
ππππππππ
"Jan..."
"Aku lupa, Jan.. ngomong dong"
Air yang kali ini serba salah semakin takut saat Hujan sama sekali tak menjawab semua ucapannya, bahkan untuk menoleh kearahnya pun tidak sama sekali.
"Sayang, aku minta maaf"
"Jan, ngomong dong. Jangan diemin aku begini. Ok aku salah, salah pake banget banyak banyak" rayunya lagi, Air duduk bersimpuh di kaki istrinya yang sedang duduk disofa menyusui Samudera.
PapAy, ain?
PapAy angis.
Ingin rasanya Hujan tertawa mendengar celoteh anaknya tapi itu tentu akan membuat suaminya selalu menganggap semua akan sepele.
"Jan, gak mau maafin aku?" tanya Air lagi.
"Jangan suka diem, ayo ngomong. Aku Terima kalau kamu marah, memang aku yang salah"
Hujan malah bangkit dari duduknya, ia membawa Samudera keluar dari kamar menuju lantai bawah meninggalkan sang suami yang sedang menyesali perbuatan bodohnya.
"Mah, aku ke taman sebentar ya" pamit Hujan pada Melisa yang sedang di goda oleh suaminya karna mendapatkan wajan cantik lagi dari luar negeri, keduanya kini sedang berada di ruangan penyimpanan wajan warna warni milik nyonya besar Rahardian. Jika istri konglomerat lain senang mengoleksi tas dan baju dan sepatu branded, lain hal dengan Melisa tentunya.
"Udah sore, Jan" kata Reza yang bersembunyi di balik punggung istrinya saat Samudera malah ingin berpindah ke padanya.
"Cuma sebentar, cuma mau main aja"
__ADS_1
"Ya, sudah, tapi hati-hati ya" pesan Melisa pada menantunya itu, ia dan suaminya mencium Samudera secara bergantian.
Dadah Appa
Dadah Amma
Bocah satu tahun itu melambaikan tangannya pada kakek dan neneknya saat di janjikan nanti mereka akan menyusul, karna jika tak begitu, tentu Sam tak akan mau ikut dengan Hujan dan memilih mengacak-acak wajan Ammanya yang selama ini jarang sekali orang lain berani menyentuhnya kecuali si buntut Gajah yang malah sering melempar teplon mini kesayangan Melisa.
"Kita main ya, pusing sama papAy" keluh Hujan di dalam lift.
Ain apa
"Apa aja, duduk di taman juga boleh sambil makan ice cream" sahut Hujan, mengobrol dengan putranya kini menjadi hobby baru baginya.
Nda.
Hujan terkekeh, ia lupa jika Samudera sudah memakannya tadi sebelum drama pertengkaran ia dan sang suami.
Keh..
Sampai di lobby apartemen, Hujan menurunkan Samudera dari gendongannya. Ia menuntun sang putra mahkota Rahardian itu sambil berjalan berdua menuju taman yang memang tak jauh, Hujan tersenyum simpul saat melihat area bermain yang nampak sepi karna memang bukan akhir pekan dan sudah sangat sore, ia hanya memiliki waktu kurang dari satu jam untuk bermain tapi itu sudah cukup dari pada mendengar rengekan suaminya yang memohon maaf terus menerus.
"Kita main sini ya"
Iyyaah.
Keduanya duduk d taman sambil duduk berceloteh, Sam mulai merengek saat melihat seorang anak membawa balon, ibu yang melihat Samudera menunjuk kearahnya pun datang menghampiri.
"Anak ganteng, mau?"
Au
__ADS_1
"Gak apa apa tante, gak usah" ucap Hujan tak enak hati.
"Gak apa-apa, ini ada dua kok, biar saling satu dengan kakak Mega ya" Ucapnya sambil memeberikan satu balon panjang pada Samudera.
"Sam, ayo bilang Terima kasih" titah Hujan pada putranya.
Cih.
"Sama-sama, kami permisi ya" pamitnya bersama sang putri.
"Iya, tante trimakasih"
Hujan melambaikan tangan sambil menatap punggung wanita baik tersebut.
Moy, ini nih.
Suara Samudera mengalihkan pandangan Hujan yang kini kearah anaknya sendiri.
"Apa? mau pake di kepala."
Iyyaaah..
"Bagus ya, kaya hewan apa ya?" gumam Hujan yang sudah memakaikan balon tersebut dikepala Samudera.
Oang.
Bapak. lo lagi guling guling tuh Samπ€£π€£π€£π€£
like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1