
Selesai urusan administrasi, Ranti ke Ruangan tempat Maureen Yohana sedang di rawat.
Ketika Ranti melihatnya, hatinya begitu sedih, seorang gadis demi kehormatannya harus menderita seperti ini.
" Maaf Bu kalau boleh saya tahu, ayah Maureen dimana, tanya Ranti
" Suami saya, sudah meninggal demi keselamatan majikan dan anaknya, yang hendak di bunuh oleh kakaknya majikan almarhum suami saya, ucap ibunya Maureen.
" Apa sudah lama meninggalnya, tanya Ranti lagi
" Sudah sebelas tahun yang lalu, anak majikan suami saya seumuran dengan Maureen, hanya beda beberapa bulan saja.
" Apakah ibu tidak pernah menikah lagi, tanya Ranti lagi.
" Pernah dan bercerai 2 tahun lalu, dan semua peninggalan suami saya di ambilnya, dia menipu saya, hingga rumah pemberian majikan almarhum ayahnya Maureen di jualnya, ucap ibunya Maureen.
" Keluarga majikan almarhum ibu, apakah pernah mencari kalian,tanya Ranti.
" Pernah, katanya dia pengasuh Nona Muda, dan berkata kalau Nona Muda masih hidup.
" Apa ibu mengenal majikan almarhum suami, tanya Ranti
" Saya sangat mengenal dengan Tuan Besar, saya ketemu almarhum suami, ketika kami bekerja di rumah majikan, saat itu majikan laki-laki baru saja menikah, ibu adalah pelayan pertama di rumah itu, ucap ibunya Maureen
" Tapi karena ibu sudah 2 kali keguguran, akhirnya pada kehamilan ketiga, nyonya besar menyuruh ibu untuk istirahat saja, namun begitu nyonya tetap membayar gaji ibu, selang sebulan ibu istirahat, nyonya besar juga hamil, kadang kami berangkat ke dokter sama-sama, apalagi almarhum suami adalah Supir Nyonya.
" Kalau boleh saya tahu, siapa majikan ibu, tanya Ranti ingin memastikan apakah keluarga Maureen adalah bekas pembantunya.
" Tuan Besar Adriansyah Setiawan dan nyonya Monicha Herdiani Setiawan, tapi kalau Nona Muda saya lupa namanya, namun jika benar Nona Muda masih hidup, semoga hidupnya baik-baik saja, ucap ibunya Maureen.
Ketika ibunya Maureen, menyebut nama kedua orangtuanya, hatinya bergetar, hatinya teriris melihat salah satu pembantu orangtuanya rela mati demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.
" Aku harus menyembuhkan Maureen dan akan membalaskan dendamnya", batin Ranti.
" Saat ini ibu tinggal dimana, tanya Ranti
" Di rumah peninggalan almarhum mertua saya, kakeknya Maureen, ucapnya.
" Maaf kalau boleh ibu juga ingin bertanya, siapa Nona sebenarnya dan kenapa Nona mau membantu Maureen, tanya ibunya Maureen.
" Siapapun saya itu tidak penting untuk saat ini, kedatangan saya bertujuan ingin membantu menyembuhkan Maureen agar dia bisa meraih masa depannya.
" Maaf sekali lagi, Maureen koma sudah hampir 3 bulan, kata Dokter belum tahu sampai kapan Maureen bisa sadar kembali, bahkan kata dokter adalah kemungkinan terburuk Maureen sudah tidak akan bertahan, ucap ibunya Maureen.
" Tenang saja, malam ini juga Maureen Yohana, saya pastikan sehat kembali dan besok sesuai jadwal akan pulang tanpa ambulance, jika malam ini dia tidak sembuh juga, maka saya akan menanggung seluruh biaya perawatan nya bila perlu, akan saya bawa ke luar negeri, itu janji saya, ucap Ranti
" Terimakasih atas kebaikan Nona, jujur saya antara yakin atau tidak dengan Nona, tapi ibu berpikir, mudah-mudahan ini takdir, hingga Nona mau sengaja datang menemui Maureen, silahkan Nona, jika Maureen sembuh, saya akan melayani Nona seumur hidup, ucap ibunya Maureen.
" Tidak perlu melayani saya, cukup ibu dan Maureen menjadi teman saya, itu sudah cukup, ucap Ranti
" Baiklah kalau begitu, dan apa yang harus ibu lakukan untuk menyembuhkan Maureen, tanya ibunya Maureen
" Apa di kamar mandi ada air panas, tanya Ranti
" Ada Nona, ucap ibunya Maureen singkat
" Bagus kalau begitu, tolong ibu kunci pintunya, ucap Ranti
Setelah pintu di kunci, Ranti memblokir ruangan itu dengan Array pelindung agar suara teriakan Maureen tidak terdengar keluar, kemudian Ranti meminta agar membuka baju Maureen.
