SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN

SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN
Mengobati ayah Tiara


__ADS_3

Tim dari Rose terlihat begitu santai menghadapi orang dari bagian hukum Perusahaan itu, mereka sudah mengirim pesan ke bos mereka tapi belum juga di balas.


Tim dari Rose sudah membagikan salinan putusan kepemilikan perusahaan dan sejarah dari perusahaan itu, yang ternyata milik dari almarhum suami dari mantan istri laki-laki bejat itu.


Laki-laki bejat itu lupa, bahwa surat wasiat yang di tinggalkan almarhum suami mantan istrinya merujuk kepada kepada anak satu-satunya mantan istrinya.


Pantas saja Rose dengan sangat cepat bisa mengambil alih kembali perusahaan itu, dengan tidak terlalu banyak membuang tenaga


Begitu tiba di ruang kerjanya, laki - laki bejat itu langsung membuka brankas dan mengambil seluruh dokumen perusahaan, dsn dasar bodoh tanpa memeriksa isi dokumen itu, si laki-laki bejat itu langsung menuju ke ruang meeting.


Ketika pintu ruang meeting di buka, laki-laki itu kaget bukan main, dan benar saja tebakan dia, yang datang adalah mantan istrinya dan anak tirinya, yang sudah 10 tahun dia ceraikan.


" Hei perempuan hina, mau apa kau kesini !" Hardik laki-laki bejat itu


" Aku datang untuk mengambil hak anakku !" kenapa apa kamu tidak rela jika saat ini aku datang mengambilnya? sengit wanita mantan istrinya.


" Hahahaha, kamu mau ambil milik putramu !" jangan mimpi Jingga, perusahaan ini adalah milikku, bukankah sudah kamu baca Dokumennya", ujar si laki-laki bejat itu.


" Alan, kamu pikir aku datang kesini tidak membawa bukti kepemilikan sah atas perusahaan ini, dan bahkan bukan hanya itu saja, aku membawa bukti bagaimana kamu melakukan tindakan penipuan memindahkan aset-aset warisan suamiku untuk anakku, sebentar lagi pengacara yang bekerjasama dengan kamu akan tiba bersama dengan Polisi, ujar Jingga


" Sungguh malang nasib mu, sangking miskinnya hidupmu sekarang, hingga datang berpura-pura dan mengancamku, apalagi membawa orang - orang yang tidak berguna ini", sombong Alan.


" Tuan yang terhormat, lihatlah di monitor itu, dan baca dengan baik, siapa pemilik perusahaan ini dan buka Dokumen yang kamu pegang itu, dan bandingkan dengan dokumen palsu milik kamu", ujar Tim Rose.


Alan segera membuka dokumen yang dia bawa dari ruang kerjanya dan mengambil salinannya, serta membacanya, dengan jelas Dokumen itu tertulis pemegang hak Perusahaan sementara berada ditangan Jingga hingga Anak mereka berusia 21 tahun, dan saat ini Anak jingga baru berusia 18 tahun, itu berarti hari ini hak atas perusahaan itu masih berada ditangan Jingga.


Dan Jingga sendiri tidak berhak mengganti nama perusahaan apalagi memindahkan keatas nama orang lain, dan dalam wasiat juga tertulis demikian, Jingga hanya akan mendapatkan 30% saham dari seluruh Perusahaan yang ditinggalkan almarhum suaminya.


" Bagaimana Tuan, apakah anda merasa sudah sangat hebat dan merasa merasa berhasil menipu Nyonya Jingga dan pewaris sahnya ? ujar Tim Rose.


Wajah Alan langsung pucat, secara didalam dokumen tertanda Jingga yang seolah-olah dengan sadar memberikan perusahaan itu kepadanya, walau kenyataannya dia menyelipkan kertas berisi perjanjian pengalihan seluruh aset, dalam tumpukan berkas perusahaan yang butuh tanda tangan Jingga, dan karena sangat percaya kepada Alan maka Jingga tidak lagi memeriksa seluruh berkas yang di berikan kepadanya.


" Tuan silahkan lihat lagi ke monitor, ini rekaman video saat anda menyusun rencana dengan beberapa petinggi yang sengaja kamu masukkan di perusahaan ini, sebagian dari mereka berada di ruangan ini, yang lainnya berada di Kantor perusahaan lain", ujar Tim Rose.


Suasana hening dan kesan mencekam, kembali berisik setelah Polisi dan mantan pengacara yang bekerjasama dengan Alan tiba di ruang meeting.


" Tuan Maafkan aku", ujar pengacara itu.


" Tuan Alan, Kami datang kesini untuk membawa anda ke kantor Polisi, untuk dimintai keterangan atas laporan kasus penipuan, yang di laporkan oleh Nyonya Jingga dan Tim kuasa hukumnya", ujar petugas kepolisian itu.


