SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN

SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN
liburan selesai


__ADS_3

Liburan akhirnya selesai, hari ini Ranti dan lainnya akan kembali ke Surabaya.


Si kembar dan Nindya sungguh bahagia walau hanya beberapa hari ketemu dengan Ranti.


Mang Dul melaju dengan kecepatan sedang sebelum memasuki jalan Tol, seperti biasa, Salma dan Mora selalu saja ceria.


Sudah 2 jam mereka dalam perjalanan, membuat mereka ingin segera istirahat, Mang Dul melihat ada SPBU dan langsung mampir, Mang Dul mengisi bensin, sedangkan Ranti dan semuanya masuk kedalam restoran dengan menu sederhana tapi terlihat lezat.


Mereka menikmati makanannya dengan sangat bahagia, selesai menikmati makanannya, mereka masih tetap beristirahat, apalagi waktu masih siang.


Salma dan Mora minta ijin ke minimarket untuk beli cemilan, namanya juga anak kecil.


Sampai di minimarket ternyata lumayan ramai, apalagi banyak bus yang mampir, para penumpang turun untuk sekedar menghilangkan rasa bosan atau ke toilet.


Salma dan Mora mengambil keranjang dan mulai memilih cemilan yang mereka inginkan, para pengunjung yang melihat Salma dan Mora gagal fokus pada handphone yang bergelantungan di leher kedua bocah itu, apalagi pakaian dan aksesoris mereka berdua memang terlihat anak orang kaya.


" Halo adik ganteng, kamu mau jajan apa ?" sapa Salma pada seorang bocah laki-laki yang lucu.


Si bocah menunjuk coklat Cadbury yang lumayan mahal, tak hanya itu bocah itu juga menunjuk beberapa Snack, Salma mengambil semua yang ditunjuk oleh bocah itu, namun datang seorang wanita dewasa yang ternyata ibunya dan langsung memarahi anaknya.


" Bibi, kenapa memukul dan memarahi adik kecil ini, apa salah dia ?" tanya Salma.


" Dia sembarangan ambil jajan, nanti siapa yang bayar, apalagi semua yang dia ambil adalah jajanan yang mahal ?" ujar wanita itu


" Mora tolong ambil keranjang 1 lagi", pinta Salma.


Mora pergi mengambil keranjang dan kembali ke tempat Salma.


" Mora ambil semua yang adik kecil tadi tunjuk lebihkan saja, kasihan adik itu, ujar Salma.


" Nona kecil, anak saya tidak terbiasa makan yang seperti itu", ucap wanita itu.


" Tidak apa-apa mencoba sekali-kali, dan jangan kuatir nanti saya bayar", ujar Salma dengan santai.


" Adik kecil, apa masih ada yang kamu inginkan ?" tanya Salma.


Bocah itu melihat ke ibunya dengan wajah ketakutan.


" Maaf bibi, jangan buat adik kecil ini ketakutan, nanti dia besar dan punya keberanian pasti dia tidak akan menghargai Anda sebagai ibunya, kalau anda tidak ingin membelikannya sesuatu, cukup bicara baik-baik atau jangan bawa ke tempat seperti ini", ujar Salma.


Perkataan Salma kepada wanita itu sontak membuat pengunjung kagum, mereka berkomentar positif dengan cara berpikir Salma yang menurut mereka benar.


" Saya bukan tidak ingin membelikannya, tapi kami lagi banyak masalah, jadi kadang emosi saya tidak stabil, aku juga sangat menyayangi putra saya", ujar wanita itu, dia tersentuh dengan omongan Salma.


" Maafkan saya juga yang mencampuri urusan Bibi, tapi kakakku mengajarkan padaku seperti itu", ujar Salma.


" Terimakasih Nona kecil sudah menyadarkan saya, hampir saja masalah saya dengan suamiku, akan membawa dampak negatif buat putra kesayanganku, ujar wanita itu dengan rasa menyesal.


" Ya sudah, biar saya bayar dulu, nanti bibi ketinggalan bus", ujar Salma.


Salma memberikan 2 keranjang kepada Kasir untuk dihitung, sementara Salma membuka tasnya dan mengambil dompet Hermes kesayangannya.


Para pengunjung hanya bisa ngiler melihat dompet Salma, dan Ketika dompetnya dibuka mereka tercengang melihat begitu banyak kartu ATM yang berjejer rapi di dompetnya, lalu dia mengambil salah satunya.


