
Laki-laki itu menyelesaikan makannya dan langsung pulang, dirumah dia langsung bertemu dengan Ayah dan ibunya serta Meichan Limenda.
" Ayah ada salam dari anak kecil bernama Armando Putra", ucap laki-laki sombong itu.
" Wah kamu hebat Nak bisa ketemu dengannya, Tuan Muda Armando penolong perusahaan kita, dan adikmu Meichan yang mengenalkan ayah dengan Tuan Muda Armando", ucap Pak Limenda.
" Tapi ayah, saya melakukan kesalahan besar kepadanya, saya sudah berlaku tidak sopan padanya juga pada adiknya", ucap Laki-laki itu.
" Ya Tuhan, bisa-bisanya kamu tidak bisa merubah sifatmu itu", ucap pak Limenda gusar.
" Nak, kamu belajar darimana menjadi orang yang begitu angkuh, Ayah dan ibu, tidak pernah mendidik kamu seperti itu, jika bukan karena bantuan dari Tuan Muda Armando, mustahil kita mendapatkan proyek dan pinjaman dari bank milik mereka", ucap ibunya laki-laki itu.
" Maafkan Vincent Bu, ucap laki-laki itu sambil berlutut di hadapan kedua orang tua nya.
" Ya siap-siap saja kita kena sanksi dari kelakuan kamu", ucap ayahnya.
" Pah, kita jual saja rumah ini dan perusahaan, kita pindah ke kampung saja, jika kita kena sanksi dari RPS Group Company dan pihak IDB menagih hutang kita", ucap ibunya laki-laki itu.
" Ia mah, papah juga sudah tidak sanggup mengurus anak kita yang hidupnya hanya selalu membuat masalah, harusnya dia sudah bisa membantu kita, toh semua ini juga buat dia, tapi lihatlah mah, apa dosa kita di masa lalu hingga anak kita seperti ini", ucap Pak Limenda sendu.
" Sabar pah, mungkin sudah takdir kita memiliki anak seperti ini, tapi biar bagaimanapun Vincent anak kita dan hanya satu-satunya", ucap istri pak Limenda.
" Ia mah, dia sudah besar dan juga sudah lulus kuliah dari luar negeri, sudah saatnya dia mandiri dan mencari uang sendiri", ucap pak Limenda.
Suasana yang hening di kagetkan dengan dering handphone Meichan.
Meichan langsung pucat pasi melihat handphonenya, ternyata Armando yang menghubunginya.
" Halo Armando, tolong maafkan ayah dan ibu saya", ucap Meichan.
" Hei, kamu bicara apa, masalah dengan kakakmu tidak ada sangkut pautnya dengan ayah dan ibumu secara Langsung, sekarang saya mau bicara dengan Ayahmu", ucap Armando.
" Baiklah", singkat Meichan dan memberikan handphonenya ke pak Limenda.
" Halo Tuan Muda, saya Paman Limenda.
" Apa kabarnya Paman, apa si Tuan muda Vincent sudah pulang dan mengaku salah pada paman dan bibi? tanya Armando.
" Ini dia lagi berlutut meminta maaf, dia mengakui kesalahannya", ucap pak Limenda.
" Baguslah, aku mau paman menghukumnya dengan menyuruhnya membantu Paman menyelesaikan seluruh Proyek yang saya berikan untuk paman, biar dia tau betapa susah dan menderitanya paman dan bibi mencari uang", ucap Armando.
" Terimakasih kebaikan hati Tuan Muda, Paman akan menyuruhnya bekerja mulai besok dan mencabut fasilitas yang selama ini paman berikan untuknya, dia akan paman gaji seperti karyawan lain, bagaimana menurut Tuan Muda", usul Pak Limenda.
" Itu bagus Paman, biar sadar, kata Kakak saya itu hukuman yang harus dia jalankan, jika dia tidak mau, maka maafkan saya Paman, perbuatannya sungguh membuat saya malu tadi di Mall Galaxy, tapi saya masih menghargai paman dan bibi juga Meichan teman sekelas saya", ucap Armando.
