
Tepat pukul 10 Pagi, mobil Tristan sudah sampai di kontrakan, " selesai belanja perabotan, aku akan transfer uang buat bangun rumah, mumpung uang Vanya banyak, nanti sisahnya aku beli tanah, dan bangun kios saja", monolog Tristan
Dia tidak tahu kalau ATMnya sudah di blokir, dengan senyum lebar dan langkah gagah, Tristan memasuki kontrakan, karena kamar mereka di lantai 2, Tristan dengan semangat menaiki anak tangga.
Dia mengetuk pintu tapi tidak tak ada jawaban, masih berpikiran tenang, di mengira Vanya di kamar mandi.
Saat pintu terbuka, dia memanggil Vanya, tapi tak ada suara yang menyahut.
Dia mencari ke dapur, ke kamar kedua tempat menggosok baju tidak ada, betapa kagetnya saat dia masuk kamar tidur, dan melihat lemari pakaian yang terbuka lebar-lebar namun tidak ada lagi isinya.
Di kasur mereka terdapat selembar kertas bertuliskan, " Tunggu surat cerai dari saya" dan tolong mobil saya letakkan di kontrakan, nanti adikku Darel datang mengambilnya itu juga kalau kamu masih punya malu, ucap Vanya.
Tristan segera menghubungi Vanya, tapi sudah di blokir, dia mengirim pesan tapi hanya centang satu.
Tristan menelpon mertuanya yang pagi ini masih di rumah si kembar
" Selamat pagi ayah, apa Vanya ada menghubungi ayah, tanya Tristan
" Tidak, dari malam dia tidak menghukum ayah juga ibu, jawab Gunadi
" Oh kirain Vanya ada menghubungi ayah, balas Tristan, berpura-pura tidak ada masalah.
" Ada apa Tristan, kok tanya ayah yang lagi di Jogjakarta, ucap Gunadi
" Tidak ada ayah, ucap Tristan dan menutup telpon.
" Apa dia sudah ke rumah baru", monolog Tristan
Tristan bergegas ke mobil dan meluncur ke PIK 2, ke rumah Vanya, ketika tiba di depan rumah dia tidak melihat tanda-tanda ada orang, ketika dia mencoba membuka pintu, dengan sidik jarinya tidak bisa, dia menekan kata sandinya juga tidak bisa, apalagi dia tidak membawa kunci manual.
Akhirnya dia datang ke rumah Maureen, dan di terima oleh Yolanda, Tristan bertanya kalau Vanya tadi pagi datang atau tidak, namun jawaban Yolanda berkata tidak sama sekali.
Tristan memaki-maki sendiri, sambil menuju ke mobil milik Vanya.
Dengan wajah marah dia kembali ke gedung Sapphire tempat dia bekerja, di jalan dia mampir ke galeri ATM, dia memasukkan kartu dan menekan PIN, tapi sayang di layar tertulis, " kartu anda untuk sementara tidak bisa di gunakan".
Achhh sial kau Vanya, umpat Tristan..
Sementara di hotel Vanya lagi asik mengutak-atik handphone baru miliknya, tiba-tiba ada telpon masuk dari Sasha
" Halo Sasha, ada apa, tanya Vanya
" Kak Vanya, kenapa Non Ranti mengirim uang ke saya banyak sekali, 2 triliun, sampe 10 x ku hitung nol nya, dan benar 2 triliun, aku sampe di hubungi pihak bank, ucap Sasha.
" Terima saja, itu tanda terimakasih dari adikku, berkat dia mengenal kamu hingga kamu bisa bertemu, ucap Vanya
" Tapi ini banyak sekali, sampe takut aku mau ke Bank,ucap Sasha
" Datang saja, paling mereka hanya ingin bertanya apakah mau di jadikan deposito atau tidak , dan juga mungkin mereka ingin menawarkan investasi atau asuransi, ucap Vanya.
__ADS_1
" Mending aku deposito saja, ambil yang setahun, ucap Sasha
" Bagus itu, gunakan dengan bijak apa yang sudah di berikan adikku, ucap Vanya.