" Apakah pihak kepolisian memiliki bukti, bahwa saya melakukan tindakan penipuan", ujar Alan.


" Anda bisa berbicara saat berada di kantor Polisi", Ujar petugas itu.


" Petugas bawa juga beberapa orang yang berada disini, karena diduga mereka melakukan tindakan ini bersama-sama ", Perintah komandan Polisi.


" Nyonya Jingga, anda juga diminta untuk datang ke kantor Polisi, ada beberapa hal terkait dokumen laporan yang harus anda tandatangani", Ujar Petugas Polisi itu.


" Baik Pak, saya dan Tim kuasa hukum saya akan mengikuti anda saat ini juga.


" Jingga kenapa kamu lakukan ini ? tanya Alan dengan bodohnya


" Tanya saja pada dirimu sendiri, hari ini aku akan mengembalikan kamu ke asalmu berada, ujar Jingga.


Alan tidak bisa lagi berkutik, disaat yang sama perusahaan miliknya kini sudah diambang kehancuran.


Kembali ke sekolah.


Ranti yang melihat laporan dari Aplikasi Mata Dewa, hanya tersenyum dalam hati.


" Rose berikan kompensasi 15 milyar kepada sekolah Budi Luhur, agar mereka segera merenovasi sekolah itu, katakan saja sumbangan dari alumni sekolah itu", ujar Ranti


* Baik Tuan*, ujar Rose.


Tak terasa jam sekolah sudah berakhir, Ranti mengajak Rindu agar menemaninya kerumah sakit menengok ayahnya Tiara.


Rindu kaget mendengar cerita Ranti soal peristiwa yang dialami ayahnya Tiara.


" Ranti, apa nanti malam kamu akan datang ke acara Ultah teman kita yang berulang tahun, tanya Pretty.


" Pasti aku datang, lagian tempat acaranya di Restoran milik kakakku, ujar Ranti.


" Baiklah, dan tolong sampaikan ke Tiara aku batu bisa datang besok, karena aku harus bantu ayah hari ini, biasa hari Senin banyak berkas yang akan ayah tanda tangan jadi aku bantu baca", ujar Pretty


" Baiklah nanti kusampaikan, tapi kamu juga harus kirim pesan ke Tiara, nanti dia ngambekin kamu", ujar Ranti.


" Aku sudah kirim pesan tapi masih centang 1, handphonenya gak aktif", ujar Pretty.


Pretty dan Chelsea, memang tidak lagi banyak keluyuran, mereka berdua lebih sering membantu ayah mereka, apalagi mereka sadar ayah mereka masing-masing mendapatkan bantuan dari Ranti, baik modal maupun Proyek, mereka berdua akhirnya sadar betapa susahnya orangtua mereka bekerja.


Ranti yang baru saja tiba di rumah sakit, langsung melihat wajah murung Tiara yang bersandar di dada Robin.


" Tiara, kak Robin, bagaimana kondisi Om", tanya Ranti


" Ranti akhirnya kamu datang, ayahku sudah sadar tapi masih berteriak kesakitan, akhirnya dokter memberikan obat penenang", ujar Tiara.

__ADS_1


" Kamu tenang saja, ada aku disini sekarang, aku janji Sore ini juga Om Pribadi akan sembuh", ujar Ranti.


" Ia aku percaya, tapi tolong sekarang sembuhkan ayahku dulu, tolong Ranti", ujar Tiara memohon.


" Sabar, 15 menit lagi baru waktu yang tepat, ujar Ranti.


Tiara hanya patuh mendengar omongan Ranti yang mengatakan 15 menit lagi, padahal mata semesta Ranti melihat kalau efek obat penenang belum hilang sepenuhnya.


Ranti memberikan Juice Buah Abadi ke Tiara dan agar mereka berdua lebih segar, karena mereka kurang istirahat dari malam.


" Gimana kuliah kakak ? tanya Ranti


" Baik-baik saja, hanya saja makin sibuk, maafkan kakak ya, karena jarang berkabar kepadamu", ujar Robin.


" Santai saja Kak, Tiara selalu memberiku kabar kalau kakak memang lagi sibuk, kak Darel juga begitu, untung kak Sonia selalu menghubungi kami", ujar Ranti.


" Kamu juga jangan terlalu capek, nanti sakit", ujar Robin.


" Ia kak, aku pasti ingat istirahat, ujar Ranti


Tiara masuk keruangan tempat ayahnya dirawat, di dalam ada ibunya dan Rindu sedang ngobrol, sedangkan ayahnya masih tertidur.


Saat Ranti masih asik ngobrol dengan Robin, Tiara keluar dari ruangan dan memanggil Ranti, dan mengatakan kalau ayahnya sudah bangun.


Ranti dan Robin langsung masuk dan menyapa ibunya Tiara.


