SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN

SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN
Lanjut ke keluarga Pelayan di Sidoarjo


__ADS_3

" Sekarang kalian semuanya telanlah Pill ini, nanti setelah kalian selesai menelan Pill ini, silahkan teteskan darah kalian ke SIM ini", Perintah Ranti, sambil memberikan Pill Penambah Kecerdasan dan Memperkuat Jaringan Otak.


Sejenak mereka merasakan pusing di kepalanya dan seluruh tubuh mereka menghangat setelah menelan Pill dan meneteskan darah di SIM mereka.


Rona bahagia terpancar dari wajah mereka, Jarwo juga merasa bahagia melihat adik sepupunya sudah kembali seperti dulu, keponakannya juga sudah terlihat lebih cantik dan ceria.


" Relin, kamu mau kuliah dimana? tanya Jarwo.


" Relin Kuliah di Lamongan sini saja Paman, sekalian bantu paman dan bibi, mungkin mau ambil kuliah Universitas Darul Ulum, Fakultas Teknik, jurusan Sipil", Ucapnya.


" Ya sudah, kalau kamu memang ingin disini silahkan, mau kuliah di Surabaya dan tinggal dengan paman juga gak apa-apa", ucap Jarwo.


" Nanti Relin pikirkan Paman, kalau seandainya Relin memutuskan kuliah di Surabaya, nanti Relin telpon paman atau bibi", ucap Relin.


" Baiklah, sekarang Paman dan bibi beserta Nak Ranti mau kembali ke Surabaya, ini sudah jam 8 malam", ucap Jarwo.


" Terimakasih Nona Muda, terimakasih Paman dan Bibi, Sudah memberikan jalan hidup yang layak buat Relin", Ujarnya.


" Sama-sama, ayahmu adalah sepupu Paman, semasa hidup dia dan Pamanmu Derry sangat akrab dengan Paman, pikirkan baik - baik soal kuliahnya, rumah paman terbuka untukmu, jika mau kuliah di Surabaya", ujar Jarwo.


" Terimakasih Paman", jawab Relin.


Selesai semua urusan di Lamongan, Ranti beserta kedua adiknya dan keluarga Mora segera bergegas kembali ke Surabaya.


Tepat jam 10 malam mereka tiba di Surabaya, dan melanjutkan ke rumah masing-masing.


Tiba dirumahnya, Ranti menggendong Salma yang ketiduran, sementara Armando membawa tas milik adiknya.


Tiba di kamarnya, Ranti menidurkan Salma di kasurnya, kemudian membawa Armando ke kamar mandi dan membersihkan badannya.


" Pakai baju tidurmu dan tidur di kamar kakak saja", ucap Ranti.


" Tapi Armando ingin minum teh hangat", ucapnya.


" Tunggu sebentar ya, kakak pakai baju dulu, baru kita ke dapur", ucap Ranti.


" Ia kak", ucap Armando.


Sampai di dapur, Ranti membuat teh hangat buat dia dan Armando, kemudian mereka minum bersama di ruang TV.


" Apa kamu sudah segar sekarang? tanya Ranti.


" Sudah kak, terimakasih tehnya", ucap Armando.


" Ya sudah ayo tidur, kakak mau ganti baju Salma dulu, tolong ambilkan baju tidur adikmu dan bawa ke kamar kakak", perintah Ranti.


Selesai mengganti baju Salma, Armando berbaring di samping kiri Ranti dan memeluknya.


" Kamu harus menjaga baik-baik adikmu, jangan pernah membuatnya sedih", ucap Ranti.


" Ia kak, Armando sangat menyayanginya, dari awal ketemu dengan adik di penampungan dulu, Armando sudah berjanji akan menjadi kakak yang baik dan akan membuat adik bahagia", ucap Armando.


" Kakak senang mendengarnya, kamu lihat saja dia, begitu bahagia memiliki kamu sebagai kakaknya", ucap Ranti.


" Armando juga sangat bahagia bisa memiliki adik Salma, makanya Armando biar capek tetap tidak akan menolaknya jika dia ingin pergi ke Mall Galaxy untuk ketemu Paman Drajat atau kak Andini di restoran seafood, juga temani dia main ke rumah Mora", ucap Armando.


