
" Kalau kamu menang aku berikan 10 milyar, lalu kalau kamu kalah, apa yang akan kamu berikan untuk saya, tantang Ranti.
" Hahahaha, kalau uang jujur saja aku tidak sekaya keluarga kamu, tapi kalau aku kalah, aku akan lari keliling kota hanya pakai boxer ", ujar laki-laki.
" Oh Oke, boleh juga, silahkan tentukan harinya ", ujar Ranti.
" Hahahaha, biar ku lihat kamu menangis minta uang kepada orangtuamu, ingat kalau kamu tidak bisa bayar maka juga harus lari keliling kota pakai dalaman saja", ujar Laki-laki itu.
" Hahahaha, siapa takut", ujar Ranti.
Ranti bergegas meninggalkan Pos Security dan menuju rumah Mora.
Sepeninggal Ranti, laki-laki itu sesumbar berkata
" Lihat saja kalian, jangan datang merengek minta pekerjaan kepada Bos Tilarso, ancam laki-laki itu.
" Kami tidak akan datang minta pekerjaan ke bos Tilarso, sudah cukup kami mengabdi kepadanya tapi dia tidak pernah memikirkan kami, Dan maaf dulu bukan kami yang datang kepadanya, tapi dia yang datang memohon kepada kami untuk membantunya mengurus Kompleks ini,dan lihatlah, tiap bulan gaji kami di potong 500 ribu, selama 5 tahun ini, hari raya saja kami tidak di berikan THR dari perusahaan", ujar Pak Beno.
" Orang-orang seperti kalian, memangnya bisa apa, sudah syukur kalian di pekerjakan oleh bos Tilarso, kalau tidak mungkin kalian sudah jadi pengemis di jalanan", ujar Laki-laki itu.
" Lebih baik anda kembali ke kantor dan sampaikan pesan pertarungan terbuka dengan Nona Muda Ranti, apalagi kamu mengatakan tidak takut dengan RPS Security Sistem, hahahaha, Asal kamu tahu, 26 orang termasuk pak Sumadi, sudah aku lihat mereka bertarung, apalagi Nona Muda Ranti, pasti dia lebih hebat dari anak buahnya", ujar Pak Beno.
" Kalian tahu apa, anak kecil seperti dia hanya mengandalkan Uangnya saja", ujar Pak Beno.
" Kalau anda menang maka saya berikan anda 5 juta, jika kamu kalah, maka kmu juga harus berikan saya 5 juta", bagaimanapun ? tanya Ranti.
" Hahahaha, jadi kamu meremehkan kemampuan saya", ucap laki-laki itu.
" Anda memang hebat, tapi tidak sehebat Pak Sumadi dan Pak Wawan, juga anggota mereka", Ujar Pak Beno.
Sejam kemudian mereka bertiga tiba dirumah Mora.
Mereka sambut dengan gembira oleh kedua orangtua Mora.
" Wah yang sok jadi tuan Putri sudah pulang menginap dari rumah orang lain, tapi bilangnya liburan ke Eropa", ucap tetangga yang sirik.
" Maaf Bu, apa ada masalah dengan saya mengajak Mora ikut jalan-jalan dengan keluarga saya", ujar Ranti.
" Oh kamu yang di sebut kakaknya si gadis kecil itu", ujar tetangga sirik itu.
" Kalau ia kenapa, apa kamu sakit jiwa, jika keluarga ini bisa melebihi keluarga kamu, apa orangtua Mora pernah berhutang kepada keluarga kamu? tanya Ranti
" Memang tidak pernah, lagian dulu siapa juga yang mau kasih mereka pinjaman", ujar tetangga yang sok kaya.
" Hahahaha, kamu pantas di sebut, sudah miskin tapi sombong", ujar Ranti.
" Hahahaha kamu bilang saya miskin, memangnya kamu bisa beli mobil seharga 1 milyar, ujar tetangga itu.
" Apa Mobil kamu di beli dengan cash atau kredit?' ujar Ranti
" Walaupun kredit, tapi tetap kami mampu membayarnya, tapi mereka hanya mampu kredit Toyota Raize, ujar tetangga itu.
" Terserah kamu saja mau ngomong apapun, kasihan mobil kredit saja bangga, walaupun mereka hanya pakai Toyota Raize, tapi mereka beli dengan cash bukan kredit, kami kaya tapi berhutang, rumah saja hanya satu tidak di renovasi, lihat keluarga ini, punya 3 semuanya sudah di renovasi', ejek Ranti.