" Baik Tuan Muda, terimakasih sudah memberikan kelonggaran hukuman buat Paman", ucap Pak Limenda.
" Sama-sama Paman, Armando tau paman dan bibi orang baik, jadi saya juga tidak ingin paman kesulitan, tapi Tuan Muda Vincent harus menjalaninya hukumannya", ucap Armando.
" Tuan Muda maafkan saya, mulai besok saya akan bekerja membantu ayah saya, tolong jangan hukum ayah dan ibu saya, ini kesalahan saya yang tak tau diri", ucap Vincent yang tidak tega melihat ayah dan ibunya menanggung kesalahannya.
" Baiklah, jalankan saja, kakak saya memberikan kamu kesempatan kedua, selama kamu menjalankan hukumannya dengan baik, maka perusahaan ayahmu tidak akan pernah terganggu, apa kamu sudah paham saya siapa", tegas Armando.
" Sudah Tuan Muda, saya berjanji akan bertobat dan belajar rendah hati kepada siapapun", ucapnya dengan lantang.
" Baguslah, coba kamu bayangkan sendiri, bagaimana jika perusahaan ayahmu Bangkrut gara-gara kamu, apa itu balasan kamu kepada mereka yang selama ini menyayangi kamu, aku saja hanya berteman dengan Meichan, tapi mau membantu Ayahmu, masa kamu anaknya justru yang merusaknya, pikirkan baik-baik, seluruh harta orang tuamu pasti juga akan jadi milikmu, nah bagaimana jika perusahaan ayahmu Bangkrut, siapa yang ikutan susah? ucap Armando dengan nada dewasa.
" Terimakasih pencerahannya, saya siap menjalani hukuman dari Tuan Muda, terimakasih sudah mau memberikan saya pelajaran yang sangat berarti, saya berjanji akan membahagiakan orangtuaku dan Meichan adikku", ucap Vincent.
" Ya sudah, saya memaafkan mu kali ini, dan jika kamu berbuat salah lagi maka saya tidak akan pernah lagi memaafkan mu, ucap Armando dan mematikan handphonenya.
" Ayah, ibu, ini saya kembalikan kartu kreditnya, saya hanya menggunakan 1 ATM saja, saya tidak akan memakai mobil mewah lagi, mohon belikan saya motor matic saja untuk datang bekerja, terserah ayah mau tempatkan dimana, Vincent akan melaksanakannya dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh", sekali maafkan kecerobohan Vincent", ujarnya.
" Semua demi masa depan kamu nak, ayah dan ibu sangat menyayangi kamu dan Meichan, belajar lebih dewasa lagi, ingatlah ayah hanya mendirikan perusahaan ini hingga seperti ini, tugasmu membuat perusahaan kita lebih besar, agar anakmu dan keturunan kita kedepan bisa hidup dengan baik", ucap Pak Limenda.
" Terimakasih ayah, ucap Vincent sambil berlutut dengan airmata penyesalan.
" Meichan, maafkan kakak, selama ini kakak selalu mengabaikan kamu dan menganggap kamu mencuri ayah dan ibuku, kak Vincent minta maaf sama, kakak janji asal kakak ada waktu, pasti kakak akan ajak kamu jalan-jalan ke Mall, tentunya kalau kakak sudah gajian", ucap Vincent.
__ADS_1
" Meichan tidak pernah memasukkan semua omongan kakak di dalam hati, Meichan bahagia jika kakak nanti mengajakku jalan-jalan, Meichan iri dengan teman-teman yang lain selalu di temani saudaranya kalau pergi-pergi", ucap Meichan.
" Ia, kakak yang salah, tapi mulai hari ini kakak akan selalu ada untukmu, tapi tolong bantu kakak jaga ibu saat kakak dan ayah lagi bekerja", ucap Vincent.
" Ia kak, pasti Meichan akan menemani ibu", ucap Meichan sambil memeluk kakak sepupunya.
" Akhirnya anak ibu kembali seperti dulu, Nak lihatlah sekarang kamu juga sudah punya teman, Meichan sangat menyayangi kamu dan dia berharap kamu menjadi kakak kebanggaannya, dia juga tidak banyak menuntut, dia hanya mau di sayang sama kamu", ucap ibunya Vincent.