" Halo Tante, ini minum dulu biar agak segar", sapa Ranti sambil memberikan Juice Buah Abadi.


" Terimakasih Nak Ranti sudah datang, Om kamu di celakai orang", ujar ibunya Tiara.


" Tenang saja, hari ini om pasti sembuh, tolong siapkan air hangat dan handuk kecil, ujar Ranti.


Ibunya Tiara Segera menyalakan pemanas air dan menyiapkan baskom dan handuk kecil.


Ranti membuka Ransel Ruang miliknya dan membuka kotak yang berisi Pill Rekonstruksi Tulang.


" Om nanti tahan sebentar rasa sakitnya", ucap Ranti ke Pak Pribadi.


Pak Pribadi hanya mengangguk percaya dengan omongan Ranti.


" Kak Robin tolong kunci Pintu agar tidak ada yang mengganggu", perintah Ranti.


Terlebih dahulu Ranti memberikan minum air surgawi bercampur air mineral, agar Pak Pribadi bisa lebih rileks.


Karena kondisi pak Pribadi yang sudah terlihat rileks, maka Ranti memberikan Pill Rekonstruksi Tulang, beruntung Pak Pribadi sudah pernah menelan Pill surgawi dan Pill Regenerasi Fisik dan Jaringan Sel, jadi Ranti hanya perlu menyambung kembali tulang Pak Pribadi, tak lupa Ranti juga memblokir ruangan agar menjadi kedap suara.


Tiara yang sudah terbiasa dengan pengobatan Ranti, tetap tenang, dia yakin ayahnya bisa sembuh dan teriakan ayahnya dianggap sebagai hal yang memang sudah biasa.


" Ranti terimakasih ya, ujar Tiara".


" Kamu itu sahabat dan juga Kakak iparku, apapun akan ku lakukan agar kamu bahagia, dan juga kakakku yang ganteng kembali tersenyum", ujar Ranti sambil merangkul Tiara.


Robin sendiri hanya bisa mengelus rambut dari kedua wanita yang paling dia sayang selain ibunya.


Selai Darel, hanya Robin laki-laki yang bisa menyentuh Ranti, bahkan bisa memeluk Ranti, karena Robin mengaggap Ranti sebagai adiknya dan begitu sebaliknya, apalagi Robin yang memang tidak memiliki saudara.


Pak Pribadi masih berteriak walau sudah tidak sekencang diawal reaksi Pill bekerja.


Tak lama kemudian Pak Pribadi, terdiam dan tertidur, kemudian Ranti meminta agar membersihkan kaki dan tangan Pak Pribadi, setelah kain kasa dan alat penyangga kaki dan tangan Pak Pribadi dilepaskan Ranti.


Dengan telaten, Ibunya Tiara membersihkan kaki dan tangan ayahnya, ibunya Tiara tersenyum melihat kaki dan tangan suaminya sudah kembali normal.


" Terimakasih Nak, Tante dan Om tak tahu harus berterimakasih seperti apa, ujar ibunya Tiara.


" Enak saja hanya Terimakasih, ini gak gratis Tante, om dsn Tante harus bayar dengan Sop seafood, dan kata Tiara buatan Tante sangat enak ", ujar Ranti


" Hahahaha, ia nanti Tante Masakin, tapi kapan kamu ada waktu kerumah kami", balas ibunya Tiara.


" Besok pulang sekolah, aku dan kak Rindu makan siang di rumah Tante", jawab Ranti.


" Oke, kebetulan kami juga sudah hampir 4 bulan tidak main kerumah Tante", ujar ibunya Tiara.


Suasana ruangan tempat Pak Pribadi dirawat kini menjadi ceria, bahkan seolah - olah bukan dirumah sakit, dan sangking berisiknya hingga membuat Pak Pribadi terbangun.


" Mah minta Air", ujar Pak Pribadi.


" Akhirnya papa bangun juga, gimana masih sakit gak?" tanya ibunya Tiara.


Pak Pribadi tidak menjawabnya dengan kata-kata, tapi dengan mengelus kedua pipi istrinya.


" Terimakasih mah, sudah mau merawat papa", ujar Pak Pribadi.


" Sama-sama pah, tapi Nak Ranti yang menyembuhkan papa",ujar ibunya Tiara.


" Nak Ranti, om minta maaf karena selalu merepotkan kamu", ujar Pak Pribadi.

__ADS_1


" Tidak usah dipikirkan, om adalah ayah sahabatku, dan juga orang yang bekerja denganku, 2 alasan ini lah yang membuatku merasa tidak direpotkan, lagian nanti Tante akan membayar biaya pengobatannya, bukan begitu Tante ", ujar Ranti.


" Ia pasti Tante buatkan", ujar ibunya Tiara.


" Kalian para wanita kadang bikin kita para pria bingung", betul tidak nak Robin.