" Padahal sudah banyak aku di berikan uang, saldo ku, sebelum di kirim 2 Triliun, masih ada 5 milyar, itu sudah dari renovasi rumah orang tuaku dan aku sudah beli rumah sendiri dengan tipe 45, saat ini sedang renovasi untuk memindahkan dapur ke tanah sisa di belakang, ucap Sasha.
" Bagus itu, daripada buat foya-foya, pokoknya, bijaklah menggunakannya, asal kamu pintar mengolahnya, Mak seumur hidup kamu sudah hidup enak, walau bunga pertahun kecil tapi kamu bisa dapat kurang lebih 40 milyar setahun, gaji direktur saja bisa kalah, ucap Vanya
" Ia kak, tapi aku tetap bekerja, biar orang tuaku tidak curiga, aku beli rumah sembunyi- sembunyi dari orang tuaku.
" Pelan- pelan kamu harus kasih tahu, oh ya Sasha, aku mau resign dari Toko, dan seandainya kalau mas Tristan datang cari aku, bilang saja, aku tak pernah menghubungi kamu, ucap Vanya
" Apa kakak sudah putuskan, mau ninggalin orang pelit itu, tanya Sasha
" Ini aku sudah keluar dari kontrakan, besok aku mau tinggal sementara dengan adikku di apartemen nya, ucap Vanya.
" Baguslah, buat apa menikah kalau tidak di beri nafkah, sudah begitu kita harus melayani semuanya, enak banget dia jadi oran, apapun alasannya, dia harus mendahulukan keluarga sendiri, masa gaji 20 juta, kak Vanya hanya di berikan 3 juta, itupun buat keperluan hari-hari, ini Jakarta bukan di kampung, ucap Sasha.
Adikku juga bilang seperti itu, membantu keluarga, bukan berarti mengabaikan keluarga sendiri, kalau sekali-kali ya gak apa-apa, ini sudah setahun, jujur saja, selama menikah yang namanya makan di kafe itu hanya 5 kali selama setahun, bukan aku matrealiatis, tapi masih sih dengan gaji 20 juta, sekali sebulan makan di luar saja jarang, ucap Vanya
" Banyak orang dengan gaji 20 juta, tiap weekend pasti jalan-jalan, sekedar cari suasana baru dan makan di luar, kecuali kayak kita gaji UMR, ya mana cukup, ucap Sasha.
" Tapi sekarang aku sudah bebas, bukan karena sekarang aku sudah ketemu adikku yang kebetulan dia kaya raya, tapi karena aku sadar, buat apa aku menikah kalau aku harus bekerja untuk diriku, sedangkan suami sibuk mengurus keluarga nya, ketika aku bekerja, malah dia lebih senang memberikan uang kepada orangtuanya, nah giliran aku minta buat kirim orangtuaku dia bilang gak ada uang, miris gak tuh, ucap Vanya.
" Sudah jalani ke bebasan kakak, tapi tolong jangan lupakan aku, ucap Sasha
Di proyek pembangunan gedung baru di kompleks gedung sapphire, Tristan terlihat bingung, apa salah aku membantu orang tuaku, gumam Tristan.
" Hey bro, kenapa tsmpangmu sangat kusut, bukannya kamu sekarang happy, bisa beli rumah bagus dan punya mobil, ucap rekan kerja Tristan.
" Bro, kamu kasih ke orang tuamu di kampung berapa tiap bulan, tanya Tristan
" Aku, paling Tinggi 4 juta, karena 2 adikku masih sekolah, Ayahku masih ada Sawa jadi masih mampu lah untuk biaya adikku 1 kuliah dan 1 kelas 11 di SMA, sisanya buat makan sehari-hari, kontrakan dan uang untuk istriku, siapa tahu dia kepingin jajan atau beli make up, namanya juga perempuan, ucap rekannya.
" Apa kamu tidak bersalah pada orang tuamu, kirim uang hanya segitu, tanya Tristan
" Terus harus berapa banyak, kita sudah berkeluarga, fokus kita pada keluarga kita, ada saatnya kita bantu lebih, misanya saya, saat adikku butuh bayar semester, pasti aku kirim sekitar 6 juta, biaya semester adikku 1,5 juta, yang SMA, karena di negeri paling aku kirim 500 ribu, tiap bulan buat dia jajan, intinya kita membantu keluarga, saat hari raya, kita dapat THR, pasti setengah dari THR aku bagi untuk orang tuaku dan kedua adikku, itu sudah cukup, ucap teman Tristan
" kalau kamu kirim tiap bulan hanya 5 atau 5 juta, apa gak kasihan kamu sama orangtua, ucap Tristan
" Terus menurutmu berapa yang pantas, tanya balik temannya.
