
" Ya nggak Nona Muda", jawab Yati.
" Saya sudah buat rumah di pinggir pantai, dan saya sudah membangun juga tempat tinggal kalian, jika nanti juga kalian sudah menikah lagi, tempat itu cukup buat kalian, aku juga ingin kalian tetap dekat dengan kami", ucap Ranti.
" Terimakasih Nona Muda, Jawab mereka serentak.
" Makanya jangan buat kami kecewa, kuliah yang benar, biar uang saya tidak sia-sia buat bayar kuliah kalian semuanya", ucap Ranti.
" Terimakasih Nona Muda", jawab mereka.
" Kami beruntung bekerja di tempat Nona - Nona Muda dan tuan Muda, kami sangat bahagia, sampai kapanpun kami akan setia melayani Nona dan tuan muda semuanya ", jawab mereka.
" Kami senang mendengarnya, di perusahaan nanti kalianlah orang kepercayaan kami, jadi buktikan diri kalian yang dari pelayan dan bisa menjadi petinggi perusahaan, kecuali Marni yang memang bercita-cita mengurus restoran dan kafe, tapi kamu juga Marni wajib kuliah, agar lebih paham Manajemen, ucap Ranti.
" Minggu depan tak ada satupun dari kalian ke kampus bawa motor, sudah saya pesan sama Aluna, masing-masing kalian saya belikan mobil, Toyota Corolla Cross", ucap Ranti.
" Terimakasih Nona Muda, kami akan lebih semangat bekerja dan juga kuliah.
" Untuk Mang Dul dan Pak Jumono serta Pak Rahmat aku belikan Mercedes-Benz B Class 200 progresif Line, kalian semua dari awal ikut saya, jadi sudah sepantasnya saya membahagiakan kalian semua, terima saja dan jangan banyak komentar", ucap Ranti.
Mereka semua langsung menutup mulutnya, apalagi Dewi pelayan yang paling berisik, tapi dia yang paling Ranti sayang.
Selesai memindahkan barangnya Budenya Marni, Bu Likha segera ke kasir dan membayar makanan mereka semua.
" Ya sudah ayo kita lanjutkan perjalanan", Perintah Ranti.
Betapa senangnya hati Pakde dan Budenya Marni,naik mobil mewah.
" Dul, apa bos kalian memang begitu pembawaan nya? tanya tanya pakdenya Marni.
" Ia memang begitu, mereka semuanya baik dan sangat menghargai kami para pelayan, kerja juga santai, mereka tidak mau peduli cara kami bekerja, semua di serahkan kepada kami, untuk rumah tangga istri saya yang mengurusnya, dari belanja keperluan Dapur hingga bayar listrik, dan gaji pelayan semua istri saya yang di percaya mengurusnya, semua petinggi perusahaan Nona Muda, tidak ada yang tidak sopan dengan istri saya", ucap Mang Dul.
" Pantas saja kamu betah bekerja dengan bos seperti itu", ucap Pakde Marni.
" Saya hanya bisa bersyukur, di umur segini akhirnya menemukan majikan yang sangat baik hati, makanya saya sudah berjanji akan mengabdi kepada mereka hingga saya tak lagi punya tenaga", ucap mang Dul.
" Bos seperti itu, sudah sepantasnya kita juga memberikan yang terbaik, kamu saja pulang kampung bawa mobil bagus, coba majikan lain, tiket bus saja beli sendiri", ucap Pakdenya Marni.
" Itulah bedanya, saya kalau pulang kampung, pasti di bekali uang jalan sama nona Muda, saya sendiri kapan saja bisa ijin pulang kampung, hanya saja istri saya yang memang agak sulit, karena untuk urusan tamu yang berkunjung semua itu di urus oleh istri saya", jawab mang Dul.
" Itu berarti bos kamu sangat mempercayai Likha istrimu", ujarnya lagi.
" Kami berdua melayani mereka sama seperti mengurus anak kami sendiri, mereka itu sebagian besar yatim Piatu, dan pernah tinggal di panti asuhan Charity bertahun-tahun", ucap mang Dul.
" Itulah takdir yang kuasa", singkat Pakdenya Marni.
