
" Saya juga berharap kalian keluarga Suhendra dan Satrio jangan ada yang iri dengan pemberian saya terhadap Bu Maryati dan Nimar", ucap Ranti.
" Sudah di berikan hadiah saja kami sudah bersyukur, untuk apa iri kepada mbak Maryati dan Nimar", ucap Satrio.
" Kami sama adik Satrio",ucap Suhendra.
" Ya sudah kalau begitu, sekarang kami mau istirahat di rumah Bu Likha, Dewi nanti besok pagi kami berkunjung ke rumah kamu, tolong bilang ke Orangtua dan Adikmu serta kakakmu agar jangan kemana-mana", ucap Ranti.
" Baik Nona Muda, akan saya sampaikan", ucap Dewi pelayan.
Baru saja Ranti dan saudara-saudaranya berdiri dan hendak keluar dari rumah Marni, Tiba-tiba pamannya yang sombong datang dan langsung masuk tanpa ada ucapan Permisi dan hampir menabrak Armando dan Salma.
" Hei bocah lain kali jangan berdiri disitu", hardik pamannya Marni.
" Maaf om", ucap Armando menahan emosinya.
Ucapan Armando di cuekin oleh pamannya Marni yang bernama Prihanto.
" Prihanto, kamu kalau masuk rumah orang itu yang sopan, apalagi kami lagi kedatangan tamu terhormat", ucap ucap Marsina kakak Maryati.
" Oh kalian juga datang mau menjenguk Maryati atau Satrio", ucap Prihanto, yang tak menggubris ucapan Marsina.
" Kami datang menjenguknya adik apa ada masalah dengan kamu? ucap Suhendra tegas.
" Suhendra kamu hanya menantu di di keluarga kami, jadi lebih baik kamu diam", ketus Prihanto.
" Baiklah, toh adik ipar Maryati dan ipar Satrio sudah sehat, bahkan lebih sehat dari sebelum mau patahkan tangan Satrio", sengit Suhendra.
" Satrio, karena kamu sudah sembuh, sekarang kamu kembali bekerja di toko saya di pasar Situbondo", perintah Prihanto seenaknya.
" Saya tidak akan kembali bekerja dengan mas, aku mau berusaha sendiri, Rumah warisan saya dari ayah dan ibu silahkan kamu ambil, saya mau buat rumah sendiri di tanah warisan nenek untuk saya dan mbak Maryati", ujar Prihanto.
' Hahahaha, memangnya kamu punya uang, untuk bangun rumah, motor bekas saja kamu tidak mampu kamu beli, apalagi bangun rumah yang butuh anggaran puluhan hingga ratusan juta", ucap Prihanto menghina adiknya sendiri.
Ranti sudah geram melihat kesombongan Prihanto, tapi dia masih menahannya.
" Maaf paman, ini rumah saya, tolong pergi dari sini, maaf selama ini saya salah menghormati Paman, tega sekali paman menampar ibu saya dan mengusir Paklek Satrio dari rumah yang kakek berikan untuk Paklek, sawah yang juga pembagian untuk ibuku, sudah paman rebut dan jual ke Pak Lurah, tapi gak apa-apa, dan ini adalah rumah saya, tanah ini saya beli dengan hasil saya sendiri, jadi silahkan pergi dari rumah saya", Ucap Marni.
" Dan satu lagi, tolong kembalikan uang yang kalian pinjam dari ibuku, karena itu adalah uangku", tegas Marni.
" Nanti kalau paman sudah punya uang", jawab Prihanto.
" Enak sekali paman menjawabnya, hutang gak mau bayar, ibuku juga kamu tampar bahkan istrimu memaki-maki Ibuku, kalian manusia atau bukan!
" Marni !! jaga bicaramu, aku ini paman kamu, dan istri saya adalah Bibimu, jadi kamu harus menghormati saya, kali ini ku maafkan kamu", hardik Prihanto.
" Marni, biarkan saja uang itu tidak kembalikan, ibu sudah tidak menganggap dia kakak, jadi sudahlah, jangan beradu mulut dengannya.
" Baik Bu, Marni juga bersumpah tidak akan mengakui dia sebagai Paman dan istrinya sebagai Bibi", ucap Marni.
" Silahkan keluar dari rumah saya, saya haramkan kamu dan keluargamu masuk kerumah saya", ucap Marni.
" Marni, aku ini Paman kamu, kenapa kamu bersikap seperti ini", ucap Prihanto.
