertiga. kata Ranti
" Baiklah besok, sekalian bibi jemput dan Celine besok kita ke rumah sakit untuk Cek penyakitmu, kata Helen
" Baiklah Nek, Celine ikut saja, tapi Mami besok ke kantor gak, tanya Celine
" Besok mami libur, nanti biar sekretaris mami yang urus perusahan selama bibimu disini, kata Lily
" Berarti aku bisa jalan-jalan sama mami, nenek dan bibi kecil hehehehe
" Namamu Celine atau Lin Mei, tanya Ranti ke Celine
" Aku biasanya Lin Mei, oleh teman-temanku, tapi nenek selalu memanggil ku Celine, Lin adalah marga Ayahku. Di pasporku juga namanya Lin Mei, kata Celine menjelaskan.
" Kalau kak Lily pakai marga apa? tanya Ranti
" Marga mami Ling, tapi di akta kelahiran Indonesia, tetap menggunakan Kusuma dan hingga hari ini paspor ku Indonesia, jadi namaku di Indonesia Frily Kusuma, berarti aku masih orang Indonesia, itulah alasan saya ibu, tetap berbahasa Indonesia, dan Celine juga sedikit- sedikit sudah bisa, tapi mendengar orang bicara bahasa Indonesia, pasti dia paham, kata Lily.
" Bagus kalau begitu, saya akan bantu untuk membalas keluarga Kusuma dan Ferdiansyah Setiawan, jika kak Darel adalah keponakan Bibi, akan ku hancurkan keluarga Kusuma yang telah membiarkan kak Darel juga kak Lily, kata Ranti.
Terimakasih Ranti, kakak Bahagia akhirnya bisa punya adik, kata Lily
" Besok kita sambung lagi, kasihan supir menunggu dari tadi, kata Ranti
" Masih ada 2 hari lagi aku disini, kata Ranti
" Ya sudah, Bibi mau kamu tinggal di sini, tapi sayang juga hotel sudah di bayar penuh, kapan-kapan kesini lagi, Ranti tidak perlu sewa hotel juga mobil, kata Helen
" Baik Bi, besok jam 10 aku ada pertemuan dengan orang, jadi kalau bibi mau ke hotel jam 08,00 atau sore jam 5 bagaimana, tanya Ranti
" Kalau begitu sore saja sekalian kita jalan-jalan, kata Helen
" Baik Bi, besok Sore saya datang kesini saja, kata Ranti
__ADS_1
Ranti bohong mau bertemu orang, padahal tujuan keduanya adalah ikut judi batu terbesar yang dia adakan mulai besok hingga acara tahun baru, tapi bukan tahun China
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam akhirnya Ranti bergegas menemui Yun Li yang menunggu dari tadi, hingga matanya ngantuk, " Kasihan juga" batin Ranti