" Lalu bagaimana usaha kamu? tanya mang Dul.
" Lumayan, kami bisa menyekolahkan anak kami", ucap Pakdenya Marni.
" Jurusan apa anak perempuanmu di kuliah? tanya mang Dul.
" Jurusan manajemen Keuangan, Fakultas Ekonomi", jawabnya
" Nona Muda Ranti, punya Bank yang buka cabang di Semarang, namanya IDB, coba saya tanyakan siapa tahu masih ada lowongan", ucap mang Dul.
" Terimakasih Dul, semoga saja masih ada", ucap Pakdenya Marni.
Setelah berkendara 3 jam akhirnya mereka tiba di kampungnya Marni, tepat jam 6 pagi.
Setelah semuanya turun, Bu Likha mengajak Dewi dan mang Dul ke pasar belanja bahan Dapur, Ranti dan seluruh keluarganya akan menginap di rumah Bu Likha yang memiliki 7 kamar, sesuai perintah Ranti.
Di kampung itu, rumah Bu Likha dan mang Dul yang paling besar, dan ada 1 Bangunan terpisah, didalamnya ada 3 kamar, luas lahannya saja 3000 meter.
Para warga kampung kaget dengan kedatangan mobil-mobil bagus yang parkir di rumah Bu Likha.
Anak-anak Bu Likha segera membantu para pelayan Ranti dengan menghidupkan seluruh AC yang ada di setiap ruangan.
Para Pelayan segera juga membersihkan kamar-kamar untuk Ranti bersaudara.
Sementara itu, Ranti dan seluruh saudaranya beserta Marni mendatangi rumah Paklek nya.
Marni juga sudah memberitahukan kepada adiknya agar mengatur administrasi Ibunya, karena akan di bawa pulang, Marni mentransfer uang untuk biaya Rumah Sakit Ibunya.
" Marni memeluk kedua Anaknya yang sudah kelas 4 dan kelas 6 SD, mereka berdua sementara di rawat sama bibinya, istri dari Paklek nya, sementara ibunya di rumah sakit.
Ranti miris melihat keadaan Rumah Paklek nya Marni yang sudah hampir roboh.
" Marni, bawa Paklek kamu ke rumah kamu saja, nanti kita ngobrol dirumah kamu", perintah Ranti.
" Baik Nona Muda", jawab Marni dan segera mengajak Pakleknya untuk kerumahnya.
Setibanya di rumah Marni yang juga cukup besar, Ranti mengajak Pakleknya Marni ngobrol.
__ADS_1
" Maaf pak, apa tanah dan rumah itu milik bapak atau punya orang lain? tanya Ranti tanpa basa-basi.
" Ia, itu rumah peninggalan nenek kami, dan di peruntukkan untuk ibunya Marni dan saya, hanya saja bagian saya masih berupa tanah kosong, belum ada rejeki buat membangun", ucap Pakleknya Marni.
" Oh, dulunya bapak atau ibu bekerja apa ? tanya Ranti.
" Dulu ikut Mas saya jualan pasar Situbondo, tapi saat anak saya sakit, saya pinjam uang sama dia, baru saja anak saya Keluar dari rumah sakit mereka sudah menagih hutang saya, sambil marah-marah, jadi kios saya, saya jual untuk membayar hutang dan pulang kampung, sekarang bertani, tapi tangan saya sudah patah maka tinggal istri saya yang bekerja, untung Marni masih membantu kami membayar biaya sekolah kedua anak saya yang masih SMA", ucap Pakleknya Marni.
" Sekarang jika bapak sembuh dan punya uang 100 juta, apa yang akan bapak lakukan? tanya Ranti.
" Saya ingin buka warung sembako di kampung ini, disini ada 5 desa dan sangat jauh dengan kecamatan, jadi barang-barang lumayan mahal dan juga tidak lengkap, jadi saya pikir warung sembako akan maju disini, apalagi jika saya kredit mobil pickup, saya akan belanja sendiri ke kota, apalagi di pinggir jalan sana, ada tanah warisan mertua untuk istri saya, sangat cocok untuk buka warung", ucap Pakleknya Marni.