" Kamu sendiri kenapa menampar ibuku yang merupakan adikmu sendiri, dan membiarkan istrimu memaki-maki dan menghina Ibuku, Paklek Satrio juga kamu usir, dari rumah yang di wariskan kakek, dan kamu membakar surat wasiat kakek, sawah milik ibuku juga kamu ambil dan menjualnya, terakhir hutang kalian 30 juta tidak mau kalian kembalikan, alasan tidak tidak punya uang, tapi kedua anakmu kamu belikan motor mahal", ucap Marni.
Prihanto terdiam, dia tak bisa mengelak dari ucapan Marni.
" Prihanto, pergilah mbak kecewa dengan sikap dan cara kamu, ini rumah hasil jerih payah Marni", ucap istri Suhendra.
Ranti dan saudara-saudaranya sudah semakin geram, tapi mereka belum mau bertindak, selama Prihanto tidak melakukan kekerasan fisik.
" Baru jadi pembantu saja sudah sombong seperti itu, bagaimana mungkin kamu bisa beli tanah seluas ini dan membangun rumah besar, kalau hanya mengandalkan gaji pembantu", ucap Prihanto.
" Maaf Tuan, Marni bekerja di rumah kami, sebagai pelayan, begitulah menurut kata orang lain, dan memang benar mereka melayani kami, tapi ada hal yang Tuan tidak tahu, coba lihat rumah Dewi, Bu Likha dan Yati, mereka juga bekerja di rumah kami, tapi mereka sudah kami anggap sebagai keluarga.
Asal kamu tahu saja, kekayaan mereka yang bekerja di rumahku sudah sangat besar, karena adik saya sangat menyayangi mereka", Ucap Vanya.
__ADS_1
" Hahahaha, memangnya berapa yang bisa kalian berikan untuk mereka", ucap Prihanto.
" Hahahaha, Prihanto, kamu tidak tahu siapa Nona Muda dan Tuan Muda kami, tanya saja sama Suhendra atau ke Clarisa Putrinya, hari ini dia dapat hadiah apa dari Nona Muda kami", ucap Mang Dul.
" Saya dapat uang 20 Milyar dan motor, serta rekomendasi bekerja di perusahaan Nona Muda, adik saya Riklan juga dapat uang 20 milyar dan 1 unit motor, juga hadiah dari Nona Muda", sahut Clarisa.
" Oh saya dan istri juga Masing-masing mendapatkan 20 milyar, serta modal usaha, 10 milyar" dan 1 unit mobil, ucap Suhendra
" Keluarga saya juga begitu, kami masing-masing mendapat 20 milyar, 10 milyar untuk usaha dan 10 miliar lagi untuk bangun rumah, juga mobil dan motor", ucap Satrio.
" Hahahaha, di dunia ini mana ada orang sebaik itu", ucap Prihanto.
" Baiklah mau kamu percaya atau tidak, lihat saja, lihatlah besok pagi, rumah pak Satrio akan mulai di bangun", sahut Ranti.
" Tuan besar, dari tadi kamu sudah di usir sama pemilik Rumah, apa kamu tidak malu masih berada disini", ucap Ranti.
" Prihanto, saya selama ini tidak pernah membalas omongan kamu atau menentang kamu, karena saya menghargai ayahmu, tapi cara kamu sudah sangat di luar batas", ucap Mang Dul.
" Kalau memang mendapatkan uang dari orang yang kalian panggil Nona Muda, suruh dia buktikan dengan memberikan saya juga uang", ucap Prihanto mencoba memprovokasi Ranti.
" Hahahaha, untuk apa memberikan uang kepadamu sekedar membuktikan saya punya uang banyak, Bu Likha, mang Dul, Yati, dan Dewi juga Marni sudah membuktikannya, Marni berapa kekayaan kamu sekarang? tanya Ranti
" Berapa kekayaan Mang Dul dan Bu Likha? lanjut Ranti.
" Saat ini uang saya ada 6 Triliun untuk deposito saya, dan 2 triliun untuk aku gunakan biaya anak saya, ibu dan adik saya Nimar, serta membantu Paman Satrio sejak tidak bekerja lagi di toko Prihanto.
" Kalau mang Dul dan istri jika di gabung uangnya, maka totalnya 16 triliun untuk Deposito, 2 triliun untuk biaya anak kami, juga bantu keluarga kami, kebetulan saya anak tertua, jadi kedua adik saya sudah ku buatkan rumah, dan mereka masing-masing sudah kubelikan sawah dan kerbau, serta kambing untuk mereka beternak dan juga motor, dan istri saya mendukung jika saya memberikan uang untuk kedua adik saya, apalagi kami sudah tidak memiliki orangtua.
Begitu juga dengan kakak beradik istri saya, sudah dibuatkan rumah dan juga sawah, serta kerbau dan Kambing, juga motor, keluarga itu harus kompak dan saling menyayangi, benar gak tindakan kami nona Muda? tanya mang Dul ke Ranti.