Pengunjung melotot melihat kartu debit Platinum Mandiri milik Salma.


" Dek, kamu umur berapa sekarang, tanya Seorang gadis muda yang sedang antri.


" Saya umur 9 tahun", jawab Salma singkat.


" Apa itu kartumu atau ibumu", tanya wanita lagi.


" Ini semua kartuku, kakakku yang memberikannya, kami semua bersaudara memilikinya, ada apa kak ?", tanya Salma


" Tidak apa-apa, hanya penasaran saja, kartumu sangat berharga, ucap gadis muda itu lagi.


" Kirain ada apa, saya sendiri bingung beberapa kali orang bertanya soal kartuku", ujar Salma.


" Pasti orang penasaran, kakak saja hanya punya Mandiri yang gold, tapi kartumu platinum prioritas dan kakak tadi lihat di dompetmu ada beberapa Kartu yang tak kalah ekslusif ", ujar gadis itu.


" Oh yang ini, ujar Salma sambil mengambil semua Kartu miliknya.


" Astaga Dek, kamu punya kartu Mandiri World Elite dan Mandiri Private, BCA Prioritas", ujar gadis itu yang semakin penasaran.


Salma hanya bingung melihat ekspresi gadis itu dan pengunjung yang melihat Kartu ATM miliknya.

__ADS_1


Tanpa Salma ketahui sang kasir iseng-iseng mengecek Saldo Rekening Salma, dan alangkah terkejutnya kasir itu ketika dia melihat saldo milik Salma.


Selesai dengan transaksinya, Salma memberikan belanjaan yang di tunjuk bocah laki-laki itu, dan keluar dari minimarket itu.


" Mba apa mba sempat melihat Saldo Kartu milik anak kecil tadi", tanya gadis itu yang masih penasaran.


' Ia saya iseng mengeceknya, dan isinya sangat fantastis Mba, saldonya hampir 500 milyar, ujar kasir itu


" Berapa mbak, apa saya gak salah dengar", ujar gadis itu.


" Ini fotonya, hitung sendiri ada berapa digit itu", ujar kasir itu.


" Ya ampun Tuhan, anak sekecil itu sudah memiliki segunung, betapa kayanya orangtua anak itu", ujar gadis itu.


Kembali Ranti.


" Beli apa saja sayang?" tanya Ranti


" Lagi banyak orang jadi antri sebentar ", ujar Salma.


" Ya sudah ayo kita berangkat, nanti kesorean kita sampai", Ujar Mercy.


Saat mereka keluar dari Restoran, Gadis itu kearah Salma, namun gadis itu berpindah fokusnya ke Friska, dan mendekatinya.


" Hei Friska, kamu dari mana", sapa gadis itu.


" Hei Joan, aku dari Jogjakarta, abis main ke kakakku dan Bibi disana, jawab Friska ke gadis itu yang ternyata bernama Joan.


" Maaf apa dia adikmu ?" tanya Joan.


" Ia adikku paling bungsu, namanya Salma, SD di Bintang Timur juga", ujar Friska.


" Kalian ini harus hati-hati kalau kasih sesuatu buat adik Kalian, tadi dia di minimarket bikin heboh dengan Kartu ATM miliknya, apalagi dia membelikan seorang anak kecil sekeranjang cemilan", ujar Joan yang memang cukup akrab dengan Friska di sekolah bintang timur.


" Pantas saja dia lama belanja nya, ia nanti kita ganti Kartunya", Ujar Friska.


" Ya sudah, sampai jumpa lagi, Abang saya sudah memanggil katanya Bus sudah mau berangkat, ujar Joan.


Ranti hanya mendengar saja tapi tak ambil pusing, selama tidak merugikan orang lain tidak peduli apapun yang kita lakukan.


" Bukan Kartunya yang bermasalah, tapi mereka saja yang kepo, ujar Ranti.


" Terus Salma nanti kalau belanja pakai Kartu yang mana ?" tanya Salma


" Pakai itu saja, tidak usah peduli dengan omongan orang, hanya saja kami hati-hati dan jangan sembarang berbicara dengan orang asing yang bertanya soal Kartumu", ujar Ranti.


" Baik Kak", balas Salma.


" Kak Ranti, berarti kartuku juga sama dengan milik Salma, warnanya sama dan ada tulisan Prioritas", ujar Mora.


" Kamu benar, Kartumu sama dengan milik Salma, jadi hati-hati mengeluarkannya", uang Ranti.


" Baik Kak, ujar Mora.