" Alangkah baiknya juga bapak jualan keperluan pertanian, obat, pupuk maupun bibit", ucap Ranti.
" Wah kalau itu modalnya lebih besar lagi, Kecuali di Situbondo ada bank Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, mungkin saya bisa mengajukan Kredit, tapi sayangnya disini belum ada cabangnya, ipar saya di Banyuwangi, Sukses dia setelah dapat kredit dari Bank itu", ucap Pakleknya Marni.
" Baiklah kalau itu kendalanya, tapi apa Bapak yakin jika ada modal kedua usaha itu bisa maju? tanya Ranti.
" Sangat bisa, kehidupan di sini bergantung pada pertanian dan perkebunan, serta hasil laut", Ujarnya.
" Ternyata bapak memiliki wawasan yang luas, dulu sekolah sampai mana? tanya Ranti.
" Dulu tamat SMA saja, sempat daftar kuliah tapi keburu bapak saya meninggal, jadi gak sempat masuk kuliah", ucap Pakdenya Marni.
" Ya sudah, sekarang mari ikut saya ke kamar bareng istri dan kedua anak kalian", ucap Ranti.
" Marni, tolong bantu saya, siapkan air dalam kamar mandi.
" Salma, Armando bantu kakak", perintah Ranti.
" Baik kak", jawab Armando dan Salma.
" Apa ini putri anda keduanya", ucap Ranti.
" Ia, yang besar baru naik kelas 12, dan yang kecil baru saja daftar SMA", Jawab Pakleknya Marni.
" Baiklah, saya akan menyembuhkan tangan bapak, juga akan merubah fisik istri dan kedua putri anda, tapi prosesnya sangat menyakitkan, sekitar 30 menit, tapi itu sebanding hasilnya, istri bapak ada gejala penyempitan pembuluh darah, kedua anak bapak ada penyakit asma, dan itu menurun dari istri anda, tapi percayalah hari ini semua penyakit itu akan sembuh", ucap Ranti.
" Baik Nona, apapun itu saya saya siap", ujarnya.
" Lalu bagaimana dengan kalian bertiga? tanya Ranti.
" Kami juga siap, asal penyakit kami bisa di sembuhkan", ujar mereka serentak.
" Baiklah, sekarang kalian buka baju, tinggalkan ****** ***** saja, apa kalian bersedia? tanya Ranti.
" Salma, Armando, tolong cek semua Nadi mereka, totok 3 Meridian penting mereka", perintah Ranti.
* Tuan, Gunakan Pill Rekonstruksi Tulang untuk yang patah tulang, serta berikan Pill Regenerasi Fisik dan Jaringan Sel, secara bersamaan, untuk ketiga wanita itu, cukup berikan Pill Regenerasi Fisik dan Jaringan Sel, terakhir berikan Serum Pembersih dan Kekebalan Tubuh dan berikan masing-masing 2 tetes air Surgawi untuk diminum, agar pernapasan mereka normal", ucap Rose.
" Baik, terimakasih petunjuknya", ucap Ranti.
" Bapak Telan kedua Pill ini dan pejamkan matanya, dan ini untuk kalian bertiga", ucap Ranti yang kemudian memblokir suara agar tidak terdengar Keluar rumah.
Budenya Marni terkejut mendengar suara teriakan dari dari dalam kamar.
" Dul, apa adik saya sedang di obati oleh majikan kalian", tanya Budenya Marni.
" Ia, tenang saja, pasti Satrio dan istrinya beserta kedua putrinya akan sembuh dari penyakit asma", ucap Mang Dul.
" maaf Pak, boleh saya periksa Nadi anda, ucap Renata.
" Ehhh, maaf Nona Muda, apa anda juga bisa menyembuhkan orang sakit", tanya pakdenya Marni yang kaget.
" Saya Renata dan ini adik kembar Saya, kami berdua mahasiswi Kedokteran di UGM Jogjakarta, tapi kami juga bisa mengecek dengan cara tradisional, seluruh kami bersaudara mampu memeriksa penyakit lewat nadi", ucap Renata.
" oh baiklah, tolong di periksa kalau begitu", Ujarnya.
" Berikan tangan kalian pada saudara saya yang lain", ucap Renata.
