Air Hujan

Air Hujan
Ekor buaya


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sam yang di ancam di tinggalkan tentu lari menyusul kearah Appa dan Ammanya yang sudah berjalan lebih dulu, pasangan baya itu terkekeh saat sang cucu menjerit memanggil mereka, Samudera ErRainerly Rahardian Wijaya benar benar hiburan di masa tua.


"Dede cape Oey" keluhnya saat sampai dan duduk di mobil dengan begitu banyaknya strawberry di kursi paling belakang, si buah berwarna merah yang rasanya asam manis kesukaan sang putra mahkota.


"Suruh siapa lari lari" ledek Reza.


"Appa tinggalin dede, dede lari cepet cepet ntal tinggal Moy nanis loh"


"Ntar Moy bikin dede baru lagi Oey" timpal si pria baya itu lagi yang langsung membuat wajah Sam merengut semakin kesal.


Nda boleh!


Sam yang di pangku diatas paha Reza terus saja merajuk manja, bocah tampan itu merengek sampai akhirnya malah tertidur pulas selama perjalan pulang ke rumah utama.


.


.


Air yang sudah diberitahu jika putranya terlelap di dalam mobil tentu sudah menunggu di teras rumah, ia akan mengambil alih Samudera untuk di bawa masuk kedalam tanpa di gendong oleh papanya.


Kereta besi mewah milik si sulung akhirnya masuk melewati pagar besi yang menjulang tinggi warnanya yang hitam kokoh membuat siapapun segan mendekat terlebih penjagaan yang juga sangat ketat.


"Wih, berat banget ini tutut" ucap Air saat mengangkat tubuh Sam.

__ADS_1


"Seimbang nya sama ambeknya yang gede" balas Reza mencibir kearah anaknya yang sifatnya tak jauh beda jika sedang merajuk.


Air yang merasa langsung melengos pergi sampai Melisa ingin sekali mencubit pipi si sulung yang kadang tingkahnya tak jauh beda dari sang cucu.


.


.


.


Cek lek


Pria yang kini menggendong Sam langsung masuk kedalam kamar setelah Hujan membuka benda berwarna putih tersebut.


"Pules banget, kak" tutur si calon dokter bedah saat anak yang ia lahirkan dengan penuh perjuangan sudah di baringkan di atas ranjang yang kadang berubah panas jika ia dan sang suami bergulat meraih kenikmatan surga dunia.


"Kenapa? kaya aer dalam galon, gitu?" jawab Air sedikit kesal namun setelahnya ia malah menarik tangan Hujan menuju sofa.


"Eh, mau apa?" tanya Huja kaget dan belum siap.


"Katanya aku manis, cobain nih"


Kedua mata Hujan yang duduk bersandar di sofa langsung membulat sempurna, apalagi saat ia melihat suaminya berdiri dengan senyum menggoda. Wajah tampan itu kini berubah menjadi penuh nap SU biRa Hi.


Degupan jantung Hujan berkali kali lipat rasanya ketika perlahan tangan kekar Air menurunkan resleting celananya. Ekor buaya yang sudah tegak menanantang itu menyembul keluar tepat di hadapan wajah cantik Hujan yang mulai panik.

__ADS_1


"Ngapain?" tanyanya masih berusaha menghindar karna ini terlalu mendadak baginya.


"Terserah mau di apain, asal enak" jawab Air sambil mengelus miliknya yang seakan siap tempur entah sejak kapan.


"Gak, nanti dede bangun bahaya" tolak Hujan sambil memalingkan wajahnya, hatinya berdesir saat salah satu bukit kembar miliknya mulai disentuh.


"Gak bakal bangun, makanya cepetan"


Air menarik wajah istrinya agar berhadapan lagi dengan si ekor buaya.


"Nantinya tanggung, kak"


"Enggak, itu urusan nanti kalo dede bangun. Yang penting sekarang Say Hy dulu"


Hujan yang pasrah akhirnya mengangguk, ia menelan salivanya lebih dulu sebelum mulut kecilnya nanti penuh dengan daging tak bertulang milik sang suami.


Ia genggam sembari di mainkan lebih dulu dengan tangannya sampai akhirnya....


.


.


.


Tobeli Dede mana Oey...

__ADS_1



__ADS_2