" Gaji kita Sama 20 juta, aku tiap bulan kirim 14 juta, 3 juta buat aku dan istriku, 1 juta kontrakan, 2 juta buat aku beli bensin dan cicilan motor, kalau ada bonus, biasanya ku bagi buat orang tua dan buat ku dan istri, ucap Tristan.
" Terus cukup hanya 3 juta buat kalian sehari-hari, kapan kamu kasih uang istrimu buat dia jajan atau beli make up, juga Pakaian, tanya temannya.
" Dia kan bekerja juga, jadi dia bisa beli sendiri, ucap Tristan
" Apa kamu pernah mengirim uang untuk mertuamu, tanya temannya
__ADS_1
" Istriku yang mengirim pakai uang dia, uangku untuk orangtuaku, kan tidak wajib kita mengirim ke mertua sedangkan orangtuaku saja kurang, jawab Tristan.
" Kamu memang anak berbakti, tapi pasti istrimu akan meninggalkan kamu, tahu kenapa, karena kamu mau enak saja, kamu hanya mau nikahi dia tapi kamu tidak mau memberikan dia apa-apa, aku adil istriku sudah 6 bulan tidak bekerja, tapi aku rutin, buat orangtuaku dan mertuaku, karena itu tanggung jawab kita ke anaknya yang kita nikahi, ucap temannya.
" Kenapa harus wajib mengurus mertua, kan yang penting kita harus dahulukan orang tua yang membesarkan kita, ucap Tristan
" Itu benar kawan, terus siapa yang harus membantu mertuamu, tanya rekannya
Ya anak laki-laki mertua lah, masa saya yang harus wajib mengurus mereka, bantu sekali- kali wajarlah, tapi kalau tiap bulan, itu namanya aku kerja buat mereka, jawab Tristan
" Lanjutkan saja cara berpikir kamu itu kawan, potong Kepala saya, kalau istrimu akan bertahan dengan kamu, istri tak di nafkahi, mertua tidak mau di bantu, terus anaknya kamu suruh masak, cuci baju, beresin rumah, buatkan kamu kopi, malam juga pakai, tapi hanya kamu kasih makan 100 sehari sudah berbagi dengan kamu ikut makan, Kopo gula, sabun mandi dan segala ***** bengek, bagaimana dia mau beli baju, pembalut, hebat istri kamu mampu bertahan setahun lebih dengan kamu, ucap kawan nya
Tristan terdiam, tak mampu lagi menjawab, apalagi benar omongan kawan nya pasti akan dia akan di tinggalkan istrinya, dan memang sudah di tinggalkan.
" Kapan kamu pindah rumah baru, biar aku siapkan mobil, tenang saja, gak usah bayar, aku bantu ikhlas.
" Apa istrimu sering menuntut beli ini dan itu selama kamu menikah ? tanya Tristan
" Namanya istri pasti ada saja tuntutan nya, kalau masih wajar ya harus kita penuhi, kalau dia minta tas yang puluhan juta, itu namanya mau bunuh suami, tapi aku bersyukur, istriku tau gajkku setelah di bagi-bagi, dia tahu sisahnya berapa, jadi kalau dia ingin sesuatu yang agak mahal, 4 bulan sebelum beli dia sudah ngomong, kayak kemarin dia minta ganti handphone yang 6 juta, 3 bulan kemarin dia sudah ngomong, Berarti dia berhemat aku juga berhemat, pas cukup ya kita beli, gampang kan.
Tapi kalau cara kamu membagi keuangan seperti itu, aku yakin, sekedar belikan tas 500 ribu buat istrimu bakal nunggu THR atau bonus, maaf bicara, suatu saat ada laki-laki yang royal kepada istrimu, pasti dia tinggalkan kamu, mau kamu bilang rajin ibadah atau setia, tapi kalau kemauan dia tidak kami penuhi, pasti pergi dengan orang yang royal.