" Memang harus seperti itu, nanti juga dia dan kamu saat besar nanti akan punya kehidupan masing-masing", ucap Ranti.


" Ia kak", jawab Armando.


" Sini peluk kakak lagi, asal kamu tahu, kamu sangat menyayangi kalian berdua, cup cup", ucap Ranti sambil mencium jidat Armando.


Armando merasa damai dan tenang, hingga dia terlelap, Ranti juga tak lama kemudian tertidur.


Pagi hari telah datang, ketiga kakak beradik itu masih nyenyak di di kasur empuk milik Ranti.


" Dek bangun, ini sudah jam 7, ucap Vanya.


" Ia kak", ucap Ranti kemudian ikut membangunkan Salma dan Armando.


" Sudah sana langsung mandi dan turun sarapan", lanjut Vanya dan langsung beranjak dari kamar Ranti.


" Ayo sayang bangun, mandi kita sarapan", ujar Ranti.


" Masih ngantuk kak, ucap Salma sambil memeluk Ranti.


" Mandi biar segar, ayo sini kakak mandikan kalian berdua", ucap Ranti.


Kini dimeja makan sudah datang semua penghuni, hanya Renata dan Renita yang sudah kembali ke Jogjakarta.


Sambil sarapan mereka menonton berita lokal, dalam berita tersebut mengatakan bahwa Bank IDB, membantu warga dalam perbaikan Jalan sepanjang 25 km dan juga pembangunan jembatan baru yang sudah hampir 8 tahun rusak berat tidak pernah di perbaiki.

__ADS_1


Pihak desa sudah beberapa kali datang saat pertama kali jembatan itu hancur tapi tidak ditanggapi, dan menurut warga desa, mereka sudah malas untuk datang mengadu atau melaporkan segala hal, karena percuma tidak ada solusi.


Dan kemarin pihak pemilik Bank IDB dengan sukarela memberikan bantuannya, dan bukan hanya di perbaiki, akan tetapi jalan tersebut akan di buat ulang, mereka juga akan merenovasi sekolah, rumah ibadah serta akan memberikan bantuan berupa modal usaha, melalui Bank Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Nelayan atau BP3N, lanjut berita itu.


Kami telah menelusuri kebenaran berita ini di lapangan, dan hasilnya telah bisa pemirsa lihat bahwa sejumlah alat berat telah berada di lokasi.


Dan menurut kepala Desa tersebut mengatakan bahwa pembangunan akan di kerjakan dari 2 sisi, agar pekerjaan cepat selesai, dan warga desa tidak di pungut biaya apapun, hanya di minta membantu alakadarnya, itupun hanya untuk para pekerja, seperti kopi atau sekedar cemilan sederhana, lanjut berita itu.


Tapi ada beberapa warga desa tersebut mengatakan bahwa dana tersebut tidak 100 % berasal dari pihak Bank IDB, melainkan sebagian dari pemerintah", lanjut berita itu.


" Hahahaha hahahaha, Dek, ada yang mau mencari keuntungan", ujar Dewi Listyo.


" Kita lihat saja dulu, apakah 5 atau 10 warga bisa membenarkan bukti dari lebih 400 warga", ucap Ranti.


" Dasar orang tak tahu malu", ucap Friska.


" Pemirsa yang berbahagia, pihak kami sudah mengkonfirmasi ke Propinsi bahwa desa tersebut tidak masuk dalam daftar anggaran yang di masukkan oleh pihak pemerintah kabupaten.


Dan sudah kami telusuri ternyata benar bahwa warga desa tersebut tidak pernah tersentuh bantuan dari pemerintah, tapi anehnya warga sepakat untuk tidak mengeluh, mereka tetap membayar pajak bahkan pembayaran pajak desa itu mencapai 100%, lanjut berita tersebut.


Di tempat lain, pihak pemerintah kabupaten mulai kebingungan, mereka pasti akan di pertanyakan mengapa selama 7 tahun lebih desa tersebut tidak tersentuh, bahkan jembatan yang rusak akibat banjir tidak pernah di usulkan untuk perbaikan.


