SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN

SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN
Kejatuhan Perusahaan Keuangan Terbesar di Asean


__ADS_3

Aplikasi Mata Dewa, yang mendapatkan Perintah Ranti, dengan segera dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, segera menjalankan perintah Ranti.


Anak - anak, sebenarnya ada apa, tanya Adriansyah yang ingin lebih memastikan, tindakan anak-anaknya.


" Mereka hanya hackers yang dibayar oleh kompetitor, jawab Ranti.


" Lalu kalian semua belajar darimana ilmu hacker kalian, ayah sampai bingung lihat Salma dan Armando, yang sudah begitu lincahnya mengutak-atik laptopnya, ucap Adriansyah.


" Kan kami semua anak-anak yang jenius, mereka dengan kompak.


" Baiklah, tapi jangan gunakan kelebihan yang dimiliki untuk hal-hal yang tidak baik, ujarnya


" Tenan saja Ayah, kami belajar hacker, hanya untuk melindungi milik keluarga kita, mereka diam, kami juga diam, mereka mereka merusak, kami juga merusak mereka, ucap Vanya.


" Bunda setuju dengan prinsip kalian, ujar Monicha mendukung anak-anaknya.


" Terimakasih bunda, terimakasih mommy, ujar mereka serentak.


Adriansyah mendengar ucapan mereka, hanya tersenyum kecil.


Ini sudah larut ayo kita istirahat, ucap Adriansyah sambil berdiri dari duduknya dan menggendong Salma.


" Anak ayah ternyata sangat hebat, ayah bangga dengan kamu nak, juga dengan seluruh kakakmu, ucap Adriansyah.


" Terimakasih ayah, jujur ayah, kami tidak di perbolehkan oleh kak Ranti menggunakan kemampuan kami untuk dengan sengaja merugikan orang lain, dan kalo hacker sudah berani mengobrak abrik sistem keamanan kita, itu 100 % niatnya jahat, jadi kita juga harus tegas, ucap Salma dengan gaya dewasa.


" Wow, selain pintar komputer, kamu juga sangat pintar melihat melihat situasi", ucap Adriansyah.


" hehehehe, bukan hanya itu, Salma bisa juga bisa mengalahkan penjahat 5 orang, bahkan lebih sekaligus, dan kami semua tidak ada yang terkecuali, sudah mahir bela diri, dan yang paling hebat adalah kak Ranti", ujar Salma.


" Ranti !, memangnya sehebat apa kakak mu itu, tanya Adriansyah.


" Tanya saja sama Security Sumadi, dulu dan seluruh anak buahnya, di hajar kak Ranti bersama kak Darel, Friska serta Rindu, akhirnya mereka kalah, bahkan ada yang patah tangan dan kaki, tapi mereka semua fi obati oleh kak Ranti, dan sekarang mereka jadi Tim Keamanan yang paling di percaya oleh kak Ranti dan kami semua.


" Ayah dan Bunda, bangga dengan kalian semua, ucap Adriansyah.


" Bobo ya sayang, bunda taruh di atas meja laptop kamu ya, ucap Monicha.


" Terimakasih Bunda, ucap Salma.


Monicha membalas dengan memberikan kecupan selamat tidur.


Tak terasa malam berlalu dengan begitu cepat, berganti pagi yang cerah, dan saat ini semua anggota keluarga Adriansyah dan Monicha, tengah duduk menikmati sarapan Pagi.


Seperti biasa mereka sambil menikmati sarapan, tak lupa menonton berita, dan yang menjadi berita favorit adalah berita tentang saham.


Adriansyah sangat tertarik dengan berita seperti, sama persis dengan istrinya, itu karena mereka berdua adalah raja dan ratunya Saham, mereka berdua hanya melihat berbagai perusahaan dari luar negeri yang dimana tempat mereka menanam sahamnya.


Beberapa saat berlalu, mereka semua di kagetkan dengan berita bahwa, sebuah perusahaan keuangan berpengaruh di Asean tengah di hadapi, persoalan yang sangat crusial, bagaimana tidak, Baru sekitar 30 menit pembukaan, saham perusahaan tersebut mulai terdegradasi dari dari posisi semula.


Harga saham Perusahaan tersebut, mengalami trend negatif dan cenderung turun.


Di negara yang menjadi pusat Kendali perusahaan tersebut, kini mulai resah dan gelisah melihat pergerakan Saham mereka.