" Sangat benar, lihatlah kami yang tidak lahir dari kandungan yang sama, tapi kami saling menyayangi, kakakku tidak pernah membentak saya, apalagi menampar saya, bahkan mereka rela dihukum demi saya", ucap Ranti.
" Maaf Nona Muda, jadi maksud anda kalian semua saudara angkat? tanya Suhendra.
" Tidak semuanya, kak Renata dan Renita adalah sepupu kandung saya, sebelah Ayah, kalau kak Rindu cucu sepupu sebelah ibu saya, tapi mereka bertiga lama terpisah dari keluarga, daya juga demikian, saya besar di Panti Asuhan Charity Surabaya, merekalah yang merawat saya, dengan penuh kasih sayang dan saya sudah berjanji akan selalu menghormati dan menyayangi kakak - kakak saya", ucap Ranti.
" Marni, keluarga yang baik kepada kita, kamu juga harus lebih baik, dan jika dia jahat, hapus saja orang itu dari daftar keluargamu", ucap Ranti.
" Baik Nona Muda, saya gak suka ibu saya di hina dan di tampar, kecuali ibu saya memang salah, masih wajar dia menampar Ibuku sebagai pelajaran, dan dia berhak karena dia adalah kakak Ibuku, tapi ibuku membela paman Satrio dan itu tindakan yang benar, ibuku melindungi adiknya", ucap Marni.
" Benar itu Marni, jangan kuatir akan hal itu, biarkan saja, sawah ibumu dan warisan rumah paman Satrio mu, sekarang mereka sudah punya uang sendiri dan akan segera membuka usaha", ucap Ranti.
" Terimakasih Nona Muda, terimakasih sudah mengangkat derajat Marni setinggi ini", ucap Marni.
" Sama-sama, berterimakasihlah kepada Bu Likha yang telah mengajak kamu, Dewi dan Yati bekerja di rumah kami", ucap Ranti.
" Itu sudah pasti Nona Muda, bagi kami bibi Likha dan Mang Dul adalah orang tua kami", Ucap Marni.
" Itu baru betul, sekarang angkat kepalamu, ucap Ranti sambil memegang tangan Marni.
Prihanto terdiam dan akhirnya pergi dengan emosi.
" Ya sudah kami ke rumah Bu Likha, kasihan Salma dan Armando sudah capek", ucap Ranti.
" Yati, rumah kamu sudah beres belum, kalau belum besok pagi, bawa keluargamu ke rumah Bu Likha dan juga bawa baju ganti serta peralatan mandi", perintah Ranti.
" Baik Nona Muda", jawab Yati.
" Bu Maryati, pak Suhendra dan Bu Marsina, kami pamit ke rumah Bu Likha mau istirahat", ucap Ranti.
" Baik Nona Muda, maafkan atas kejadian tadi", ucap Maryati.
" Tidak apa-apa, orang seperti itu memang pantas tidak hargai", ucap Ranti sambil menggendong Salma yang terlihat kecapean, kemudian beranjak ke mobil.
Sepeninggal Ranti, tinggalah Marni beserta keluarganya.
" Clarisa, bekerjalah baik-baik di perusahaan Nona Muda, dan gunakan uang yang diberikan dengan bijak", ucap Marni.
__ADS_1
" Ia kak, Clarisa juga gak mau kakak malu", ucap Clarisa.
" Syukurlah kalau kamu mengerti", ucap Marni sambil membelai kedua anaknya.
" Bunda, berarti nanti nenek antar kami ke sekolah pakai mobil", ucap Anak pertama Marni.
" Ia sayang, dan kalau hari Sabtu atau Minggu kalian bisa jalan-jalan, sama bibi kalian Yuna dan Yuni", ucap Marni.
" Ia Bunda, bibi Yuna dan Yuni sangat sayang sama kami", ucap Putri bungsu Marni yang masih kelas 4 SD.
" Kalian anak baik, makanya bibi sangat sayang sama kalian", ucap Yuna dengan lembut.
" Kakek Suhendra punya hadiah untuk kalian berdua, ini permen susu kesukaan kalian berdua", ucap Suhendra.
" Wah, ini banyak sekali kek, terimakasih ya", ucap Putri Marni.
" Sama-sama sayang, kalian cucu-cucu kakek dan nenek", ucap Suhendra yang memang sangat menyayangi kedua anaknya Marni.
" Marni terimakasih ya, berkat kamu, kami semua dapat hadiah yang sangat besar", ucap Satrio.
