
Juwita dan Poppy yang lagi serius dengan laporan mereka, mendengar ada suara begitu begitu ramai, hingga membuat mereka penasaran, dan saat mereka melihat bahwa Ranti sedang berada bersama anak-anak panti sontak membuat keduanya bergegas mendekati Ranti.
" Selamat sore Nona Muda, maaf kami tidak menyambut kedatangan anda", ujar Juwita dan Poppy.
" Tidak masalah, kalian santai saja, aku hanya Sebentar disini", ujar Ranti.
" Senang melihat datang menjenguk kami, adik-adik katanya sangat kangen ingin berjumpa, padahal kami rencananya ini menyewa bus untuk datang ke Surabaya saat liburan, Apalagi kata Velove dan Vexia, mereka mau liburan ke Surabaya", ucap Juwita.
" Datanglah, nanti kalian berkumpul dengan seluruh anak-anak Panti yang ada disana", balas Ranti.
Mereka berbincang-bincang dengan sangat Bahagia, apalagi ibu koki membawakan cemilan dan minuman segar, suasana Panti itu sejenak menjadi ramai, sosok yang selama ini mereka anggap sebagai malaikat penyelamat, berada di dekat dengan mereka.
" Kakak, aku sekarang sudah semakin pintar, uang tabunganku sudah banyak, kelak aku akan buka restoran", ujar seorang gadis kecil yang masih kelas 5 SD.
" Baiklah, kakak akan tunggu saat restoran kamu buka, kakak akan jadi pembeli pertama kamu", ujar memberi semangat.
" Terimakasih kak, tapi kata kak Juwita aku harus lebih giat belajar lagi pelajaran maupun belajar masak sama ibu koki dan bapak Koki disini', lanjut gadis itu.
" Itu harus, kamu harus belajar dengan tekun agar bisa sukses", ucap Ranti.
Hampir 3 jam Ranti berada di Panti Asuhan Bintang Timur Jogjakarta, dengan suasana bahagia, Apalagi laporan Keuangan tidak ada masalah, semua anak juga memiliki tingkat kemandirian yang bagus, hingga membuat Ranti bangga dengan kinerja Juwita dan Poppy, serta suami istri yang bekerja sebagai Koki juga ketua Panti.
Ranti dan Sandrina beranjak dari Panti dan menuju ruangan yayasan, Disana tinggal Pak Gunadi dan Pak Supomo.
Setelah berpamitan, Ranti bergegas Pergi dan kali ini dia akan kembali ke Surabaya, setelah tiba di daerah pinggiran Jogjakarta, Ranti memutuskan untuk terbang, agar bisa lebih cepat tiba di Surabaya, agar besok pagi bisa menyembuhkan Mora.
Dengan menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya Ranti tiba di langit-langit Surabaya, dia mengambil posisi mendarat di rumah yang di tempati Sabrina dan Santina serta Sandrina, karena memang hanya mereka bertiga yang tau kalau Ranti memiliki Sistem.
" Sandrina, ayo antarkan saya kerumah, aku kangen dengan saudara-saudaraku", ujar Ranti.
Hanya dengan waktu 45 menit Ranti dan Sandrina sudah tiba, terlihat suasana rumah Ranti masih terang benderang.
Ketika Ranti memasuki ruang tamu, Salma yang melihatnya langsung berlari sambil berteriak.
" Hore, akhirnya kak Ranti pulang, kak Armando kak Ranti pulang", teriak Salma langsung memeluk orang yang di rindukannya.
" Kangen ya? tanya Ranti.
" Banget, abis kakak perginya lumayan lama", ujar Salma.
" Hehehehe, kan kakak kerja sayang, ini oleh-oleh dari Singapura dan Lampung, buat Salma dan Armando", ucap Ranti sambil memberikan oleh-olehnya.
" Kak Ranti, Armando sudah lama mencari kaset game ini, tapi di Surabaya tidak ada, tapi sekarang kakak sudah membelikannya untukku, terimakasih Kak, cup cup", ucap Armando sambil mencium kedua pipi Ranti.
" Sama-sama sayang, kakak senang kalau kalian bahagia, maafkan kakak yang terlalu sibuk", ucap Ranti sambil merangkul kedua adiknya, dengan penuh kebahagiaan.