Ranti sangat senang melihatnya, bahkan dia tersenyum dengan sangat bahagia, bagiamana tidak Perusahaan Keuangan yang seolah-olah tidak akan pernah runtuh, namun kini sedang menapaki jalan kehancuran.


" Biarkan saja mereka, siapa suruh mengganggu perusahaan saya", batin Ranti.


Berita semakin menghangat, dalam sejarah perusahaan tersebut, hari ini adalah sebuah mimpi buruk, bagiamana tidak, harga saham semakin anjlok, dan tak berdaya.


" Princes, beruntung ayah dulu sudah menjual saham ayah di Bank itu, ucap Adriansyah.


" Baguslah, Perusahaan itu yang sering membunuh perusahaan - perusahaan yang sedang berkembang, mereka diam-diam menyewa hackers untuk membobol sistem keamanan dari Perusahaan yang baru mulai berkembang, tujuan mereka adalah ingin membuat mereka menjadi bank terbesar dan menguasai pasar Asean sendiri atau dengan groupnya, dan jika itu terjadi, maka mereka akan mulai menekan kita, ucap ranti.


" Tapi ayah mereka salah memilih lawan, giliran sekarang, ayah lihat saja tidak ada yang akan membeli saham mereka, apalagi saat ini, merek dagang tidak selamanya menjadi patokan para pemain saham, ucap Dewi.

__ADS_1


Lagi asik ngobrol, Ranti menerima telpon dari Pak Jusuf Maulana.


" Ya ada apa Pak Jusuf ?, tanya Ranti.


" Hanya mau laporan, jika saat ini seluruh sistem Kita sudah berjalan normal kembali dan sistem keamanan terlihat di angka 100% dan tidak ada tanda-tanda, serangan susulan.


" Baguslah, jika semua sudah aman".


Di pihak Pemilik Perusahaan, sedang menggelar rapat, mereka ingin melakukannya buy back, akan tetapi para pemilik saham menolaknya.


" Aplikasi Mata Dewa, sebarkan seluruh skandal Perusahaan tersebut, aku mau publik dunia tahu kebejatan Perusahaan tersebut, perintah Ranti.


" Baik, dalam waktu 15 Menit semua platform media sosial sosial akan di banjiri oleh skandal Perusahaan tersebut", Balas Aplikasi Mata Dewa.


Dan benar saja, setelah satu jam kemudian, Ranti membuka media sosial, kini sedang ramai-ramainya di perbincangkan, tak ayal lagi siaran TV nasional juga memberitakan berita tersebut, karena lebih dari 10 perusahan yang namanya masuk daftar Perusahaan yang sengaja di hancurkan oleh Perusahaan itu.


Sontak berita tersebut membuat para petinggi Perusahaan Tersebut, makin terguncang, bagaimana tidak, Dokumen rahasia dan rekaman pembicaraan beberapa petinggi yang memerintahkan penghancuran perusahaan- perusahaan itu terkuak di media.


Para pemegang saham penting mulai berencana mundur dan ingin menarik seluruh sahamnya.


Pihak Perusahaan itu, kini akan berhadapan dengan beberapa gugatan dari berbagai perusahaan berasal dari berbagai negara.


Adriansyah yang melihat berita itu, sejenak dia tercengang, dan matanya menyoroti putrinya,


" Princes, jujur sama ayah, apa ini ulah mu membalas dendam kepada mereka ?" tanya Adriansyah.


" Ya, mereka tidak mau ada perusahaan yang menyaingi mereka, apalagi perusahaan tersebut bergerak di bidang yang sama, mereka telah melakukan tindak kejahatan bertahun-tahun, dan korban mereka sudah banyak", ucap Ranti kepada ayahnya.


" Kamu itu, berhati-hati lah sayang, ucap Adriansyah.


" Ia ayah, terimakasih nasehatnya", balas Ranti.


Berita berlanjut, terlihat beberapa Perusahaan yang menjadi korban dari berbagai Negara sudah membuat reaksinya, dan berjanji akan segera melayangkan surat Gugatan ke pengadilan.


Pihak Perusahaan tersebut, memaksa Tim IT mereka, agar dengan segera menghapus berita tersebut, tapi sayang mereka tidak bisa menghapus berita dari sumber utamanya.


Para nasabah bank tersebut langsung berebut ke Bank yang di kelola oleh perusahaan itu, untuk menarik uang mereka.


