
Dewi melajukan kendaraannya menuju ke sekolahan bintang timur, terlebih dahulu dia mengantar Salma dan Armando, baru dia berjalan kaki melewati pintu pembatas ke kompleks TK.
Sekolah TK di bintang timur termasuk mahal, biaya masuk saja 8 juta, dan biaya bulanan mencapai 800 ribu, hal itu memang sebanding dengan fasilitas, yang di berikan.
Dan memang sejak Ranti menjadi pemilik Yayasan Bintang Timur, Sekolah Bintang Timur menjelma sekolah modern dengan sejumlah fasilitas yang mumpuni, tidak ada satupun ruangan yang tak memiliki AC, lobby untuk tamu atau para pengasuh yang menunggu anaknya di manjakan dengan ruangan yang nyaman.
Jadi wajar saja banyak orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah Bintang Timur, namun bukan berarti sekolah ini tidak memiliki kekurangan, seperti yang dialami Dewi pagi ini.
Sambil menggandeng Ketty Angelina, Dewi berjalan kaki menuju tempat pendaftaran, kebetulan Dewi menggunakan dokumen yang berisi alamat rumah yang hanya berada di peringkat 6 hunian berkelas, tepatnya untuk golongan orang-orang menengah saja .
Di halaman parkir terlihat berbagai jenis Mobil, dan terlihat juga para ibu-ibu muda bersama anaknya dan juga pengasuh turun dari mobil, sedangkan Dewi terlihat hanya jalan kaki, apalagi Dewi hanya menggunakan riasan tipis dengan pakaian kantor.
Tiba di tempat pendaftaran, dan bertanya persyaratan yang harus di penuhi.
" Permisi Nona, saya mau daftarkan Putri saya di TK besar, dan ini dokumen anak saya, dan sekiranya ada yang kurang tolong beritahu, biar segera saya penuhi", ujar Dewi.
Si petugas murid baru memeriksa dokumen yang Dewi serahkan, dia melihat dan membaca data Ketty, kemudian dia melihat KTP Dewi yang tertulis Cerai mati pada kolom status.
" Maaf Nona, apa Nona sudah tahu biaya masuk dan uang bulanan disini ?" Ucap petugas itu.
" Ia saya sudah tahu dari teman saya, tapi tidak masalah, yang penting Putri saya bisa sekolah disini", ujar Dewi.
" Maksud saya apakah ibu paham bahwa sekolah disini ada dua sistem penerimaan, pertama adalah jalur umum dengan biaya full dan kedua jalur biasa, artinya si calon siswa akan di tes terlebih dahulu jika sudah bisa membaca dan menulis beberapa huruf maka bisa kami kurangi biayanya, dan jalur itu khusus bagi yang tidak mampu", ujar petugas itu.
" Tidak masalah, saya ambil jalur umum saja, meskipun putri saya sudah bisa membaca dan menulis kata maupun kalimat pendek", ujar Dewi.
" maaf Bu, dalam data ibu tertulis bahwa ibu adalah janda, dan kolom pekerjaan tertulis hanya karyawan biasa, daripada nanti ibu kesulitan dalam pembayaran kedepan, maka saya sarankan agar Putri ibu ikut jalur tes saja", ujar petugas itu.
" Tidak masalah, saya sanggup membayarnya, ujar Dewi.
" Bu lebih baik kamu ikut saja saran petugas itu, jangan gengsi nanti kamu susah sendiri, ucap seorang wanita muda dengan pakaian yang terlihat mewah.
" Terimakasih Bu, saya memang mampu menyekolahkan anak saya disini", ujar Dewi.
" Setiap orang juga pasti bilang mampu saat mendaftar, tapi kenyataannya nanti, pihak sekolah di buat susah menagih uang sekolah", ucap wanita itu.
" Benar Bu, saya melihat anak ibu kasihan jika kelak di keluarkan dari sekolah karena masalah SPP, makanya dari awal saya sarankan untuk ambil jalur tes saja", imbuh si petugas penerima murid baru.
" Saya tetap bersedia masuk lewat jalur umum, saya yang menanggung resiko jika kelak saya tidak mampu bayar biaya sekolah anak saya, kenapa kamu terlihat gak ijinkan Putri saya masuk di sekolah ini", tegas Dewi.