" Kami Mengerti akan kesibukkan kakak, jadi tenang saja, kakak berjuang untuk kebahagiaan kami jadi kami sebagai adik harus bisa memahami dan mendukung kakak, suatu saat kami bisa meringankan pekerjaan kakak", ucap Armando.
" Kakak sangat bangga dan berterimakasih atas pengertian kalian berdua, oh ia Salma, apakah Mora sudah pulang kerumahnya? tanya Ranti.
" Sudah kak, Mora pulang tadi Pagi, luka-lukanya sudah kering semua jadi kata Dokter sudah boleh pulang dan rawat jalan saja", jawab Salma.
" Halo kak Rindu, mana kak Mercy dan kak Friska ? tanya Ranti.
" Mereka belum pulang dari Kate, kakak disuruh menemani Salma dan Armando menunggu kamu pulang", ucap Rindu.
" Maaf Nona Muda, kalau begitu saya permisi kembali pulang", ucap Sandrina.
" Terimakasih banyak, dan hati-hati ", ujar Ranti.
" Hei adik, ternyata kamu sudah sampai, ujar Anggun yang datang dari arah kamarnya.
" Hai juga kak Anggun, bagiamana apa kakak nyaman disini", tanya Ranti.
" Nyaman, tapi besok kakak akan pindah ke rumah kakak yang baru di beli, lagian besok sore ayah dan ibuku baru bisa datang", ucap Anggun.
" Ya sudah, terus mobilnya apa sudah di beli atau belum? tanya Ranti.
" Sudah, kakak beli 2, yang satunya buat ayah, dan sudah di antar oleh Tim dari Dealer Grace, hari Kamis kemarin", jawab Anggun.
" Baguslah, nanti hari Minggu pagi, aku obati kedua orang tua kakak, jadi santai saja dulu", ujar Ranti.
" Makasih ya Dek", jawab Anggun.
__ADS_1
" Sama-sama Kak, tapi maaf saya mandi dulu ya, nanti kita lanjutkan obrolan setelah saya mandi", ujar Ranti.
Setelah mandi dan berbincang dengan seluruh Saudaranya termasuk Anggun, akhirnya mereka semua beristirahat, Anggun bahagia melihat Ranti yang tetap seperti awal mereka bertemu.
Tak terasa hari sudah berganti, mereka semua sudah berada di meja makan, sementara para majikan sedang sarapan, para pelayan termasuk Yati sedang heboh dengan oleh-oleh yang dibeli Ranti dari Singapura.
" Ternyata Nona Muda tidak pernah melupakan kita kemanapun Nona Pergi", ucap mereka.
" Makanya, kita jangan buat Nona Muda kecewa, Nona Muda selama ini selalu memperhatikan kita jadi kita harus bekerja lebih semangat lagi", ujar Bu Likha.
" Benar Bu, tak terasa kita sudah hampir 3 tahun melayani Nona Muda, tak sekalipun kita di bentaknya, ujar Dewi pelayan.
" Kita harus bersyukur atas semua pemberian Nona Muda Ranti, belum lagi Nona Muda yang lain, sekarang tabunganku sudah 15 milyar, rumah di kampung sudah selesai, sawahku sudah banyak, anak-anakku bersekolah dengan baik, ucap Marni.
" Aku juga sama, Rumah untuk anak-anak sudah selesai di bangun, agar kelak mereka saat menikah nanti sudah punya rumah", ucap sang koki.
" Kalo aku masih belum punya anak, tapi aku sendiri sudah bangun rumah untuk ibu dan ayahku, kedua kakakku juga sudah ku buatkan rumah walaupun tidak besar, itung-itung membalas kebaikan mereka yang sudah membantuku merawat orangtua, ucap Dewi pelayan.
" Kalau aku hampir sama dengan mba Dewi, hanya saja rumah untuk orangtuaku masih tahap finishing", kata Yati menyambung pembicaraan mereka.
Semua pelayan Ranti hidup berkecukupan, mereka tidak tahu bahwa Ranti telah menyiapkan mereka uang yang sangat banyak buat mereka saat dia berusia 18 tahun nanti.