Jangan salah Mora sendiri memiliki Saldo di kartunya lebih dari 100 milyar, yang belum pernah dia gunakan, kalau jajan paling banyak 50 ribu, apalagi sekarang orangtuanya juga sudah sangat kaya, Mora sendiri memiliki deposito berjangka sebesar 1 triliun pemberian Ranti, itu berarti Mora punya pendapatan Bunga per-tahun 22 milyar, jika dibagi perbulan, Mora mendapatkan 1,833 milyar, gaji manajer juga kalah.


Tak terasa mereka sudah sampai Surabaya, tepatnya jam 3 sore, mereka mengantarkan Mora ke rumahnya terlebih dahulu, kemudian baru mereka menuju rumahnya.


Begitu tiba dirumah, semuanya terlihat kecapean, kecuali Ranti yang tetap terlihat segar.


" Ini minum Juice dulu biar segar, setelah baru mandi dan istirahat, besok kita sekolah, ujar Ranti


Dilain tempat, tepatnya di Jakarta, orangtua Ranti juga baru tiba di Bandara Soekarno Hatta, dengan membawa dua gadis kecil yaitu Velove dan Vexia.


Kedua orang tua Ranti serta Lukman dan Suratmi, juga Velove dan Vexia, mereka naik pesawat milik Ranti.


" Bunda pesawatnya sangat bagus, Vexia baru sekarang naik pesawat", ujar Vexia.


" Pesawat ini milik kakak kalian Ranti, ujar Suratmi.


" Wah ternyata kak Ranti sangat kaya, kami di berikan kalung dan kartu ATM dari kak Ranti, ujar Vexia.


" Makanya nanti dengar-dengaran sama kakak kalian Ranti dan juga yang lainnya, mereka sangat baik sama keluarga kita", ujar Suratmi.


" Apa Vexia suka naik pesawat ini ? tanya Monicha.

__ADS_1


" Sangat suka Bi, terimakasih sudah ajak Vexia dan kak Velove naik pesawat ini.


Itulah obrolan mereka ketika masih berada di pesawat.


" Mas untung bunda sudah bisa menyetir mobil dan sudah punya SIM, jadi besok bunda bisa antar kedua gadisku kesekolah", ujar Suratmi.


" Ratmi, selamat ya, sekarang kamu sudah punya anak, Semoga kamu semakin bahagia", ucap Monicha.


" Terimakasih Nyonya Besar, saya sangat bahagia, di umurku segini, saya masih bisa di percayakan untuk merawat anak-anak", hajar Ratmi.


" Jangan kuatir, kami semua mendukungmu dan akan menyayangi kedua anakmu, apalagi Putri kami yang menemukan mereka, dia tidak pernah salah dalam memilih siapa yang bisa jadi saudaranya", ucap Monicha.


" Aku yakin, kedua gadisku kelak, akan membanggakan keluarga kita, ujar Ratmi optimis.


Mereka tidak tahu saja, kalau Rose sudah melihat jauh kedepan, bahwa Velove dan Vexia akan menjadi wanita sukses dan cerdas, dan sangat menyayangi ayah dan bundanya, serta seluruh saudara Ranti.


Itulah alasan kenapa, Ranti mau memberikan kedua gadis itu ke Lukman dan Suratmi, agar mereka berdua ada yang merawatnya di masa tua nanti.


Tiba dirumah, Ratmi langsung membawa Velove dan Vexia ke bangunan yang di khususkan untuk suami istri itu, Adriansyah sengaja membangun rumah itu untuk Lukman dan Suratmi.


" Selamat sore Bu, saya pengasuh yang di minta ibu dari Yayasan penyalur Pembantu", ujar pengasuh itu.


" Nanti tolong kasih tau ke koki, untuk buatkan makan malam SOP daging dan tolong rebus telur 10 butir", ujar Ratmi.


" Baik Bu", jawab pengasuh itu.


" Nona, nanti setelah kakak dari dapur kita mandi ya", ucap pengasuh itu.


" Ia kak, kami tunggu Disni", jawab Velove.


" Sayang, ayo kita lihat kamar kalian, apa kalian mau sekamar atau sendiri - sendiri", tanya Suratmi.


" Vexia mau tidur bareng kakak Velove, ucap Vexia.


" Ya sudah, Velove apa tidak masalah Vexia tidur dengan kamu, tanya Ratmi


" Tidak apa-apa Bunda, kami dari kecil sudah biasa tidur bersama", ujar Velove.