" Bu, jujur saja, saya tidak mau jika Putra saya bergabung dalam kelas orang-orang dari kelas bawah, ruangan itu ber AC, nanti udaranya tidak segar lagi karena ada murid turun dari angkot", ujar wanita itu.
" Apa itu alasannya Nona, hingga kamu menyarankan saya ambil jalur tes, agar Putri saya masuk di kelas yang berbeda. Pertanyaan saya sejak kapan ada perbedaan kelas karena status sosial, apa ini memang aturan sekolah atau Yayasan", ujar Dewi emosi.
" Kita harus membagi kelas seperti itu agar tidak ada yang komplain dan juga ada kesan eksklusif, jadi maaf jika ibu tetap ingin mendaftarkan anak ibu, walaupun masuk jalur umum tapi kami tidak akan memasukkan anak ibu di kelas A dan B, karena kedua kelas itu di khususkan untuk calon siswa kelas atas, yang tentunya mereka membayar 25% lebih besar dari kelas biasa, apalagi kelas jalur tes", ucap Petugas itu.
" Pertanyaan saya, apakah ada aturan seperti itu, dan ada kewajiban tambahan untuk kelas A dan kelas B, jika memang demikian saya masukkan Anak saya kelas ke kelas A atau B saja, nanti saya telpon pemilik sekolah ini", ujar Dewi.
" Bu, maaf ya, untuk kelas A dan Kelas B, kapasitasnya terbatas dan sudah kami booking", ujar wanita itu.
" Nona jadi saya hanya bisa masuk di kelas C dan lainnya?" tegas Dewi.
__ADS_1
" Benar sekali Bu, untuk kelas C dan lainnya, biaya masuk 8 juta di bayar Tunai 100 % atau cicil 2 x, SPP bulanan 800 ribu, wajib di bayar per tiga bulan", ujar petugas itu.
" Kalau kelas A dan B memangnya berapa ? tanya Dewi.
" Uang masuk 10 juta dan bulanan 1 juta, jawab petugas itu.
" Kalau saya bayar 10 juta dan SPP 1 juta apakah anak saya bisa masuk ke kelas A atau B ?' tanya Dewi.
" Maaf tetap tidak bisa, karena nanti anak ibu akan membuat anak lain tidak nyaman, karena nanti bau keringat dari angkot atau taksi online, Apalagi naik ojek online", ucap petugas itu.
" Setahu saya tidak ada aturan seperti itu di sekolah ini, panggil kepala bagian TK dan Ketua panitia pelaksana penerimaan murid baru sekarang, atau ku telpon pemilik sekolah ini", emosi Dewi.
" Hei Bu, jangan marah-marah ke Petugas itu, sadarlah kalau manusia itu ada kelasnya, sudah bagus Nona petugas itu menerima putrimu di kelas C atau D, orang-orang seperti kamu tidak pantas bergaul dengan kami, jadi sadarlah, kalau ke sekolah masih naik angkutan umum lebih baik daftar sekolah di tempat yang murah, Nah di situlah kalian berada", ujar ibu itu.
" Nona Petugas yang terhormat, aku beri kamu kesempatan, mau panggil Kepala bagian TK dan ketua Panitia pelaksanaan penerima murid baru atau tidak, jika tidak saya telpon ketua Yayasan dan pemilik Sekolah ini, biar kamu tahu saya siapa dan apa status Putri saya", ucap Dewi.
" Maaf Bu, saya tidak bisa memanggil mereka, dan tolong ibu keluar dari sini, karena saya harus melayani orang yang lebih penting, apalagi sekolah ini kedatangan istri kontraktor besar dari keluarga Sutanto, ucap Petugas itu.
Dewi tak bergeming, lalu menelpon Ketua Yayasan Bintang Timur.
" Halo selamat pagi Nona Muda Dewi, ada yang bisa saya bantu", tanya ketua Yayasan yang baru saja hendak memarkirkan mobilnya.
" Bisa bapak datang ke kompleks TK, saya mau daftarkan Putri saya, tapi di persulit oleh Petugas disini", Perintah Dewi.
