
ππππππππ
"Sampe Hujan mau jujur sama semua yang udah dia
lakuin di belakang kakak.
Harusnya dia terbuka bukan disembunyiin kaya gini. Dia salah kalo ngira kakak gak tau dan gak ngerti sama aturan mainnya selama ini, kakak cuma udah capek ikutin dramanya!!!" ucap Air sambil memejamkan mata dengan si pisang masih dalam dekapannya.
"Kan aku udah bilang, kakak omongin dong! jangan nunggu Hujan yang cerita" ketus Bumi yang gemas pada kakaknya itu.
"Tadinya sih mau biarin aja suka-suka dia, tapi pas kakak lagi pengen banget bahkan udah sampe ubun-ubun terus denger dia ngomong begitu, Sumpah kesel banget!"
Air yang memang memilki gairah **** yang menggebu langsung tak suka dengan apa yang dikatakan istrinya saat hasratnya sedang sangat ingin ia salurkan.
"Terus mau ngambek sama Hujan, gara gara dia gak jujur karena udah nunda hamil?" tanya Bumi lagi.
"Enggak."
"Ya udah ayo pulang, gak boleh gini, kak" rayu Sang adik yang tak ingin perselisihan kakaknya semakin berlanjut lama.
"Besok aja, ntar juga ketemu di kampus" tolak Air.
"Besok bentrok gak jadwalnya, jangan sampe gak ketemu lagi" Bumi masih memaksa dan mencari alasan agar kakaknya itu mau ikut pulang dengannya.
Air menggelengkan kepalanya, ia masih ragu dengan jadwal Hujan karna ia belum memastikannya.
Pemuda tampan itu hanya bisa menghela nafasnya.
Kangen Jan Hujan dereeeeeees!!!
******
Air benar-benar menolak ajakan Bumi untuk pulang ke apartemen, ia justru memaksa adiknya itu untuk menemaninya tidur di rumah utama. Bumi yang merasa serba salah pun akhirnya mengiyakan permintaan sang kakak.
__ADS_1
Jam enam pagi, Omma masuk kedalam kamar cucu kesayangannya itu. Ia tersenyum saat melihat Air dan Bumi tidur saling memeluk seperti lima belas tahun yang lalu saat si sulung tak pernah mau jauh dari si tengah.
"Kalian ini lucu banget, Sih" gumam Omma nya yang kini duduk disisi ranjang.
keduanya bergeliat secara bersamaan saat Wanita baya itu mengusap kedua pipi cucunya secara bergantian.
"Omma..." panggil keduanya bersamaan.
"Selamat pagi sayang-sayangnya Omma"
Air dan Bumi langsung bangun untuk memeluk wanita baya penuh kasih sayang itu.
"Ayo mandi dan sarapan, Omma mau bangunin adek sama Abang dulu" titah Omma pada dua jagoannya.
"Siap!" jawab mereka sambil tertawa.
.
.
.
Sedangkan si bungsu setelah mengantar Langit sampai depan teras langsung ikut nimbrung dengan kedua kakaknya di kamar Bumi.
"Ada apa sih?, kok ikutan nginep juga?" Tanya cucu perempuan satu-satunya Rahardian itu.
"Kepo!" ledek Air.
"Aku cius nanya, dari pada aku tanya mama, hayo!" ancam Cahaya yang langsung membuat kedua kembarannya itu membulatkan mata dengan sempurna.
"Gak usah macem-macem!" sentak Air dan Bumi berbarengan.
Cahaya hanya mencebikkan bibirnya saat tak juga mendapat jawaban atas alasan kedua kakaknya itu ada dirumah utama, jika Bumi saja yang ada mungkin Cahaya tak akan securiga ini, tapi ada apa dengan kakak sulungnya yang menginap tanpa sang istri?
__ADS_1
.
.
.
Jam sembilan pagi Bumi lebih dulu pulang ke apartemen untuk mengambil barang-barang keperluan kuliahnya sebelum ia ke kampus, tapi ia sempat berbohong pada Air jika ia pun akan membawa kan keperluan sang kakak juga karna Bumi sudah lebih dulu meminta Hujan yang menyiapkan semuanya agar menjadi alasan mereka bertemu nantinya, bahkan istri dari kakaknya itu berani bolos di jam pertama mata kuliahnya.
Air memarkirkan motornya di tempat biasa kemudian bergegas menuju kantin setelah melepas jaket dan helmnya.
Di tempat itulah ia akan menunggu Bumi, tempat yang nampak ramai oleh mahasiswa dan mahasiswi seperti dirinya.
.
.
.
.
.
.
Ay...
ππππππππππ
Hayo ...
Siapa yang manggil? π€π€π€
tukang Kantin atau Tante Kunti πππ
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan β€οΈβ€οΈβ€οΈ