Ranti mencabut semua peralatan medis yang berada di tubuh Maureen, kecuali oksigen, ibunya Maureen tidak membantah, melihat Ranti mencabut semua peralatan medis ditubuh Maureen.
" Maaf Bu, tolong bukakan mulut Maureen walau hanya sedikit, saya akan memasukkan Pill penyembuh ini, ucap Ranti.
Tak menunggu lama, ibunya Maureen segera melakukan apa yang diminta Ranti, dan setelah itu, Ranti memasukkan Pill surgawi ke dalam mulut Maureen.
" Ibu Prosesnya akan menyakitkan Maureen, tapi percayalah padaku, setelah ini, Maureen akan sembuh, ucap Ranti
" Ibu sudah pasrah, jika memang bisa sembuh berarti ini adalah anugerah dari ayang kuasa, dan kalaupun tidak sembuh ini juga adalah kehendak Tuhan, jawab ibunya Maureen.
" Aku tidak akan datang kesini, jika aku tidak mampu menyembuhkannya, setelah proses menyadarkan Maureen selesai, aku akan memberikannya satu Pill lagi, untuk memperbaiki kinerja saraf otak, dan terakhir aku akan merangsang otaknya agar berfungsi maksimal dan tidak mengalami amnesia, ucap Ranti.
Tak lama berselang, Pill Surgawi sudah bereaksi, tubuh Maureen sudah mulai bergetar perlahan-lahan, dan airmata Maureen terlihat menetes, bersamaan dengan itu, keringatnya mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Waktu terus berlanjut, ibunya Maureen terkejut mendengar teriakkan anaknya yang kencang, ada rasa bahagia juga rasa cemas, Ranti tidak mau gagal dengan prosesnya, hingga dia juga mengedarkan energi positif untuk melindungi organ-organ vital Maureen.
Sedangkan Mind Ruler bekerja menjaga alam sadar Maureen agar tidak terkejut ketika dia akan mengingat peristiwa kejam dari Mikhael dan kawan-kawan nya.
__ADS_1
Tubuh Maureen terus bergetar, nafasnya juga sudah memburu, sedangkan Ranti terus menerus mengedarkan energi positif nya,
Sudah lebih 20 menit tubuh Maureen masih bergetar dengan suara yang begitu memilukan dan raut wajahnya terus berubah-ubah, hingga mulailah keluar segala cairan yang berbau sangat menyengat.
Dari telinga Maureen keluar cairan hitam seperti darah yang membeku, Ranti dan kekuatan Mind Ruler terus bekerja, dan akhirnya secara perlahan suara Maureen mulai tak terdengar.
" Ibu tolong atur suhu air di kamar mandi, karena setelah ini Maureen harus mandi dengan air hangat, serta siapkan pakaian.
Dengan langkah cepat, ibunya Maureen segera masuk kamar mandi, Ranti melihat jam 30 menit lagi akan ada pengecekan pasien.
Sementara menunggu air penuh di bak Air, ibu Maureen keluar dari kamar mandi, dan sesaat kemudian Maureen membuka matanya perlahan-lahan.
Walau Maureen belum bersuara, itu sudah membuat ibunya bahagia, dan mencoba menyapa Maureen.
" Nak, kamu sudah bangun, ini ibu, ucapnya
" Aku haus, hanya itu yang keluar dari bibir Maureen.
Ranti mengambil air mineral yang sudah di campur dengan air surgawi, dan memberikan kepada ibunya Maureen
Setelah meminum beberapa teguk, Maureen tersenyum melihat Ibunya,
" Bu, maafkan Maureen, ucapnya
" Jangan dipikirkan lagi, semua sudah lewat, ibu sangat menyayangi mu, ibu yang minta maaf, ucap ibunya Maureen.
" Maaf ibu dan Maureen, sebentar lagi ada pengecekan dokter, jadi segeralah bawa Maureen mandi, dan teteskan air ini kedalam bak mandinya, ucap Ranti.
Dengan bantuan ibunya, Maureen bangun dari ranjang dan mulai menginjak lantai, perlahan-lahan dia sudah mulai mampu berdiri dan melangkah perlahan-lahan ke kamar mandi
Ranti dengan segera membereskan ranjang Maureen dan mengaktifkan Elemen api dan angin untuk mengeringkan kasur dan bantal, serta mengganti seprei nya
Terdengar suara ketawa bahagia didalam kamar mandi, Ranti pun ikut bahagia, Ranti menggulung seprei yang kotor dan memasukkan ke Cincin Semesta.