" Baik Nona Muda, saya segera kesana, nanti saya hubungi Kepala Bagian TK, Nona Muda tunggu saja disitu", ucap Ketua Yayasan dengan gugup, rata-rata karyawan Ranti masih lebih enak Bertemu langsung dengan Ranti daripada saudara-saudaranya, apalagi berhadapan dengan Dewi yang saudara tertua.
Dewi juga menghubungi Pak Pribadi, menanyakan apakah ada keluarga Sutanto yang bekerja sama di Mega Proyek yang di pegang oleh Pak Pribadi.
" Putuskan kerjasamanya dan berlaku hari ini juga, jika Rendi bertanya bilang saya suruh, nanti saya jelaskan ke adik saya", ujar Dewi.
" Baik Nona Muda, tapi maaf pekerjaan mereka sangat rapi dan baik, sebenarnya ada masalah apa?", tanya pak Pribadi.
" Suruh saja suaminya telpon istrinya sekarang", ujar Dewi langsung menutup telpon.
" Dan kamu Nona Petugas, jangan salahkan saya jika kamu hati ini di pecat dari sini", ucap Dewi.
" Bunda, ayo pulang nanti Ketty ngomong sama Aunty, kalau Tante itu sombong, Ketty tidak mau lihat orang sombong", ujar Ketty.
" Ia sayang, nanti bunda kasih tau Aunty kamu ya, jangan takut", ujar Dewi kepada Ketty.
" Bu sudah selesai belum sandiwaranya, kalau sudah silahkan minggir, jangan buat kekacauan di sekolah ini", ucap wanita dari keluarga Sutanto itu
" Tolong pengertiannya Bu, saya urus ibu ini dulu, ucap petugas itu lalu berpindah kursi dan mengurus wanita Sombong itu.
" Halo apa kabar Nona Muda Dewi, wah ternyata Putrinya sudah besar", Sapa Ketua Yayasan.
" kabar saya pagi ini tidak baik, anak saya jadi ketakutan, saya hanya mau bertanya apakah di TK ada aturan pembagian kelas khusus untuk orang Kaya?" tanya Dewi.
" Maaf Nona, kamu siapa bertanya itu kepada Ketua Yayasan kami, perkenalkan nama saya, Rosita kepala bagian TK", ujar ibu memotong pembicaraan Dewi dengan Ketua Yayasan.
" Bu Rosita, jaga nada bicara kamu, dan apakah benar ada perbedaan kelas disini?" tanya Ketua Yayasan.
__ADS_1
" Itu kebijakan yang saya buat, agar mengurangi komplain dari wali murid, yang tidak mau anaknya di gabung dengan anak murid kelas bawah, jadi daripada kita kehilangan murid maka saya buat kebijakan itu", ujar Rosita.
" Kenapa kamu membuat kebijakan sendiri, apa kamu sudah memikirkan baik-baik dan apa kamu lupa aturan dari pemilik sekolah ini ? tanya ketua Yayasan.
" Saya baru mau melaporkan hal ini ke Bapak selaku ketua Yayasan hari ini, dan soal aturan pemilik sekolah ini masih saya ingat, tapi ini juga demi perkembangan dan pendapatan sekolah kita ini', ujar Rosita.
" Nona Muda Dewi, saya akan diskusikan masalah ini dengan seluruh pengurus Yayasan, untuk Putri nya silahkan daftar saja, tidak ada perbedaan kelas disini, mohon maaf atas ketidak nyamanan anda Nona.
" Bunda, ayo pulang kita cari sekolah lain saja, ucap Ketty.
" Saya hari ini tidak jadi daftar kalau begitu, anak saya sudah tidak nyaman, tapi awas kalau saya melihat mereka berdua disini, bapak juga harus keluar dari sini, saya sangat tidak suka staff saya membuat kebijakan sendiri dan sudah di berlakukan tanpa pembicaraan dengan atasan dan atasan hanya bisa mendiskusikan saja, itu tidak benar dalam tata kelola administrasi ", ujar Dewi.
" Ayo sayang, kita sekolah SD dulu ambil mobil baru kita ke kantor, ucap Dewi.