Wanita itu langsung diam, tidak bisa membalas omongan Ranti, dia sendiri tahu,kalau orangtua Mora beli 2 rumah lagi dan semuanya sudah di renovasi ratusan juta, tapi soal mobil dia tidak tahu, cash atau kredit.
" Jadi Tuan putri Mora, sudah Pergi ke Paris Perancis, alias nginap di rumah orang lain", ujar tetangga itu.
" Kamu lihat ini apa,ini adalah paspor dan lihat stempel disini dan ini foto - foto kami, dasar orang goblok', ujar Salma menjawab orang itu.
" Sirik tanda tak mampu ", ujar Ranti lalu beranjak.
" Paman memangnya apa pekerjaan tetangga kalian itu? ujar Ranti
" Dia itu bekerja di Bank BRI, sedangkan suaminya di bank BNI, Ujar ayahnya Mora.
" Pantas saja sombong, tapi gak usah ambil pusing, biarkan saja mereka mau ngomong apa, toh Paman dan Bibi tidak berhutang kepada mereka", ujar Ranti.
" Ia Nona, makanya Paman juga tidak pernah peduli dengan keluarga itu", ujarnya.
" Ya sudah, kami tidak bisa lama- lama, kami mau pulang dan istirahat", ujar Ranti.
" Hati-hati dijalan Nona", Ujar ayah Mora.
Ranti dan Salma beranjak pulang, karena Salma terlihat masih capek.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, pak Sumadi menelpon, bahwa Tilarso menerima tantangan Ranti, pertarungan nanti jam 8 malam di markas mereka, ucap pak Sumadi.
" Apa taruhan dari Tilarso?", tanya Ranti.
" 10 miliar uang cash, jawab Pak Sumadi.
" Oke, bawa semua Tim Awal, perintah Ranti.
" Baik Nona, kami sudah sepakat, akan hadir semuanya", lapor Pak Sumadi
" Baiklah, jangan lupa besok pagi kamu tolong Pak Beno, walau dia bukan anggota kita", ujar Ranti.
' Baik Nona", jawab Pak Sumadi.
Ranti tidak mampir kemana-kemana, dia langsung pulang rumah, apalagi Salma sudah mulai tertidur.
Tiba dirumah, Rendi dan Bella sudah datang, setelah membawa Salma ke kamarnya dan memeriksa Yati agar menemani Salma, Ranti menemui Rendi dan Bella.
" Rendi, kak Bella, ini oleh-oleh buat kalian berdua dan Putra kalian", ujar Ranti.
" Terimakasih Nona Muda", mereka berdua.
" Kak Bella, bagaimana dengan data Panti Jompo yang ku minta?", tanya Ranti.
" Saya sudah mendata, ada sekitar 6 panti Jompo di kota Surabaya, 2 milik pemerintah dan 4 lainnya milik perorangan, jumlah penghuni panti totalnya ada 250 orang lansia, mereka rata - rata di biarkan keluarganya, namun ada ada 1 orang penghuni, yang boleh dikatakan dia sangat Kaya tapi pikun, hingga seluruh kekayaannya di kuasai anak-anaknya dan dia di tinggalkan begitu saja di Panti Jompo", ujar Bella.
" Sungguh anak-anak tidak berbakti, selesai dari sini nanti ke panti Jompo itu", ujar Ranti.
" Baik Nona", jawab Bella.
" Rendi, bagaimana dengan rencana pembangunan Pabrik obat-obatan, apakah Sudah selesai ijin membangun nya?", tanya Ranti.
" Sudah Nona, tinggal tergantung Nona saja kapan mau dimulai pembangunannya", ujar Rendi.
" Baiklah nanti kamu bicarakan dengan Pak Pribadi, agar nanti dia bisa bantu carikan kontraktor pelaksana, dan tanyakan berapa anggaran yang dibutuhkan", ujar Ranti.
" Baik Nona, kami sudah melakukan pembicaraan antara, Pak Pribadi, juga PT Andalan Mas, serta Paul Pradipta, bahkan para supplier bahan sudah menyatakan kesanggupannya, jika kita menunjuk mereka", ujar Rendi.
" Bagus itu Rendi, undang mereka semua, hari Sabtu kita rapat di kantormu, Jam 10 pagi", perintah Ranti.
" Baguslah, dan tolong atur untuk makan siangnya, pesan di Kafe milik kakak saya saja", ujar Ranti.
" Baik Nona", singkat Rendi.
" Lalu bagaimana dengan kinerja Boni", tanya Ranti.
" Sangat bagus Nona, dia mampu membawa produk kita masuk jajaran 15 produk sabun terbaik dari segi penjualan, juga dua ketat, jika karyawan sekali saja meremehkan yang lain, langsung di pecatnya begitu juga dengan disiplin yang lain", ujar Rendi.