Energi Positif Ranti yang sedikit terkuras membuatnya mengambil juice buah abadi dan meminumnya.
Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Maureen dan ibunya keluar dari kamar mandi, mereka kaget melihat brankar tempat tidur Maureen sudah kembali rapi dan bersih serta ruangannya sudah tidak berbau busuk.
" Nona Terimakasih sudah menyembuhkan saya, saya Maureen Yohana dan ini ibu saya Yolanda, ucap Maureen memperkenalkan dirinya.
" Nona Ranti, ibu bersedia menjadi pelayanmu seumur hidup, ucap Yolanda.
" Tidak Perlu, cukup kita berteman dan menjadi seperti keluarga, itu sudah bayaran yang pantas, ucap Ranti.
" Nona Ranti, mohon maaf, tempat tinggalnya dimana, tanya Maureen
" Saya tinggal di Surabaya, dan sengaja datang kesini untuk membantumu, ucap Ranti tulus.
" Terimakasih banyak, suatu saat nanti pasti saya akan membalas Budi baik nona Ranti, ucapnya.
" Makanya mulai sekarang kamu harus bahagia dan lanjutkan sekolahnya, ucap Ranti
" Pasti saya akan lanjutkan, ucap Maureen.
" Tolong jangan beritahukan kepada siapapun, bagaimana cara saya menyembuhkan Maureen, tegas Ranti ke Yolanda.
" Pasti Nona, saya akan menjawab bahwa Maureen sadar dengan sendirinya, jawab Yolanda.
" Bagus, balas Ranti.
Mereka yang sedang ngobrol, terdengar langkah Dokter dan 2 orang perawat.
Ketika Dokter dan perawat membuka pintu, mereka terkejut melihat kondisi Maureen yang sudah sadar, mereka tidak curiga karena Ranti sudah memasang kembali alat-alat medis ke tubuh Maureen.
" Halo Maureen setelah hampir 3 bulan kamu tidur, akhirnya kamu bangun juga, saya sebagai Dokter bahagia melihatnya, lihatlah ibumu yang tiap hari menjagamu, ucap Dokter itu.
" Terimakasih banyak atas segalanya, ucap Maureen.
" Ijinkan saya untuk mengecek perkembangan kesehatan kamu, dan besok pagi kami akan melakukan CT Scan untuk mengecek secara keseluruhan, ucap Dokter itu sambil memeriksa Maureen.
" Baik Dokter, kata ibu besok aku sudah bisa pulang, ucap Maureen.
" Kalau hasil tesnya memuaskan, besok kamu sudah bisa pulang, ucap Dokter itu.
" Terimakasih banyak Bu Dokter, ucap Maureen.
Dokter memerintahkan agar mencabut semua peralatan medis dan membuat laporan perkembangan pasien.
__ADS_1
Setelah Dokter itu pergi, Ranti memberikan 1 Pill Kecerdasan dan Penguatan Jaringan Sel Otak.
" Maureen telanlah, Pill ini akan membuat kinerja saraf otak mu bekerja maksimal dan kamu tidak akan merasakan sakit di bagian kepala, ketika kamu berpikir hal-hal berat di kemudian hari, ucap Ranti
Dengan senang hati Maureen menelan Pill yang di berikan Ranti, dan hanya beberapa detik kemudian dia merasakan seperti ada yang bergerak di dalam kepalanya.
Dengan kekuatan Mind Ruler Ranti memegang kepala Maureen dan langsung merekonstruksi semua ingatan Maureen.
Setelah selesai, tiba-tiba Maureen menangis, dan menyebut nama Mikhael.
" Brengsek kamu Mikhael, suatu saat akan ku balas semua yang telah kau lakukan" , teriak Maureen.
" Sudah-sudah, tenangkan dirimu dulu, aku akan membantumu membalas dendam ke orang yang sudah membuatmu menderita, aku janji, ucap Ranti sambil menenangkan Maureen.
Suasana kini sudah tenang, Ranti memesan makanan, tak berapa lama pesanannya datang, mereka bertiga makan dengan nikmatnya, sambil berbicara banyak hal, dan akhirnya Ranti mengucapkan sesuatu yang membuat Yolanda terkejut.
" Ibu, seandainya majikan almarhum ayahnya Maureen dan ibu masih hidup, apa yang akan ibu lakukan, tanya Ranti.
" Jikapun majikan kami sudah miskin, ibu akan tetap melayani nya, dengan sepenuh hati, itu pesan almarhum ayahnya Maureen.