Tak tanggung- tanggung, Ranti akan memberikan kepada mereka masing-masing 2 triliun, Ranti merasa bersalah juga karena para pelayan setianya, selalu mendapatkan hadiah sangat kecil, karena itulah Ranti memutuskan memberikan mereka deposito berjangka sebesar 2 triliun per orang.
Selesai sarapan, mereka berbincang sebentar, kemudian Anggun pergi ke kamarnya dan keluar membawa koper dan berpamitan, untuk pindah kerumahnya, karena pagi ini perabotan rumah dan pelayan akan datang.
" Dek, terimakasih atas semuanya, kakak pindah lagi ini, karena perabotan dan pelayan kakak akan datang jam 10 pagi nanti", ucap Anggun.
" Baiklah, rumah ini selalu terbuka untuk kakak, dan besok pagi saya akan kerumah kakak", ucap Ranti.
" Rose, Transfer 100 milyar ke rekening Kak Anggun, dan buatkan ATM Platinum mandiri isikan 25 milyar", perintah Ranti.
* Baik Tuan", jawab Rose.
Mereka semua keluar dan mengantarkan Anggun keteras, terlihat Mang Dul membantu mengantarkan mobil Anggun ke depan Teras, Anggun membeli Mobil Mercedes GLE 53 sama seperti milik Ranti dan juga saudara-saudaranya.
" Ini buat kakak, tolong di terima, bersantai saja dulu sebelum nanti lanjut kuliah", ujar Ranti sambil memberikan ATM Platinum Mandiri.
" Amin, aku pasti membantunya, kakak tenang saja", jawab Ranti.
Setelah Anggun pergi, kini Ranti mengajak saudara- saudaranya kerumah Mora.
" Baiklah, nanti dari rumah Mora baru kita ke Cek DAMKAR Supermarket, Ujar Mercy.
" Salma, Armando ayo kita buat Mora kembali cantik lagi, ujar Ranti sambil menggendong Salma menuju ke mobil.
" Hahahaha, akhirnya temanku tidak akan gosong lagi", teriak Salma.
" Kamu itu teman sendiri di bilang gosong", ucap Mercy.
" Mora sendiri yang bilang dia gosong kayak ikan kelamaan angkat dari penggorengan.
hahahaha hahahaha
" Bisa aja kamu dek", ujar Rindu tertawa.
Dengan menggunakan 2 mobil mereka berangkat kerumah Mora, dan hanya butuh waktu 45 menit saja mereka pun tiba.
Ketika mereka tiba di rumah Mora, terdapat banyak orang yang berada dirumah itu, ternyata mereka adalah keluarga besar ayahnya Mora.
" Selamat pagi Nona Muda, ucap ibunya Mora.
" Pagi juga Bibi, kenapa pada berisik, dan kenapa Paman sepertinya sedang di marahin oleh mereka", tanya Ranti.
" Biasa itu, mereka selalu memojokkan suami bibi, mereka selalu bilang kami orang miskin, dan mereka tidak suka saya menikah ayahnya Mora.
" Dasar orang-orang Sombong, ya sudah Bibi, saya datang untuk mengobati Mora", kata Ranti.
" Ayo masuk ke kamar Mora, gak usah pedulikan mereka", ucap ibunya Mora.
" Halo Paman, apa kabar, saya mau menjenguk Mora, ucap Ranti.
" Cih mau melihat anak yang sudah hangus terbakar ", ujar paman tertua Mora, yang memang sangat membenci keluarganya.
__ADS_1
" Maaf, kamu siapanya Mora, dan maaf disini yang berhak adalah Paman dan bibi termasuk Mora, kamu disini tamu, jadi kalau di rumah orang kamu harus tahu belajar sopan santun, masa orang kaya tidak punya etika", ucap Ranti dengan tegas.
" Saya adalah Paman tertuanya Mora, jadi saya berhak dirumah ini, jadi kamu yang harus tau diri dirumah ini ", bentak kakaknya Ayah Mora.
" Maaf Paman, dia boleh jadi kakaknya paman, tapi bukan berarti dia yang harus mengatur hidup keluarga Paman, hingga dia berhak dirumah Paman, memangnya apa yang sudah dia berikan ke Paman dan Bibi, yang ada hanya hinaan, ejekan dan makian, apa itu namanya saudara, untuk apa paman takut dengan mereka yang tidak pernah membantu Paman disaat susah", ujar berusaha membuat ayahnya Mora lebih tegas dengan keluarganya.
