SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN

SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN
Membantu hingga tuntas


__ADS_3

" Masalah apa itu Bu? tanya Miranda penasaran.


" Kalian lihat 2 rumah besar di depan itu, tanah itu milik kakek kalian, sertifikatnya ada sama ibu, begitu juga tanah yang disampingnya yang berderet rumah - rumah itu, semuanya milik kakek kalian, dulu waktu ibu kecil, dan pertama kali di bawa nenek kalian kesini, rumah kami pas di tengah rumah besar yang warna biru itu, sumurnya kalau di gali masih ada betonnya, orang itu teman kakekmu, tapi dia jahat sama kakek kalian, tapi dia tidak tahu kalau tanah itu sudah dari awal sertifikatnya atas nama Kakek kalian, ujar Bu Marta.


" Baiklah Bu, kita minta tolong Nona Muda, besok tunjukkan sertifikat ke orang BPN agar mereka bisa mengeceknya", ucap Marinda.


" Lihat saja, pasti mereka tidak senang, jika Panti Asuhan kita berkembang, mereka yang membuat para donatur itu Pergi, kita lihat besok saat Nona Muda kesini lagi, pasti mereka akan datang mengganggu, bersiaplah kita akan kedatangan bibi kalian, dia satu-satunya sahabat ibu, saat ini dia sudah janda juga, dan punya anak 2 masih SMP, dia dulu anak Panti disini, ibu lagi kalian saat dia menikah, jadi ibu ingin dia tinggal bersama kita, apalagi dia pintar memasak, ucap Bu Marta.


" Akhirnya Bibi Viktoria tinggal di sini, ucap Miranda.


" Ia, ibu sudah menelponnya dan dia bersedia, apalagi dia disana hanya ngontrak dan kerja di rumah makan, dia sudah di depan, 10 menit lagi sampai, Ucap Bu Marta.


Kembali ke posisi Ranti.


Saat ini, Ranti sudah tiba di Mall Cempaka, Vanya serta Sasha dan Regina sudah selesai mengurus pergantian direktur dan mengatur ulang posisi yang kosong.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, jadi mereka sepakat makan di restoran tapi restoran yang berbeda, masih di Mall Cempaka, apalagi Armando ingin makan daging sapi lada Hitam dan soto, jadi mereka putuskan makan disitu saja.


Pak Bayu dan Bu Maryana awalnya ingin menemani Ranti dan Salma, tapi Ranti mengatakan tidak usah, kasihan anak-anak mereka dirumah, akhirnya suami istri itu pulang walau hati tidak enak.


" Kak Vanya, besok bisa gak temani Salma dan Armando ke Ancol, tanya Ranti.


" Bisa dek, tapi sebelum kesana kakak ingin lihat rumah dulu di PIK 2, sekalian mau bicara dengan Maureen, ucap Vanya.


" Baiklah, kakak atur saja, kasihan Armando dan Salma yang ingin menikmati aquarium laut di sea world," ucap Ranti.


" Salma, Armando, maaf ya kakak tidak bisa jalan-jalan dengan kalian, kalian jalan-jalan dengan kak Vanya dulu ya, ucap Ranti.


" Gak apa-apa, Salma tau kakak sibuk, lagian ada kak Vanya yang menemani kami, jadi jangan kuatir", ucap Salma


" Gitu dong, makasih ya sayang sudah mau mengerti dengan kakak", ujar Ranti.


" Harus mengerti, karena kakak bekerja untuk kami juga, kalau kakak-kakak tidak bekerja, nanti kita jadi miskin lagi", ujar Salma polos.


Hahahaha hahahaha


" Salma takut miskin lagi ya ? ucap Vanya.


" Bukan takut, sudah sekaya ini saja, Salma hanya punya teman Mora saja, apalagi miskin, pasti tidak bertambah temanku", ujar Salma.


" Sayang coba lihat kakak, teman kakak juga hanya Tiara dari dulu, jadi santai saja, kalau mereka tidak mau berteman karena kita miskin, biarkan saja, justru hati-hati dengan yang namanya mengaku teman saat kita punya segalanya, lihat juga kak Vanya, dari kita miskin hingga sekarang tetap menyayangi kakak dan lainnya, karena harta tidak menjamin kita memiliki teman sejati, atau saudara sejati", ujar Ranti mendidik Salma.


" Begitu ya Kak, ucap Salma.


" Tepat sekali", ucap Ranti.


Lagi asik ngobrol sambil makan, tiba-tiba telpon Ranti berdering, dari nomor yang tidak di kenal, tapi saat diangkat ternyata dari pejabat sombong itu, dia mendapatkan nomor telpon Ranti dari buku laporan di polres.