Beda cerita kalau gaji kita hanya UMR, yakin saya istri pasti mengerti, gaji 20 juta, tapi istri tidak di belikan apa- apa, jangan sedih kalau kamu di tinggalkan, itu saja pesanku, aku sudah 10 tahun menikah, tapi lihat saja, mertua saya sayang denganku asal aku pulang kampung ke tempat mertua pasti di masakin makanan enak, tapi ku lihat kamu tidak pernah ke Mertua kamu, lebaran tahun lalu ku lihat Vanya sendirian di tempat mertuamu, kamu asik dengan keluarga kamu, Tristan, Vanya gadis yang baik, apalagi dia anak yatim Piatu, sudah pasti dia tabah, tapi dia juga manusia, ada tanggung jawab dia ke pak Gunadi sebagai orangtua angkat nya,
Kamu lupa, adikmu dulu meninggal, hampir tidak ada orang yang membantu keluarga kamu, selain keluarga ku, Supomo dan Prasetyo, juga pak Gunadi dan Bram sebagai teman akrab kamu.
Kamu harus bersyukur jika Vanya masih bertahan dan harus segera berubah, kamu lihat saya, orangtuamu lebih susah dari kamu, kita punya tanggungan adik 2 orang, memang adikku nomor 2 sudah bekerja, tapi kamu, ayah dan ibumu masih menerima Pensiun, sawah kalian ada 15 hektar, masa ia jika kamu kirim 5 juta orangtuamu tidak bisa hidup, bandingkan orang tuaku,
Makanya tadi aku bicara layaknya kita bukan orang sekampung, karena jujur saja, kamu mau enak tapi gak mau keluar uang, sama seperti orang tuamu, ingin sawahnya bersih tapi bayarnya kurang, kedua adikmu di kampung berlagak bos besar, tapi apa, apakah mereka dan kamu sendiri punya kawan di kampung, selain Bram, ucap kawannya.
Tristan terdiam, mendengar ceramah kawan sekampung nya.
" kamu memang baik, tetapi perhitungan dengan orang, makanya anak buah kamu disini gak suka dengan kamu, aku jujur bicara dengan kamu, lihat saja mereka, jam kerja ya mereka kerja, jam pulang mereka langsung pulang, mana mau mereka melebihkan jam, karena pemimpin nya seperti kamu, yang perhitungan, ucap temannya.
" kalau kamu di tinggalkan istrimu, itu bukan karena Vanya tidak mencintai kamu, tapi kamu yang perhitungan, hanya mau tubuhnya, tapi tidak mau merawatnya, hebat betul kamu jadi orang, kalau Vanya adikku, dari awal ku larang dia bergaul dengan kamu.
harusnya kamu bersyukur, Vanya sangat menyukaimu hingga dia rela berantem dengan Bram, tapi apa yang kamu berikan, alasan berbakti ke orangtua, kecuali aku tidak tahu siapa keluarga kamu, ujarnya
" Jadi aku salah membantu orangtuaku, tanya Tristan
" Bro, apa yang aku tau dan yang ku jalani 10 tahun menikah sudah ku jelaskan, benar salah tergantung kamu, gaji 20 juta, kamu tidak mau berbagi dengan istrimu, tapi hampir tiap malam kamu pakai tumbuhnya, paginya masak buat kamu, apa kamu tidak Kasihan kepadanya ? coba kamu jawab,
" Waktu kamu sakit, apa adikmu datang merawatmu, atau ibumu menginap seminggu menunggu kamu di rumah sakit, kamu pipis dan Bab, apa ibumu yang mengurus kamu, apa kamu tega tidak membelikan selembar pakaian, coba kamu Jawab
" Orang baik sekali marah susah dia kan memaafkan kita, sama halnya sekali wanita sabar meninggalkan kita, mau nangis airmata darah pun tak akan dia kembali.
Tristan yang lagi pusing, bukannya dapat pembenaran, malah kena ceramah lagi,
Di tempat lain, tepatnya di Jogjakarta, Kedua orang tua Vanya dan pamannya hanya bisa diam, ketika Vanya meminta di uruskan surat cerai.
__ADS_1