Di Indonesia juga terpantau, para nasabah mulai menyerbu kantor cabang di Indonesia guna menutup rekening.


Tindakan para nasabah ini menambah daftar proses kehancuran Perusahaan mereka.


Ranti kembali beraktivitas seperti biasa, apalagi besok hari adalah hari keberangkatan mereka berlibur ke Beijing.


Ranti sudah memberikan Cincin Ruang Penyimpanan kepada ayah dan ibunya, serta Nindya bibinya. Awalnya mereka tidak percaya dengan penjelasan Ranti, tapi setelah saudara- saudara Ranti menunjukkan Cincin Ruang Penyimpanan yang melingkar di jari mereka fan memberikan contoh, akhirnya 3 orangtua paruh baya itu percaya, dan terasa sangat nyaman, karena bebas membawa barang-barang kemanapun mereka Pergi.


Seharian, berita tentang perusahaan besar di Asean yang sedang berada di ujung tanduk, menjadi trending, penampakan para nasabah dari berbagai negara dimana kantor berada, diserbu oleh para nasabahnya.


Dan tak terasa waktu berputar sangat cepat, Dan saat ini adalah hari dimana seluruh keluarga besar Ranti akan berangkat ke Beijing, Ranti sudah menghubungi Helen dan Lily, juga Yun Li dan teman-temannya yang lain, dia meminta tolong agar mencarikan mobil agak besar, karena mereka datang rombongan.


Salma yang berada pelukan Ranti, terlihat begitu nyaman, Mang Dul yang mengerti kondisi, dengan maka dia mengatur kecepatan senyaman mungkin.


" Salma sini Bunda aja, nanti kakakmu capek memeluk kamu terus, ucap Monicha.


" Biarkan saja mom, Salma memang seperti ini, aku sudah terbiasa, ucap Ranti ke ibunya.


" Nanti kamu pegal-pegal sayang, ucap Monicha.


" Tenang saja aku sudah biasa, dan Salma biasanya kalau begini, dia butuh perhatianku, ucap Ranti.


" Baiklah, ucap Monicha".


Armando juga sama modelnya dia bersandar di bahu Rindu sambil memeluk tangan Rindu, Rindu hanya bisa membelainya dengan lembut, membuat Armando semakin nyaman.


Sejam kemudian mereka tiba di bandara dan langsung menuju ke parkiran khusus VVIP.

__ADS_1


Setelah semua Dokumen imigrasi beres, mereka langsung menuju dan naik ke pesawat. Ranti melihat Salma yang terlihat mengantuk, dia langsung membawanya ke kamar, dan menemani Salma hingga benar-benar tertidur.


Rindu juga sama, membawa Armando ke kamar yang ditempati Salma dan menemani Armando hingga terlelap.


Ternyata ke dua bocah itu keasikan main Komputer hingga tidurnya kemalaman, jadinya nagantuk.


Pesawat yang sudah berada di ketinggian dan dalam posisi yang sudah stabil, membuat mereka bebas beraktivitas di dalam pesawat.


Rindu yang juga ikutan tertidur di peluk Armando, sama halnya dengan Ranti.


Perjalanan di perkirakan sekitar 6 sampai 7 jam nonstop, tidak membuat mereka meras bosan karena berbagai fasilitas yang berada di dalam Pesawat Jet Pribadi Gulfstream G 700.


Dua jam kemudian mereka berempat terbangun, Ranti membawa Salma ke kamar mandi untuk cuci muka, begitu juga Armando.


Mereka berempat keluar dari kamar, dan melihat suasana dalam pesawat masih ramai, mereka ngobrol sambil menikmati cemilan dan sambil nonton.


Adriansyah selalu memantau perkembangan saham perusahaan yang hampir Bangkrut itu dengan. seksama dan juga semakin banyak gugatan yang di layangkan ke pihak perusahaan itu, belum lagi serbuan para nasabahnya.


Ranti dan Rindu sendiri, sedang sibuk mengurus kedua bocah itu, yang tiba- tiba saja kumat manjanya.


Saat ini mereka sedang di suguhi makan siang setelah sekitar 3 jam dalam Penerbangan.


" Sayang kamu sama Armando hari ini kenapa manja sekali, tanya Ranti.


" Hehehehe, karena kakak tidak bisa kemana-mana, jadi mumpung ada didekat Salma, jadi mau puas- puasin di peluk kakak Ranti, bukan karena manja, tapi Salma ingin peluk kakak saja, ucap Salma polos.