" Apa ibu percaya omongan pengasuh yang mengatakan anak majikan kalian masih hidup, tanya Ranti
" Saya yakin, Nona Muda masih hidup, dan jika benar dia masih hidup, pasti sudah besar dan seumuran dengan Maureen, ucap Yolanda
" Apa ibu pernah melihatnya, tanya Ranti
" Kalau melihatnya hanya sekali, ketika saya dan Ayahnya Maureen minta ijin mau pulang kampung, ayahnya Maureen mengantar ibu ke kampung untuk membesarkan Maureen, jadi ibu tidak pernah lagi melihat Nona Muda.
Ibu di telpon pihak kepolisian, agar segera datang melihat ayahnya Maureen, 2 Minggu dirawat di RSCM Jakarta, namun akhirnya meninggal, ucap Yolanda.
" Apa ibu masih mengenal kedua orang ini, tanya Ranti sambil menunjukkan foto kedua orangtuanya
" Itu...itu.. majikan ibu dan almarhum ayahnya Maureen, maaf Nona anda mendapatkan foto ini darimana ? tanya Yolanda.
" Bayi yang mereka pangku itu adalah saya, Dan namaku RANTI PUTRI SETIAWAN, dan aku masih hidup, ucap Ranti
" Ini bibi pengasuh saya, namanya Suratmi, dia yang datang ke tempat ibu, coba ibu lihat baik-baik, ucap Ranti
" Maaf Nona dimanakah Bu Ratmi meninggalkan anda, tanya Yolanda
" Panti Asuhan Charity Surabaya, dengan Suster Diana, jawab Ranti
" Apa ada lagi yang ingin tanyakan agar membuktikan saya adalah Putri dari majikan ibu dan almarhum ayahnya Maureen ? tanya Ranti
" Bolehkah saya melihat punggung Nona, tanya Yolanda
" Maksudnya apa ibu ingin melihat tato keluarga Setiawan, tanya Ranti
" Benar, menurut almarhum ayahnya Maureen, Nona muda memiliki Tato inisial keluarga Setiawan, dan jika di teteskan darahnya, maka Tato itu akan berubah menjadi menjadi terang dan bersinar, ucap Yolanda.
" Ingatan ibu sungguh sangat kuat, silahkan ibu melihatnya, ucap Ranti sambil menunjukkan tatonya
Yolanda terdiam melihat tato Ranti yang begitu terang, walau tidak bersinar, tapi sudah membuat Yolanda percaya, dengan segera dia berlutut dan memanggil Maureen.
" Maureen, berlutut cepat perintah Yolanda
" Nona Muda, Syukurlah anda masih hidup, bahkan Nona Muda sudah mau membantu Maureen, terimakasih banyak Nona Muda.
" Berdirilah, jangan seperti ini, ucap Ranti
" Berlutut seperti ini, adalah ciri khas yang di ajarkan Tuan Besar Adriansyah Setiawan, kami semua pelayan sudah di sumpah agar berlutut seperti ini, sebagai tanda penghormatan, perlu Nona Muda ketahui, gaya berlutut ini, bukan melambangkan perbedaan derajat, ini penghormatan menyambut keluarga majikan yang sudah menjadi keluarga kami juga sebagai pelayan.
" Waktu Maureen lahir, Nyonya besar juga melakukan yang sama, sambil mengucap syukur akan kedatangan anggota keluarga, jadi biarkan ibu dan Maureen menyambut Nona Muda, ucap Yolanda, sambil berlutut dan mengucapkan kata-kata syukur seperti yang di ajarkan orang tua Ranti.
Selesai mengucap syukur, Yolanda tersenyum bahagia, Tuhan memberikan saya kesempatan melihat keturunan Tuan Besar Adriansyah Setiawan dan Nyonya Besar Monicha Herdiani Setiawan.
" Mohon Nona Muda mengijinkan ibu dan Maureen melayani anda, ucap Yolanda sambil membungkuk.
" Zaman sudah berubah, saya mau ibu dan Maureen menjadi bagian keluarga Setiawan, sesuai sumpah kalian di masa lalu, ucap Ranti
" Terimakasih Nona Muda, ucap Maureen dan ibunya.
" Ingat mulai hari ini, kalian berdua bukan Pembantu, apalagi budak atau jongos di keluarga saya, walau kalian melayani saya, bukan berarti kalian itu jongos, babu atau apalah itu, kita saling melayani dan saling bahu-membahu membangun kembali, keluarga Setiawan, tapi tidak dengan Ferdiansyah Setiawan.
Yolanda mendengar Ranti menyebutkan Ferdiansyah Setiawan dia terkejut dan bergetar.
"
__ADS_1