" masih bisa di sembuhkan, lain kali jangan membohongi istri bapak sendiri", ucap Renata.
" Nona Muda, apa penyakit suami saya ? tanya Budenya Marni.
" Ginjal", 3 bulan dari sekarang pasti operasi", jawab Renata.
" Darel sendiri hanya terdiam, ketika dia memeriksa anak gadis Budenya Marni.
Sepupu perempuan Marni langsung pucat, dia takut jika Darel tahu dia sudah tidak perawan, dan ketakutannya benar.
" Tuan Muda, bagaimana dengan Putri saya", tanya Budenya Marni.
" Baik-baik saja, jawab Darel berbohong.
__ADS_1
Setelah 1,5 jam, akhirnya Ranti dan berserta Salma dan Armando beserta keempat orang itu keluar dari kamar.
Budenya Marni melotot melihat adik bungsunya dan istrinya yang nampak berusia 30 tahun, padahal usia mereka sudah 44 tahun.
Bahkan Tangan adiknya sudah sembuh, 2 keponakannya terlihat lebih tinggi dan lebih cantik.
Renata melaporkan kepada Ranti lewat telepati, penyakit keluarga Budenya Marni.
" Ya sudah suruh mereka masuk kamar, mumpung saya disini biar di obati sekalian", jawab Ranti melalui telepati.
" Bapak dan ibu serta kalian berdua masuk ke kamar biar adikku menyembuhkan kalian", ucap Renata.
" Kak Darel ayo kita bantu Ranti", ucap Renata mengajak Darel.
Tiba mereka semua dikamar, Ranti Segera menjelaskan, tapi sepupu Marni keberatan jika dia harus telanjang.
" Kalau kamu tidak mau ya tidak apa-apa, saya juga tidak memaksa", ucap Ranti singkat.
" Nak, ini untuk kebaikan kamu", ucap Ibunya gadis itu.
" Maaf saya tidak suka memaksa orang, jika kamu tidak mau, silahkan keluar dari kamar, dan kedepannya saya tidak akan pernah membantu kamu", ucap Ranti.
Gadis itu terdiam, dia sudah melihat Pakleknya saja yang patah tulang bisa sembuh, bahkan bulek nya saja bertambah cantik, begitu juga dengan kedua sepupunya.
" Maafkan saya Nona Muda, saya hanya malu saja bertelanjang di depan ayah saya dan juga Tuan Muda Darel", ucap Gadis itu.
" Saya tanya terakhir, mau ikuti syaratnya atau tidak? ucap Ranti.
" Baiklah Nona Muda, ucap gadis itu dan langsung membuka bajunya, walau mukanya sendiri sudah sangat merah menahan malu.
" Sekarang berbaringlah dan telan ini", ucap Ranti dan memberikan Pill Regenerasi Fisik dan Jaringan Sel.
" Kak Darel, kak Renata tolong bantu jaga peredaran darah mereka", perintah Ranti.
Dalam sekejap terdengar teriakan yang saling bersahutan, Marni dengan telaten membantu menyediakan air.
" Marni, apa kamu juga di berikan obat oleh Nona Muda? tanya bibinya.
" Ya kami semua di berikan Pill dan serum hingga kesehatan Marni dan teman-teman yang lain tetap sehat dan kulit kami semakin mulus", jawab Marni.
" Hebat majikan kamu", sahut Pamannya.
" Karena Nona Muda dan tuan Muda sangat menyayangi kami, makanya kami diberikan Pill yang sangat mahal, bahkan paman sendiri juga kebagian, ucapkan saja terimakasih jangan komentar yang lain, Nona Muda paling tidak suka", ucap Marni memperingatkan.
" Maaf Pak, adik saya kalau memberikan sesuatu itu ikhlas, percayalah ini rejeki kalian, jadi bersyukurlah, tenang saja obat itu gratis", ucap Dewi.
" Terimakasih banyak, saya sudah pasrah jika memang harus cacat, ternyata yang kuasa mengirimkan orang yang berhati baik untuk menolong saya dan keluarga", ucap Pamannya Marni.