" Baiklah, tapi tetap bunda dan ayah sudah menyiapkan kamar sendiri - sendiri, jadi baju kalian juga nanti diatur di lemari masing-masing, besok pulang dari daftar sekolah kita ke mall untuk beli baju, bagaimana?" tanya Ratmi.


" Baik Bunda, tapi apa boleh Velove beli dompet seperti Salma, walau beda merek, soalnya Velove tidak punya dompet buat isi uang jajan dan kartu dari kak Ranti, ujar Velove sambil memperlihatkan uang pemberian dari Nindya dan si kembar.


" Besok kita beli sayang, nanti kalau kalian butuh sesuatu ngomong sama bunda saja, atau kalau bunda sibuk kasih tau ayah, ujar Ratmi.


" Ia Bunda, dan ini ada 1 kotak yang diberikan kak Ranti, katanya sebelum tidur, Velove dan Vexia harus menelan obat yang ada di dalam kotak, tapi harus di lihat dulu sama Bunda, ujar Velove dan memberikan kotak dari Ranti ke Suratmi.


Ketika Ratmi membuka kotak itu dia menemukan secarik kertas yang bertuliskan.


" Bibi ini adalah Pill penambah kecerdasan buat Velove dan Vexia, agar mereka semakin pintar di sekolah, efeknya mereka akan merasakan pusing dan badannya akan terasa hangat", isi tulisan Ranti.


" Bagaimana Bunda?' tanya Velove


" Tidak apa-apa, nanti setelah makan malam dan pas mau tidur kalian telan Pill ini", ujar Ratmi.


Sementara di Panti darurat terlihat semua anak-anak tengah berbahagia, melihat begitu banyak barang, Juwita dan Poppy sedang sibuk membagikan seluruh pakaian dan sepatu baru beserta sendal.


Mereka juga di berikan handphone, apalagi, semua anak-anak sudah berikan Serum Pembersih dan Kekebalan Tubuh, terlihat sangat segar dan sehat, Ranti juga membeli Pill kecerdasan tingkat menengah, dan sudah Juwita berikan dan sudah digunakan oleh mereka semua.


Suasana panti Terlihat beda lebih bersih, anak-anak Panti sejak menelan Pill kecerdasan tingkat menengah, kini mereka lebih muda mengerti perintah Juwita dan Poppy dan cara hidup mereka sudah berubah.


Di belakang gedung panti darurat juga terdapat puluhan orang yang masih bekerja, bahkan sejumlah ruangan sudah mulai di cat, para pekerja yang banyak membuat pekerjaan menjadi lebih cepat.


Untuk urusan baju seragam dan perlengkapan sekolah lainnya sudah datang, para penjahit hanya butuh 2 hari menyelesaikan semua seragam mereka, walau belum semuanya tapi masing-masing anak sudah memiliki sepasang, seperti hari ini Juwita sedang menunggu seragam lagi.


Bisa di pastikan besok akan terjadi pandangan yang aneh terhadap anak-anak Panti itu, kare biasanya mereka memakai seragam yang lusuh karena tidak di setrika, tapi sekarang baju mereka begitu sampai dari tukang jahit, langsung di cuci dan di setrika.


Untuk urusan uang jajan, kini anak-anak Panti sudah bisa jajan, dimana yang SMP di berikan 50 ribu perhari sedangkan yang SD 30 ribu.


Ranti sendiri sudah berpikir, anak-anak panti yang ada sekarang harus bisa hidup dengan nyaman, panti milik orang lain saja di fasilitasi dengan mewah apalagi panti miliknya dan menggunakan nama Yayasan Bintang Timur.


Kembali ke Ranti.


Saat ini dia masih berada di kamar, dia membaca laporan keuangan seluruh Panti Asuhan yang selama ini dia bantu.


Dari laporan - laporan itu dia melihat semuanya aman, tidak ada yang mengecewakannya, saldo keuangan Panti juga sangat aman, Panti asuhan Charity apalagi, saldo hariannya saja mencapai ratusan milyar, pendapatan dari supermarket sangat besar, karena sudah di kelola dengan profesional.

__ADS_1


Panti Asuhan Agape, mereka sedang merintis untuk membangun sekolah juga, apalagi di wilayah tempat mereka, sekolahan termasuk jauh, Ranti sudah memberikan uang untuk pembangunan, namun masih terkendala lahan, masih ada beberapa keluarga yang belum mau menjual tanah mereka.


__ADS_2