" Ia Om, jawab Robin dengan cepat.


" Tiara, berarti kamu suka buat Robin kebingungan", kompor Rindu.


" Oh jadi kak Robin kebingungan menghadapi aku ya", respon Tiara yang langsung pura-pura kesal ke Robin.


Hahahaha... hahahaha ruangan jadi berisik melihat tingkah Robin yang justru kebingungan.


" Wah kakak ipar sudah keluar tanduknya", ucap Ranti.


" Maaf sayang cuma bercanda saja", ujar Tiara dan merangkul Robin.


" Kirain kamu marah beneran", ucap Robin.


" Terimakasih sudah menerima aku apa adanya, memang benar kok, kadang aku suka buat kamu bingung ", ujar Tiara jujur.


" Tidak apa-apa, namanya juga wanita tetap selalu benar", ujar Robin pasrah.


" Kak Robin pintar, namanya wanita ", ujar Ranti .


" Ya sudah, Tante silahkan panggil dokternya, siapa tahu sore ini, om sudah pulang dan tidur nyenyak di rumah", ujar Ranti.


Ibunya Tiara menekan tombol memanggil Dokter.


Tak lama berselang masuk 2 Dokter dan beberapa orang perawat.


Mereka kaget melihat kondisi pak Pribadi yang sudah duduk di ranjang dengan kaki terjuntai, bahkan ditangan pak Pribadi masih memegang gelas berisi air putih campur air surgawi.


" Bagaimana bisa sembuh secepat ini, kalau sembuh, juga pasti cacat ", batin Dokter itu".


" Bagaimana perasaan bapak", tanya Dokter itu.


" Saya rasa sudah sehat, kaki dan tangan saya sudah tidak terasa sakit", ujar Pak Pribadi dan langsung berdiri.


" Baik Pak, saya buatkan laporan dulu, nanti kami akan lakukan pengecekan ulang", ujar dokter itu.


" Apa suami saya bisa pulang hari ini Dokter?" tanya mamanya Tiara.


"' Kalau lihat keadaan pasien sudah bisa, tapi Mohon besok pagi kembali untuk lakukan pengecekan dengan CT Scan, bagiamana?"


" Baik besok jam 9 pagi kami sudah disini", ujar Pak Pribadi yang menjawab pertanyaan dokter.


" Baiklah kalau begitu, saya berikan rekomendasi untuk bisa pulang, fan tolong urus di bagian administrasi", ujar Dokter itu.


" Terimakasih Dokter", ucap Pak Pribadi.


Sementara ibunya Tiara ke bagian administrasi, Tiara Segera berkemas, Ranti juga langsung pamit pulang.


Diruang Dokter justru terjadi perdebatan soal Pak Pribadi yang bisa sembuh secara tiba-tiba, baru 3 jam yang lalu mereka memberikannya obat penenang, tapi sekarang justru terlihat seperti orang yang tidak mengalami patah tulang.


Sejam kemudian Ranti tiba di rumahnya dan langsung kemeja makan, dia bersama Rindu menikmati makanan sambil ngobrol kecil, Salma dan Armando sedang nonton membiarkan kedua kakak mereka makan.


" Wah.. kakak pulang di cuekin gara-gara nonton kartun, ucap Ranti.


" Hehehehe, respon singkat Salma.


" Ya sudah lain kali kakak seminggu baru pulang", ujar Ranti berpura-pura ngambek.


" Kak Rindu juga nanti nginap di Panti Asuhan Charity seminggu", ujar Rindu.


" Ayo Ranti kita ke Panti saja, mereka lebih senang kartun daripada kita", ujar Rindu.


Mendengar omongan nginap di Panti, membuat Salma dan Armando langsung lompat dari ruang TV dan lari kearah Ranti dsn Rindu.


" Jangan nginap di sana", ujar Salma sambil memeluk Ranti.


" Abisnya kami berdua pulang kalian cuekin", ujar Ranti yang masih berpura-pura ngambek.


" Maafkan kami, Salma yang salah ngajakin kak Armando nonton, ujar Salma.


" Hehehehe kakak bercanda saja sayang, apa kalian sudah mandi ?" tanya Ranti menggendong Salma.


" Belum, kami tunggu kakak ujar Salma.


" Kok tunggu kakak, emang mau dimandiin kakak ya", tanya Ranti.


" Ia, ujar Salma.


" Ya sudah, Armando mau mandi dengan kakak atau kak Rindu.

__ADS_1


" Kak Rindu saja, nanti kamar mandi kak Ranti jadi sempit", Ujar Armando yang berada di pangkuan Rindu.


Begitulah kehidupan Ranti dan kedua adiknya yang Manja, Armando kalau disekolah terlihat cool dan gayanya yang keren, tapi kalau dirumah Manja juga sama dengan Salma.


__ADS_2