" Marni adalah keluarga kami, dia bekerja membantu kami, kami tidak suka dengan istilah majikan atau bos, mereka semua pekerja, bukan budak atau babu, memang mereka pelayan dirumah kami, tapi mereka juga sudah kami anggap sebagai keluarga, boleh bapak tanya ke Bu Likha dan Mang Dul, atau bapak sendiri bisa lihat bagaimana para pelayan di rumah yang lain, mereka semua di jadikan budak, dengan jam kerja yang sangat tidak manusiawi ", ucap Vanya.
" Ia, Marni sudah memberitahukan kepada kami, bahwa para Nona Muda dan Tuan Muda tidak akan merepotkan mereka saat selesai jam makan malam, makanan juga sangat bergizi, kamar mereka juga katanya ber AC dan wajib minum susu", ucap Pamannya Marni.
" Itu harus, jika mereka sehat maka kami juga tidak repot membawa mereka ke dokter", jawab Mercy.
" Paman selama kami bekerja, kami tidak pernah ada satupun yang sakit, bahkan rasa capek saja tidak ada, itu karena kami bekerja santai, kami bekerja bersama-sama, saling bantu dan saling menghibur, makanya kami selalu sehat, ibadah juga lancar", Ujar Marni.
" Bersyukurlah Nak, paman bahagia mendengarnya, itu rejeki dari Tuhan, makanya jangan buat Nona dan Tuan mudamu kecewa", ucap Pamannya Marni.
" Itu sudah Pasti paman, lihat saja sekarang Marni punya Rumah sendiri, bahkan rumah ibu sudah Marni renovasi, adik Marni bersekolah dengan lancar, juga kedua anak Marni, itu semua berkat kebaikan hati Para Nona Muda dan Tuan Muda, masa kita harus mengkhianati mereka", ucap Marni.
" Bibi Marni selalu menyayangiku, apa saja yang Salma mau, pasti di buatkan sama bibi Marni dengan tulus, jadi bibi Marni bukan Pembantu dirumah kami", ucap Salma.
" Terimakasih Nona Muda, bibi Marni dan yang lain sangat bahagia merawat dan menyiapkan makanan atau cemilan buat Nona Muda dan Tuan Muda, kami semua senang karena hasil pekerjaan kami sangat di hargai oleh Nona Muda dan Tuan Muda", jawab Marni.
" Nona Muda, makanya kami bersyukur karena Nona Muda Ranti, tetap mengijinkan kami tinggal dirumah besar, walau nanti kami kerja di perusahaannya, itu karena kami juga tidak mau jauh dari semua Nona Muda dan Muda", ucap Dewi Pelayan.
" Kalian semua memang harus dekat dengan kami", singkat Armando.
Lagi asyik mereka ngobrol, kini terlihat Ranti, Darel dan Renata beserta 4 orang, keluar dari kamar, nampak perubahan besar yang dialami mereka.
" Bagiamana Pakde dan bude? tanya Marni.
" Sungguh sangat luar biasa, Pakde dan Bude terlihat lebih muda, lihatlah kerutan dan uban kami sudah tidak ada, lihat Clarisa yang makin cantik", jawab Pakdenya Marni.
" Syukurlah, jangan sia-siakan kebaikan Nona Muda Ranti, Ucap Marni.
" Ia Nak, Pakde bersyukur sekarang badan pakde terasa lebih segar dan berenergi", jawab Pakdenya Marni.
" Ya sudah sekarang kita siap-siap ke rumah sakit, yang lain tunggu saja di rumah", perintah Ranti.
" Baik Nona Muda, kami juga sedang memasak, agar nanti kita bisa makan bersama", jawab Dewi pelayan.
" Hahahaha, memangnya kamu bisa masak, paling hanya bantu kupas bawang saja, sisanya Bu koki yang masak di bantu Bu Likha", ucap Ranti meledek Dewi Pelayan.
__ADS_1
" Hehehehe Nona Muda tau aja, tapi sebelum ke Rumah sakit, sarapan dulu nona, Bu koki sudah siapkan sarapan untuk Nona muda dan Tuan Muda semuanya", ucap Dewi Pelayan.
" Kamu itu, lain kali belajar masak, agar nanti punya suami betah rumah", ucap Bu Likha.