" Tapi Nona Muda, almarhum Orangtua kami selalu berpesan jangan pernah melawan kepada kakakku", jawab ayahnya Mora.
" Itu memang benar, tapi lihat dulu masalahnya, tadi saja mereka mengejek Mora, dan Bahkan saya dengar mereka memaki-maki Paman, itu harus paman lawan, kecuali paman melakukan kesalahan baru Paman jangan melawan saat mereka nasehati Paman. Bukan saya memprovokasi Paman, tapi paman sudah menikah dan Punya anak, otomatis paman harus membela keluarga paman dari cacian mereka, yang sok hidupnya kaya raya, padahal setahun belum tentu dapat uang 2 milyar", ucap Ranti.
" Hei kamu jangan sok menasehati kami orang yang lebih tua, kamu masih mengandalkan orangtua saja mau meremehkan kami", hardik kakak tertua ayahnya Mora.
" Hahahaha, lucu kamu, apa kamu mengenal saya hingga kamu mengatakan saya mengandalkan orangtua, dasar sombong dan goblok ", ucap memaki mereka.
' Kurang ajar kamu mengatai kami, ' adik usir gadis kurang ajar itu dari rumah ini ! perintah kakak ayahnya Mora".
" Maaf mas, saya selama terlalu bodoh dan patuh kepada kalian, tapi mulai saat ini, jangan lagi mengganggu keluarga saya, bertahun-tahun kalian selalu menghinaku dan istriku, saya tidak pernah mendapat bantuan dari kalian sejak menikah, bahkan waktu saya belum menikah pun saya bekerja keras sendiri, dan kamu mas, sebelum kamu sukses, aku yang membantu anak kamu hingga lulus kuliah, apa anakmu pernah membalas nya", emosi Ayahnya Mora.
" Jadi kamu tidak ikhlas membantu keponakan sendiri ! balas kakaknya.
" Dulu saya ikhlas, tapi sekarang tidak melihat kamu dan anakmu yang aku bantu begitu meremehkan saya, jadi wajar saya tidak ikhlas, ingat baik-baik, anak - anak saya tak sekalipun kamu berikan sesuatu, kamu hanya peduli dengan yang lain tapi tidak dengan saya, saya menikah istriku saja, tidak sepeserpun kalian membantuku, jadi pergi kalian dari rumahku, dan jangan pernah menyebutku saudara kalian, aku bungsu dari kalian, anggap saja saya sudah mati.
" Dan kamu anak durhaka suatu saat akan menerima karma, karena selalu meremehkan aku yang menyekolahkan kamu hingga lulus kuliah, dan bukan hanya kamu, seluruh kalian yang dulu kupanggil ponakan tidak ada satupun yang menghargai saya, nikmatilah keringat orang yang kalian remehkan, suatu saat kalian akan lebih menderita dari apa yang pernah saya dan istri alami.
" Saya kasih tau kamu, lihatlah rumah saya, seluruh ruangan menggunakan AC, rumah sudah 4 buah, mobil punya, tabungan triliunan juga punya, tapi kalian bilang saya miskin, hahahaha, saya kerumah kalian hanya di kasih air kemasan, tapi lihat orang miskin ini memberikan kalian minuman dan makanan yang terbaik,
Saya memang Security, istri saya memang tukang jaga kantin sekolah, tapi kami sekarang tidak miskin seperti dulu, tidak seperti kalian yang katanya kaya, terkenal dermawan, tapi bagiku itu munafik, silahkan kalian pergi dari sini, saya tidak punya kakak seperti kalian", emosi ayahnya Mora.
" Jadi kamu mau melawan kami, ujar kakak kedua ayahnya Mora.
" Semut pun kalau di injak-injak pasti melawan, apalagi saya bertahun-tahun kalian injak, seolah-olah saya ini sampah, bahkan anak-anak kalian juga sama", jawab ayahnya Mora.
" Kurang ajar kamu, kami ini saudara kamu, kami lebih tua dari kamu, jadi wajar kalau kamu harus tunduk pada kami", hardik kakak kedua ayahnya Mora.
" Kakak itu mendidik dan melindungi adiknya jik di remehkan orang lain, tapi teman-teman kalian meremehkan saya, kalian diam, apa itu disebut Kakak", jawab ayahnya Mora.