Anggota dewan yang merupakan dapilnya juga segera mengirim beberapa asistennya untuk mengecek langsung kebenaran berita itu.


Ternyata tujuan Ranti memberikan bantuan cukup membuat para pembenci desa itu menjadi kelimpungan, dan benar terjadi.


Sementara itu rumah para pelayan Ranti, dari kenari sore telah di datangi beberapa orang wartawan untuk mendapatkan informasi tentang siapa majikan dari anggota keluarga mereka.


Tapi pihak keluarga pelayan tidak memberikan nama maupun alamat rumah Ranti.


Di media sosial juga beredar berita dengan caption, " Demi kelancaran perjalanan pelayan Rumah tangganya, seorang pengusaha rela memperbaiki jalan dan jembatan yang rusak".


Berita tersebut di sertai dengan foto - foto alat berat dari kedua sisi yang akan di kerjakan.


Juga potongan wawancara mereka dengan pihak Kepala Desa yang mengatakan bahwa majikan dari pelayan yang merupakan warga desa setempat".


Berita tersebut menjadi viral, seluruh warga net tersentuh dengan tindakan yang dilakukan oleh sang majikan.


" Kalau majikan seperti ini, mustahil para pelayannya akan ditindas, sudah pasti para Pelayan itu di anggap sebagai keluarga", sebuah komentar warga net.


" Majikan seperti inilah yang disebut dengan orang kaya sejati".


Dan berbagai macam komentar warga net perihal berita itu.


" Untuk teman-teman ketahui, kemarin siang seluruh keluarga para pelayan di berikan mobil dan motor, serta biaya pendidikan hingga ke jenjang universitas", lanjut berita di medsos.


Ranti yang melihat itu hanya tersenyum, dia ingin mengajak para orang kaya agar memperlakukan pelayan dan seluruh karyawannya dengan baik.


* Tuan, Pemerintah Provinsi, tengah mengkaji apa masalah yang terjadi dengan desa tersebut hingga seluruh bantuan tidak masuk ke sana, memang bupati dan jajarannya tidak korupsi anggaran, hanya saja mereka tidak mau membangun di desa itu, jadi setiap usulan anggaran, desa itu tidak termasuk, apalagi selama ini warga desa memang sudah tidak mau mengeluh atau mengemis bantuan apapun, karena mereka dianggap sebagai barang saja", ucap Rose.


" Syukurlah kalau mereka tidak korupsi, hanya saja dendam mereka karena desa itu tidak memilih mereka, jadi mereka hanya memprioritaskan desa atau wilayah yang memilih mereka", balas Ranti.


Berita mengenai desa tersebut juga di angkat ke media Nasional dengan topik yang berbeda yaitu bahwa desa tersebut katanya memang menutup diri dari bantuan pemerintah.


Ketika Ranti melihat berita tersebut, Ranti langsung emosi dsn memerintahkan agar Aplikasi Mata Dewa untuk menyiarkan berita tentang bagaimana desa itu di telantarkan, dan bukti pembayaran pajak desa yang tiap tahun selalu 100%.


Sontak warga net terkejut dan mulai membandingkan dengan berita TV Nasional.


Tak terasa Ranti menonton berita itu hingga sampai jam 9 pagi, bahkan Kakak-kakaknya sudah pergi beraktivitas, Dewi sendiri sudah masuk kantor, sedangkan Vanya menemani keempat adiknya datang ke DAMKAR Supermarket untuk membantu memeriksa laporan.


Ranti sendiri masih belum beranjak dari ruang TV, di temani Salma dan Armando.


" Hari ini kalian berdua mau kemana? tanya Ranti.


" Kami hanya mau ke Kebun Binatang saja, tapi tunggu kakak yang lain dan juga Mora, yang sebentar lagi datang", ucap Salma.


" Tapi kakak tidak bisa menemani kalian berdua, apa tidak apa-apa", ujar Ranti.


" Tidak apa-apa, kakak pasti ada pekerjaan, apalagi sudah beberapa hari kakak tidak ke kantor", ucap Salma.


" Ia sayang kakak mau ke Proyek Kota Terpadu, kakak sudah 2 bulan tidak mengecek proyek itu", ucap Ranti.