" Itu yang saya mau, pemimpin itu harus tegas, apalagi dalam kontrak kerja sudah tertulis dan di setujui bersama, tetapi pantau terus kinerjanya, saya mau semua yang berada di bawa kamu itu, tidak merepotkan kamu secara berlebihan", ujar Ranti.
" Terimakasih Nona, ujar Rendi.
" Tenang saja, aku masih ingat janjiku, saat kamu umur 45 tahun, kamu harus mundur dan bekerja di belakang layar saja, agar kamu dan kak Bella beserta anak- anak kalian lebih banyak bersama", ujar Ranti.
" Terimakasih Nona, sudah merencanakan yang terbaik buat keluarga saya", ucap Rendi.
" Selain keluarga dan saudara- saudaraku, hanya kamu yang paling aku percaya, saya harap kamu tak mengkhianati saya", ujar Ranti.
" Saya dan keturunanku tidak akan mengkhianati Nona, jika bukan Nona yang membantuku, mungkin sampai sekarang aku hanya tukang rental mobil dan supir sewaan", ujar Rendi.
" Baguslah, kalau kamu mengingat darimana asalmu, sama sepertiku, aku juga selalu ingat dimana aku di besarkan, dsn yang paling penting adalah, saat kamu berbuat tidak baik, maka kak Bella dan anakmu yang ikut menanggung beban nya, apa kamu tega melihat mereka ikut terhukum", ujar Ranti.
" Pastinya saya tidak ingin mereka kecewa terhadap saya, itulah dasarnya aku bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab atas kepercayaan Nona, dan hasilnya Sekarang saya sudah nikmati dengan penuh kebahagiaan", ujar Rendi.
" Harus bahagia, karena semua yang kamu dapat adalah hasil keringatmu dan halal", ujar Ranti menimpali omongan Rendi.
" Terakhir, bagaimanapun dengan perusahaan pak Gading, sudah sampai dimana pembangunan kapal yang kita yang kita pesan?" tanya Ranti
" Progresnya sangat bagus, maksimal 2 tahun lagi 5 unit kapal Perintis kita selesai, dan 4 tahun lagi 2 unit kapal Cargo kita selesai", ujar Rendi.
" Baguslah, saya senang mendengarnya, tolong segala pembayaran, jangan sampai abai, kasihan mereka", ujar Ranti.
" Pasti Nona, semua Proyek kita, tak ada yang terlambat bayar hingga ke pekerja paling bawa", lapor Rendi.
" Terimakasih Rendi, tapi kamu bersabar lah, mungkin 3 tahun lagi kamu kerja seberat ini",ujar Ranti.
__ADS_1
" Tidak masalah Nona, saya ingin disaat saya mundur, semuanya sudah dalam keadaan nyaman, agar Tuan muda Darel, tinggal melanjutkan apa yang sudah saya dan Nona kerjakan saat ini", ujar Rendi.
" Terimakasih Rendi, tidak sia-sia aku memilihmu menjadi orang kepercayaan ku", ujar Ranti.
" Nona Ranti, terimakasih sudah memberikan suami saya kepercayaan, kami sudah sepakat akan mendidik putra kami untuk bisa mengabdi kepada keluarga Nona di masa depan", ujar Bella.
" Terimakasih kak Bella, mohon maaf jika saya terlalu merepotkan Rendi, hingga kalian berdua jarang sekali liburan", ujar Ranti.
" Tidak masalah Nona, asalkan jangan pindahkan kantor ke luar negeri", ujar Bella.
" Hahahaha tidaklah, Rendi sampai Pensiun, akan tetap berada di Surabaya", ujar Ranti.
" Terimakasih Nona Ranti, tapi bolehkah saya minta tolong kepada Nona", ujar Bella.
" Apa itu, katakan saja", ujar Ranti.
" Minggu depan, ijinkan saya dan suami liburan ke Singapura, untuk perayaan ulang tahun pernikahan kami, ujar Bella.
" Kirain apaan, silahkan berangkat dan pakai saja pesawat saya, saya ijinkan dan saya tidak akan ganggu selama kalian liburan", ujar Ranti.
" Kami pakai pesawat penumpang umum saja Nona", ujar Bella.
" Tidak boleh, apa kata orang nanti jika mereka tahu CEO RPS Group Company naik pesawat biasa", ujar Ranti.
" baiklah Nona kalau begitu", ujar Bella.
" Ya sudah, kak Bella tolong antar saya ke panti Jompo itu, tapi kita makan siang dulu", ujar Ranti.
" Baik Nona", ujar Bella.