" Sini adikku yang cantik, biar kakak memelukmu, ingatlah mulai hari ini, kamu adik kak Vincent Limenda, kakak akan menjadi kakak terbaik dan pantas kamu banggakan", ujar Vincent sambil menggendong Meichan.
" Terimakasih kak, Meichan bahagia, Meichan juga janji akan jadi adik penurut dan akan membanggakan kakak, kelak Meichan besar akan selalu membantu kakak di perusahaan, biar kakak jadi Direktur seperti ayah yang hebat, cup cup ", ujar Meichan sambil mencium pipi kakaknya dengan penuh kebahagiaan.
" Terimakasih adik, kita buat ayah dan ibu kita bahagia, jadi belajarlah baik-baik", ujar Vincent.
" Nak, Proyek kita sangat besar, 250 hektar itu yang di percayakan oleh RPS Group Company kepada perusahaan kita, kamu cukup mengawasi kinerja pekerja, jangan sampai spesifikasi yang di buat itu salah atau di kurangi oleh pekerja, jika kita sukses mengerjakannya, pasti kita akan dapat proyek-proyek yang lain", ucap Pak Limenda.
" Baik ayah, tak akan kubiarkan jika ada yang coba-coba mencurangi spesifikasi yang kita buat, ini menyangkut nama baik perusahaan dan keluarga kita, mulai besok Vincent akan ke Proyek, ayah di kantor saja, percayakan kepadaku", ucap Vincentius.
" Terimakasih Tuhan, sudah memberikan jalan untuk anakku", ucap ibunya Vincent.
" Terimakasih doanya Bu, kata orang, doa tulus seorang ibu pasti akan di kabulkan oleh Tuhan", ucap Vincent lalu berlutut kembali mencium kedua kaki ibunya.
" Kamu anakku, sumber kebahagiaan ibu dan ayahmu, ibu berjuang melahirkan kamu, sudah pasti ibu juga akan selalu berdoa untukmu, ibu tidak minta apa-apa, ibu hanya ingin kamu hidup dengan baik dan benar, rendah hati dan peduli kepada sesama, tapi juga harus tegas kepada orang yang pantas kamu bertindak tegas", ucap ibunya Vincent dengan lembut.
Sementara di keluarga Vincent sedang dalam suasana haru biru, disaat yang sama Ranti bersama kedua adiknya dan Mora, telah berada di rumah Mora.
" Halo Paman, apa kabarnya, kenapa wajah paman kusut seperti itu", tanya Ranti.
" Seluruh warisan paman di kampung sudah di ambil oleh kakak - kakaknya paman", ujar ayahnya Mora.
" Biarkan saja, harta paman saat ini saja sudah sangat banyak, untuk apa memikirkan lahan itu", ucap Ranti.
" Bagi kami orang kampung, kami akan akan di anggap di kampung jika memiliki tanah, minimal pekarangan rumah", ucap ayahnya Mora.
" Kan Paman tinggal beli lagi, maaf memang tanah di kampung paman permeter berapa rupiah", ucap Ranti.
" Tanah itu hanya simbol, jadi jangan terlalu di Pikirkan, paman sudah cek Minggu kemarin saya mengirimkan paman dan bibi uang waktu saya masih di Amerika, coba cek saldo paman dan bibi sekarang", Ranti.
" Astaga nak, uang paman sekarang sudah 5,5 triliun, sama dengan uang Mora, sedangkan adiknya 2,5 triliun", Ayahnya Mora.
" Sekarang apa paman masih merasa orang miskin, ambil cuti beberapa hari, nanti saat saya pulang dari Jakarta, saya dan Salma juga Armando akan ikut paman ke kampung", ucap Ranti.
" Baik nak, maaf paman selalu merepotkan kamu", ucap ayahnya Mora.