" Ia, kakak kerja saja, kasihan Paman Pribadi dan Paman Nikson Pradipta", lanjut Salma.


" Terimakasih pengertiannya sayang, cup cup", ucap Ranti sambil mencium kedua pipi Salma.


" Kok hanya adik Salma yang di cium, Armando tidak", rengeknya.


" Hahahaha, jangan ngambek gitu dong sayang, sini kakak cium, cup cup", ucap Ranti lalu mencium Armando.


" Itu baru adil", ujar Armando.

__ADS_1


hahahaha hahahaha


" Tuan Muda ada-ada saja", ucap Dewi Pelayan.


" Wah ternyata bibi Dewi nguping kak", lapor Armando.


" Bibi Dewi tidak nguping Tuan Muda, kan memang pas bibi sampai dari dapur, Tuan Muda lagi ngambek", jawab Dewi pelayan.


" Hehehehe, tapi kan Armando tidak ngambek beneran", ucap Armando.


" Bibi tahu itu Tuan Muda, tapi apa boleh bibi juga memeluk Tuan Muda", ucap Dewi Pelayan.


" Boleh dong", ucap Armando.


" Bibi juga sangat menyayangi Tuan Muda dan seluruh Nona Muda, yang sudah sangat baik buat kami semuanya", ucap Dewi Pelayan sambil memeluk Armando.


" Terimakasih Bibi, kami juga gak mau bibi semuanya pergi meninggalkan kamu", sahut Salma.


" Kan Nona Muda Ranti sudah bilang akan buatkan tempat tinggal di samping rumah ini, buat kami", itu berarti bibi tidak akan kemana-mana, bibi ingin melihat kesuksesan Tuan Muda dan Nona Muda kecil", ucap Dewi penuh kehangatan.


" Terimakasih Dewi, kalian sangat berjasa membantu kami merawat kedua adik kami", ucap Ranti.


" Kami juga berterimakasih atas perhatian seluruh Nona Muda dan Tuan Muda kepada kami, kami di hargai sebagai keluarga, itulah kenapa kami tidak ingin jauh dari kalian semua", ucap Dewi dengan tulus.


" Saya sangat senang dengan niat kalian, makanya apa yang sudah saya siapkan dan berikan kepada kalian, tolong di manfaatkan dengan baik dan jangan boros, mulai kuliah lagi, kalian semua punya mobil masing-masing", ucap Ranti.


" Hehehehe kami jadi kelihatan bukan pelayan Nona Muda", kelakar Dewi.


" Pelayan hanya jabatan, tapi apa kami memperlakukan kalian sebagai pelayan selama ini", ucap Ranti.


" Tidak pernah Nona Muda, kami bangga bisa bekerja di sini, sekali terimakasih Nona Muda", ucap Dewi Pelayan.


" Sama-sama, kalau capek istirahat dan jangan tunggu kami kalau kalian mau makan, saat jam makan, silahkan kalian makan, masak makanan yang sama untuk kami dan kalian, dan tolong panggil pak Jumono kesini dan 2 pelayan dari kampungnya", perintah Ranti.


" Baik Nona Muda", jawab Dewi pelayan dan beranjak ketempat biasa pak Jumono dan yang lainnya berada.


" Maaf Nona Muda, apa anda ingin bapak antar atau Tuan Muda dan Nona Muda kecil yang mau jalan-jalan", tanya Pak Jumono.


" Bukan itu, saya ingin bicara Zumrotin dan Zahrah soal keluarga mereka, saya sebentar lagi ingin ke kampung mereka, nanti pak Jumono semobil dengan mereka berdua, kita kesana, rasanya tidak adil jika hanya keluarga sekampung Bu Likha saja yang saya bantu", ucap Ranti.


Zumrotin dan Zahrah adalah saudara sepupu, mereka sama-sama anak sulung, dan mereka berdua juga hanya memiliki seorang ibu dan 2 adik.


Pak Jumono dengan ibunya mereka kakak beradik, dan memang hanya 3 bersaudara, sejak kedua kakaknya menjanda, pihak keluarga suami mereka mengambil semua harta peninggalan suami mereka, dan mereka berdua kembali ke kampung halamannya di Sidoarjo.


