Air Hujan

Air Hujan
babyBear 110


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Nda mahu buta, dede abul yaaaaaaaaaa"


Omma yang tak sengaja lewat akhirnya mendekat kearah cicit satu satunya itu, wanita baya berkaca mata yang sangat setia pada suaminya sampai berjongkok di depan Sam.


"Dede kenapa?" tanya Omma.


"Dede di Uwang ama papAy ama Appa" adunya sedih.


" Ya ampun, kasihan banget. Bobo sama Oppung yuk"


Sam yang sudah sangat sedih dan hampir menangis akhir ya ikut dengan Omma ke lantai bawah menuju kamarnya, Sam yang tak biasa berjalan lambat akhirnya kesal sendiri.


"Lama lama banet, dede lali ya" ucapnya yang langsung berlari tanpa menunggu jawaban dari Omma. Omma hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan cicit nya yang selalu saja membuat geleng-geleng kepala se isi rumah utama.


Cek lek..


Satu ruangan yang jarang sekali Sam datangi sendiri adalah kamar Tuan besar Rahardian, bahkan jika datang bersama Reza atau Air pun ia tak pernah mau turun dari gendongan Sam akan jadi anak super baik di hadapan Opung nya.


"Loh, tumben kemari? ada apa" tanya Oppa.


"Dede di uwang, Nda ica acuk kamal muanya di tunci"


Oppa menoleh lagi ke arah pintu yang baru saja di buka oleh istrinya.


"Ada apa?"


"Entahlah, Sam marah marah di depan kamar Kakak" jelas Omma pada sang suami meminta jawaban.


"Dede buat salah?"


"Nda, dede mahu biyang ma'acih ama Appa, tunci tunci pintu na"

__ADS_1


"Dede pakai apa ini?" Omma mengusap benda yang masih ada di kepala Samudera.


"Dede punya tuping balu, tuping dede banak. Ini tuping Dede"


Omma dan Oppa saling pandang dan akhirnya tertawa bersama saat sedikit banyak paham dengan apa yang di ceritakan cicitnya itu.


"Ya udah, sekarang bobo ya"


Omma menari tubuh mungil Sam ke tengah kasur, anak itu langsung berbaring di antara Oppa dan Omma.


"Dede mahu iyum jajah dede dikamal, tapi pintu na tunci"


"Cium ini aja dulu, ini juga sama gajah" sahut Omma merayu.


"Tapi ini tuping, butan hidung"


Sam memang memiliki kebiasaan memelintir belalai boneka Gajah kesayangannya sebelum tidur atau jika sedang menyusu, hal yang sama juga di lakukan Air saat masih balita pada si Pisang hingga saat ini.


"Ciumnya ganti besok pagi aja ya saat bangun tidur, sekarang dede istirahat" Omma dan Oppa mencium kedua pipi Sam bagian kiri dan kanan secara bersamaan.


"Tumben dede belom gedor pintu" gumam Hujan saat turun dari tempat tidur, ia menutupi tubuh polosnya dengan handuk mandi yang berserak di tepi ranjang.


Ia langkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri, senyum tersungging di depan cermin mana kalau terlihat begitu banyaknya tanda merah yang di berikan suaminya di bagian dada dan juga leher putih jenjangnya.


Usai dengan ritual mandi dan merapihkan diri, Hujan bergegas keluar kamar menuju lantai bawah rumah utama, kediaman yang tiga kali lipat dari apartemen mertuanya itu kadang membuat Hujan malas untuk keluar kamar.


"Mah, Sam belum bangun?" tanya Hujan saat berpapasan dengan Melisa di ruang makan.


"Sam gak tidur sama mama, kan semalem habis dapet bandana ke kamar kalian" kata Melisa bingung.


"Tapi keluar lagi ke kamar mama mau ucapin terimakasih ke papa" jelas Hujan dengan menautkan kedua alisnya.


Melihat mama mertua nya menggelengkan kepala, membuat Hujan langsung berlari lagi ke lantai dua, begitu juga dengan Melisa. Jika sang putra mahkota hilang maka bersiaplah Singa, Gajah dan Buaya mengamuk dalam satu waktu yang bersamaan, mungkin itulah yang kini ada di kepala Hujan dan Melisa sebagai menantu Rahardian.

__ADS_1


.


.


.


"Anak pinter, susunya sudah habis ya" kata Omma saat melihat botol yang isinya sudah kosong.


"Udah, dede pintel Nda? "


"Iya dede pinter, anak baik" jawab Omma.


"Udah besar mau jadi apa sih?"


.


.


.


.


.


.


.


JajahMan



Gak ada yang bagusan dikit gitu deh πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’

__ADS_1


lagi di cariin noh, ngumpet gih 🀭


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2