" Tidak apa-apa, Paman dan Bibi orang baik, makanya saya sendiri memanggil kalian Paman dan bibi, kalian juga tidak boleh memanggil kami Nona Muda jika hanya kita saja, anggaplah kami sebagai keponakan Paman dan Bibi, apalagi Mora sangat menyayangi adikku yang manja ini", ucap Ranti sambil mengusap kepala Salma.
" Namanya paling bungsu jadi wajar dong manja", ucap Salma.
" Kamu itu alasan saja bungsu", ucap Mora menoel hidung Salma.
" hahahaha, kok kamu yang jadi gemes", ucap Salma ke Mora.
" Nona Muda Salma Putri Setiawan, kamu itu memang manja, dan salah aku juga ikutan memanjakan kamu, ucap Mora, sambil mencubit kedua pipi Salma.
" Hahahaha, makanya jangan salahkan aku", ucap Salma.
Mora memang sangat menyayangi Salma, secapek apapun dia, pasti akan selalu menemani Salma, dia tidak mau Salma sedih, apalagi Salma anak yatim Piatu, Mora tulus menyayangi Salma, dan berjanji selamanya akan menemani Salma.
Ranti sendiri tak pernah melarang jika Salma mau ke rumah Mora, makanya Ranti meminta rumah Mora agar di Renovasi dan pasang AC di seluruh ruangan, Ranti mau Salma tidak kepanasan.
" Eh ada Nona Muda Ranti ternyata", ucap Riris istrinya Asrul Lubis.
" Ada apa Bu, tanya Ranti.
" Tidak apa-apa Nona Muda, hanya mau mengantarkan kue buatan saya, kebetulan saya buat cukup banyak, dan juga Mora bilang Nona Muda Salma mau kesini, jadi saya buat kue yang katanya kalau di Mall harganya mahal", ucap Riris.
" Oh ternyata ibu pintar juga membuat kue", ucap Ranti.
" Baru 3 bulan kemarin lulus kursus memasak dan membuat kue serta roti", jawab Riris.
__ADS_1
" Boleh saya mencicipinya ", tanya Ranti.
" Tentu boleh Nona Muda, ucap Riris.
Ranti mencicipinya, namun rasanya ada yang kurang 1 bahan, tapi secara keseluruhan sudah enak.
" Maaf Bu Riris, ini kurang 1 bahan, dan memang bahannya termasuk mahal, tapi ibu bisa menggantikan dengan bahan lain, pasti akan lebih gurih dan akan lebih enak dari yang di jual di Mall", ucap Ranti.
" Wah ternyata nona Muda tau kalau kue ini kurang 1 bahan, bahkan nama bahannya nona Muda tau, sungguh hebat bos besar suamiku", ucap Riris.
Seketika wajah Ranti langsung berubah, saat Bu Riris mengucapkan kata bos besar, Ranti paling anti kata Bos Besar.
" Ehh, maaf Nona Muda", ucap Riris merasa bersalah.
" Lain kali jangan gunakan kata itu, apalagi saat seperti ini, saya mau kita bergaul seperti keluarga, kalau ibu menggunakan kata itu lagi, maka saya juga akan memandang ibu sebagai istri bawahan saya, dan wajib menjaga sopan santun terhadap saya dan keluarga, ibu dan pak Asrul sudah saya anggap keluarga, biarkan pak Asrul bekerja di Kantor, dirumah kalian adalah keluarga saya", ucap Ranti.
" Terimakasih Nona Muda, saya janji tidak akan menggunakannya", jawab Riris, dalam hatinya dia sangat bangga suaminya bisa bekerja di perusahaan yang memiliki bos yang rendah hati.
" Nah itu baru betul, jangan kaku kalau saya datang kesini, atau kerumah ibu, ibu lihat perbedaannya,
Paman Hanya Security, bibi tukang jaga kantin, sekarang bandingkan dengan Pak Asrul yang Manajer, harusnya saya lebih memandang pak Asrul dan ibu dong,
Tapi apa artinya jabatan itu, itu hanya berlaku di kantor, tapi di rumah, ya tetap saja paman dan bibi adalah Orangtua Mora, pak Asrul tetap teman saya, gampang kan", ucap Ranti.