" Halo Nona Ranti, saya Bruno pejabat yang kamu laporkan ke Kantor Polisi, ucapnya.


" Oh ada apa, pak pejabat yang terhormat menelpon saya, sarkas Ranti.


" Saya tidak ingin bertele-tele, saya ingin kamu segera mencabut laporan kamu di kantor Polisi, nanti saya berikan kamu uang kompensasi 5 milyar, ujar dengan sombongnya.


" Oh sudah naik ya, tadi kata pengacaraku kamu akan memberikan 1 milyar, hahahaha 5 Milyar katamu, sungguh penghinaan buat saya", ucap Ranti.


" Jangan sombong kamu, saya tau kamu tidak pernah melihat uang sebanyak itu, jadi jangan jual mahal, ucap Bruno si pejabat.


" Jangankan 5 milyar, seluruh hartamu saja tidak sanggup mengalahkan harta adik kecilku, barusan saya kasih uang untuk orang mengurus Panti 6 triliun, belum membuatku miskin, dan sekarang kamu tawarkan perdamaian dengan 5 milyar, hahahaha ujar Ranti.


" Jadi kamu ingin menantang kekayaan dengan saya", ucap Bruno


" Kalau kamu berani boleh kita bertarung, kalau kamu memang kaya Silahkan adu menyumbang di panti asuhan, 100 milyar bagaimana kamu sanggup ? tantang Ranti.

__ADS_1


" Hahahaha, 100 milyar, saya tantang anda 200 milyar, ucap pejabat itu


" Oke deal, Panti Asuhan aku yang tunjuk, agar tidak kebohongan, bagaimana? tantang balik Ranti .


Mendengar jawaban Ranti yang menerima tantangan Bruno, membuat Bruno gelagapan, hartanya saja tidak lebih dari 200 milyar, itu sudah dengan Aset nya.


" Kenapa anda diam tuan pejabat yang terhormat", Ujar Ranti.


" Saya ingin malam ini juga kamu mencabut laporannya, tidak ada penolakan, ujar Bruno.


" Bagaimana saya menolak, apa yang akan kamu lakukan, tanya Ranti.


" Ku buat hidup mu tidak tenang", ujar Bruno mengancam.


" Terimakasih ancamannya, pembicaraan kita sudah saya rekam dan ini bukti yang akan memberatkan anda, hahahaha, selamat menikmati kehancuran kamu", ejek Ranti dan langsung memutuskan panggilan


" Sial..! umpat Bruno.


" Ada Dek?" tanya Vanya


" Itu si pejabat gila, minta saya cabut laporan dan katanya dia akan memberikan kompensasi 5 milyar, yang katanya aku belum pernah lihat uang sebanyak itu", ujar Ranti


" Hahahaha, 5 milyar ! Bunga deposito Salma saja sebulan bisa 100 milyar", ucap Vanya.


" Maaf Nona Muda, harta pemberian Nona Muda saja buat kami lebih dari 1 Triliun, sombong betul Pejabat itu, ucap Sasha.


" Kamu benar Sasha, orang seperti itu harus di beri pelajaran, dia kira hanya dia yang memiliki uang", ucap Ranti.


Setelah makan dan ngobrol, akhirnya mereka kembali ke apartemen, setelah memastikan Ranti dan saudara- saudaranya di apartemen, Sasha dan Regina kembali ke tempat tinggal mereka.


Ranti mengijinkan Regina untuk tinggal dirumahnya bersama ayah tirinya, apalagi dia sudah tidak menjadi Security di Emerald.


Tak terasa pagi sudah tiba, seperti biasa, Regina dan Sasha sudah tiba di apartemen, tugas mereka berdua hati ini, hanya jalan-jalan ke Ancol bareng Vanya, sementara Ranti akan ke Panti Asuhan Kasih Bunda dan akan di temani oleh Bu Maryana.


Vanya dan lainnya sudah berangkat terlebih dahulu, karena mereka masih mau mampir ke rumah Vanya di PIK 2.


" Sudah Nona Muda, tadi malam suami saya juga bawa printer dan kertas, lupa kemarin beli komputer tapi printer tidak beli, jadi hari ini mau diantar sekalian, ucap Bu Maryana.


" Baiklah, sebentar lagi saya berangkat kesana.


Baru saja ingin mandi, Bruno menelpon Ranti.


" Halo Nona Ranti, saya ingin bertemu dengan anda, jadi saya tunggu di kantor saya jam makan siang", ujar Bruno


" Tidak ada waktu, kasus ini sudah saya serahkan ke pengacara saya, jadi silahkan anda berurusan dengan pengacara saya", ucap Ranti.