" Ya wajarlah mereka meremehkan kamu, kan memang benar kamu itu hanya Security, pekerjaan yang rendah, sedangkan mereka kelas Manajer, kecuali kamu bukan Security dan mereka meremehkan kamu baru kamu boleh protes", ucap mereka.
" Ha-ha-ha, baiklah kalian orang pintar, dan punya perusahaan, kalian boleh sombong dengan apa yang kalian miliki, tapi bukan berarti saya juga terlalu miskin seperti pikiran kalian, sekarang Keluarlah dari rumah saya, saya haramkan kalian datang kesini, dan saya dan keluarga juga tidak akan pernah lagi menginjak rumah kalian, silahkan itu pintunya atau aku bertindak lebih kasar kepada kalian", ucap ayahnya Mora .
" Baiklah, siapa juga yang betah dirumah kecil seperti ini", ejek mereka, dan beranjak hendak Pergi.
" Tunggu ! teriak Ranti.
" Saya hanya memberitahukan, mulai hari senin, perusahaan kalian berdua sudah tidak berhak mensuplai material di seluruh proyek saya, dan kamu yang ketiga, kontrakmu dengan Body Clean tidak saya perpanjang, jadi nikmatilah keuntungan selama sisa kontrak yang ada.
" Khusus Tuan Muda mantan Sepupu Mora, hari Senin besok ambil gaji terakhir kamu di bank Petani, semoga kamu sukses di masa depan, tapi saya akan mengirim surat kepada seluruh perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan saya, ataupun perusahaan yang bekerjasama dengan milik orangtua dan seluruh keluarga Ibuku, agar tidak boleh menerima kamu bekerja di perusahaan mereka.
Begitu juga dengan perusahaan kalian bertiga, ingat baik-baik nama saya Ranti Putri, pemilik RPS Group Company ", ujar Ranti.
Mereka yang mendengar nama Ranti, langsung terdiam ketakutan, apalagi sepupunya Mora yang saat ini menjabat sebagai salah satu manajer, dia kenal dengan nama Ranti Putri, tapi belum pernah melihat wajah Ranti.
Begitu juga ketiga Kakaknya ayah Mora, mereka juga tau nama Ranti tapi tidak mengenal orangnya.
" Maafkan Nona Muda, ini hanya masalah keluarga kami tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, ujar kakak tertua ayahnya Mora.
" Sekalipun demikian, tapi asal kalian tahu, Mora adalah teman baik adik bungsuku, itu berarti Mora adalah Keluarga ku, Paman dan Bibi bekerja di sekolah milikku, berarti juga mereka adalah bawahanku, dan semua bawahanku tidak boleh ada siapapun yang mengganggunya, Tuan Muda yang terhormat tahu aturan saya, jadi apakah anda ada komentar? tanya Ranti.
" Maafkan saya Nona Muda, tolong berikan saya kesempatan untuk berubah", ucap sepupu Mora.
" Tidak ada kesempatan untuk manusia yang tidak tahu balas Budi, apalagi orang itu adalah Paman kamu", tegas Ranti.
" Keluar kalian semua dari Rumahku, usir Ayahnya Mora.
" Ingat baik-baik omonganku, apa yang kalian tabur itulah kalian tuai, anggaplah hari ini adalah waktu kalian bersiap menuai apa yang kalian tanam", ujar Ranti dan langsung masuk kamarnya Mora.
Dikamar Mora Salma dan yang lainnya sedang asyik bercandaan dengan Mora, dia yakin akan bisa di sembuhkan oleh Ranti, jadi dia terlihat tenang bahkan mengejek dirinya sendiri dengan sebutan gosong.
Sementara diluar, para paman dan bibinya serta sepupu Mora berusaha meminta maaf kepada ayahnya.
" Adik, maafkan kami, kami sangat bersalah kepadamu dan istrimu", ucap kakak tertua ayahnya Mora.
" Saya memang bisa memaafkan Kalian, tapi keputusan ku sudah bulat untuk tidak lagi berhubungan dengan kalian, sudah cukup waktu bujang aku aku bekerja membantu kalian, dan kalian tidak ada yang membantuku disaat istriku sakit.
__ADS_1