" Tapi banyak orang yang mau di panggil bos, alasannya adalah, biar orang lain tahu kalau dia atasan dan yang bersamanya adalah bawahan", ucap Ranti.
" Keren... keren prinsip hidup Nona Muda, jujur saya takut salah bicara", ucap Riris.
" Santai saja, semakin kita memilih kata-kata yang sopan, justru kita akan mengucapkan kata yang salah, bebas saja kalau dengan saya, kayak tadi saya juga memberi masukan soal kue ibu, itu karena ibu orang saya, kalau bukan pasti saya akan berbohong", jawab Ranti.
" baiklah Nona Muda, tapi kapan-kapan mohon mampir kerumah saya, oh ia, terimakasih banyak atas bonus yang nona berikan untuk suami saya", ucap Riris.
" Gunakan dengan bijak, tabung buat Vikram, ini saya berikan oleh-oleh dari Amerika, maaf hanya bisa berikan Dompet dari Gucci", ucap Ranti.
" akan saya pakai kalau ke acara penting saja Nona Muda, mahal soalnya", ucap Riris.
" Ambil juga ini, didalamnya ada perhiasan, kalian istri para orang terdekat saya, memiliki perhiasan yang sama, dan ini cek, besok cairkan dan belilah mobil agar Vikram jalan-jalan tidak perlu naik taksi online", ucap Ranti sambil memberikan cek 10 milyar.
" Astaga Nona Muda, ini banyak sekali, dan juga saya belum bisa menyetir mobil", ucap Riris.
" Kalau begitu besok tunggu paket dari saya, dan uang itu ibu tabung saja untuk Vikram", jawab Ranti dan menghubungi Aluna.
" Halo Aluna, Besok pagi antarkan mobil Toyota Raize ke alamat yang nanti ku kirim kepadamu, bawa semua Dokumennya, biar nanti diisi dirumah pemilik mobil itu", ucap Ranti.
" Baik Nona Muda, saya sendiri yang akan mengantarkannya", ucap Aluna.
" Kamu memang bisa saya andalkan, tunggu 10 menit aku akan berikan kamu hadiah besar", ucap Ranti.
" Rose, tolong transfer 2,5 triliun untuk Aluna, selama ini dia tidak pernah aku berikan hadiah besar", perintah Ranti.
" Baik Tuan", ucap Rose.
" Bu Riris, besok pagi jangan kemana-mana, tunggu mobil dari Dealer datang, dan juga paket yang akan datang, baca aturan pakai yang ada, setelah itu pergi bank bawa mobil itu", perintah Ranti.
" Baik Nona Muda", jawab Bu Riris.
" Dan ini ATM berisi 5 miliar, gunakan untuk biaya sehari-hari, dan untuk Vikram besok juga akan ada paket makanan tambahan dari Food Excellent, kalau habis beritahu Mora saja jangan sungkan, awas kalau sudah habis terus ibu diam, saya pecat sekalian pak Asrul, dengan alasan ibu tidak menghargai saya", tegas Ranti.
" Waduh, ancamannya mengerikan juga Nona Muda", ucap Riris.
" Ya sudah, sebagaimana hadiah terakhir, ini ATM 1 lagi berisi 5 Miliar, khusus untuk merenovasi rumah kalian, buatlah jadi 2 lantai agar lebih luas, biar nanti Mora dan Salma kalau mau main sama Vikram bisa nyaman, dan sisanya ibu tabung saja", ucap Ranti.
" Mimpi aku semalam bisa dapat hadiah sebanyak ini", ucap Riris.
" Dek Riris terima saja dan bersyukurlah, itu berarti nak Ranti sangat memperhatikan kalian, tinggalah di rumah bapak sementara rumah kalian di Renovasi, toh rumah sebelah itu milik saya juga, pakailah", ucap ayahnya Mora.
" Terimakasih papa Mora, nanti malam saya bicarakan dengan suami saya, tapi mohon bapak kasih tau siapa kontraktor yang merenovasi rumah bapak", ucap Riris.
" Itu teman baik saya, gampang itu, nanti saya hubungi dia.
__ADS_1