" Kamu menolak undangan saya, saya undang kamu atas nama saya sebagai pejabat pemerintah", ujar Bruno memaksa


" Saya tidak ada waktu, Terimakasih undangan nya, selamat Pagi", ujar Ranti dan memutuskan panggilan Bruno.


" Sialan gadis itu, benar-benar tidak takut dia", umpat Bruno.


Ranti yang sudah selesai berganti pakaian, dia menggunakan mobil Toyota New C-HR Hybrid miliknya, kemudian berangkat ke Panti Asuhan.


Sejam kemudian, Ranti tiba disana, dia melihat begitu banyak orang, entah siapa mereka semua.


" Hei Marta, donatur mana lagi yang kalian bohongi, atau kamu jual berapa kedua putrimu hingga bisa membeli Mobil", ujar seorang pria paruh bayah.


Pria itu anak dari teman ayah angkat Marta, keluarga dialah yang menyebar fitnah hingga banyak donatur yang berhenti berdonasi.


" Maaf Syarif, kedua putri saya tidak menjual dirinya, kamu tanyakan saja ke putramu, sudah berapa banyak dia menghamili anak orang, dan ingat baik-baik Syarif, tanah yang kalian tempati adalah milik ayah saya, jadi bersiaplah, ucap Marta.


" Apa buktinya jika seluruh tanah disini milik Ayahmu, apa kamu lupa tanah ini milik almarhum ayah saya", ujar Syarif.

__ADS_1


" Kita lihat saja nanti, ada waktunya kamu akan mendapatkan karma", ujar Marta.


" Selamat pagi Bu Marta, sapa Ranti.


" Pagi juga Nona Muda", jawab Marta yang di dampingi kedua putrinya.


" Ada masalah apa, kenapa ada keributan", tanya Ranti.


" Biasa, orang itu menyebar fitnah bahwa uang donasi panti kami gunakan beli Mobil", ujar Marta.


" Maaf bapak- bapak dan ibu - ibu sekalian, saya membeli kedua mobil ini untuk Miranda dan Marinda, dan saya juga akan membangun gedung baru untuk Panti Asuhan ini, apa ada masalah dengan kalian?" tanya Ranti.


" Hati-hati Nona, mereka ini hanya memanfaatkan anak-anak untuk mendapatkan donasi", ujar salah seorang warga yang sudah di bayar Syarif.


" Oh apa pernah ibu memberikan bantuan di Panti Asuhan ini, kalau ada sebutkan jumlahnya dan kapan ibu menyumbang", tanya Ranti.


" Kami sebenarnya ingin menyumbang, tapi karena kami takut disalahgunakan jadi kami urung menyumbang", lanjut ibu itu.


" Oh begitu, tapi tidak apa-apa jika mereka menyalahgunakan donasi saya, minimal saya sudah menyumbang, tidak seperti anda sudah tidak membantu, tapi masih memfitnah orang", ujar Ranti menohok.


" Daripada kami menyumbang disini mendingan kami menyumbang di tempat lain ", ujar ibu itu


" Baguslah, tapi sayang bagaimana kalian mau menyumbang, hidup kalian saja susah, hingga rela di bayar oleh orang untuk membuat keributan, suami kamu bekerja sebagai tukang taman di kediaman orang kaya, gajinya maksimal 3 juta, anak kamu ada 3, kamu sendiri tidak bekerja, pertanyaannya, apakah uang 3 juta bisa cukup untuk biaya hidup keluarga kamu, sangat bagus kamu menyumbang walau kamu juga susah, masalahnya, kamu tidak pernah bisa menyumbang, hari ini saja kamu sudah 2x di datangi yang punya kontrakkan, betul tidak ? tanya Ranti tiba-tiba.


Wanita itu tidak bisa lagi bicara, karena kedoknya sudah terbongkar.


" Saya sebenarnya lagi mencari ibu-ibu untuk membantu Panti Asuhan ini, dan juga akan memberikan bantuan modal usaha, tapi melihat kalian seperti ini, saya tidak lagi berniat membantu warga seperti kalian", ujar Ranti.


Ketika Ranti selesai bicara dia melihat seorang ibu-ibu yang duduk di rumahnya sambil tersenyum, dia sedang menjaga warung kecilnya.


Ranti kemudian mendatanginya dan berbicara kepadanya.


" Kenapa ibu tidak datang mencela Panti Asuhan itu seperti yang lainnya", tanya Ranti.