Sejak mereka bekerja di tempat Ranti, kehidupan ibu dan kedua adiknya mereka sudah berubah, kini di kampung rumah mereka berdua masing-masing menjadi rumah terbesar, berbeda dengan waktu sebelumnya, hal itu juga sama dengan rumah Pak Jumono disana, tapi rumah tersebut di tempati oleh adik kandung istrinya yang bekerja sebagai guru SD, berserta suaminya yang juga guru SD honorer, sedangkan kakak kandung istri pak Jumono, terpaksa pensiun dini dari militer karena menderita lumpuh tulang belakang.


" Jam berapa kita berangkat Nona Muda", ujar Pak Jumono.


" Suruh datang istri dan anak pak Jumono biar kita berangkat sama-sama, Salma dan Armando nanti pergi bersama Yati saja, apalagi seluruh kakakku juga akan menemani mereka ke Kebun Raya", ucap Ranti.


" Tidak usah menunggu istri saya, mereka saat ini ada di kampung, karena hari ini ada acara keluarga, saya sendiri nanti pulang kerja baru menyusul", ucap pak Jumono.


" Baiklah, Zumrotin, Zahra kalian bersiap, sekarang ini juga kita akan ke kampung halaman kalian, biar nanti sore kita sudah kembali ke sini", perintah Ranti.


" Benarkah Nona Muda ? ucap Zahra.


" Kapan aku berbohong kepada kalian semua", jawab Ranti.


" Nona Muda, maafkan kami, apa boleh kami membawa daging sapi Wagyu walau hanya sepotong untuk paman kami yang sakit, dan juga ibu kami sangat ingin mencicipi daging mahal itu", ujar Zahra.


" Nanti kita mampir ke Food Excellent dan ambil daging disana, apalagi jalannya searah ke Sidoarjo", ucap Ranti.


" Terimakasih Nona Muda", ucap mereka dengan sangat bahagia.


Mereka berdua sebelum kuliah terlebih dahulu mengambil paket C, dan sekarang mereka kuliah jurusan Akuntansi di universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, yang merupakan salah satu Universitas swasta terbaik di Surabaya.


Tepat jam 10 pagi mereka berangkat menuju Sidoarjo, Ranti mampir sebentar mengantar Salma dan Armando.


" Maaf ya, kakak hari ini tiba-tiba kepikiran mau ke Sidoarjo, besok saja kakak ke Proyek Kota Terpadu", ucap Ranti.


" Ya sudah gak apa-apa, asalkan bibi Zumrotin dan Bibi Zahra bisa bahagia, tidak apa-apa kakak kesana, tenang saja, yang penting kan nanti malam kakak sudah pulang", ucap Salma.


" Ia sayang, lagian hanya dekat saja, paling sejam setengah perjalanan, apalagi jalanan sudah baik", ucap Ranti.


Hanya 10 menit saja, mereka sudah tiba di DAMKAR Supermarket, Ranti mengantar Salma dan Armando ke Kantor dan pamitan kepada seluruh Kakak-kakaknya.


Ranti melanjutkan perjalanannya, didalam mobil dia hanya sendiri, sedangkan di mobil Alphard, Zumrotin dan Zahra, serta beberapa oleh-oleh untuk saudara Istrinya.


Pak Jumono sendiri, sudah memiliki harta yang banyak, sama dengan Rahmat tukang kebun, sama-sama mereka memiliki Deposito 5 triliun dan 2 triliun untuk biaya sehari-hari, ketiga anak-anak Pak Jumono semuanya sudah kuliah, dan bawa mobil masing-masing, sama dengan anak-anaknya Bu Likha dan Mang Dul.


Kalau Pak Rahmat, kedua anak gadisnya masih SMA, dan 1 anak angkatnya yang sudah kuliah di Bandung, Ranti yang membiayai semuanya, bahkan hingga kendaraan dan tempat tinggal.

__ADS_1


Ranti hanya bersyukur seluruh anak pelayannya tidak ada satupun yang gila harta, mereka tetap hidup seperti biasa, dan bergaul dengan siapa saja.


__ADS_2