Setelah selesai makan siang, Ranti dan Bella berangkat ke Panti Jompo, yang ada orang kaya namun pikun.
Hanya berkendara sekitar 40 Menit, Ranti dan Bella tiba di Panti Jompo itu, terlihat panti itu lumayan masih layak.
" Selamat siang, kami ingin bertemu dengan ketua Panti disini", ujar Bella
Si penerima tamu langsung memanggil Ketua Panti Jompo itu, dan datanglah seorang wanita paruh bayah, dengan sangat sangat sopan dia menyapa Bella.
" Ibu kirain siapa, ternyata Nona Bella", ujar Ketua Panti.
" Ia Bu saya Bella dan Nona Muda ini adalah Bos tempat suami saya bekerja", ujar Bella.
" Oh maaf Nona, ibu tak menyangka ternyata kamu adalah bosnya pak Rendi", ujar Ketua Panti Jompo.
" Tidak apa-apa Bu, saya Ranti Putri, dan tujuan saya kesini adalah ingin memberikan sedikit bantuan untuk Panti Jompo ini, tapi apakah Panti ini milik Pemerintah atau milik yayasan atau juga milik ibu Pribadi ?" tanya Ranti.
" Ini milik pribadi saya, dan yayasan panti Jompo ini juga saya yang dirikan bersama suami saya, tapi saat ini dia lagi sakit, jadi tidak bisa menemui Nona berdua", ujar Ketua Panti.
" Maaf kalau boleh tau, berapa biaya operasional Panti ini setiap bulan?" tanya Ranti.
" Sudah dengan para perawatnya yang ada 4 orang dan tukang masak, semuanya hampir 300 juta, karena setiap 2 Minggu sekali kita akan melakukan check up untuk semua penghuni, dan sebagian dari mereka ada keluarganya yang membayar atau membantunya dalam hal yang lain, tapi tidak banyak, kami masih bersyukur karena masih ada donatur dan bantuan pemerintah", ujar ketua Panti.
" Baiklah, hari ini saya ingin minta ijin kepada ibu, untuk membantu para lansia disini dalam hal kesehatan, itu pertama, kedua saya ingin Gedung ini bertahap di renovasi, dan semua biaya saya yang akan menanggungnya, kemudian saya akan mengganti semua kasur dan ranjang mereka serta setiap kamar harus ada AC, agar istirahat mereka bisa nyaman, terakhir selama 1 tahun saya akan menanggung biaya logistik makanan", Ujar Ranti.
" Maaf Nona, apakah itu tidak terlalu merepotkan Anda?" ujar ketua Panti.
" Tenang Saja, jika merepotkan untuk apa saya datangi kesini yang jelas sudah membuat saya repot ", jawab Ranti.
" Baiklah Nona, terimakasih sebelumnya, saya bersyukur jika ada yang mau membantu Panti Jompo in", ujar ibu Ketua Panti Jompo.
" Sebelum saya membantu para Penghuni, saya terlebih dahulu akan membantu menyembuhkan penyakit suami ibu, dan ibu memperbaikinya kesehatan ibu", Bagaimana?" tanya Ranti.
" Terimakasih Nona, tapi suami saya kena penyakit gagal ginjal dan saya sendiri menderita asma", ujar ibu Ketua Panti.
" Tenang saja, hari ini kalian bisa sehat, agar panti ini bisa berkembang lebih baik lagi", ujar Ranti.
" Baiklah Nona, silahkan masuk ke ruang keluarga kami, kami memiliki 2 anak semuanya sudah bekerja, tapi yang satu di Jakarta dia kerja di Bank IDB Surabaya tapi bulan kemarin dia di pindahkan ke kantor Pusat Jakarta, Sedangkan adiknya bekerja Sebagai supervisor Produksi di pabrik Sabun yang baru berdiri, jadi mereka berdua lah yang suka membantu untuk operasional Panti ini", ujar ibu Ketua Panti.
" Itu bagus, saya senang mendengarnya, tapi maaf tolong minta pelayan agar merebus air jika di kamar mandi ibu tidak ada air panas", ujar Ranti.
" Di kamar ibu dan Suami, sudah terpasang pemanas air dan juga bathub, biasanya buat suami saya mandi, ucap ibu itu.
" Baguslah, nah sekarang alas tikar itu , kemudian bukalah baju ibu dan bapak hingga tinggal Pakaian dalam, serta berbaringlah", ujar Ranti.
Suami ibu ketua Panti hanya menurut saja, tubuhnya yang sudah sangat lemah dan kurus, hanya pasrah saja saat di baringkan di atas tikar, kemudian ibu ketua Panti juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1