" Sama-sama Paman, Nona Muda Ranti sangat baik hati, tapi sangat kejam pada orang seperti Prihanto, sudah bagus tadi Nona Muda Ranti tidak menghajarnya.
" Asal Paman berdua tahu, Nona Muda Ranti itu adalah pintar beladiri, preman kelas kakap saja di hajar hingga babak belur dan patah kaki dan tangan, namun sekarang jadi Tim Keamanan di seluruh perusahaan nona Muda, kehidupan mereka sekarang ini sudah sangat kaya, nona muda memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat", ucap Marni.
" Jangan remehkan juga Nona Muda Salma dan Tuan Muda Armando, mereka berdua mampu menghadapi beberapa orang dewasa, karena juga pintar bertarung, intinya para Tuan Muda dan Nona Muda, selain cerdas mereka juga jago bertarung", ucap Marni.
" Sangat luar biasa keluarga mereka, tapi kalau boleh tau seberapa banyak kekayaan mereka? tanya Suhendra.
" Yang kaya adalah Nona Muda Ranti, dia selalu membagikan hasil perusahaannya untuk semua saudaranya, Nona Muda Salma saja, hartanya sudah lebih dari 1000 triliun, nah hitung saja kekayaan Nona Muda Ranti, karena rata-rata kekayaan saudaranya lebih dari 1000 triliun.
Harta Nona Muda Ranti, belum di gabung dengan warisan orangtuanya, yang juga kaya raya dan masuk daftar orang terkaya di Indonesia", ucap Marni.
" Astaga, tapi hebat mereka dalam menjalani kehidupan dengan sederhana", ucap Satrio.
" Nona Muda Ranti, punya perusahaan pembuat pesawat terbang di Amerika Serikat, dan Bank terbaik se Asia Tenggara, belum yang lainnya", ucap Marni.
" Kamu beruntung bisa bekerja di rumah mereka", ucap Marsina.
" Sangat beruntung Bude, saat Bibi Likha mengajak saya, Marni tak kepikiran akan memiliki harta sebanyak ini, kami dirumah Nona Muda, bekerja dengan santai, mereka tidak peduli apa yang kami kerjakan, yang penting rumah wajib bersih dan baju mereka semua sudah tertata dengan rapi dan makanan selalu tersedia.
Kami sering bercanda dengan mereka, karena mereka kalau dirumah tidak nampak seperti bos atau majikan, segala sesuatu yang mereka minta, selalu menggunakan kata tolong dan terimakasih, yang paling cerewet itu Dewi dan dia memang seperti itu, tapi para Nona muda dan Tuan Muda tidak pernah menegurnya, karena mereka senang dengan tingkah Dewi", lanjut cerita Marni.
" Pantas saja tadi pagi Dewi di ledekin oleh nona muda Ranti.
" Memang seperti kalau di rumah, tapi Dewi cekatan dalam beberes rumah, merapikan tempat tidur Nona Muda, kecuali kamar tidur Nona Muda Ranti yang hanya boleh di kerjakan oleh bibi Likha.
" Bibi Likha sudah dianggap sebagai orangtua mereka, paman lihat sendiri tadi, saat Bu Likha bicara makan siang, tak ada yang membantah.
Bibi Likha memperlakukan mereka juga seperti anaknya sendiri, makanya kami juga sangat bersyukur di ajak bibi Likha bekerja dirumah Nona Muda Ranti dan saudaranya.
" Kami hanya berpesan, jangan lupa bersyukur itu saja", ucap Suhendra.
" Kami di buatkan mushalla agar bisa ibadah 5 waktu, mereka sangat marah jika kami lalai beribadah, karena mereka juga rajin beribadah.
" Selamat sore, terdengar suara orang menyapa dari depan pintu rumah Marni.
" Ya ada apa? tanya Nimar.
" Kami Diperintahkan nona Muda Ranti untuk membangun rumah atas nama pak Satrio, dan hari ini kami mau melihat lokasinya, juga Kami di suruh membangun kios juga", ucap orang itu yang ternyata adalah Tim dari Rose.
" Silahkan masuk, paman saya ada di dalam", ucap Nimar.
" Tuan Satrio, tolong antar kami melihat lahan untuk membangun rumah anda, karena besok orang-orang kami akan mulai bekerja", ucap orang itu.
" Oh mari silahkan, jarak dari sini sekitar 150 meter, sedangkan lokasi kios ada pinggir jalan sebelah sana", ucap Satrio sambil berjalan menuju ke lokasi bersama dengan Suhendra.
Sementara di rumah Bu Likha, Ranti sedang menemani Salma dan Armando tidur, sedangkan Bu Likha dan yang lain mempersiapkan makan Malam.
__ADS_1