" Nona Dewi mohon tunggu sebentar, panggil Ketua Yayasan.
" Saya ada urusan penting di kantor saya, petugas anda menuduh saya tidak mampu membayar sekolah untuk putri saya, kalaupun saya mau katanya saya ambil jalur bagi wali murid yang tidak mampu, dan kalau saya membayar full juga, tetap Putriku hanya boleh di kelas C dengan alasan, Putri saya nanti bau keringat karena datang sekolah pakai angkot atau taksi online, dan lebih parah menurutnya putri naik Ojek online ", ujar dan bergegas kearah SD.
Sepeninggalan Dewi, Ketua Yayasan langsung duduk diam, namun mukanya sudah merah.
" Bu Rosita, asal kamu tahu, nasib kita bergantung pada Nona Muda Dewi, karena Nona Muda adalah salah satu Pemilik sekolah ini dan dia Direktur di RPS Multidana Finance", ujar Ketua Yayasan.
" Apa hubungannya dengan Nona Muda Ranti?" tanya Bu Rosita.
" Nona Muda Dewi adalah kakak tertua dari Nona Muda Ranti, dan status Nona Ketty Angelina adalah keponakan sah secara hukum dan dimasukkan sebagai salah satu pewaris dari seluruh perusahaan Nona Muda Ranti", ujar Ketua Yayasan.
" Dan kamu dari Keluarga Sutanto, saya pastikan keluargamu akan bersujud minta ampun atas kesombongan kamu, percayalah hari ini pasti perusahaan kalian akan di berhentikan di Mega Proyek Kota Terpadu dan Mega Proyek Treasure Island", ujar Ketua Yayasan.
" Saya tidak tahu Pak Ketua, soalnya tadi dia datang jalan kaki, dan pakaiannya hanya pakaian kantor dan status janda di tinggal mati suaminya, jadi ku pikir dia orang biasa saja", ujar wanita sombong itu.
" Pak Ketua Yayasan, tolong jelaskan ke Nona Muda Ranti, saya tak berniat menyinggung kakak dan keponakannya", ujar Rosita.
" Keunikan Nona Muda terletak pada kebahagiaan saudaranya, jika kita bermasalah dengan Nona Muda Ranti, masih ada kesempatan kita di ampuni, tapi jangan coba-coba kita menyentuh keluarganya, apalagi Nona Kecil, Ketty Angelina yang kita singgung maka kesepuluh saudara Nona Muda Dewi termasuk Nona muda Ranti pasti akan mengamuk, dan begitu sebaliknya mereka ", ucap ketua Yayasan.
" Maafkan saya Pak Ketua Yayasan, ujar Rosita".
" Saya memaafkan ibu, lalu siapa yang nanti memaafkan saya", ujar Pak Ketua Yayasan.
" Saya minta maaf, kalian berdua, silahkan kembali kerumah kalian, saya tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Bu Rosita, sudah berkali-kali pemilik menegaskan agar segala sesuatu di bicarakan bersama-sama, dan kebijakan kamu melangkahi kami semua, jadi mohon maaf, karena tidak bisa menolong kamu ".
" Jangan lupa Semua fasilitas kantor di kantor di kembalikan dalam waktu 2 hari", ujar Ketua Yayasan.
" Dan kamu petugas juga silahkan keluar dari mess, saya kasih waktu 2 hari.
" Tapi Pak saya hanya orang yang di tugaskan, saya jadi serba salah, ujar petugas itu.
" kalau kamu berbicara sopan kepada Nona Muda Dewi, mungkin dia tidak tersinggung, tapi kamu justru yang meremehkannya, mereka didik berbicara apa adanya, dan gaya hidup mereka memang seperti itu, jadi silahkan pergi besok siang datang dan ambil gaji kamu", ujar ketua Yayasan.
" Maaf pak lalu bagaimana dengan anak saya, tanya wanita sombong itu.
" Maaf Bu sekolah kami untuk umum, jadi tidak menyediakan kelas khusus orang kaya seperti kamu, jadi mohon maaf putra anda tidak diterima disini", ujar Ketua Yayasan.
__ADS_1
Tak lama kemudian handphone wanita sombong itu berdering..