" Kamu itu, makin hari, makin pintar merayu kakak, ucap Ranti sambil menoel hidung Salma".


" Hehehehe, Salma sangat bahagia, selama di pesawat, kak Ranti hanya milik Salma.


Hahahaha hahahaha


Semua orang lagi makan jadi belepotan karena ketawa, mendengar ocehan Salma, Armando yang sok cool tidak akan berkutik kalau sudah di dekat Rindu, apalagi Rindu sangat memanjakannya, akhirnya Armando lengket sama dia.


" Sayang kalian makan yang kenyang ya, ucap Ranti.


Mercy, Friska, Vanya dan Darel melihat manjanya kedua adik kecil mereka, hanya bisa tersenyum bahagia saja.


Perjalanan yang panjang membuat mereka akhirnya memilih beristirahat, kini tinggal Ranti, Rindu, Salma, Armando dan Darel yang memilih memejamkan mata di kursinya, yang lain pada masuk kamar.


Pramugari yang akrab dengan Salma, membuatnya tidak kesepian, Salma menemani pramugari itu dan temannya bercengkrama bersama, para pramugari memang sangat senang dan sayang dengan Salma yang notabene adalah majikan mereka.


Akhirnya terdengar suara Pilot memberitahukan bahwa 30 menit lagi pesawat akan mendarat, dan meminta mereka semua agar tenang.


Dan akhirnya, pesawat itu landing dengan sempurna Di Bandara internasional Ibukota Beijing.


Mereka langsung keluar dan arahkan menuju pintu VVIP, begitu dokumen imigrasi kedatangan sudah selesai, mereka keluar menuju parkiran, yang sudah di tunggu oleh Bu Helen, Lily, Celine, Yun Li dan serta 5 orang mantan tukang gerobak, yang kini sudah kaya raya, untuk wilayah ibu kota Beijing.


Betapa kagetnya orangtua Ranti melihat ke-lima laki-laki dewasa beserta istri mereka menunduk memberi hormat sambil menyebut Nona Muda.


Mereka sangat berhutang Budi kepada Ranti yang telah merubah hidup mereka, dari bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa, kini menjadi orang yang cukup disegani, karena sifat mereka yang baik dan ringan tangan.


" Wah kakak- kakak semua ternyata sudah sukses ya, pakaiannya Sekarang sudah sangat bagus dan tambah ganteng", Ucap Ranti


" Hahahaha, semua berkat kemurahan Nona Muda, dan kami menjalankan sesuai janji kami, bahwa suatu saat Nona Muda datang, kami sudah harus sukses, dan lihatlah, seluruh modal awal sudah kembali 100% dan sekarang kami sudah bisa lebih banyak menabung, dan juga membantu orang lain, Oh ya Nona Muda, Paman Tan Kian saat ini berada di Amerika Serikat, menengok cucunya, dia minta maaf tidak bisa bertemu dengan Nona Muda, ucap Xiao Lang.


" Tidak apa-apa, ya sudah sekarang antar kami ke hotel, apa semua sudah beres, tanya Ranti.


" Tenang saja Nona Muda, bukannya sombong, Hotel yang akan Nona Muda dan keluarga tempati adalah milik kami berenam, adik Yun Li yang menjadi Direktur Disana, karena dia saudara satu-satunya yang perempuan, biar dia kerja yang halus- halus saja, kami bagian yang kasar, ucap Ding Fan.


Mereka berlima begitu menyayangi Yun Li, apalagi istri-istri mereka, bisa ngamuk jika melihat adik ipar atau kakak ipar mereka ngambek.


Yun Li juga sangat menyayangi kelima saudara laki-lakinya, walau mereka hanya saudara angkat, tapi ikatan persaudaraan mereka begitu kuat.


Ibu angkat Yun Li, dianggap sebagai kepala keluarga mereka, maka semakin kuatlah persaudaraan mereka.

__ADS_1


Di tambah lagi dengan hadirnya Tan Kian yang sudah mereka angkat sebagai Paman, sedangkan Helen dan Lily, mereka anggap sebagai kerabat dan harus diprioritaskan, jika dia meminta bantuan.


Sungguh hebat Ranti membentuk mereka, hingga menjadi begitu kuat dan loyal serta saling menyayangi sesama keluarga, perdebatan pasti ada, hanya saja dalam hal bisnis, bukan masalah pribadi.


__ADS_2