" Untuk apa Nona, itu bukan urusan saya, Almarhum suami Bu Marta orangnya sangat baik, dulu pekerjaannya sangat bagus dan gajinya juga besar, tapi sayang kena serangan jantung dan meninggal pas di warung saya ini, saat dia ingin membeli sarapan buat Miranda dan Marinda, jadi saya tak pernah mau mencela Panti Asuhan Bu Marta, dia juga teman saya dari Kecil, tapi sejak banyak yang menghinanya, dia jadi tertutup dan hanya keluar saat kesini saja, itupun kalau saya panggil makan pecel buatan saya atau rujak", ucap ibu itu.


" Kenapa mereka membenci Bu Marta ', tanya Ranti.


" Ini kasus tanah yang di seberang jalan itu, keluarga pak Syarif tidak terima jika Bu Marta mengklaim itu milik ayah angkatnya, artinya sekarang milik Bu Marta, penduduk asli disini tau betul tanah itu, milik ayahnya Bu Marta, aku di beritahukan oleh almarhum ayah saya, bahwa seluruh tanah disini termasuk rumah saya ini adalah pemberian dari ayah angkat Bu Marta, ucap ibu itu.


" apa ibu punya bukti hibah dari orangtuanya Bu Marta.


" Tanah yang saya tempati ini, sudah di hibahkan Bu Marta sendiri, suratnya ada, jadi jika Bu Marta akan menggugat seluruh lahan disini, pasti hanya saya dan keluarga yang lolos dari gugatan, walau sertifikat kami belum ada, tapi Bu Marta dan juga kedua anaknya, berjanji jika tanah ini akan mereka gunakan walau sudah di hibahkan, mereka akan tetap memberikan kami lahan untuk bangun rumah, saya sudah lihat sertifikat seluruh lahan disini, semua atas nama ayah Bu Marta, makanya saya juga di benci oleh mereka- mereka yang buat keributan, ujar ibu itu.


" Apa Bu Marta memegang sertifikat asli nya, tanya Ranti.


" Ada, dia memegang 5 sertifikat, dan yang terbesar itu, adalah tanah yang di seberang, tepat ada 2 rumah besar dan 10 rumah sedang, itu semua keluarga pak Syarif, hingga pompa bensin itu, masih milik Bu Marta, saya harap nona mau membantunya, kasihan dia, dari kecil dia hidup di bangunan itu, hanya bahagia sebentar terus menderita lagi, ucap ibu warung itu.


" Apa ibu siap pindah seandainya nanti akan di ganti tanah, tanya Ranti.


" Pasti pindah, dalam surat hibah tertulis, boleh pakai sampai kapanpun tapi jika suatu saat tanahnya akan dipakai, maka silahkan pindah dan mereka akan menggantikan lahan mereka sendiri, jawab ibu itu ikhlas.


" Baiklah Bu , saya akan membantu Bu Marta, tapi nanti jika lahan di seberang itu sudah berhasil Bu Marta dapat, saya minta ibu pindah di pojok sana, saya akan buatkan rumah baru beserta tokonya, bagaimana Bu ? tanya Ranti.


" Saya hanya ikut saja, lagian saya hanya tinggal bertiga dengan anak saya, suami saya juga sudah meninggal tahun lalu", ujar ibu itu.


" untuk sementara ibu pegang dulu uang ini, ini cukup buat biaya hidup 2 tahun, tutup saja warung ibu dan bantu-bantu dulu di Panti, ucap Ranti sambil memberikan ATM hasil penukaran Poin Pengabdian untuk kebaikan Sebesar 100 Poin, Berarti 10 milyar.


" Terimakasih Nona, saya akan membantu Bu Marta, tidak perlu di gaji lagi, ucap ibu Warung itu.


" Ya di ATM ada uang 10 Milyar buat ibu, dan itu gaji ibu selama 2 tahun, kuliahkan anak ibu, dan belikanlah mereka motor untuk kuliah, dan ajak mereka membantu Panti ini, kelak setelah rumah baru ibu selesai baru aku akan membongkar rumah ibu", ujar Ranti.


Setelah ngobrol dengan ibu warung itu, Ranti kembali menemui Bu Marta.

__ADS_1


" Bu Marta, nanti ibu di warung itu akan bantu-bantu disini, tak perlu lagi ibu membayarnya, saya sudah menggajinya untuk 2 tahun penuh, dan dia sudah setuju, ujar Ranti.


" Kebetulan sekali, hanya dia teman ibu Disni, Apalagi dia pintar masak, ibu justru mau rekrut dia dan bekerja disini, agar ketiga anaknya bisa lanjut sekolah, ucap Bu Marta


__ADS_2